
Kring.....kring......
Bunyi suara Alarm di handphone Steven.
Dengan malas Steven mencoba untuk menggapai handphone nya untuk mematikan Alarm nya.
Terasa begitu cepat waktu berjalan, baru juga Steven merebahkan tubuhnya di tempat tidur untuk terlelap, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 05:30. Padahal Steven merasa baru terlelap tidur 1 jam saja, ternyata sudah 6 jam lamanya Steven terlelap tidur.
Karena semalam Steven baru bisa terlelap tidur sekitar jam 11 malam.
Dengan malas Steven menggapai handphone nya, notifikasi Alarm di handphone di geser ke atas, bermaksud agar suara alarm bisa berhenti, tanpa melihat handphone kembali Steven melanjutkan tidurnya, "Lumayan untuk tidur 15 menit lagi", pikir Steven dalam hatinya.
Steven tiba-tiba tersentak, mencoba mengingat bahwa alarmnya telah berbunyi tadi dan telah di matikan, Steven langsung terbangun dari tidurnya, ia ingat harus cepat mengantar Kenzo ke sekolah.
Steven pun memperhatikan handphone nya bermaksud untuk melihat sekarang sudah pukul berapa.
Betapa terkejutnya Steven melihat WA dari Dikta yang mengatakan bahwa Merry sekarang sedang di ruang ICU, kondisi Merry drop tidak sadarkan diri.
Segera Steven mencari Heni, ternyata Heni sedang memasak untuk sarapan pagi.
"Ma, bagaimana ini, apa aku harus mengantar Kenzo sekolah ataukah aku harus ke rumah sakit?", tanya Steven panik tidak tahu mana yang harus di prioritaskan.
"Mengapa cepat sekali ke rumah sakit, nanti setelah Kenzo pulang sekolah saja ke rumah sakitnya biar tidak bolak-balik", Heni memberi saran.
"Merry ma, Merry lagi gawat", Steven terduduk lemas.
"Gawat gimana maksud kamu?", Heni belum mengerti maksud arah pembicaraan Steven.
"Semalam Dikta ngechat Steven jam 03.00 dini hari, tetapi baru Steven baca jam 5 lewat tadi, Steven tidak dengar Dikta menghubungi jam 3 dini hari tadi!", Steven memberitahu.
"Iya, isi chat nya Dikta apa?", tanya Heni makin penasaran.
"Dikta bilang, Merry lagi di ruang ICU, Merry drop kondisinya tidak sadarkan diri", ucap Steven sedih dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Apa!, bukan kah kondisi Merry sudah membaik dan di izinkan pulang ke rumah?, kenapa sekarang tiba-tiba drop dan tidak sadarkan diri", Heni merasa tidak yakin dengan apa yang barusan dikatakan Steven.
"Itulah ma, Steven pun tidak mengerti, tidak mungkin Dikta memberi kabar yang tidak Benar, apa steven harus mengantar Kenzo sekolah?", tanya Steven bingung.
"Kenzo tidak usah sekolah, nanti mama akan mencoba membujuk Kenzo", Heni mencoba memberi solusi.
"Sekarang Kenzo ada dimana, ma?, apa kenzo sudah mandi?", Steven mencoba mencari tahu dan segera pergi ke kamar Kenzo.
Ternyata Kenzo sudah mandi dan sudah memakai seragam sekolahnya, sebentar lagi Kenzo akan sarapan pagi menuju meja makan.
"Kenzo", bujuk Steven.
Kenzo terdiam mencoba mendengar dan memperhatikan apa yang akan diucapkan Steven.
"Kenzo hari ini tidak usah sekolah ya. Karena adek Merry sedang kritis, tidak sadarkan diri, papa mau pergi ke rumah sakit.
Mau melihat kondisi Merry. Kalau Kenzo memaksa untuk bersekolah, kenzo nanti tidak ada yang menjemput dari sekolah, ketika sudah waktunya pulang sekolah, kenzo hari ini tidak usah pergi sekolah ya?", tanya Steven dengan penuh hati-hati, pelan dan jelas, agar Kenzo bisa paham yang diucapkan Steven.
