
Akhirnya Dikta mengerti dan sadar atas kekhawatiran Heni bila Bu Purnama datang ke rumah ini.
"Terus setelah Bu Purnama meminta alamat rumah ini, apa yang mama katakan kepada nya?", tanya Dikta penasaran.
"Tadinya mama sudah pusing harus bilang apa ke Kakak Purnama bila meminta alamat rumah kita.
Untung lah Kakak Purnama lagi sibuk mengurusi belanjaan apa yang akan dibeli selanjutnya.
Karena ada acara arisan di rumahnya jam 14.00, kak Purnama harus menjamu seluruh anggota arisannya dengan memasak menu makanan yang enak.
Sehingga kakak Purnama lupa untuk menanyakan balik alamat rumah kita", ucap Heni menceritakan pertemuan nya dengan Purnama.
"Bagaimana ini, aku merasa pusing memikirkannya, aku merasa tidak aman lagi untuk tinggal di Tanjung Karang ini, pasti suatu saat nanti aku pasti ketemu dengan kak Purnama", ucap Heni panik, Heni merasa kesal dan bingung.
"Masalah gitu saja kok repot sih, ma", ucap Dikta enteng.
"Mama tidak usah belanja ke pasar lagi, supaya tidak ketemu lagi dengan Bu Purnama", Dikta menambahi sekalian memberikan solusi.
"Kalau mama tidak ke pasar, lantas kamu mau makan apa?", tanya Heni balik.
"Mama belanja sembakonya di mall saja, ma!, selain agar mama tidak mengalami yang namanya kotor-kotoran dan becek, belanja di mall juga, bisa mendapatkan aneka jenis sayur import", ucap Dikta sombong merasa pintar telah memberikan ide yang brilian kepada Heni.
"Iya sih, tetapi kan harganya jauh lebih murah bila belanja di pasar", ucap Heni membela.
"Cuma beda dikit, ma!, Mama...mama..dikasih solusi malah bilang ini lah...bilang itulah... Solusi nya cuma itu, ma. Atau mama belanja sayurnya dari Mpok Darmi saja, tukang sayur keliling yang biasa mangkal di kampung ini!", jawab Dikta tegas.
"Jualan Mpok Darmi kurang segar, karena Mpok Darmi datang berjualan ke kampung kita sudah agak siangan. Mpok Darmi jualannya terlebih dahulu ke kampung sebelah", ucap Heni memberitahu.
"Terserah mama saja deh, Dikta tahunya makan doang!", Dikta santai.
__ADS_1
"Kamu ya memang sifatnya begitu, tidak mau ambil pusing, kesenangan kamu saja yang kamu pikirin, akibat kedepannya tidak pernah mau tahu, kalau kamu tidak begini, mungkin mama tidak akan sepusing ini dan semalu ini", ucap Heni kesal dan marah.
"Apaan sih ma, maksud mama apa, Dikta mikirin kesenangan Dikta saja?", ucap Dikta jengkel.
"Kamu itu memang ya, loading nya lambat banget. Apa kamu tidak sadar telah melakukan dosa dan salah?.
Kalau kamu tidak berhubungan suami istri dengan kakak kandung kamu sendiri, mungkin kita tidak akan susah-susah harus tinggal di Tanjung Karang ini.
Mungkin kepala mama tidak akan tertunduk malu begini, mungkin akan lahir cucu-cucu mama yang sehat dan normal.
Apa kamu tahu perasaan mama?.
Apa kamu merasa biasa saja hidup dalam kebohongan ini.
Mama tidak mengerti kenapa keluarga kita menjalani kehidupan seperti ini, Sampai kapan kita harus menjalani ini.
Apa kamu pikir kamu itu sekarang sedang melakonkan sebuah drama panggung?, seolah tiada memikirkan sorga dan neraka?", Heni menumpahkan segala unek-unek dan beban pikirannya selama ini.
Tinggal lah Heni di dapur sendirian, membereskan semua barang-barang belanjaan Heni yang di beli dari pasar, bahkan ketika memasak pun, Dikta tidak juga keluar untuk membantu Heni memasak.
