
Sudah terlalu siang Steven dan Kenzo tiba di rumah.
Mobil Steven berhenti di depan pagar, Kenzo keluar membukakan pintu pagar, agar mobil Steven bisa masuk ke dalam, langsung masuk ke dalam garasi karena Steven tidak berencana untuk keluar rumah lagi.
Kenzo senang mobil masuk garasi, "Berarti papa bakal di rumah satu harian ini, papa akan menemani Kenzo bermain mobil-mobilan baru", pikir Kenzo dalam hatinya dengan penuh kegirangan.
Kembali pintu pagar di tutup kali ini langsung di kunci, karena aktifitas seluruh keluarga jam segini kebanyakan di dalam rumah, kadang suka lupa menguncinya bila malam hari.
Mobil-mobilan segera di keluarkan, Kenzo langsung menaikinya. Steven mengajari Kenzo bagaimana cara menggunakan nya, tidak butuh waktu lama Kenzo langsung paham dan bisa menggunakan nya sendiri.
"Kenzo mainnya setelah ganti seragam sekolah dulu, ya", perintah Steven untuk mendisiplinkan Kenzo untuk lebih teratur.
Kenzo langsung menurut, buru-buru ke kamarnya untuk segera mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah.
Dikta dan Heni keluar dari kamarnya tahu Steven dan Kenzo sudah tiba di rumah.
"Darimana Steve, kenapa baru tiba. Biasanya belum dapat makan siang kalian sudah tiba di rumah!", tanya Heni ingin tahu.
"Iya, ma. Aku mengajak Kenzo beli es cream dan sekalian kami mampir di pantai untuk melihat laut, lalu membeli mobil-mobilan Kenzo", jawab Steven datar.
"Bang, kenapa tidak mengajak Dikta ikut ke pantai", ucap Dikta manja dan genit sambil menggoyang-goyangkan tangan Steven.
Steven berusaha menghindari Dikta langsung pamit permisi masuk ke kamar "Aku ganti baju dulu, ya".
Raut wajah Dikta cemberut melihat sikap Steven yang dingin dan berusaha menghindari nya.
"Bang Steven kenapa Bu!, selalu dingin dan terkesan menghindari Dikta", curhat Dikta kesal cemberut seperti jeruk purut.
"Sudahlah Dikta jangan kekanak-kanakan, mungkin saja Steven lagi tidak mood", ucap Heni mencari alasan yang pas agar Dikta tidak terus menerus cemberut.
"Tetapi untuk Kenzo perhatiannya sangat berlebih, kepada ku istrinya sendiri malah dicuekin. Dikta tidak terima, ma", ucap Dikta kesal masih terlihat cemberut.
Kenzo keluar dari kamarnya selesai mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah, lalu bermaksud untuk bermain mobil-mobilan, Kenzo menghampiri Heni dan Dikta di meja makan, bermaksud untuk pamer mobil-mobilan nya.
__ADS_1
"Ne--nek ma--ma, Ken--zo pu--nya mo--bil-mo--bi--lan ba--ru" ucap Kenzo kegirangan sambil melompat-lompat.
"Sudah tahu", ucap Dikta ketus.
Raut wajah Kenzo sedih dan berubah melihat Dikta tidak senang atas di belinya mobil-mobilan Kenzo. Heni tahu raut wajah Kenzo berubah jadi sedih, Heni langsung menghibur Kenzo "Bagus dan besar ya mobil-mobilan nya, pasti papa membelinya karena Kenzo jadi anak yang pintar", ucap Heni menyemangati Kenzo.
"I--ya, Ken--zo me--nang lom--ba sa--ma Pa--pa", Kenzo pamer atas kemenangan dari Steven.
"Wah, Kenzo hebat sekali", Heni terus membanggakan Kenzo, agar Kenzo jadi semangat dan tidak sedih lagi.
"Ok deh, sana main mobil-mobilan baru, mainnya pelan-pelan dan hati-hati, ya!", Heni menasihati Kenzo.
Kenzo pun langsung berlari menghampiri mobil-mobilan nya dan segera memainkannya.
"Kamu itu ya, sama anak sendiri saja kamu iri, harusnya kamu itu terus menyemangati Kenzo, bukan malah membuat dia down", ucap Heni kesal.
"Habis, gara-gara Kenzo. perhatian bang Steven jadi berkurang kepada ku", ucap Dikta semakin kesal.
"Bukan gara-gara Kenzo, tetapi kamu harus introspeksi diri, kamu itu sudah benar ga meladeni suami kamu?.