Kenzo menggangguk-anggukkan kepala nya, tanda iya mengiyakan, bahwa hari ini Kenzo tidak pergi ke sekolah.
"A--dek Mer--ry, i--kut", ucap Kenzo dengan memaksa.
"Ken--zo tidak bisa ikut, papa mau lihat dulu bagaimana kondisi Merry, karena Merry sedang tidak di ruang inap, nanti setelah Merry baikan barulah kenzo ikut melihat adek Merry, ya", bujuk Steven memberi gambaran.
"Kenzo di sini saja dulu sama nenek, Kenzo temani nenek di rumah, ya", Steven terus membujuk Kenzo agar mau ditinggal di rumah bersama Heni.
Akhirnya Kenzo pun mau menuruti apa yang diperintahkan Steven.
"Ma, Steven pergi dulu ya ke rumah sakit, nanti Steven akan memberi kabar selanjutnya mengenai kondisi kesehatan Merry".
Steven segera berpaling meninggalkan Heni di ruang makan dan segera mengeluarkan mobil dari garasi untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Steven penasaran dengan kondisi kesehatan Merry, steven tidak menyangka dan tidak terima kenapa Merry tiba-tiba drop sehingga tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Segera Steven melakukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sekitar 3O menit dalam perjalanan, akhirnya steven sampai di rumah sakit tempat Merry di rawat.
Steven segera menuju ruang resepsionis, mencoba bertanya dimana kah ruang ICU.
"Maaf Bu, mau tanya ruang ICU dimana?", tanya Steven pelan dan terburu-buru.
"Ruang ICU ada di lantai 3 pak, nanti setelah bapak sampai di lantai 3, ada resepsionis dilantai 3, bapak tanya saja di situ kalau bapak merasa bingung, ruang ICU terletak paling sudut", jawab suster kepada Steven.
Steven pun langsung berjalan menuju lift, karena Steven ingin segera sampai di ruang ICU. Steven tidak sabar untuk menemui Merry dan melihat kondisinya, karena Steven masih saja tidak percaya, bahwa Merry drop dan tidak sadarkan diri.
Ting..
Lift tiba di lantai 3, steven langsung keluar dan segera mencari-cari, pergi ke ruang yang paling sudut, seperti arahan pegawai resepsionis di lantai 1 tadi.
Steven terus melangkah dan sambil memperhatikan setiap petunjuk yang bertuliskan ICU.
Setelah berjalan beberapa langkah "Iyap, itu dia tulisan ICU nya", pikir Steven dalam hatinya.
Ternyata masih harus belok ke sebelah kiri. Akhirnya Steven sampailah disebuah ruangan yang bertuliskan ''Ruang ICU", ini dia pikir Steven dalam benaknya.
Steven perlahan-lahan membuka pintu ruangan, akhirnya Steven bisa melihat sosok Dikta duduk di samping tempat tidur Merry yang terbaring lemas hanya dibantu dengan mesin peralatan medis.
Steven menghampiri Dikta, memegang pundak Dikta dari belakang, Dikta kaget dan melihat sosok yang memegang pundaknya, "Ternyata Steven", pikir Dikta. Dikta pun langsung menangis di pelukan Steven.
Karena ruang ICU adalah ruang steril, artinya pasien yang menjenguk dibatasi. Dikta mengajak Steven untuk bicara di luar ruangan ICU saja.
Setelah mereka sudah berada di luar ruangan ICU, Steven bertanya kepada Dikta, "Bagaimana kondisi dan perkembangan Merry?", Steven merasa lemas untuk berdiri setelah melihat kondisi Merry, Steven lesehan di lantai.
"Merry belum ada perkembangan dan kemajuan bang", jawab Dikta sambil membantu Steven untuk lesehan di lantai.
"Apa tanggapan dokter", tanya Steven balik.
__ADS_1
"Dokter tidak berani mengambil tindakan lanjut dengan kondisi Merry yang tidak sadarkan diri, dokter menunggu perkembangan selanjutnya", Dikta hanya bisa pasrah, seperti putus asa.