
Steven dan Willi pun berangkat bersama ke rumah kediaman keluarga Steven. Willi sangat bersemangat dan antusias dari tadi tidak sabar dan selalu mengingatkan dan memaksa steven untuk segera siap-siaplah, dan langsung berangkat menuju rumah keluarga Steven.
Steven memaklumi perasaan Willi "Tidak apa-apa willli yang jadi suami Dikta. Mudah-mudahan willli dan Dikta cocok dan bisa segera ke pelaminan", pikir Steven dalam benaknya dengan senyum bahagia.
Tidak beberapa lama sampailah Steven dan Willi di rumah. Kebetulan Heni dan Dikta sedang duduk sambil minum teh dan menyantap beberapa cemilan ringan bercanda dan mengobrol santai di depan rumah.
Keduanya terkejut melihat Steven dan willli tiba-tiba saja sudah mampir di depan rumah.
"Sudah balik kamu dari Medan Steve, kapan balik. Kenapa tidak kasih tahu mama, kalau kamu sudah balik dari Medan!", Heni sedikit bingung dan kesal.
"Iya maaf, ma. Steven tidak kasih tahu mama kalau steven sudah balik. Steven nyampe malam kemarin, sekarang mau kasih tahu mama rencananya", Steven membela diri.
"Bagaimana tanggapan Angelica, apakah Angelica mau rujuk?", Heni penasaran dan ingin tahu.
"Angelica tidak mau rujuk ma. Sudahlah Steven maklum kenapa Angelica tidak mau rujuk. Mungkin perasaan Angelica terlalu sakit, dan Steven tidak bisa memaksanya", Steven memberitahu Heni dengan tegar.
Heni pun hanya terdiam, "Benar, kita tidak bisa memaksakan Angelica, semua tergantung kepada Angelica", pikir Heni dalam benaknya.
"Sekarang kita tinggalkan masalah Angelica. Ada yang lebih penting yang sangat perlu untuk kita bahas", Steven membuka obrolan.
Semua mata tertuju ke arah steven dengan penuh tanda tanya.
Penasaran dan ingin tahu, masalah penting apa kiranya yang hendak di bahas sekarang, pikir Heni dan Dikta saling bertatapan mata.
"Ma, teman ku Willi ini bermaksud untuk melamar Dikta. Agar tidak canggung, Dikta dan willli boleh saling mengenal dulu, jalan bareng, agar bisa mengenal satu dengan yang lain", Steven memberitahu tahu, Dikta sedikit terkejut dan malu-malu begitu juga willli.
Heni tersenyum. Heni juga merasa kalau willli orangnya baik, ramah dan terbuka. "Tidak apalah kalau Willi pun mau sama Dikta. Lamaran silahkan saja di percepat", pikir Heni dalam hatinya dengan sangat sukacita.
"Benar, nak Willi ingin mengenal Dikta lebih dekat lagi, bahkan kalau cocok ingin segera melamar Dikta?", tanya Heni ingin tahu tanggapan Willi.
__ADS_1
"Benar, Bu!. Willi serius kepada Dikta dan ingin melamar Dikta jadi istri Willi", Willi menyakinkan Heni.
"Kamu sendiri Dikta!, bagaimana tanggapan kamu. Apakah kamu juga setuju ingin dipersunting oleh Willi?", Heni juga ingin tahu tanggapan Dikta.
Dikta tersenyum malu-malu dan memerah pipinya. Hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ma, baiknya kita tinggalkan saja Dikta dan Willi mengobrol berdua, agar mereka bisa mengenal satu dengan yang lain", Steven mengajak Heni agar meninggalkan Dikta dan Willi berdua di ruang tamu. Steven pun mengajak Heni berjalan ke arah dapur. Steven pura-pura minta dimasakin Indomie telur berkuah dan pedas.
Heni pun langsung bergerak berjalan ke arah dapur dan segera memasak pesanan Steven.
"Bang, kenapa mau sama Dikta. Secara Abang tahu Dikta masa lalunya sangat memalukan. Mengingat nya saja Dikta merasa jijik, tidak menyangka kok begitu bodoh dan kotornya Dikta Sampai bisa melakukan hal bejat dan memalukan itu", Dikta merasa malu dan terus menunduk tidak berani menatap mata Willi.
"Abang juga tidak tahu dek, pertama kali melihat kamu. Abang kasihan, ingin rasanya lebih dekat dan melindungi mu", Willi memberi alasan.
