
Tidak ada artinya terus-menerus menangis. Tidak akan membuat Kenzo kembali ke pangkuan Dikta. Dua anak yang telah dilahirkan Dikta, kedua-duanya telah pergi meninggalkan Dikta.
Dikta menyesali dan menyalahkan dirinya "Aku sungguh ibu yang tidak berguna, ibu yang tidak bisa mengurusi anak-anaknya. Semua anak yang aku lahirkan semuanya meninggal dunia. Aku tidak di izinkan punya anak, karena aku telah menyia-nyiakan anak yang diberikan kepada ku", Dikta terus menyalahkan dirinya.
Dikta terus memeluk dan menciumi jasad Kenzo, karena ini adalah saat yang terakhir untuk dirinya melihat Kenzo di dunia.
Kenzo di makamkan tepat di samping Merry, "Benar-benar Merry dan Kenzo adalah kakak beradik yang setia hingga di akhirat, Kenzo menyusul Merry ingin dekat dengan Merry. Karena waktu di dunia pun Merry dan Kenzo dekat dan saling menyayangi", pikir Dikta dalam hatinya.
Setelah Kenzo di masukkan ke peristirahatan yang terakhirnya. Steven, Dikta dan Heni kembali ke rumah. Sebelum Steven kembali ke tempat kosannya. Steven masuk dan ingin sebentar berada di kamar Kenzo.
Steven memandangi kamar Kenzo, melihat lukisan terakhir yang digambar Kenzo. Steven - Heni - Kenzo. Tidak ada gambar Dikta pada lukisan Kenzo, karena tidak ada momen indah yang bisa diingat Kenzo bersama dengan Dikta.
Steven terus menangis di kamar Kenzo memandangi seisi kamar. Berbaring di tempat tidur Kenzo dan duduk di meja belajar Kenzo. Sambil terus memandangi dan melihat- lihat tulisan Kenzo pada buku pelajaran sekolahnya.
Walaupun Kenzo menderita keterbelakangan mental, Kenzo bisa seperti anak normal biasa dalam melakukan pekerjaan rumah dan belajar.
Terbukti Kenzo bisa belajar dengan anak-anak normal bukan dengan anak-anak keterbelakangan mental. Karena Kenzo bisa diajari dan diarahkan, Kenzo bisa disuruh mandiri tanpa bantuan orang lain.
Semakin Steven merasa kehilangan ketika melihat ada sepucuk surat yang ditulis Kenzo ketika Steven meninggalkan nya.
Dear Papa Steven
Aku begitu senang dan bahagia memiliki papa seperti papa Steven.
Walapun aku tidak terlalu di manja, tetapi papa benar telah membuat ku untuk lebih mandiri dan disiplin.
Sekarang aku menyadari betapa penting ke mandiri an. Karna sekarang papa Steven tidak di rumah lagi, papa Steven telah meninggalkan aku selamanya.
Papa Steven tidak akan serumah lagi dengan ku. Tidak akan memanjakan ku lagi dengan membeli makanan kesukaan ku tidak akan mengajakku ke laut lagi. Berteriak sekencang-kencangnya sehingga perasaan penatnya pikiran sementara bisa terlupakan.
Aku sangat menyayangi mu papa Steven. Entah apa yang membuatmu sehingga tidak serumah lagi dengan ku, mama dan nenek.
Mungkin karena aku masih kecil, sehingga aku tidak bisa tahu alasannya.
Masalah orang dewasa memang terlalu rumit.
Aku berharap aku tidak ingin menjadi dewasa. Aku hanya ingin papa Steven dekat dan selalu bersama ku.
Steven terus menangis dan berurai air mata, membaca surat yang ditulis Kenzo. "Aku berharap, aku tidak ingin menjadi dewasa, ternyata Kenzo sudah punya firasat untuk menghadap Sang Kuasa", pikir Steven di benaknya sambil terus menyesali dirinya, betapa kenzo ingin sekali dekat dengan-nya.
Steven menilik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya. Waktu sudah hampir gelap, waktunya bagi Steven untuk kembali ke tempat kosannya.
