
Selama Steven di Tanjung Karang, Steven banyak bermain dengan Kenzo, bermain-main bola, memancing ikan-ikan mainan di kolam-kolam buatan, Steven juga mengajarkan Kenzo untuk tidak memukul-mukul Adik nya Merry.
"Kenzo, Kenzo itu punya adik, namanya Merry, Kenzo harus sayang ya sama Merry, jangan di pukul, kan sakit kalau di pukul" Steven mempraktekkan Kenzo di pukul oleh Steven,
Kenzo pun teriak"Auhhh",
" Sakit kan kalau di pukul, begitu lah yang dirasakan Merry, makanya Merry nangis kalau Kenzo pukul" Steven pelan-pelan berbicara kepada Kenzo, agar Kenzo bisa memperhatikan apa yang diucapkan orang lain, dan berharap Kenzo bisa mengingatnya.
Kalau Kenzo pintar, tidak lupa Steven selalu memberinya hadiah supaya Kenzo bisa semangat, dan mau melakukan apa yang kita perintah kan.
"Dikta usahakan supaya kamu jangan berteriak dan marah-marah kepada Kenzo, karena kalau kamu teriak dan marah-marah, diapun akan semakin tidak terkendali" ucap Steven memberikan arahan dan nasihat mengenai pola dalam mengasuh Kenzo kepada Dikta.
"Iya bang" jawab Dikta.
"Kenzo kita mau jalan-jalan keluar, Kenzo ikut tidak?" tanya Steven mendekati Kenzo.
"I--kut" Kenzo tersenyum dan tertawa kegirangan sambil melompat-lompat.
"Kenzo mandi sana, lalu berpakaian yang rapi ya" Steven mengarah kan dan mengajari Kenzo untuk mandi sendiri dan berpakaian sendiri, agar Kenzo bisa mandiri dan tidak melulu minta bantuan kepada orang lain.
Kenzo langsung berlari kencang ke kamar mandi tanpa memikirkan akan terjatuh dan terpeleset karena licin.
"Kenzo jangan berlari, licin nanti kamu jatuh, pelan-pelan saja" teriak Dikta kepada Kenzo.
Kenzo pun mandi dengan membuang-buang air dengan semangat dan terburu-buru.
Steven lalu mengarahkan dan mengajar kan cara mandi yang benar " Begini loh ken, ambil segayung, guyur kan ke badan, sambil di gosong badannya, Pelan -pelan saja, setelah itu pakai sabun, gosokkan ke badan, dan setelah itu basuh bersih dengan air, pastikan tidak ada lagi sabun yang melekat pada kulit, setelah selesai lalu keringkan badan dengan handuk", Steven menyuruh Kenzo melakukannya dengan sendiri.
Kenzo begitu senang dan bahagia bila ada Steven, kalau tidak ada Steven, Dikta dan Heni terkadang terlalu sibuk mengurusi dan membereskan pekerjaan rumah dan mengurus Merry,
sehingga mengurus Kenzo terkadang dengan teriakan dan marah-marah, terlebih Dikta asik memikirkan Steven yang tidak kunjung meninggalkan Angelica, makanya Kenzo sering teriak dan memukuli kepalanya karena merasa tidak diperhatikan.
Akhirnya keluarga Steven pergi jalan-jalan ke mall, setelah Kenzo bisa berjalan, Dikta tidak pernah mengajak Kenzo jalan-jalan ke mall.
__ADS_1
Begitu melihat keramaian Kenzo terlihat panik dan gelisah, tetapi Steven mengarahkan untuk selalu tenang dan tetap memegang erat tangan Steven,
sehingga Kenzo bisa lebih tenang, banyak permainkan yang di mainkan Kenzo termasuk mandi bola, perosotan, dan melempar bola, Kenzo terlihat senang dan bahagia. setelah banyak bermain Steven, akhirnya tertidur pulas.
Keluarga Steven pun balik ke rumah.
Karena anak-anak semua sudah tidur lelap, Steven dan Dikta bercerita di tempat tidur.
"Bang, kenapa Abang belum meninggalkan Angelica?" tanya Dikta belum mengerti sampai sekarang, Steven masih tinggal bersama Angelica.
"Abang masih ada proyek di Medan, kalau Abang tinggal kan Angelica, pasti Angelica akan mencari Abang sampai ke proyek, sabarlah sedikit lagi, Abang pasti akan meninggalkan Angelica" Steven memberi penjelasan alasannya tidak meninggalkan Angelica.
