
Dikta menghubungi Steven.
Tut....Tut...tidak diangkat, sekali lagi Dikta coba menghubungi Steven Tut.....Tut ..Tut ..
"Halo" jawab Steven diujung telepon.
"Bang, aku mau kasih kabar mengenai Kenzo" Dikta memberi tahu dengan suara sedih.
Steven terkejut mendengar suara Dikta yang kedengaran serak dan sedih.
"Ken--zo, ada apa dengan Kenzo" desak Steven panik.
"Kenzo keterbelakangan mental bang, perilakunya sering marah dan emosi tidak terkendali, berteriak, suka memaksa, tidak berpikir logis dan terkadang memukul-mukul kepalanya dengan tangan dan mengantuk-antukkan kepalanya ke dinding" Dikta menjelaskan perilaku Kenzo.
"Terus, apa kamu sudah membawanya berobat?" tanya Steven ingin tahu.
"Sudah bang, kata dokter itu tidak bisa sembuh total seperti anak normal biasanya.
Penyembuhan nya hanya ke si anak lebih tenang dan mengurangi emosinya saja.
Pulang lah bang, aku tidak bisa sendiri menangani emosi Kenzo sendiri di rumah, terkadang emosinya tidak terkendali, aku dan mama sering kewalahan dalam menghadapi kenzo, Kenzo sering berteriak-teriak dan menangis memanggil-manggil abang" Dikta memohon sambil menangis agar Steven cepat balik ke Tanjung Karang.
"Aku tidak bisa balik sekarang Dikta, mungkin akhir pekan aku coba untuk datang ya, tetapi aku tidak bisa selamanya di Tanjung Karang, aku masih harus kembali ke Medan, sampai proyek aku selesai " bujuk Steven.
"Baiklah kalau begitu bang, Abang jangan ingkar ya, harus tepati janji, aku tunggu di akhir pekan ini ya bang" Dikta mengingatkan.
"Iya, nanti kuusahakan, kalau aku jadi balik atau tidak jadi balik, aku akan informasikan kepada kamu nanti" ucap Steven tegas.
"Baiklah kalau begitu, kami tunggu kedatangan Abang" harap Dikta.
Telepon ditutup.
Steven tidak menyangka dan tidak habis pikir, kenapa Kenzo jadi keterbelakangan mental, "Padahal kami selalu memberikan perhatian, gizi yang baik,
faktor genetik apa maksud dokter, aku dan Dikta tidak ada keterbelakangan mental, aku dan Dikta merasa normal, ataukah karena sebelum Kenzo lahir, Dikta sempat minum obat-obatan untuk menggugurkan bayinya, Aahhh" teriak Steven pusing dan stress, Kenzo adalah jagoan kesayangan nya, Kenzo dekat sekali kepada Steven, sungguh Steven tidak terima Kenzo keterbelakangan mental.
__ADS_1
"Aku harus balik ke Tanjung Karang, apa ya alasanku agar aku bisa ke Tanjung Karang" Steven mencoba mencari-cari alasan, agar Angelica percaya Steven ada urusan ke luar kota.
Malam hari sebelum Steven dan Angelica masuk ke kamar untuk tidur malam.
Lagi duduk santai menonton di sofa ruang tamu.
"Angel, kamu tidak apa-apa kan kutinggal beberapa hari, di rumah ini. nanti kan kamu bisa tinggal di rumah ibu kalau kamu takut sendirian di rumah" ucap Steven.
"Memangnya kamu mau pergi kemana sayang?" tanya Angelica ingin tahu.
"Aku ada proyek ke luar kota untuk beberapa hari, belum tahu kemana nanti akan diberi tahukan bos kalau sudah mendekati hari H" Steven mencoba mengarang berbagai alasan.
"Lama tidak kira-kira proyeknya?" tanya Angelica balik.
" Katanya sih beberapa hari, tidak tahu tepat nya" ucap Steven berbohong.
"Kapan berangkat nya sayang?" tanya Angelica.
"Aku akan berangkat pada akhir pekan nanti " ucap Steven.
"Tidak usah banyak-banyak sayang, kan nginapnya di hotel, tidak bakalan cepat kotor dan berbau, cukup 3 pasang saja " saran Steven.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita tidur ya, aku ngantuk dan lelah sekali, ingin segera rebahan, aku duluan ke kamar ya" ucap Angelica sambil berlalu meninggalkan Steven masih sibuk menonton televisi.
