
Menjelang bulan ke delapan kandungan Dikta, karena Dikta tidak pernah periksa ke puskesmas atau ke posyandu, Dikta merasa penasaran bagaimana kondisi kandungan nya saat ini, sebenarnya Dikta tidak ada keluhan apapun, atau sakit dan nyeri, bahkan merasa baikan dalam melakukan aktifitas, tidak ada perasaan cepat lelah atau pendarahan.
Dikta hanya merasa ingin tahu jenis kelamin, atau keadaan kandungannya apa posisinya baik-baik saja, agar saat melahirkan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dikta mengajak Steven periksa ke dokter kandungan.
"Bang ayo dong, temani Dikta untuk periksa kandungan Dikta" ajak Dikta kepada Steven.
"Memangnya kamu ada keluhan-keluhan seperti nyeri atau sakit?" tanya Steven khawatir.
"Tidak ada bang, Dikta baik-baik saja, Dikta hanya ingin USG, apakah posisinya bagus, inikan sudah bulan ke delapan harusnya posisinya kepalanya sudah mengarah ke bawah, misal diketahui sejak dini kan, jadi gampang ditangani " ucap Dikta menyarankan.
"Ok, aku akan menemani kamu, kapan kita berangkatnya?" tanya Steven balik.
"Dokter praktek biasanya buka jam 16:00, supaya tidak dapat antrian yang panjang, baiknya kita datang 1 jam sebelum praktek dibuka" Dikta menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kan masih pukul 13:00 sebentar aku istirahat dulu ya, untuk menghilangkan rasa ngantuk ku, nanti kalau sudah jam 14:30, kamu bangunin aku ya, agar aku siap-siap, kita kan berangkat jam 14:50" ucap Steven dan segera merebahkan badannya di tempat tidur empuknya untuk sejenak beristirahat.
Selagi Steven beristirahat Dikta siap-siap untuk mandi dan berganti pakaian, "Selesai berkemas-kemas pasti waktuku sudah pas untuk membangunkan bang Steven nanti ", pikir Dikta dalam hatinya.
Ternyata benar, sudah dapat waktunya. Dikta pun segera membangunkan Steven, agar segera berganti pakaian, sehingga setelah tiba di tempat praktek tidak dapat antrian yang terlalu panjang.
"Bang Steven bangun dong, ini sudah dapat waktunya kita siap -siap untuk berangkat ke dokter praktek" Dikta membangunkan Steven sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.
Dengan malasnya Steven pun beranjak dari tempat tidur nya menuju kamar mandi untuk segera mandi dan berganti pakaian.
"Ayo-ayo kita hampir telat", Steven buru-buru bergegas menuju garasi, dan segera mengeluarkan mobil.
Kali ini Kenzo di titip kepada Heni, karena Dikta mau memeriksa kehamilannya, kalau ada Kenzo, takutnya rewel, sehingga pemeriksaan Dikta tidak efisien.
" Kami berangkat dulu ya ma, titip kenzo ya ma" Dikta dan Steven pamit kepada Heni dan segera berlalu tancap gas meninggalkan Heni dan Kenzo di rumah.
__ADS_1
Tidak beberapa lama akhirnya Dikta dan Steven sampai di tempat dokter praktek kandungan dr.Stefanus SpOG, "Masih muda tetapi karirnya sangat bagus, banyak pasien antri, berarti kredibilitas nya sangat diakui", pikir Steven di benaknya.
Ini pertama kali Steven dan Dikta datang ke tempat praktek dr. Stefanus, SpOG.
Tiba saatnya giliran Steven dan Dikta masuk ke ruangan dr.Stefanus.
"Selamat sore dokter" sapa Steven marah.
"Oh selamat sore juga" balas dokter Stefanus.
"Mengapa tidak membawa suaminya?" tanya dokter Steven bingung, dokter Steven berpikir Steven adalah Abang dari Dikta, karena wajah Steven dan Dikta memang sangat mirip.
"Saya suami dari ibu Dikta dokter" jawab Steven sambil tersenyum.
"Oh suaminya ibu Dikta toh, saya pikir abangnya, soalnya sangat mirip banget wajahnya, maaf ya pak" dokter Stefanus tidak enak hati, Dikta pun hanya senyum manggut-manggut menutupi kedoknya.
Suster yang menemani dokter Stefanus pun segera mengolesi cream di perut Dikta, agar USG bisa segera dilakukan.
