
Sebenarnya dalam hati kecil Steven, sangat menyayangi anak yang ada dalam kandungan Angelica bagaimana pun anak itu adalah benih dari Steven, keturunan Steven.
Lagian Kenzo keterbelakangan mental, mungkin anaknya dari Angelica lah yang akan meneruskan keturunannya.
Tetapi apa yang Steven bisa perbuat, perkawinannya dengan Angelica adalah perkawinan sementara, hanya untuk mendapatkan surat sah pernikahan, untuk dijadikan pengganti surat sah atas hubungan Steven dan Dikta, sebagai syarat mendapatkan kartu keluarga bagi keluarga Steven.
Steven terkadang mengagumi Angelica, yang tampil apa adanya, pintar, hemat, bagus dalam mengurus suami baik secara batin maupun jasmani, kebutuhan makan, pakaian dan kebutuhan lain selalu baik diurus Angelica, tidak pernah berbicara dengan suara nada tinggi,
walaupun Steven berkata kasar kepada Angelica, Angelica pintar sekali mengambil hati Steven, sehingga bisa mereda amarah Steven.
"Tetapi bagaimana pun, aku harus kembali kepada Dikta", pikir Steven dalam hati.
"Hai Steven, kenapa menghayal terus dimakan dong nasinya, keburu dingin tu nasinya" ucap Angelica menegur Steven yang sedari tadi menghayal.
" Eh, iya, aku melamun ya tadi" jawab Steven gelagapan, bingung dan salah tingkah, langsung mengambil segelas air putih dan segera meneguknya, agar Steven bisa segera fokus.
"Iya, dari tadi kamu melamun, apa-apa belum ada, tu lihat piring mu, masih terisi nasi putih, lauk dan sayur belum ada, sedangkan aku nasiku sudah hampir habis" Angelica memberi tahu Steven.
"Oh iya, baiklah aku segera makan dan menghabiskan sarapan ku" Steven segera melahap dan menghabiskan nasinya.
"Oh iya, Apakah ini sudah bulannya kamu lahiran?" tanya Steven ingin tahu.
"Iya, ini tinggal tunggu tanda-tanda melahirkan saja, pokoknya kamu siap-siap lah, kalau sudah ada tanda-tanda melahirkan, segera kita ke rumah sakit terdekat" ucap Angelica.
"Oh, apakah kamu sudah memperlengkapi atau mempersiapkan semua barang-barang yang dibutuhkan, jika langsung dibawa ke rumah sakit?" Steven mengingatkan.
"Sudah dikemas semua dalam tas besar yang berwarna hitamitu ada disamping lemari kuletakkan, semua sudah didalam tas tersebut, termasuk popok, pakaian bayi dan perlengkapan aku" Angelica semangat menjelaskan nya, agar Steven tidak salah ambil tas.
"Kamu yang semangat dan kuat ya, jangan dipikirin yang tidak-tidak, tetap fokus saja melahirkan nya, aku yakin kamu bisa kok" ucap Steven menyemangati Angelica.
"Kamu apa-apaan sih, kayak kamu mau pergi jauh saja, memangnya kamu tidak ikut menemani aku lahiran?" tanya Angelica bingung dan menggoda Steven.
__ADS_1
Steven tertawa kecil dan senyum-senyum sambil menundukkan kepalanya.
" He...he.., iya kayak mau pergi jauh saja" ucapnya Steven sambil tertawa.
Steven berencana akan meninggalkan Angelica ketika Angelica sedang melahirkan, "Mungkin itu adalah saat yang tepat, karena ketika Angelica baru melahirkan, otomatis Angelica tidak akan bisa mencarinya, karena kondisinya belum fit untuk bepergian", pikir Steven di dalam benaknya,
Angelica tidak ada memikirkan hal-hal lain mengenai perkataan Steven tadi, Angelica pikir itu hanya candaan saja.
Setelah selesai sarapan, semua piring dibereskan dan hendak di bawa ke wastafel untuk dicuci, Angelica terburu-buru membawanya, karena Angelica harus segera berangkat ke sekolah, begitu juga Steven, segera melengkapi segala tas dan perlengkapan kerjanya untuk dibawa ke tempat kerjanya.
