Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#29. Steven dan Angelica sibuk mengurusi resepsi pernikahan


__ADS_3

"Halo ma, Steven sudah bicara dan menyinggung mengenai melamar Angelica kepada ibunya, ibu nya sih setuju dan merestui Angelica di lamar ma" Steven memberitahu Heni, perihal melamar Angelica.


"Oh baguslah kalau begitu, apa mereka bersedia kapan saja di lamar?" tanya Heni ingin tahu.


" Iya ma, Pihak Angelica hanya menunggu pihak kita saja ma, artinya kita kapan datang pihak Angelica siap menyambut kapan pun" ucap Steven tegas.


"Ok lah kalau begitu, rencana kita tahap demi tahap bisa berjalan dengan baik dan lancar " Heni merasa senang dan bahagia.


***


Heni datang dan beberapa pihak Keluarga dari pihak suaminya, yang masih dekat dengan Heni, yang berasal dari kampung. Heni menjemputnya dari kampung dan mengajak nya ikut ke Medan untuk melamar Angelica.


Sampailah mereka di rumah Angelica.


"Kak, kedatangan kami kesini untuk melamar Angelica sebagai menantu di keluarga kami, apakah keluarga kakak bersedia?" tanya Heni memulai lamaran nya.


"Setelah berunding dan menanyakan Angelica, Angelica setuju untuk menjadi menantu di keluarga kakak" balas Linda menjawab pertanyaan Heni.


"Oh, Baguslah kalau begitu, berarti sekarang kita menyepakati uang mahar, Waktu dan tempat dilaksanakan pernikahan ini" ucap Heni tegas.


"Untuk uang maharnya, berdasarkan kenaikan suku bunga sekarang, dan banyak pertimbangan, seperti biaya untuk baju nikah perempuan termasuk make up dan pembelian perhiasannya, keluarga kami menyepakati pemberian uang mahar adalah sebesar ---, bagaimana kak, kakak setuju kah sebesar itu?" tanya Heni ingin tahu, kalau setuju agar disepakati tanggal dan tempat pernikahan nya.


Merasa cukup dan lumayan uang mahar untuk Angelica, Linda pun setuju atas besaran uang mahar tersebut.


"Baiklah, keluarga kami menyatakan bahwa uang mahar tersebut cukup" balas Linda, agar selanjutnya membahas tanggal dan tempat pernikahan.


"Dari pihak Steven sendiri untuk tempat pernikahan nya, pernikahan diadakan di Medan saja, tanggal pernikahan kalau bisa dua minggu lagi diadakan pernikahan nya, bagaimana tanggapan kakak?" tanya Heni kepada Linda. Heni menyarankan di Medan, agar keberadaan anak Steven dan Dikta tidak diketahui saudara ayah Steven yang diundang Heni dari kampung.


"Kami sepakat atas tanggal dan tempat diadakannya pernikahan ini" ucap Linda penuh senyuman, karena Linda tidak keluar biaya transportasi, bila pernikahan diadakan di Tanjung Karang di pihak Steven, maka Linda akan keluar banyak untuk biaya transportasi.

__ADS_1


"Baiklah mengenai uang mahar, tanggal dan tempat diadakannya pernikahan ini telah kita sepakati, dan untuk tempat resepsi pernikahan nya biarlah Steven dan Angelica yang mengurus nya nanti" ucap Heni mantaf. Heni pun segera pamit pulang setelah menyantap hidangan makanan dan minuman yang disajikan oleh pihak Angelica.


"Saya dan seluruh keluarga kami pamit ya kak, kiranya lancar segala apa yang direncanakan sampai pada hari H nya" ucap Heni dengan senyuman yang penuh kebahagiaan.


Linda pun segera mengantar keluarga Steven ke luar rumah hingga berangkat tidak kelihatan lagi.


***


Selanjutnya untuk tempat resepsi dan segala hidangannya di urus ole Steven dan Angelica.


Kebersamaan Steven dan Angelica sejak mengurus resepsi untuk pernikahan ini, terjalin sangat mesra.


Steven dan Angelica sering bertemu, sering bersama-sama dan terkadang hingga larut malam mereka mengurus nya.


Angelica bahkan sering berkunjung ke tempat indekos Steven, Angelica memasak nasi dan mencuci pakaian Steven ketika berada di kosan Steven.


Tanpa sengaja, Steven sering mencuri pandang untuk menatap Angelica "Ternyata Angelica orangnya manis dan perhatian", puji Steven didalam hatinya.


Steven dan Angelica sering makan bersama di restoran, pergi ke cafe dan menonton bioskop.


Angelica merasa senang dan bahagia, "Tidak sia-sia penantian ku selama 3 tahun lebih", pikir nya dibenaknya.


