Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#25. Dikta melahirkan anak ke 2


__ADS_3

Steven menjemput Heni dan sekalian Kenzo ikut serta di gendong Heni.


"Ayo Kenzo, sekarang Kenzo mau ketemu mama" bujuk Heni kepada Kenzo, karena Kenzo susah diajak untuk ikut, Kenzo asik menonton film kesukaannya, akhirnya karena di bujuk untuk ketemu mamanya Kenzo jadi mau ikut.


Berangkatlah mereka bertiga ke rumah sakit tempat Dikta di rawat.


Tidak beberapa lama setelah mereka sampai di rumah sakit suster yang jaga pasien datang.


"Keluarga ibu Dikta!, silahkan menemui pasien, karena pasien sudah sadar dan sedang berada di ruang observasi, masih menunggu 2 jam lagi ya pak, agar bisa dibawa ke ruang rawat inap" suster jaga memberi tahu kepada Steven.


Steven pun langsung pergi menemui Dikta, Heni dan Kenzo tidak ikut masuk, takut Kenzo diruang observasi rewel, sehingga mengganggu pasien operasi yang berada di ruang observasi.


"Hai ta, gimana perasaan kamu saat ini" sapa Steven kepada Dikta dengan tersenyum.


"Hai juga bang, Dikta merasa baik-baik saja bang, oh ya mama dan Kenzo mana bang?" tanya Dikta sambil melihat ke sekeliling Steven tidak ada sosok Heni dan Kenzo.


"Mama dan Kenzo sedang di luar, mama takut kenzo rewel, sehingga mengganggu pasien lain, makanya mama tidak mau masuk" jawab Steven memberi alasan.


Dikta pun manggut-manggut "oh, tidak apa-apa" ucapnya pelan.


"Abang sudah melihat baby kita kah?" tanya Dikta tersenyum.


"Belum, tadi Abang langsung jemput mama dan Kenzo, ketika kamu habis operasi dan belum sadar karena pengaruh obat bius,


lagian baby-nya berada di ruang baby, hanya bisa di lihat dari jauh, berupa dinding kaca,


mungkin setelah kamu keluar dari ruang observasi dan sudah bisa ke ruang rawat inap, babynya pasti di antar nanti" jawab Steven pelan, takut mengganggu pasien lain, karena posisinya hampir berdekatan, hanya dibatasi gorden.


"Kamu tidak usah banyak pikiran, dan fokus ke pemulihan kamu saat ini ya" dukung Steven memberi semangat.


"Iya kak" jawab Dikta menutup matanya, ingin sekali beristirahat.


"Abang tunggu di luar ya, mau menemani ibu dan Kenzo" Steven pamit keluar menemui Heni dan Kenzo.


Waktu di ruang observasi tinggal 1 jam lagi, Steven menanyakan kamar untuk pasien atas nama Dikta, "Agar mama dan Kenzo bisa istirahat didalam kamar inap saja, daripada duduk di luar terlantar", pikir Steven dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya setelah kamar inap sudah di berikan, Heni dan Kenzo bisa istirahat di dalamnya, sedangkan Steven menunggu duduk di luar ruang observasi sambil mendengar arahan suster jaga apakah Dikta sudah selesai di ruang observasi.


Tidak sampai setengah jam kemudian, Ternyata Dikta sudah boleh keluar dari ruang observasi dan selanjutnya boleh dibawa ke ruang rawat inap, "Heni dan Kenzo sudah menunggu di ruangan" ucap Steven pada Dikta sambil ikut mendorong tempat tidur Dikta menuju ruang rawat inap.


"Hai ta" sapa Heni setelah Dikta sampai di ruangan dengan senyum


bahagia, karena Dikta sudah melewati masa sulitnya ketika lahiran tadi.


"Mama..mama" ucap Kenzo riang gembira melihat Dikta masuk ruangan.


Tok...tokk.tok..pintu diketuk


suster masuk membawa baby nya.


Steven, Heni dan Kenzo menyapa baby-nya dengan riang gembira "Hai cantik, selamat datang di dunia, sehat-sehat ya sayang" ucap Steven mencium pipinya, Kenzo pun ikut ikutan mencium pipi baby nya.


