Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#26. Steven harus melakukan apa kata Heni.


__ADS_3

Semalaman memikirkan rencana yang diutarakan Heni, sampai membuat Steven tidak bisa tidur, "Aduh kenapa sih harus serumit ini", pikir Steven dalam benaknya.


Steven mau membujuk Heni, tidak adakah cara yang lazim, kenapa harus mengorbankan orang lain, Steven tidak habis pikir.


Mendengar Heni sudah bangun pagi, karena terdengar suara bunyi mesin air yang sedang dinyalakan, Steven buru-buru menemui Heni.


"Ma, tidak adakah cara lain?" bujuk Steven kepada Heni.


"Tidak ada Steve, hanya itu caranya nya, kalau kamu mau keluargamu utuh, dan tidak diusir dari daerah ini, atau yang paling menyakitkan, keluargamu akan di gunjingkan di hina dan dicaci maki, bahkan dimana pun engkau berada tidak akan ada yang menerima kamu dan keluarga mu, kamu mau pilih mana sedikit mengorbankan Angelica atau membiarkan keluarga mu hancur berantakan" ucap Heni tegas dan kesal.


"Ta-- ma, apa Angelica nanti bisa terima begitu saja, apabila aku meninggalkan nya, atau---" ucap Steven ragu.


"Sudah lah Steve, segera saja kamu laksanakan apa yang mama perintahkan,


petugas dari kantor lurah pasti akan datang dalam waktu dekat ini, mereka hanya menjalankan tugasnya,


sampai kapan kamu mengulur-ulur waktunya, adanya petugas kantor lurah akan curiga dan akan menyuruh kepala lurah nanti yang datang untuk meminta kartu keluarga kita" ucap Heni memberitahu beberapa kemungkinan.


"A..pa Dikta mau dan setuju kalau aku menikahi Angelica? tanya Steven ingin tahu tanggapan Heni.


"Tidak usah kamu pikirkan Dikta, nanti mama yang akan bicara kepada Dikta, setuju atau tidak setuju pun Dikta, kamu tetap harus menikahi Angelica" ucap Heni meninggalkan Steven dengan wajah masih kebingungan.


Tiba-tiba Dikta datang menghampiri Steven, mendengar nama Angelica disebut, Dikta penasaran apa yang sedang dibicarakan Steven dan Heni, Dikta langsung menanyakan kejelasan nya kepada Steven.


"Bang, tadi aku mendengar nama Angelica disebut, ada apa bang, kenapa kalian tiba-tiba membicarakan mengenai Angelica?" tanya dikta penasaran dan ingin tahu.


"Ahh tidak apa-apa kok, kamu pasti salah dengar, kami tidak ada kok membicarakan Angelica" jawab Steven menyangkal dan segera mengalihkan pembicaraan.


"Ehh, Abang lupa, tadi sebenarnya Abang mau mandi, Abang mandi dulu ya" Steven pamit, tetapi langsuudi hadang Dikta.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan bang, tolong katakan yang sebenarnya, adaapa dengan Angelica, mengapa mama sama Abang membicarakan Angelica, sepertinya pembicaraan kalian tadi begitu penting" Dikta memaksa Steven untuk berterus-terang.


Steven pun diam dan tidak berani berbicara, takut Dikta sakit hati dan akan menangis. Heni datang dan duduk disamping Dikta mencoba mengatakan yang sebenarnya kepada Dikta.

__ADS_1


"Begini Dikta, kamu tahukan masalah kartu keluarga kita yang diminta petugas dari kantor lurah untuk kita serahkan?, kamu tahukan kalau kita menyerahkan kartu keluarga lama, artinya kamu dan Steven adalah anak kandung mama, secara kamu dan Steven adalah pasangan suami istri, kalau kita ketahuan maka siap-siaplah kita akan di usir dari daerah ini, kita akan digunjingkan dan dilempari warga, kamu pun pasti dipaksa cerai dari Steven, kamu mau hal itu terjadi?" tanya Heni memberitahu Dikta segala konsekuensi yang akan terjadi.


Dikta diam, "Terus hubungan nya dengan Angelica apa ma?" tanya Dikta bingung.


"Steven dan Angelica akan menikah " ucap Heni tegas.


"Dikta tidak mau ma, terus Dikta gimana?" tanya Dikta penuh emosi.


"Ini hanya sementara ta, setelah mendapatkan surat nikah sah, Steven akan meninggalkan Angelica.


Surat nikah sah itu akan menjadi surat nikah kalian, kamu akan berganti nama menjadi Angelica.