Anak bukannya di perhatikan malah di cuekin. Jelas saja Steven tidak suka sama kamu. Kamu belum pantes jadi ibu, sifat kamu kekanak-kanakan", ucap Heni kesal, agar Dikta bisa tahu diri dan bisa berbenah di kemudian hari.
"Mama selalu saya menyalahkan Dikta, mama tidak pernah ngertiin Dikta", Dikta makin kesal.
"Mama, malah sudah terlalu jenuh untuk terus ngertiin kamu Dikta!", ucap Heni tegas.
"Mama juga tidak tahu lagi, harus menjelaskan nya kepadamu, intinya kamu harus introspeksi diri, kesalahan kamu apa. Dan berbenah diri lah untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Jangan tahu menyalahkan orang lain", Heni menasihati Dikta.
Dikta kesal terus disalahkan, dengan raut wajah cemberut Dikta langsung masuk ke kamar meninggalkan Heni di meja makan.
Heni hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dikta dan bermaksud untuk masuk ke kamarnya juga.
Steven pura-pura tertidur di atas tempat tidur nya.
__ADS_1
Dikta berusaha menggoda Steven.
"Bang jangan dingin begitu dong sama Dikta, salah Dikta apa sih?", Dikta bicara dengan lembut sambil mengusap-usap lembut rambut Steven.
"Tidak ada Dikta!, Abang hanya banyak kerjaan saja, jadinya terkesan nyuekin kamu, sebenarnya tidak apa-apa kok", jawab Steven berbohong untuk menyenangkan hati Dikta. Padahal Steven ingin mengurangi dosa untuk tidak berhubungan suami-istri lagi dengan Dikta.
"Bang kita jalan-jalan ke mall dong, sekalian mau membeli perlengkapan rumah tangga dan sembako bahan-bahan dapur.
Karena mama sudah tidak mau belanja ke pasar takut nanti ketemu dengan Bu Purnama, sepupunya ayah dari kakek bersaudara.
Kemarin Bu Purnama mengajak untuk mampir ke rumah kita, untunglah tidak jadi karena Bu Purnama sibuk buru-buru ingin cepat pulang karena ada acara arisan di rumahnya", ucap Dikta memberitahu Steven.
"Apa Bu Purnama?", Steven balik bertanya. Steven kenal sosok Bu Purnama. Lagi-lagi silaturahmi dengan keluarga terhalang karena aib Steven dan Dikta takut terungkap. Padahal Bu Purnama orangnya baik, mau membantu keluarga Steven saat susah dulu.
Steven jadi bertambah sedih atas hubungan sedarahnya. Steven berusaha menutupi raut muka sedihnya di hadapan Dikta.
"Hari Minggu saja ke mallnya, pulang kerja dan jemput Kenzo ke sekolah waktunya mepet. Kenzo nanti kelelahan karena tidak bisa tidur siang" ucap Steven menolak.
"Lagi-lagi Kenzo yang jadi halangan ", pikir Dikta geram.
"Bang kita sekali-kali ke puncak dong, menginap di hotel 2 hari, biar hubungan kita bisa lebih mesrah dan lebih dekat lagi", goda Dikta sambil naik ke atas tubuh Steven bermaksud untuk merayu Steven, agar Steven luluh.
Steven langsung membalikkan badan Dikta ke sampingnya, dan segera beranjak dari tempat tidurnya "Aku mau menemani Kenzo dulu ya, main mobil-mobilan barunya", Steven langsung berlalu meninggalkan Dikta dan pergi menghampiri Kenzo.
Dikta kesal dan teriak "Aaaah..", sambil melempari bantal dan selimut ke lantai.
"Hai Kenzo, papa temani main mobil-mobilan nya, ya" Steven menawarkan sambil tersenyum lebar.
Tahu Steven datang menghampirinya, bukan main girang nya Kenzo "Ho--re, pa--pa la--ri -pa, Ken--zo ke--jar", ucap Kenzo mengejar Steven yang lari-larian. Kenzo mengejar Steven dengan mobil-mobilan nya.
Begitu asik Steven dan Kenzo bermain hingga lupa waktu. "Kenzo, mainnya udah dulu ya. Sekarang Kenzo waktunya tidur siang", bujuk Steven karena waktu sudah menunjukkan pukul 15:00.
Kenzo langsung menuruti Steven, turun dari mobil-mobilan nya dan langsung balik badan menuju kamarnya, "Ken--zo- bo--bok du--lu ya, -pa".
__ADS_1
Steven bingung harus ke mana. Ke kamar nya takut ada Dikta yang akan terus menggoda nya, Steven memutuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga sambil rebahan, karena di ruang keluarga ada karpet sebagai alas tidur serta bantal.