"Hanya karena kasihankah bang?, makanya Abang mau sama Dikta?", ucap Dikta sedih.
"Bukan begitu maksud Abang, Entah mengapa ingin dekat dan pengen melindungi mu. Mungkin ini namanya jodoh", Willi mencoba menyakinkan Dikta.
Kiranya kamu bisa belajar dari masa lalu, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama", Willi mengajari dan menasihati Dikta.
"Iya bang", jawab Dikta pelan dan terus menundukkan kepalanya.
"Oh iya, aku juga berharap kalau kita menikah nanti jauh dari orang tua kamu. Kita mengontrak berdua, rumah tangga kita berdua yang jadi nahkodanya.
Aku tidak mau disetir oleh orangtua atau pihak lain. Susah senang kita yang merasakan, bahkan kelengkapan dan segala fasilitas kita yang mencukupkannya.
Aku mau kita menjadi rumah tangga yang mandiri", willli mengungkapkan harapan dan keinginannya jika berumah tangga kelak.
Dikta pun menyanggupi "Kamu ajari aku yah, kalau ada yang salah tegur baik-baik dan katakan baik-baik apa yang menjadi keinginan kamu. Dan aku juga berharap jangan kamu sekali-kali mengungkit masa lalu ku, kalau kita kelak bertengkar nanti", ucap Dikta penuh harap dengan wajah sedih dan iba.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu", Willi langsung menggenggam erat tangan Dikta dan terus menyakinkan Dikta.
"Apakah kita harus mengenal lebih dekat lagi?, atau maukah kamu bulan depan kita melangsungkan pernikahan kita segera?", willli menanyakan niat baiknya.
"Terserah Abang saja, aku juga setuju kalau bulan depan kita langsungkan saja pernikahan kita", Dikta menyetujui usul Willi.
"Kalau kamu setuju kita menikah bulan depan. Aku juga akan meminta restu dan persetujuan mamamu dan steven", Willi memberitahu keinginannya.
Dikta menjawab dengan malu-malu "Dikta setuju, Bang!".
Willi pun segera mengutarakan maksud nya untuk mempersunting Dikta bulan depan.
"Bu, willli ingin mempersunting Dikta menjadi istriku bulan depan. Kami yang akan mengatur semua keperluan untuk pernikahan kami. Kami juga inginnya pestanya sederhana saja. Hanya pihak keluarga dan tetangga terdekat saja. Kami pun bermaksud untuk segera tinggal di rumah kontrakan. Bagaimana menurut pendapat ibu?", Willi meminta tanggapan Heni sebagai mertuanya agar tidak salah paham dan ada sakit hati di kemudian hari.
"Tidak apa-apa willi, menurut ibu itu sangat bagus. Agar kalian bisa lebih dewasa dan mandiri tidak merepotkan dan tergantung kepada orang lain saja", Heni mendukung willi.
"Ibu berharap kalian sehati dan sepikir. Harus jujur dan terbuka terhadap pasangan. Jangan ada yang ditutup-tutupi, baik kesalahan dan sakit hati.
Semua harus diungkapkan agar nantinya tidak menumpuk sehingga itu nanti bisa menjadi perpecahan diantara kalian.
Bicarakan dengan baik-baik, jangan saling mencaci-maki. Sebisa mungkin harus saling pengertian, jangan memikirkan ego, masing-masing harus saling memikirkan untuk kelanggengan rumah tangga.
Jangan sedikit sedikit minta cerai, pergi ke rumah orang tua. Jangan
sampai itu terjadi, apa yang ingin dilakukan semua harus seizin dan minta persetujuan pasangan kita", Heni menasihati dengan panjang lebar, karena Heni tahu karakter Dikta yang masih manja dan cengeng. Dikta harus bisa dewasa dan tidak tergantung kepada orang tua saja.
Setelah Heni menasihati dengan panjang lebar gantian Steven yang memberi nasihat "Aku berharap kalian bisa menjadi pasangan suami-istri yang berbahagia hingga kakek nenek.
Buat willli, jaga adik ku baik-baik ya, aku percaya kamu pasti menjadi suami yang baik buat Dikta.
__ADS_1
Dan buat Dikta, jadilah istri yang baik, patuhi dan minta nasihat suami, agar kamu jangan salah melangkah", steven memberi nasihat kepada Dikta dan Willi.
"Terimakasih atas nasihat nya, doakan kami bisa menjadi pasangan suami-istri yang baik", Dikta dan willi bicara berbarengan.