
Kondisi Gemilang pun berangsur-angsur membaik, Linda dan Vina datang menjenguk Gemilang di rumah sakit.
Angelica menceritakan Bahwa, Steven lah yang telah mendonorkan ginjalnya untuk Gemilang, sehingga Gemilang pulih dan normal seperti biasanya.
"Ma, Steven aku telpon dan kuminta datang ke Medan. Agar Steven tahu kondisi dan keadaan Gemilang.
Maaf aku tidak memberitahu mama sebelumnya. Karena aku sangat panik dan ketakutan, ketika dokter memvonis kalau Gemilang terkena ginjal akut dan hampir tidak bisa tertolong kalau bukan dengan proses transplantasi.
Itupun harus segera dilakukan dengan cepat. Sebelumnya aku juga sudah memeriksakan ginjalku, ternyata ginjal ku tidak cocok untuk Gemilang. Dalam pikiran ku hanya Steven, karena Steven adalah ayah kandung dari Gemilang.
Beruntung Steven langsung datang dari Tanjung Karang dan bersedia memeriksakan dan mendonorkan ginjalnya, karena ginjal Steven cocok untuk Gemilang.
Tadinya setelah proses transplantasi selesai kondisi Steven drop dan koma tidak sadarkan diri.
Aku langsung mengambil keputusan untuk rujuk menjalin hubungan rumah tangga dengan Steven. Karena kulihat Steven pun tidak bersemangat hidup, pasrah walaupun kehilangan nyawanya sekalipun tetap memaksakan untuk mendonor ginjalnya untuk Gemilang.
Aku juga memikirkan tidak apa-apa memberikan Steven kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Mengingat Gemilang juga ingin sekali dekat dengan Steven, aku pikir aku tidak boleh egois.
Aku harus memikirkan perasaan Gemilang dan mental gemilang, agar Gemilang bisa bahagia dan semangat dalam menjalani kesehariannya dengan kehadiran Steven di dekatnya.
Tidak apa-apa kan, ma. Aku mengambil keputusan ini?", Angelica meminta maaf karena tidak berunding terlebih dulu dengan Linda, karena telah mengambil keputusan untuk rujuk kembali dengan Steven.
Sejenak Linda terdiam, dulu steven telah jahat terhadap Angelica karena hanya memanfaatkan Angelica untuk kepentingan pribadinya.
Tetapi kali ini Steven juga telah mengorbankan ginjalnya agar Gemilang bisa pulih kembali.
"Tidak apa-apa lah memberikan Steven kesempatan untuk memperbaikinya kesalahannya. Steven sudah bersikap lebih baik.
Steven terpaksa melakukan itu karena situasi dan kondisi Dikta yang sudah hamil dan untuk menutupi aib keluarganya. Dan sekarang pun Steven dan Dikta sudah tidak berhubungan suami -istri lagi", pikir Linda dalam benaknya.
"Tidak apa-apa Angel, kalian rujuk lagi. Gemilang pun sangat membutuhkan sosok ayah. Yang mendampinginya dalam kesehariannya", Linda menyetujui tindakan Angelica. Begitu juga Vina setuju untuk memberikan Steven kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Angelica pun mengajak Linda dan Vina untuk menemui Steven di ruangan lain.
__ADS_1
Steven terkejut melihat kedatangan Linda dan Vina, Steven ingin segera bangun dari tidurnya untuk menjabat tangan Linda dan sekalian meminta-maaf.
Linda buru-buru menolak "Tidak usah dipaksakan Steve, kondisi kamu masih lemah", Steven senang Linda peduli terhadap Steven, Steven berpikir kalau Linda sudah memaafkan kesalahannya.
"Bagaimana kondisi kamu apa sudah baikan?", tanya Linda melihat Steven begitu canggung terhadapnya.
"Sudah lebih baikan, ma. Dokter juga telah mengizinkan sudah boleh pulang", Steven memberitahu kondisinya.
"Syukurlah kalau begitu, Segera urus kelengkapan administrasi nya Angel, agar kita bisa pulang ke rumah", Linda memerintah Angelica, Angelica pun bergegas menuju ruang resepsionis.
Setelah semua sudah di urus, akhirnya Steven dan Gemilang bisa pulang ke rumah. Semua merasa senang dan berbahagia, karena badai telah berlalu. "Waktunya sekarang membenahi kehidupan baru", pikir Steven dalam benaknya.
***
"Angel, boleh kah kita mengunjungi mamaku di Tanjung Karang?. Karena sekarang mamaku sendirian di rumah. Dikta sudah menikah dan mengontrak bersama suaminya.
Oh iya, aku juga ingin memberi tahu kamu, bahwa Dikta adalah adik angkat ku, dulu aku masih kecil dan tidak mengingat kejadian itu. Adikku kandungku Dikta mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Ibu ku tidak terima dan menjadi sakit jiwa karena Dikta meninggal dunia.