Dengan surat nikah itu, kita akan bisa mengurus kartu keluarga baru, jadi kamu setuju atau tidak setuju, hanya itu jalan satu-satunya, dan kamu harus pasrah, ini demi kebaikan dan keutuhan keluarga mu, jadi pikir kan itu baik-baik" ucap Heni tegas.


Dikta diam dan tidak rela Steven harus dimiliki oleh gadis lain, walaupun katanya hanya sementara saja. Tetapi Heni mengatakan dengan tegas kalau ini adalah penyelesaian satu-satunya. Mau tidak mau Dikta harus menyetujui pernikahan Steven dan Angelica.


"Bang, ingatnya kamu jangan sampai jatuh cinta kepada Angelica ya!, pikirkan anak-anak kita Kenzo dan baby mungil kita" ucap Dikta menasihati Steven.


"Iya, Abang janji tidak akan jatuh cinta kepada Angelica" ucap Steven tegas sambil memeluk erat Dikta.


" Secepatnya ta, kita tidak punya banyak waktu, keburu petugas dari kantor lurah datang meminta kartu keluarga kita, kita tidak punya alasan lagi untuk mengulur-ulur waktu lagi, adanya mereka pasti akan marah dan curiga kepada kita" Heni memberitahu dengan tegas dan jelas.


Dikta dan Steven saling bertatapan dan diam membisu.


"Steven segera kamu kontak dengan Angelica, kamu harus pandai-pandai menjawab, jangan sampai Angelica dan keluarga nya curiga" Heni mengingatkan.


"Baik ma" jawab Steven pelan.


...****************...


Steven mengaktifkan simpati card-nya , yang dipakai nya untuk menghubungi Angelica.


Banyak pesan masuk berupa kata-kata sayang, kata dukungan dan support buat Steven, bahkan kata rindu yang amat sangat, yang dirasakan Angelica, dan curhat-curhat seluruh isi hati Angelica.

__ADS_1


Melihat pesan-pesan Angelica yang dikirim kepada Steven terkirim dan terbaca oleh Steven, Angelica sangat senang.


Maklum Angelica selalu dekat dengan handphonenya, Angelica tidak mau, ketika Steven menelepon nya Angelica tidak ada dekat dengan handphone, sehingga tidak jadi berbicara dengan Steven.


Untuk menghindari hal itu terjadi, Angelica selalu mengalungkan handphone nya agar tidak terlewatkan bicara dengan Steven.


Angelica langsung menghubungi Steven.


Tut ...Tut.....Tut...


Lama berdering dan belum diangkat, Angelica mencoba menghubungi nomor Steven.


Tut....Tut....Tut...


Steven melihat handphone nya berdering dan melihat nama yang menghubunginya adalah Angelica, Steven dag Dig dug, bingung nanti mau ngomong apa, Steven pasrah dan mencoba mengangkat dan menjawab telepon Angelica.


"Halo Angel, gimana kabar kamu?" tanya Steven pelan.


"Hai sayang, aku sehat-sehat saja, senang sekali bisa menghubungimu, aku hampir putus asa, habis kamu hilang begitu saja, tidak ada kabar-kabarinya, gimana kabar kamu sekarang?" tanya Angelica sambil menangis terharu, karena bisa kembali berbicara dengan Steven.


"Aku baik-baik saja Angel, kangen ingin ketemu dengan kamu" ucap Steven basa-basi.


"Aku juga kangen sekali, kamu sekarang dimana Steve?" Aku sedang di Tanjung Karang, kami sudah pindah dari Pekanbaru.


"Oh ya, terus kamu masih balik ke Kalimantan?" tanya Angelica ingin tahu.


"Tidak, aku tidak balik lagi kok ke Kalimantan" jawab Steven seadanya.


"Bagus deh, terus kamu proyeknya kemana lagi?, Angel pengen kamu proyeknya ke Medan lagi, supaya kita bisa ketemu lagi?" ucap Angelica mencoba memberi saran.


"Mungkin sebentar lagi ke Medan" jawab Steven ingat akan saran Heni, mungkin ini lah strategi awalnya, pikir Steven.


"Benarkah, asik, aduh senang banget aku, akhirnya kamu akan ke Medan lagi, kabari aku ya, kalau kamu nanti sudah sampai di Medan, supaya aku bisa jemput kamu dari bandara? ucap Angelica senang.

__ADS_1


"Ok, udah ya, nanti aku telpon kamu lagi nanti, kalau aku jadi ke Medan" ucap Steven mengakhiri dan menutup telponnya.


Steven pun lega rencana awalnya berhasil, step by step, pikir Steven dalam benaknya.


__ADS_2