
Setelah bertemu dengan Gemilang beberapa kali. Membawa Gemilang ke wahana bermain, ke kolam renang, makan bersama dan berbagai tempat hiburan.
Steven dan Gemilang semakin dekat, Gemilang tidak merasa canggung lagi memanggil papa dan berbicara sekedar bertanya atau menyuruh Steven untuk menggendong Gemilang.
Angelica sangat senang melihat Gemilang senang luar biasa. "Belum pernah aku melihat Gemilang senang seperti ini sebelumnya", pikir Angelica dalam benaknya.
"Keputusan yang sangat tepat!, kalau aku memikirkan ego dan kemarahan ku atas perbuatan Steven.
Mungkin aku tidak akan mempertemukan dan memberitahu Gemilang tentang sosok Steven.
Dan aku juga tidak akan melihat kebahagiaan dan ekspresi Gemilang saat bertemu dengan Steven tidak seperti biasanya. Sangat bersemangat dan penuh keceriaan", Angelica bergumam dalam hatinya sambil tersenyum karena telah mengambil keputusan yang tepat.
Karena telah bertemu dengan Gemilang, dan Steven pun tetap harus bekerja. Sebelum balik ke Tanjung Karang Steven ingin berpamitan kepada Gemilang,
Agar Gemilang juga tidak merasa kehilangan Steven lagi. Steven pamit kepada Gemilang dengan alasan akan kembali ke luar negeri untuk bekerja.
"Gemilang, papa mau balik ke luar negeri untuk kembali bekerja. Gemilang disini ya, jangan nakal, jadi anak yang pintar dan patuh kepada mama. Gemilang harus jaga mama ya", Steven pamit kepada Gemilang.
"Pa, kenapa papa tidak bekerja disini saja, kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri!", Gemilang penasaran dan ingin tahu.
"Iya sayang, papa memang dapat kerjanya kebetulan harus ke luar negeri. Nanti kalau Gemilang sudah besar nanti boleh sekolah dan bekerja di luar negeri juga ya", Steven menyemangati Gemilang, agar tidak terlalu banyak bicara dan bertanya lagi mengenai keberadaan Steven yang tidak serumah dengan Angelica.
"Aku akan kembali ke Tanjung Karang Angel. Kalau kamu membutuhkan aku dan ada sesuatu hal yang terjadi atas kamu dan Gemilang, beritahu aku secepatnya. Mungkin aku bisa membantu dan meringankan beban kamu", Steven berharap agar terus berhubungan dan tahu kabar mengenai Angelica dan Gemilang.
"Baiklah Steve, aku akan mengabari kamu", Angelica menyakinkan Steven.
****
Kepulangan Steven ke Tanjung Karang tidak langsung diberitahukan Steven kepada Dikta dan Heni. Takut Heni dan Dikta karena begitu antusias berusaha menyatukan mereka, jadi ingin mendatangi Angelica ke Medan.
__ADS_1
Steven sangat menghargai keputusan Angelica, "Aku tidak mau memaksa Angelica rujuk, kalau memang itu akan membuatnya sakit hati. Angelica sudah memilih mungkin berpisah adalah jalan terbaik.
Walau begitu sakit kurasakan dan kecewa karena Angelica menolak untuk rujuk. Itu adalah akibat dari kesalahan yang telah kubuat", Gumam Steven dan menyadari segala kesalahannya.
Steven banyak merenung di kamarnya, bahkan kedatangan Steven pun tidak disadari oleh Willi teman kosannya sekaligus sahabat dan teman satu kerja.
Melihat pintu kamar Steven menyala, Willi mengetuk pintu kamar Steven memastikan bahwa Steven telah balik dari Medan.
tok...tok...tok..
"Steve...Steve..kamukah itu?", Willi terus mengetuk.
Setelah mengetuk pintu berulang kali, akhirnya Steven membuka pintu kamar nya.
"Hai Will, ada apa!", tanya Steven masih kondisi mengantuk.
"Tidak apa-apa kok, maaf sudah mengganggu kamu. Aku tidak menyadari kamu sudah balik dari Medan. Kulihat kamarmu lampunya menyala aku jadi bingung dan segera memastikan apa kamu sudah balik.