Ibu purnama berinisiatif memberikan anak angkatnya nya, Sally yang seumuran Dikta. menggantikan Dikta yang sudah meninggal. Akhirnya mama pulih.
Kami pun baru mengetahui nya setelah Bu Purnama datang secara tiba-tiba ke pesta perkawinan Dikta dan mengatakan yang sebenarnya, Padahal Ibu Purnama tinggal di sebelah gang Sopoyono", Steven mengakui keberadaan Dikta.
"Memang boleh, karena memang kami tidak ada hubungan sedarah. Kamu mau aku balikan dengan Dikta?", ledek Steven.
Melihat Angelica raut mukanya menjadi seperti jeruk purut. Steven lalu mencari berbagai alasan merangkai kata-kata, agar Angelica tidak cemberut wajahnya.
"Itu karna cinta kita sudah ditakdirkan untuk bersatu dan bersama selama-lamanya, Walaupun menghadapi berbagai rintangan dan cobaan seiring waktu, semua menjadi indah pada waktunya", Steven mencium tangan Angelica dan kening nya, tanda keseriusan cinta Steven kepada Angelica.
Walaupun aku dan Dikta adalah saudara angkat. Aku tetap mengganggap Dikta adalah adik kandung ku. Seharusnya pun kejadian seperti itu tidak terjadi di keluarga kita untuk selanjutnya.
Angelica hanya manggut-manggut mencoba memahaminya.
"Ya sudah lah. Semoga keluarga kita ke depannya di jauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan dan perbuatan-perbuatan yang membuat aib bagi keluarga", ucap Angelica berharap dan berdoa.
***
__ADS_1
Steven akhirnya membawa Angelica dan Gemilang menemui Heni, sebelumnya Steven tidak memberitahu Heni kalau mereka akan datang "Pasti mama akan merasa senang dengan kehadiran kami", pikir Steven dalam hatinya.
Sampailah mereka di depan rumah.
Tok...tok..tokk..
Steven mengetuk pintu.
Heni bergegas membukakan pintu. Setelah mendengar seperti ada ketukan pintu.
"Steven, Angelica, Kenapa tidak memberitahu, mama. Kalau kalian akan datang?", tanya Heni sedikit cemberut, langsung tersenyum melihat gemilang memanggil nya "nenek".
Heni pun segera menggendong Gemilang, sangat senang melihat Gemilang turut serta. "Berarti Steven dan Angelica telah rujuk kembali", pikir Heni dalam hatinya.
"Syukurlah kalian bisa rujuk kembali, mama turut senang melihatnya", Heni duduk dan melanjutkan pembicaraannya.
"Maafkan mama, ya Angel!", Heni mencoba sujud di kaki Angelica. Angelica buru-buru menolaknya.
"Mama sudahlah, tidak usah seperti itu. Angelica sudah memaafkan mama. Yang penting keluarga kita bisa bersatu dan berbahagia. Dan di jauhkan dari hal-hal dan perbuatan yang tidak baik", ucap Angelica berharap.
"Bagaimana rencana kalian selanjutnya?, dimana kalian akan menetap?", tanya Heni ingin tahu.
"Untuk sementara, Angelica dan Gemilang akan tinggal di Medan, sekarang Steven masih tetap di Tanjung Karang sambil mengurus kepindahannya ke Medan.Tidak apa-apa kan, ma?", Angelica memberi saran.
"Tidak apa-apa, sebaiknya memang suami-istri harus bersama-sama. Nanti kalau kalian ada waktu, jangan lupa sesekali datang untuk mengunjungi mama ya", Heni memberi tahu.
"Pasti dong ma", ucap Angelica dan Steven berbarengan sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba Dikta dan Willi datang menghampiri mereka, karena pintu depan sedari tadi tidak di kunci.
"Wah, ada kak Dikta rupanya. Syukurlah kak Dikta dan Bang Steven bisa rujuk kembali. kami sangat senang melihatnya", ucap Dikta sambil menjabat tangan Angelica.
"Kamu tinggal di sini menetap memani mama, karena aku dan Angelica akan tinggal di Medan", Steven memohon kepada Dikta.
"Aku dan Willi sudah sepakat untuk mandiri bang, jauh dari campur tangan pihak ketiga. Tidak apa-apa kan, ma", Dikta memohon kepada Heni.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, nanti Dikta sudah lebih dekat dengan mama. kalau mama ada perlu kan lebih cepat bisa memanggil Dikta untuk menemui mama", ucap Heni datar. setuju atas keputusan Dikta dan willli.
Semua tersenyum dan sesekali tertawa melihat kelucuan dan tawa Gelimang.