"Mirip Dikta ya" tanya Heni memecah keheningan.


"Iya mirip, mamanya "dukung Steven.


Dikta di dorong melalui kursi roda, Baby nya digendong Heni, sedangkan Kenzo di tuntun dan dipegang Steven menuju mobil untuk kembali ke rumah.


"Selamat datang buat anggota keluarga baru kita" ucap Heni kepada baby-nya setelah sampai di dalam rumah.


Steven menuntun Dikta berjalan menuju kamar mereka, disusul Heni yang membawa Baby nya masuk dan diletakkan di box tidurnya.


"Kamu istirahat dulu disini ya, aku ada di ruang keluarga mau istirahat sambil menonton" ucap Steven pamit meninggalkan Dikta menuju ruang keluarga.


Ada Heni tidur di ruang keluarga sambil menidurkan Kenzo.


"Gimana ma, jadinya mengenai kartu keluarga kita, sekarang kan Dikta sudah lahiran?" tanya Steven masih terus memikirkan mengenai kartu keluarga.


"Mama bermaksud untuk memalsukan identitas Dikta" ucap mama pelan.


"Maksud nya gimana ma?" tanya Steven tidak mengerti.

__ADS_1


"Kamu masih berhubungan dengan Angelica?" tanya Heni pelan.


"Kok Angelica ma, Steven makin tidak mengerti, apa hubungannya dengan Angelica!" Steven mencoba memperjelas maksud Heni.


"Kamu berhubungan kembali dengan Angelica, sebelumnya kamu pernah kah menghubunginya?" tanya Heni ingin tahu.


"Aku tidak pernah menghubungi nya ma, terakhir aku bilang aku lagi di Kalimantan tidak ada sinyal dan sudah hampir 1 tahun lebih aku tidak ada kontak dengan Angelica" ucap Steven masih bingung.


"Kamu hubungi Angelica, bilang segala alasan yang memungkinkan mengapa tidak menghubunginya, jalin lagi hubungan dengannya, kamu akan menikah dengan Angelica, setelah setahun menikah dengannya tinggal kan Angelica dan kembali pada Dikta" ucap Heni tegas.


"Steven masih bingung ma, mengapa harus menikahi Angelica?" tanya Steven penasaran.


"Untuk mendapatkan kartu keluarga, kamu harus punya bukti pernikahan yang sah. Surat pernikahan mu bersama Angelica, itu kamu ambil, dan Dikta berganti nama jadi Angelica, itulah caranya agar kita bisa mengurus kartu keluarga, identitas Dikta diganti jadi Angelica, sekarang kamu paham maksud mama?" tanya Heni kepada Steven.


Steven diam, tidak tega harus mengorbankan Angelica, padahal Angelica baik, pikirnya didalam benaknya.


"Hei Steve, gimana sih, kok jadi bengong" ucap Heni stengah berteriak karena Steven terdiam lama.


"Steven tidak tega ma, harus mengorbankan Angelica" ucap Steven tertunduk.


"Hanya itu caranya Steven, kamu mau kita di usir dari daerah ini?" tanya Heni agak marah.


Steven tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang diperintahkan Heni.


"Terus bagaimana caranya ma" tanya Steven minta tanggapan Heni.


"Kita adakan lamaran, sebagaimana lamaran yang sesungguhnya, kamu hubungan dulu dengan Angelica, minta tanggapan nya,


ketemu dengan keluarga Angelica ungkapkan maksud mu untuk melamar Angelica,


dan mama akan ketemu dengan keluarga Angelica, agar pernikahan boleh dilangsungkan normal seperti biasa,


kamu harus melakukannya dengan baik dan tidak ada kecurigaan nantinya dengan pihak Angelica" Heni menjelaskan dengan panjang lebar, rencana dan tujuannya kepada Steven.


Steven masih tidak habis pikir dengan ucapan dan rencana Heni,

__ADS_1


sulit bagi Steven untuk melakukan ini, "Tidak menyangka Heni bisa melakukan rencana sejauh dan serumit ini", pikir Steven dalam benaknya.


__ADS_2