__ADS_1
Takut nanti warga datang berkerumun untuk segera mengusirnya. Karena telah berlama-lama dan dipikir warga untuk menginap serumah dengan Dikta dan melakukan hubungan suami-istri.
"Ma, Steven pamit kembali ke tempat kosan Steven", ucap Steven pamit kepada Heni.
Dikta dan Steven bersikap biasa dan dingin. Hanya menjawab dengan seadanya saja, itupun karena terpaksa. Apabila ada sesuatu yang penting yang perlu ditanyakan atau dijawab.
Dikta masih syok dan terus mengurung diri di dalam kamar menyesali dirinya. "Toh kedua anak yang kulahirkan atas hubungan ku dengan Steven, diambil Sang Pencipta, apalah artinya aku menjalani kehidupan ini. Atas dosa yang telah kuperbuat. Aku ingin bertobat dan kembali kepadaNya.
Aku telah menjalani hubungan yang terlarang selama ini, nafsu telah menghantui dan merajalela di dalam diriku.
Sia-sia waktu terbuang selama aku menjalani kehidupan yang penuh dosa dan kebohongan, sekarang tidak ada yang tersisa.
Hubungan baik dengan Bang Steven ketika masih sebagai kakak adik dulu begitu indah kurasakan. Sekarang hubungan sebagai kakak beradik pun seperti tidak ada pada kami.
Seperti hubungan permusuhan saling menghindar satu dengan yang lain. Bahkan tinggal serumah pun tidak bisa. Akibat sanksi sosial yang di berikan masyarakat atas hubungan terlarang kami sebelum nya.
Aku harus menjalani hidup dengan normal sesuai dengan Kehendak Sang Ilahi", pikir Dikta di dalam hatinya yang paling dalam, Dikta telah menyadari segala dosa dan kesalahan yang diperbuatnya.
Steven pun segera beranjak keluar meninggalkan rumah dan kembali ke tempat kosan nya.
*****
"Mengapa kamu Steve, kok sedari pulang tadi kulihat termenung dan lemas", tanya Willi sahabat Beni sekaligus tetangga di tempat kosannya.
"Anakku Kenzo telah meninggal dunia kemarin, dan hari ini adalah proses pemakamannya. Aku sangat bersedih dan sangat kehilangan dia.
Kebetulan Hubungan ku dengan Kenzo terjalin baik dan terbilang sangat dekat selama ini. Setelah kepergiannya separuh jiwaku terasa hilang, begitu sesak dan hampir kesulitan bernapas", Steven memberitahu sambil berurai air mata.
"Aku turut berdukacita Steve, semoga keluarga di beri ketabahan, keikhlasan dan kesabaran, aku percaya kamu kuat teman!, menghadapi cobaan ini", Willi memberi semangat dan dukungan.
"Oh iya, mengapa kamu langsung balik ke tempat kosan. Apa adikmu Dikta eeh maaf, istri mu!, tidak merasa kehilangan dan terpukul?, harusnya kamu menemaninya sekarang di rumah.
Kemarin kamu mengatakan hanya sementara tinggal di kosan ini, kamu ingin menghindari Dikta tidak ingin melakukan hubungan suami-istri lagi. Mengapa kamu makin sering, bahkan setiap hari tinggal di kosan ini?", tanya Willi kebingungan.
"Oh iya, maaf Will. Memang aku belum terbuka kepada mu, karena aku masih sedih karena tidak serumah dengan Kenzo.
Ketika aku keluar dari rumah, Kenzo begitu sedih, menangis dan meronta-ronta ingin minta ikut bersama ku, aku hanya berlalu dan terus meninggalkan nya.
Setelah sampai di kosan ini aku belum sempat memberitahu kamu, karena bermaksud untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Empat hari yang lalu Angelica datang menemui aku, aku tidak sempat tanya darimana Angelica mendapatkan alamat rumah ku di Tanjung Karang ini.
__ADS_1
Bermaksud untuk meminta surat nikah kami, sebagai syarat baginya untuk mengurus Kartu Keluarga dan akte kelahiran anak kami Gemilang.