"Abang tidak cinta kan sama Angelica?, pasti Abang sudah berhubungan suami istri kan sama Angelica?, apa Angelica sudah hamil?" Dikta kesal.
"Abang tidak mungkinlah cinta sama Angelica, Abang pastilah melakukan hubungan suami-istri, sama halnya dengan kamu.
Kami tinggal satu atap, bagaimana mungkin kami bisa menahan nafsu, lagian apa alasan ku menolak nya, secara yang melamar Angelica adalah Abang" Steven memberi gambaran berharap Dikta bisa pengertian.
Dikta tidak tahan mendengar segala alasan Steven, cemburunya telah menutupi rasa pengertiannya. kesal dan emosi perasaan Dikta saat ini.
Dikta pun tidak bisa mengelak, keinginan hasratnya sudah lama tertahan tidak pernah berhubungan suami-istri, di pancing Steven langsung nafsu birahinya memuncak,
Dikta membalas ciuman kepada Steven, seluruh bagian tubuh Steven diciuminya, mereka pun melakukan hubungan intim dengan nafas dan hasrat yang menggebu-gebu,
sejenak Dikta lupa cemburunya, Dikta lebih fokus untuk memuaskan hasratnya saat ini. Mereka pun tersungkur lemas tidak berdaya setelah melakukan hubungan intim.
Alarm berbunyi seperti biasanya Dikta melakukan rutinitas paginya memasak dan membersihkan rumah.
Heni sudah terlebih dahulu bangun dan sedang mencuci piring di wastafel.
"Apa Steven balik lagi ke Medan" tanya Heni ingin tahu.
"Iya ma, bang Steven balik lagi ke Medan" jawab Dikta pelan.
__ADS_1
"Kapan Steven balik ke Medan?" kembali Heni bertanya.
"Besok Steven akan balik ke Medan, ma" ucap Dikta kesal.
"Ma, tidak bisakah mama membujuk bang Steven untuk tidak balik lagi ke Medan?" bujuk Dikta kepada Heni.
"Sudah lah Dikta mama bosan membahas ini terus, kita bahas yang lain saja, mama pusing membahas ini terus-menerus, belum lagi masalah-masalah yang lain di rumah ini, lama-lama mama bisa kena serangan jantung atau stroke" ucap Heni kesal.
"Mama, surat nikah Steven dan Angelica sudah ditangan kita, dan kita juga telah menggantikan nama Dikta menjadi Angelica, kartu keluarga kita sudah ada" Dikta ngotot.
"Kamu sudah tahu alasan Steven ya sudah lah, harusnya kamu berbicara dan membujuk Steven, bukan malah ngotot sama mama" Heni meninggalkan Dikta karena kesal
"Mama, gimana sih, kok malah ninggalin Dikta sih ma" teriak Dikta kencang.
Heni cuek saja dipanggilin Dikta.
Keesokan harinya Steven berangkat balik ke Medan, Dikta terus membujuk Steven "Bang tolong tinggalkan Angelica bang" bujuk Dikta sambil mengejar dan mengikuti Steven kemana pun melangkah.
"Tidak bisa Dikta, sabarlah sedikit, pasti tidak terasa waktunya pun akan tiba aku akan meninggalkan Angelica" bujuk Steven.
"Sampai kapan bang" ucap Dikta keras.
"Paling lama sembilan bulan lagi, itu tidak akan lama, sebentar juga pasti berlalu" Suara Steven keras.
Dikta hanya diam dan pasrah, "Tidak ada gunanya membujuk Steven, Steven pun tidak akan mengubah keputusan nya", pikir Dikta dalam hati.
Kenzo menangis kencang, mengetahui Steven akan balik ke Medan, Kenzo merengek-rengek minta ikut,
Heni dan Dikta membujuknya, mencoba mengangkat dan menggendong Kenzo masuk ke rumah,
tetapi tenaga Kenzo begitu kuat, Dikta dan Heni tidak sanggup mengangkat tubuh Kenzo, karena Kenzo sambil menendang-nendang Dikta atau Heni kalau sudah mendekati Kenzo.
Kalau sudah begini, Dikta dan Heni tidak sabar membujuk Kenzo, dan malah memarahinya, Kenzo pun akan semakin labil dan marah berlebihan.
__ADS_1
Dikta kesal, dilemparnya semua yang bisa dilempar nya sehingga berserakan di lantai.