Bentuk rahim Dikta terlihat jelas di monitor. Dokter meraba perut Dikta dengan alat USG, janin Dikta terlihat jelas, posisinya dan berat nya, jenis kelaminnya semua bisa terdeteksi baik.
Dikta pun tersenyum puas "Jenis kelaminnya apa dokter?" tanya Dikta penasaran.
"Jenis kelaminnya perempuan ya Bu, oh iya ini anak yang keberapa Bu?" tanya dokter Stefanus, untuk mengetahui ketahanan fisik pasiennya.
"Syukurlah dokter, sudah dapat sepasang, ini anak ke 2 dokter" jawab Dikta sambil tersenyum.
"Ini mau lahiran normal atau operasi?, supaya bisa dijadwalkan lahiran nya kapan, kalau memang mau jalur operasi" tanya dokter Stefanus balik.
"Kemarin waktu lahiran anak pertama, saya operasi dokter" jawab Dikta menjawab pertanyaan dokter Stefanus.
"Baiklah kalau begitu Bu, bulan depan ya Bu jadwal perkiraan operasinya pada Minggu kedua, kira-kira tanggal 10-14.
__ADS_1
Ibu bisa kontrol lagi kalau ada gejala-gejala melahirkan atau kalau ada keluhan-keluhan lain, bisa telpon saya atau langsung datang ke rumah sakit terdekat ya Bu" ucap dokter Stefanus mengarahkan Dikta dan Steven.
"Baik Dokter" jawab Steven dan Dikta secara bersamaan.
Dokter Stefanus pun segera menulis resep vitamin untuk Dikta dan vitamin untuk otak pada Baby yang ada dalam kandungan Dikta.
Dikta dan Steven pun pamit "Permisi ya dokter, terimakasih banyak, kami ambil obatnya di apotek sebelah ruangan ini yang dok?" tanya Steven mempertegas.
"Iya, benar pak di sebelah ruangan ini letak apoteknya, ambil obatnya di apotek ya pak" ucap dokter Stefanus meyakinkan Steven.
"Ok permisi dok" Steven dan Dikta pun berlalu meninggalkan ruangan dokter Stefanus.
Dikta dan Steven langsung balik ke rumah, setelah Sampai di rumah Heni datang membuka pintu pagar, setelah Steven mengklakson mobil berulang kali, dan mobil langsung masuk garasi rumah.
Pintu pagar kembali ditutup, Dikta dan Steven kumpul di ruang depan.
"Bagaimana hasil pemeriksaan USG kamu, apa hasilnya baik saja?" tanya Heni ingin tahu.
"Baik-baik saja ma, berat baby normal 3 kg, posisi bagus, dan jenis kelaminnya perempuan" jawab Dikta dengan wajah penuh senyuman, bahagia dan senang atas hasil USG nya
"Syukurlah baik-baik saja, bagus lah kandungan mu yang ke2 ini berjenis kelamin perempuan, berarti sudah sepasang.
Menurut mama itu sudah cukuplah, tidak usah ditambah lagi anaknya, nanti setelah kamu lahiran sekalian saja bilangnya rahimnya di tutup saja" pinta Heni kepada Dikta.
Steven protes "Tambah lagi dong ma, masak cuma sepasang saja"
"Bagaimana sih kamu, memang sepasang tidak cukup?, sama seperti mama, punya anak cuma sepasang" ucap Heni kesal.
"Iya itu dulu waktu kondisi ekonomi kita rendah, jadi mama dan papa tidak mau punya anak banyak, karena tidak sanggup membiayai hidupnya, sekarang Steven sudah mapan, menyekolahkan anak masih sanggup hingga 3 orang anak" Steven memberi alasan.
"Bukan masalah sanggup atau tidak Steve, sekarang saja, mama lagi bingung, identitas kartu keluarga kita bagaimana, pak RT sudah datang untuk minta kartu keluarga kita, maksudnya supaya di data" ucap Heni resah.
__ADS_1
Steven pun hanya diam saja, kalau sudah begini, Steven pun kalut, tidak tahu harus bagaimana, kembali Steven bertanya kepada Heni, "Jadi bagaimana penyelesaian nya ma" tanya Steven bingung.
"Mama tidak tahu Steve, mama pusing" kesal karena ini adalah kesalahan anak-anak nya Heni pun meninggalkan Dikta dan Steven di ruang depan dengan wajah tertunduk dan diam.