Belum juga piring selesai dicuci, tiba-tiba Angelica berteriak kesakitan.
"Aduh, aduh sakit sekali," teriak Angelica sambil memegangi perutnya.
Steven masih di dalam kamar tidak mendengar teriakan Angelica kesakitan.
"Steven,. Steven" Angelica memanggil-manggil Steven dengan kencang, tetapi Steven tidak mendengarnya.
Mendengar ada suara gelas jatuh ke lantai Steven repleks langsung lari ke arah dapur,
"Angel, ada apa" teriak Steven menghampiri Angelica yang sudah tergeletak di lantai karena tidak kuat lagi untuk berjalan dan melangkah.
"Perutku terasa sakit, mungkin ini adalah tanda-tanda melahirkan, tolong bawa aku segera ke rumah sakit" pinta Angelica memegangi perutnya menahan rasa sakit.
Steven panik, bingung, mondar mandir tidak tahu apa yang harus di perbuatnya.
"Steven!, ambil tas hitam dari kamar, dan papah aku keluar, kita cari kendaraan, mobil, angkutan atau apalah yang bisa membawa aku ke rumah sakit" teriak Angelica karena Steven panik tidak tahu harus berbuat apa.
Steven pun melaksanakan apa yang diperintahkan Angelica, segera Steven berlari mengambil tas yang berada di samping lemari dan segera kembali lagi kepada Angelica untuk memapahnya ke luar mencari transportasi, tidak mungkin Steven membawa Angelica dengan sepeda motor nya, Steven segera memesan taksi online.
Setelah beberapa menit taksi online segera datang menghampiri Steven dan Angelica yang sedari tadi menunggu.
__ADS_1
"Dengan pak Steven?" ucap supir taksi memastikan.
"Iya benar" Steven segera memapah Angelica masuk kedalam mobil, supir pun ikut membantu dengan memasukkan tas hitam juga kedalam mobil.
"Ke rumah sakit ya pak, ayo cepat pak, istri saya mau melahirkan" desak Steven.
"Baik pak" balas pak supir sigap.
Angelica masih saya teriak kesakitan "aduh..aduh"
"Sabar ya, sebentar lagi mau sampe kok" Steven menyemangati Angelica.
"Kamu jangan banyak berteriak, nanti kehabisan tenaga, tenaga mu simpan, untuk kamu pakai nanti saat mengedan" Steven mencoba memberi pengarahan,
Angelica ingin melahirkan secara normal jauh-jauh hari sebelum melahirkan, Angelica sudah mengungkapkan keinginannya tersebut kepada Steven,
karena Angelica merasa kandungan nya baik-baik saja, lagian kalau melahirkan secara normal pemulihannya bisa cepat, dan beberapa hari sudah bisa beraktifitas normal seperti biasa, pikir Angelica.
Setelah sampai di rumah sakit, Steven langsung memapah Angelica ke ruang UGD "tolong dok, istri saya mau melahirkan" teriak Steven kepada dokter yang menghampiri nya.
Dokter sigap, langsung memeriksa kondisi Angelica.
"Bapak temani ibu saja disini" perintah suster kepada Steven.
Steven terus memegangi dan menyemangati Angelica, agar santai dan rileks, agar terjaga tensinya tetap normal, karena kalau tensi darah Angelica tinggi, dokter takut menangani nya, harus dinormalkan terlebih dahulu. supaya tidak mencegah pendarahan dan susah bernapas.
Angelica menuruti apa yang diperintahkan Steven. Angelica mencoba menarik nafas panjang bila rasa nyerinya datang. Sedikit lega perasaan Angelica bila melakukan trik tersebut.
"Iya ibu Angelica sekarang benar mau melahirkan!, tetapi masih buka 2, mungkin 8 atau 10 jam lagi akan melahirkan, tidak apa-apa Bu Angelica jalan-jalan kecil diluar ditemani bapak,
agar proses melahirkan nya nanti mudah, kalau ada rasa nyeri datang, tarik napas saja, tahan, dan buang, begitu saja diulang-ulang ya Bu, kalau ada keluhan-keluhan lain boleh segera diberi tahukan kepada kami dengan segera" suster menyarankan kepada Angelica.
__ADS_1
"Baik dok" ucap Steven dan Angelica berbarengan.