Aku mengajaknya masuk ke rumah dan berbicara dengan baik-baik agar tidak di dengar tetangga. Aku mengatakan bahwa surat nikah tidak ada padaku dan aku segera mengusir nya.
Ternyata Angelica mencari tahu keabsahan Kartu Keluarga ku, syaratnya kan harus ada surat nikah. Angelica tahu kalau aku kakak beradik dengan Dikta, Angelica juga curiga ada Kenzo di rumah. Angelica melapor ke Kantor Lurah.
Singkat cerita aku tidak boleh lagi tinggal di rumah. Aku dan Dikta tidak boleh lagi berhubungan sebagai suami-istri, apalagi melakukan hubungan suami-istri.
Begitu lah ceritanya mengapa aku tinggal di kosan ini", Steven memberitahu dengan panjang lebar.
"Oh Syukurlah, bukan kah kamu sangat mengharapkan untuk meninggalkan kehidupan yang penuh kebohongan ini?", Willi menanyakan balik.
"Iya. Tetapi aku malu, seluruh warga pasti memandang hina dan jijik kepada ku. Mereka kemarin datang berkerumun ke rumah ku untuk mencari tahu kenapa petugas lurah tiba-tiba datang ke rumah", ucap Steven tertunduk.
"Tidak apa-apa teman, itu adalah konsekuensi dari kesalahan yang telah kita lakukan. Sekarang kamu kan sudah merasa lega, bisa meninggalkan kehidupan penuh kebohongan ini. Oh iya, bagaimana dengan Dikta?, apakah Dikta terima dengan keputusan ini?", Willi penasaran dan ingin tahu.
"Tadinya Dikta tidak terima, Dikta semakin cuek kepada Kenzo, terus mengurung diri di kamarnya dengan kesal.
Tetapi dengan kepergian Kenzo, sepertinya Dikta telah menyesali perbuatannya yang telah cuek dan kurang perhatian kepada Kenzo. Dikta terus menyalahkan dirinya dan sangat menyesal", Steven memberitahu kondisi Dikta.
"Baguslah kalau begitu, nanti juga berangsur-angsur pasti Dikta bisa menghilangkan kesedihannya, apa kamu tidak menghibur, memberi kekuatan dan dukungan kepada Dikta?", tanya Willi penasaran.
"Biarlah aku kesannya cuek kepadanya, agar Dikta bisa melupakan aku. Nanti Dikta berpikir kalau aku masih ingin berhubungan suami-istri dengan nya, atau sebaliknya aku jadi tergoda hawa nafsunya seperti awal kami memulai nya dulu", Steven memberi alasan.
"Mudah-mudahan kehidupan kamu dikemudian hari bisa lebih baik lagi ya teman!", Willi optimis.
"Oh iya, bagaimana Angelica, sepertinya Angelica tidak menuntut mu?", Willi menambahi dan juga penasaran.
"Iya sampai sekarang Angelica belum menggugat ku bahkan mengajukan cerai dengan ku, Mungkin lain kali, karena sekarang pikiran nya masih kalut dan pusing" Steven memberitahu kondisi Angelica.
"Kamu sendiri apa tidak ingin rujuk dengan Angelica?", Willi mencoba menggoda Steven.
"Sebenarnya aku ingin rujuk, tetapi kalau aku buru-buru mengatakannya di depan Dikta.
Aku takut Dikta akan marah besar dan putus asa. Sehingga tidak kuungkapkan keinginanku rujuk dengan Angelica.
Aku berharap Tuhan memberikan ridho nya agar kami bisa rujuk kembali", harap Steven.
"Mudah-mudahan ya teman!, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu", Willi memberikan dukungan dan semangat.
"Terima kasih Will, kamu selalu mendukung dan memberi support kepada ku. Kamu juga mau sebagai teman ku curhat untuk mengeluarkan segala unek-unek ku, itu sudah cukup baik bagiku mengurangi sedikit banyak penat yang ada dalam kepalaku", Steven tersenyum lebar dan bahagia.
__ADS_1