Seluruh lauk dan sayur sudah selesai di masak Heni, waktunya bagi Heni untuk segera mengisi perutnya dengan makanan. Karena sedari tadi Heni sudah merasa perut nya keroncongan. Heni pun mengetuk pintu kamar Dikta untuk segera makan.
tok..tok .tok.
"Dikta...Dikta. makan yuk, mama sudah lapar banget, ayo makan bersama mama!", ajak Heni.
"Mama duluan saja, Dikta tidak lapar", Dikta ketus menjawab.
Heni sudah tidak bisa lagi mentolerir perutnya, akhirnya Heni makan sendirian. Heni langsung melahap habis makanannya tanpa sisa.
__ADS_1
Bak buah simalakama perasaan Heni saat ini, Di satu sisi Heni merasa kasihan melihat Dikta tersiksa dilain sisi perasaannya marah merasa gagal sebagai ibu yang baik kepada kedua anaknya.
Heni merasa biasa menanggapi kemarahan Dikta, "nanti juga tidak marah lagi", pikir Heni dalam hati.
Heni pun langsung pergi beristirahat di kamarnya, karena sudah lelah dari pasar dan memasak Heni langsung terlelap tidur.
Steven pulang sekaligus membawa Kenzo dari sekolah. Steven sudah ada kunci rumah cadangan, sehingga tidak perlu menggedor-gedor pintu, bila Dikta atau Heni sedang tertidur lelap.
"Kenzo, langsung masuk kamar, terus ganti baju. Setelah ganti baju, Kenzo ke ruang makan, kita makan bersama ya", perintah Steven.
"I--ya, pa", jawab Kenzo sambil mengangguk lalu pergi meninggalkan Steven langsung masuk ke kamar, sesuai yang diperintahkan Steven.
Tidak lama kemudian Steven dan Kenzo makan bersama. Steven mengajak Kenzo makan bersama, agar steven bisa memastikan bahwa Kenzo sudah makan. Steven mau pergi keluar, ada teman Steven yang mengajak Steven untuk pergi ke cafe.
Sudah lama Steven tidak pergi ke cafe, setelah status nya suami istri dengan Dikta, kehidupan Steven jadi tertutup. Tidak pernah lagi nongkrong-nongkrong dengan teman-teman nya, tidak ada teman yang menjadi teman curhat Steven.
Sebenarnya di dalam perasaan Steven ingin sekali menjalani hidup dengan normal, bisa menikmati hidup dengan orang-orang yang dicintai. Begitu frustasi perasaan Steven saat ini, hanya pasrah tidak bersemangat.
"Kenzo, papa mau keluar sebentar, ketemu dengan teman papa. Kenzo tinggal di rumah ya. Kenzo setelah makan masuk ke kamar terus kerjain PR. Nenek dan mama ada di kamar nya sedang tidur, kalau Kenzo ada butuh sesuatu Kenzo tinggal panggil nenek atau mama di kamarnya ya!", perintah Steven kepada Kenzo.
Kenzo hanya bisa mengangguk, "Tidak seperti biasanya Steven pergi bersama teman-teman nya", pikirnya dalam hati.
Steven selalu menemani Kenzo saat sore setelah bangun tidur siang. Bersepeda di halaman rumah, bermain kejar-kejaran dan bermain bola, Kenzo terlihat kesal. Steven tahu perasaan Kenzo, tetapi Steven sudah berjanji dengan teman-teman nya untuk menyanggupi hari ini pergi ke cafe.
Steven langsung mengantar Kenzo masuk ke kamarnya, "Kenzo istirahat lalu kerjain PR ya", Steven mengingatkan Kenzo.
"I--ya, pa", jawab Kenzo sedikit kecewa, karena hari ini tidak bisa bermain bersama Steven.
Steven langsung menutup pintu kamar Kenzo lalu berbalik untuk segera menuju halaman rumah, karena Steven tidak memasukkan mobil nya ke dalam garasi karena tahu akan segera pergi.
__ADS_1
Steven tidak ada masuk ke kamarnya, Steven mengenakan pakaian yang dipakai nya tadi pagi sewaktu pergi ke tempat kerja.