"Ya sudah, kamu pergi saja duluan ke kamar, nanti aku menyusul" ucap Steven sambil matanya terus tertuju ke arah televisi.
***
"Hati-hati di rumah ya, jaga janin kamu, jangan kerja yang berat-berat, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, oh ya kalau kamu takut tinggal sendiri di rumah, kamu tinggal di rumah ibu saja, ada ibu dan kakak nantinya yang akan menjaga kamu" Steven pamit.
"Iya tenang saja, kamu juga jaga hati, jaga pikiran, jangan gampang tergoda oleh rayuan mulut perempuan nakal,nanti telepon aku kalau kamu sudah sampai disana" ucap Angelica sambil memeluk tubuh Steven, karena Steven untuk beberapa hari kedepan tidak akan menemani Angelica di rumah nya.
"Iya, aku akan selalu setia kepada mu" ucap Steven sambil mencium kening Angelica.
Steven pun segera berangkat ke bandara. untuk segera menemui Dikta, Heni dan kedua buah hatinya.
__ADS_1
Steven pun akhirnya sampailah di Tanjung Karang.
Steven membuka pintu pagar, Dikta langsung mengintip dari celah gorden jendela depan, tahu Steven yang datang, Dikta berlari menemui Steven sambil berteriak "Kenzo papa datang" Dikta segera membuka pintu pagarnya ", karena Steven tidak ada menginformasikan, kalau Steven jadi balik ke Tanjung Karang.
Tahu papanya datang Kenzo berlari menghampiri Steven sambil "Pa--pa, Pa--pa" dengan suara celatnya.
Steven langsung menghampiri dan menggendong Kenzo dengan sangat bahagia.
"Pa--pa, ke--ma--na sa--ja" ucap Kenzo terputus-putus dengan suara celat, kalau kita tidak menyimak baik-baik, tidak akan tahu apa yang diucapkan Kenzo.
"Papa kerja sayang" ucap Steven memberi alasan.
"La--ma pu--lang" Kenzo memukul-mukul Steven, Steven kesakitan "auhhh", karena pukulan kenzo sangat sakit.
"Iya maaf, ini papa ada bawa oleh-oleh buat Steven" Steven menunjukkan mainan yang sempat dibeli Steven di supermarket yang ada di bandara Medan.
Kenzo tidak senang mainan itu lalu melempar mainan itu ke lantai, Kenzo lari-larian di sekitar ruang tamu, lalu terjatuh dan menangis sambil berguling-guling di lantai.
Dikta pun memeluk Kenzo dan berusaha menenangkan nya "Kenzo sayang, Kenzo tidak boleh cengeng, Kenzo tidak boleh nakal, nanti papa marah dan tidak mau balik untuk melihat Kenzo lho" ucap Dikta membujuk Kenzo.
Kenzo sedikit tenang dan kembali bermain dengan adiknya di ruang depan.
"Begitulah keseharian Kenzo bang, kalau tidak di awasi di mau pegang-pegang arus dan mau memukul adikya Merry" Dikta menjelaskan dan menceritakan keseharian Kenzo.
Steven diam, Steven kasian dan sedih melihat Kenzo seperti itu, tidak ada yang bisa dikatakan Steven, Steven hanya bisa pasrah pada takdir.
"Bang pasti sudah lapar, mari kita makan dulu ya" ajak Dikta dan menyuruh Steven duduk di meja makan.
"Mama ayo makan bersama kami" ajak Dikta kepada Heni.
"Mama nanti saja makannya, kalian makan lah duluan, mama mau mengawasi Kenzo" Heni beralasan.
"Kita makan duluan saja ya bang" sambil menyerahkan sepiring nasi kepada Steven.
"Begitulah kami setiap hari bang, bergantian jam makan, untuk bisa seorang dari antara kami mengawasi gerak-gerik Kenzo,
__ADS_1
terkadang kenzo juga mau keluar dari rumah, kami sempat bingung dan mencarinya kemana-mana ternyata Kenzo berada di rumah Bu Tari, melihat ayamnya Bu tari" Dikta menceritakan pengalaman pahitnya ketika Kenzo hilang.