
Sebelum jam makan siang sekitar jam 11 lewat, Angelica sudah was-was, wanti-wanti menunggu kedatangan Steven. Jantung Angelica berdegub kencang, antara khawatir dan takut. Takut kalau nanti akan berselisih hebat dengan Steven, Dikta dan Heni.
Waktu terus berjalan hingga pukul 12 tepat, Steven tidak kunjung pulang dari tempat kerjanya.
"Kadang begitu Steven, Bu. Terkadang tiba di rumah sudah pukul 14:00, tidak tahu juga kemana.
Mungkin ada urusan penting barang kali di luar", ucap Pak Dedi memberitahu, melihat Angelica semakin gusar dan kesal karena Steven belum juga tiba di rumah padahal sudah lewat dari waktu kebiasaan Steven tiba di rumah.
Angelica pun harus tetap memaksakan untuk menunggu kedatangan Steven dengan terpaksa, karena tidak mungkin Angelica pulang dengan tangan hampa tanpa membawa surat pernikahan sah mereka tersebut.
Brem,... tit...
Klakson mobil Steven berbunyi, agar orang rumah Dikta dan Heni tahu, bahwa Steven sudah tiba di rumah.
Kenzo keluar dari mobil bermaksud untuk membuka pintu pagar bagi Steven, agar Steven bisa memasukkan mobilnya ke garasi rumahnya.
Angelica begitu jelas melihat wajah Steven dari kejauhan, ada rasa rindu dan ingin memeluknya. Apa daya nanti malah jadi gunjingan orang-orang karena Steven disini statusnya suami orang bukan suami Angelica. Walaupun kenyataannya Angelica sudah menikah secara sah dengan Steven."Tidak ada yang berubah dari Steven, tetap ganteng", gumam Angelica dalam hatinya kagum terhadap Steven.
Sebelum pintu pagar di tutup Angelica langsung berlari menemui Steven.
"Steven, buka pintunya", teriak Angelica kencang.
Kenzo bingung antara membuka pintu atau tidak.
"Steven, buka pintunya!. Aku Angelica", Angelica kembali berteriak kencang.
"Pa--pa, Pa--pa, Pa--pa ", Kenzo berteriak memanggil Steven.
"Papa?, berarti anak yang berdiri di depan Angelica saat ini adalah anak Steven?", pikir Angelica dalam hatinya.
"Ternyata betul, Steven telah menikah dan memiliki anak", pikir Angelica menambahi.
Steven segera menghampiri asal suara yang telah memanggilnya, Steven berjalan menuju pintu pagar. Bukan main terkejutnya Steven melihat Angelica.
"Angelica, mengapa kamu disini?", tanya Steven terkejut melihat sosok Angelica antara percaya atau tidak, perasaan Steven. "Ternyata benar ini adalah Angelica", gumamnya dalam hati.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu kepada mu, Steve?. Mengapa kamu ada di sini?.
Secara kamu adalah suami ku, kamu pergi tidak ada kabar-kabari, bahkan pemberitahuan sebelumnya.
Padahal dulu kamu datang melamar aku di depan orangtuaku dengan cara baik-baik. Ternyata kamu meninggalkan aku tanpa memberitahu kesalahan apa yang telah kuperbuat", Angelica mengeluarkan segala bebannya selama ini.
__ADS_1
Kenzo masuk kedalam rumah memberitahu Dikta dan Heni kalau di luar ada perempuan asing.
Dikta dan Heni pun segera keluar dari kamar nya menghampiri perempuan asing yang dikatakan Kenzo.
.
Bukan main terkejutnya Dikta dan Heni melihat Angelica datang menemui Steven. Dikta langsung emosi "Hei perempuan tidak tahu diri, mengapa kamu datang ke sini, ada kepentingan apa kamu datang ke sini?", tanya Dikta ketus dan dengan suara lantang.
Steven takut permasalahan mereka nanti di dengar oleh tetangga, akhirnya Steven mengajak Angelica masuk ke dalam rumah.
"Mama, Dikta, dan kamu Angelica mari masuk ke dalam rumah, mari kita selesaikan dengan kepala dingin, tidak usah teriak dan suara keras-keras. Malu nanti di dengar tetangga", ajak Steven mempersilahkan Dikta Heni dan Angelica.
Akhirnya mereka berbicara di dalam rumah.
"Angelica mengapa kamu datang ke sini?", tanya Steven memulai pembicaraan mereka.
"Aku ingin meminta surat pernikahan kita. Waktu kita menikah surat pernikahan itu diserahkan kepada mu. Aku butuh surat pernikahan itu sebagai syarat untuk mengurus kartu keluarga dan akte kelahiran anak ku", ucap Angelica kepada Steven.
"Surat itu tidak ada padaku, aku tidak tahu surat itu ada dimana", Steven membohongi Dikta.
"Jadi pada siapa surat itu!, jangan berbohong kamu Steven", Angelica mulai kesal, sia-sia kedatangan Angelica ke Tanjung Karang ini", pikir Angelica dalam hatinya.
Tiba-tiba Kenzo keluar dari kamarnya menghampiri Steven dan Dikta"Pa, ma, makan yuk!", ajak Kenzo kepada Steven dan Dikta.