Suatu hari ketika Angelica hendak menjemput Steven di tempat kosannya, Angelica masuk tanpa mengetuk pintu, bermaksud untuk memberikan surprise, saat itu Steven sedang berada di kamar mandi, Angelica masuk ke kamar Steven bersembunyi tidak diketahui Steven, Angelica bersembunyi di dalam lemari pakaian Steven.


Ketika Steven keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya dari pinggang sampai bawah lutut kakinya, bermaksud hendak mengambil pakaian dari lemari nya, Steven tersentak melihat Angelica ada di lemarinya, sehingga handuknya terlepas tanpa disadarinya, kini Steven tanpa busana di lihat oleh Angelica.


Karena rasa cinta dan sayangnya pun telah tumbuh. Dengan sangat bernafsu dan sudah lama Steven tidak berhubungan intim dengan Dikta, hasratnya begitu menggebu-gebu melihat Angelica ada di kamar nya.


Steven pun menciumi dan memeluk Angelica begitu erat dan segera melucuti pakaian Angelica, mereka pun tidak bisa berkata-kata, karena perasaan mereka masing-masing pun tidak ingin melewatkan momen bahagia ini. Steven dan Angelica pun melakukan hubungi suami-istri,

__ADS_1


Angelica ingin melakukan nya pikirnya, "ahh tinggal menghitung hari lagi, kami pun sudah sah jadi suami istri", sehingga pasrah Steven merenggut mahkota nya.


Buru-buru mereka melakukan nya, takut ada teman kosan dari kamar sebelah memergoki mereka, nafas mereka begitu ngos-ngosan, segera mereka kembali memakai pakaian masing-masing, dan beraktifitas seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa.


Steven tidak ingat janjinya kepada Dikta, bahwa Steven tidak boleh berhubungan suami-istri dengan Angelica, Steven tidak bisa berkata-kata, itu terjadi begitu cepat.


Sama halnya dengan hubungan suami-istri yang dilakukan Dikta dan Steven, padahal jelas-jelas terlarang, karena keinginan nafsu tidak bisa ditolerir. Steven pasrah pada keadaan, "Biarlah keadaan yang menyelesaikan nya sendiri", pikir nya dalam hati.


Steven dan Angelica segera keluar dari kamar Steven. Dan pergi untuk mengurusi segala keperluan untuk pernikahan yang belum rampung.


Baik Steven dan Angelica, begitu senang dan bahagia perasaan nya saat ini, mereka sering senyum-senyum sendiri bila mengingat apa yang baru saja mereka lakukan tadi di kamar Steven,


begitu konyol, sesekali mereka tersenyum sendiri, "sebentar lagi kami pun akan melakukan itu tidak dikejar ketakutan melainkan penuh hasrat dan keinginan", batin mereka masing-masing.


Sebelum Tiba hari pernikahan Steven dan Angelica, Heni dan Dikta sudah datang terlebih dahulu ke Medan, mereka tinggal di kosan Steven, kedua anak Steven dan Dikta dititipkan kepada ibu Sari.


tetangga keluarga Steven di Tanjung Karang.


Angelica tidak tahu bahwa Heni dan Dikta ada di kamar Steven, Angelica terkejut, melihat sosok Dikta, Angelica ingat Steven pernah cerita, kalau Steven punya adik perempuan seumuran Angelica. Angelica pun berpikir kalau Dikta adalah adik perempuan Steven.


Steven melihat Angelica datang, agar Angelica tidak curiga sosok Dikta Steven memperkenalkan Dikta kepada Angelica.


"Hai Angel, kenalkan ini adikku Dikta" ucap Steven memperkenalkan Dikta, Dikta mengulum tangannya kepada Angelica dengan raut wajah tidak senang.


"Angelica" sambil menjabat tangan Dikta dengan senyuman.


"Ini mamaku, pasti sudah kenalkan?" ucap Steven mencandai Heni.


"Iya sudah kenal, kemarin kan sudah pernah ketemu saat acara lamaran" ucap Angelica tersenyum.

__ADS_1


"Silahkan kalian ngobrol-ngobrol dulu, supaya makin akrab" ucap Steven basa-basi, menutupi agar tidak terbongkar segala kedok keluarga Steven.


Angelica hanya tersenyum dan manggut-manggut, tetapi Dikta hanya cuek, tidak sanggup kompak dengan Angelica, terkadang Dikta harus menahan rasa cemburunya melihat Angelica dekat-dekat dengan Steven, bercanda dan cubit-cubitan di depan Dikta. Ingin rasanya menampar Angelica, tetapi Heni selalu menyuruh nya untuk bersabar.


__ADS_2