Oh iya, bagaimana perjalanan dan misi yang kamu lakukan berjalan dengan baik kah?", tanya Willi penasaran dan ingin tahu.
Steven diam, dari raut muka Steven Willi tahu. "Mungkin Angelica memilih tidak mau rujuk", pikir Willi dalam hatinya.
Tetapi Willi berusaha menyembunyikan prasangkanya. Willi menunggu biarlah Steven yang mengatakannya sendiri. Mungkin saat ini Steven belum siap mengatakan nya karena masih dalam kondisi kecewa.
Tidak beberapa lama Steven pun berterus terang. "Tidak berhasil will, Angelica tidak mau rujuk. Mungkin Angelica terlalu sakit karena sudah kubohongi dan kujadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan ku.
Tetapi Angelica mau memperkenalkan aku kepada Gemilang, bahwa aku adalah ayah kandung dari Gemilang", Steven memberitahu Willi dengan raut wajah sedih dan tidak bersemangat.
"Terus apa yang akan kamu lakukan?, apakah kamu akan mengambil hak asuh atas Gemilang, anak kandung kamu sendiri?", tanya Willi mencoba memberikan pendapat.
__ADS_1
"Tidak Will, aku tidak akan melakukan itu. Angelica yang telah merawat dan mengasuh Gemilang sejak lahir, masak iya aku tega merampasnya.
Padahal aku selama ini tidak pernah memberi nafkah dan perhatian. Angelica akan semakin membenci ku bila aku melakukan itu.
Angelica tidak melarang aku untuk bertemu dengan Gemilang kapanpun aku mau. Itu sudah cukup bagiku. Aku terima dan pasrah. Apapun keputusan Angelica.
Walaupun aku sulit untuk menerima nya, ini adalah buah dari perbuatan dan kejahatan yang telah kuperbuat. Aku harus menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada", ucap Steven dengan panjang lebar.
"Baguslah kalau kamu sudah ikhlas menerimanya. Habisnya aku lihat kamu sangat tidak bersemangat dan putus asa. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu dan kesehatan mu", ucap Willi prihatin.
"Tidak apa-apa Will. Mungkin aku hanya butuh waktu dan istirahat. Aku memang terlalu lelah saat ini. Mudah-mudahan besok aku sudah bisa lebih bersemangat", Steven tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang kamu cari saja pengganti Angelica. Supaya kamu merasa tidak sendirian dan sedih", Willi menggoda Steven.
"Tidak segampang itu willl, saat ini hati ku masih tertutup untuk perempuan lain. Aku merasa takut akan melukai perasaan mereka", Steven mengungkapkan perasaannya.
"Jangan berputus asa gitu dong. Mudah-mudahan besok kamu sudah bisa membuka diri untuk perempuan pengganti Angelica. Aku sangat percaya itu", Willi menyemangati Steven.
Steven hanya tersenyum menanggapi perkataan Willi "Kamu sendiri bagaimana?, sudah bisalah berumah tangga, jangan asik menjomblo terus", Steven meledek Willi.
"Tidak ada perempuan yang mau sama aku Steve. Mungkin aku terlalu membosankan dan kaku", Willi tidak semangat.
"Kamu jadian saja sama adikku Dikta, kulihat kalian bisa nyambung dan kompak bicaranya saat kamu pernah datang dan makan bersama dengan keluarga ku", Steven mencoba memberi solusi.
Willi tersenyum malu-malu. "Apa kamu mau beradik iparkan aku?", ucap Willi malu-malu.
"Mau banget, karena aku tahu dan mengenal kamu. Kamu bisa dan cocok sebagai pelindung buat Dikta. Kalau kamu mau, aku bisa menjadi perantara dan Mak comblang untuk kalian!.
Bagaimana kalau nanti malam kita datang ke rumah, sekalian aku akan mengutarakan maksud dan tujuan kamu kepada mamaku dan dikta.
__ADS_1
Pasti mamaku akan senang, atau kalian saling mengenal dulu, sering jalan-jalan bareng, kalau merasa cocok yang diteruskan, kalau tidak cocok ya tidak usah dipaksakan untuk lanjut", Steven memberikan saran.
"Baiklah Steve, aku setuju usul kamu", Willi menyetujui saran Steven untuk di jodohkan dengan Dikta.