Steven tahu kebingungan Angelica dengan cepat Steven langsung menyuruh Kenzo makan duluan, dan setelah makan langsung masuk ke kamar.
Steven tidak mau Angelica tahu hubungan antara dirinya dan Dikta. Buru-buru langsung di suruh nya Angelica kembali balik ke Medan dan segera keluar dari rumahnya.
"Angelica, surat itu tidak ada disini. Kalau kamu tidak ada kepentingan lagi silahkan kamu keluar dari rumah ini dan segera balik ke Medan", Steven memaksa Angelica ke luar.
Angelica tidak terima di usir Steven seperti ini, seharusnya Angelica bisa menuntut Steven karena telah meninggalkan anak dan istrinya dan menikah dengan perempuan lain.
Kenyataannya Angelica tidak bisa berbuat apa-apa, karena bukti Angelica tidak ada, yang menunjukkan Angelica dan Steven adalah suami-istri.
"Sekarang juga kamu keluar Angelica", bentak Steven kepada Angelica.
Angelica tidak bisa berbuat apa-apa. Angelica pasrah di usir Steven. Sebab Angelica tidak ada bukti yang bisa di tunjukkan nya kepada orang-orang bahwa Steven adalah suami sah Angelica.
Akhirnya Angelica keluar dari kediaman rumah Steven dengan perasaan sedih. Merasa sia-sia kedatangan Angelica untuk mengambil surat nikah tersebut, padahal surat itu sangat penting bagi hidupnya dan anaknya.
Angelica tidak terima telah diusir Steven seperti binatang. Angelica masih penasaran "Yang dimaksud Kenzo dengan mama itu kepada siapa?", pikir Angelica penasaran.
__ADS_1
Angelica pun kembali bertanya kepada pemilik warung penjual sarapan pagi tersebut.
Angelica mengetuk pintu, karena warungnya sudah tutup. "Pemilik warung mungkin sedang berada di dalam rumah", gumam Angelica.
tok .tok..tok..
"Pak Dedi... Pak Dedi" teriak Angelica memanggil pak Dedi.
"Ada apa Bu?", sapa pak Dedi bingung.
"Pak Steven sudah datang kan?", pak Dedi menambahi.
"Sudah pak, saya sudah ketemu dengan keluarga Steven di dalam. Saya mau tanya, apakah di rumah itu ada perempuan lain selain Dikta dan Heni?", tanya Angelica penasaran.
"Bu, di rumah Steven tidak ada perempuan lain selain Dikta dan Heni. Memang nya kenapa Bu?", tanya pak Dedi bingung.
"Bapak yakin tidak ada perempuan lain di rumah keluarga Steven pak?, dan anak kecil yang bernama Kenzo, apakah itu anak Dikta dan Steven?", tanya Angelica berulang-kali untuk menyakinkan dirinya.
"Benar Bu, tidak ada perempuan lain selain Dikta dan Heni!. Saya sudah puluhan tahun tinggal di sini dan belum pernah pindah.
Saya duluan yang berada di kampung ini daripada keluarga Steven, Steven kira-kira tinggal disini masih 5tahun lamanya, dan Kenzo adalah anak Dikta dan Steven.
Dikta datang ke kampung ini dengan kondisi hamil muda pada awal kedatangan mereka", Pak Dedi menyakinkan Angelica.
Angelica lemas tidak menyangka kalau Dikta dan Steven adalah suami istri, setahu Angelica Dikta adalah adik kandung Steven.
"Memangnya ada apa sih Bu, kok bolak balik menanyakan apakah ada perempuan lain selain Dikta dan Heni?", tanya pak Dedi ingin tahu.
"Begini pak, Dikta dan Steven itu adalah adik kandung, jadi tidak mungkin mereka suami-istri. Saya tahu karena saya adalah istri sah dari Steven, ketika Steven melamar saya, ada Heni sebagai mamanya Steven dan Dikta sebagai adik kandungnya!", Angelica menjelaskan kepada pak Dedi.
"Apa!, Ibu adalah istri Steven?", gantian pak Dedi yang terkejut sekarang.
"Iya pak, saya istri sah Steven, kami menikah di Medan, tempat tinggal saya. Saya datang kemari untuk mengambil surat nikah kami yang telah diambil oleh Steven.
Tetapi Steven mengatakan tidak ada padanya. Saya tidak bermaksud merebut Steven. Saya ikhlas Steven pada perempuan lain, karena selama ini Steven juga tidak pernah menafkahi dan menanyakan kabar saya dan anak saya.
Steven meninggalkan kan kami tanpa sepengetahuan kami. Surat nikah itu sangat penting bagi saya untuk mengurus kartu keluarga dan akte lahir anak saya", Angelica berterus terang mengenai kondisinya.
"Kalau begitu coba, ibu tanyakan besok ke pegawai lurah setempat, tanyakan mengenai identitas keluarga Steven.
Karena di kampung ini di wajibkan semua warga memberikan kartu keluarga, apalagi keluarga Steven sudah lama tinggal di kampung ini.
__ADS_1
Ibu datang saja besok pagi ke kantor lurah, karena sore ini kantor lurah sudah tutup", ucap Pak Dedi memberikan solusi.