Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#67. Steven mengakui kisah hidupnya pada Willi


__ADS_3

Steven tidak bisa membuat hati Dikta sedih. Sesungguhnya Steven ingin keluar dari kehidupan yang penuh kebohongan ini, biarlah Steven mengasuh Kenzo, Steven sayang dan perhatian kepada Kenzo.


Terkadang terlintas niat dan keinginan Steven untuk lari pergi meninggalkan Dikta membawa Kenzo, tetapi melihat Dikta yang sifatnya lemah dan putus asa. Steven mengurungkan niatnya, Steven tidak tega Dikta sakit atau malah bunuh diri.


Steven sering uring-uringan dan tidak bersemangat di tempat proyek, pekerjaan nya pun terkadang tidak fokus dikerjakan. Sehingga teman-teman kerjanya banyak yang protes akibat Steven melaporkan hasil laporannya tidak cocok dengan kenyataan di lapangan.


"Hai Steven, kenapa kamu hari ini!. Apakah kamu sakit atau tidak enak badan?", tanya Willi kepada Steven.


Willi adalah teman Steven di proyek yang lumayan dekat dengan Steven. Willi begitu pengertian, terkadang Willi menggantikan pekerjaan Steven dan membantu Steven mengerjakan laporan proyek.


"Tidak Will, aku baik-baik saja kok", jawab Steven berbohong.


"Jangan membohongi aku Steve, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja.


Ayo ceritakan kepadaku apa sih masalah kamu.


Kalau aku bisa bantu, aku akan bantu kamu.


Aku masih bisa menyimpan rahasia kamu, kalau kamu takut ini tersebar.


Atau kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa kok", ucap Willi tegas.


Steven antara pengen bercerita, karena mungkin kalau Steven menceritakan masalah nya pada Willi, maka sedikit banyak beban pikirannya pasti berkurang.


Tetapi kalau Steven menceritakan semua mengenai kehidupannya pada Willi, takut Willi akan merasa jijik dan tidak mau berteman lagi dengan Steven.


Steven diam saja hanya bisa menatap Willi dengan pandangan kosong.


"Steve, aku tahu kamu sebenarnya ingin menceritakan masalahmu kepada ku, tetapi sepertinya kamu takut kalau masalah mu akan tersebar.


Jangan khawatir Steve, aku pegang rahasia mu baik-baik, aku janji tidak akan menyebarkan nya kepada orang lain. Aku janji Steve, agar beban pikiranmu sedikit berkurang", ucap Willi menyakinkan Steven.


Steven ingin bercerita, tetapi Steven tidak tahu harus memulai darimana.


"Will, bisakah kamu sebelumnya janji tidak akan mengejek, menghina, bahkan menjauhi ku ya!", ucap Steven memohon.

__ADS_1


"Ha.. ha...ha.. tidak mungkinlah Steve aku mengejek dan menjauhi mu", Willi kembali menyakinkan Steven.


"Benar kamu janji?", tanya Steven kurang yakin.


"Iya Steve, aku janji", ucap Willi sambil mengangkat bersamaan jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanan nya.


"Begini Will, Aku itu orang nya bodoh, tidak berpikir menggunakan akal sehat, aku lebih menuruti keinginan nafsuku daripada memikirkan masa depan ku", ucap Steven menghentikan curhatan nya.


Willi semakin bingung, tidak tahu arah pembicaraan Steven.


"Maksud kamu, apa sih Steve. Aku jadi bingung deh!", ucap Willi mengerutkan jidatnya tanda ketidak pahaman atas curhatan Steven.


"Kamu tahu kan kalau aku sudah punya anak?", tanya Steven bertanya kepada Willi.


"Iya tahu, benar kalau kamu sudah punya anak. memangnya kenapa?, jangan berbelit-belit begitu dong Steve", Willi protes.


"Anak yang kuasuh sekarang adalah anak dari hasil hubungan suami-istri antara aku dan Dikta, saudara kandung ku sendiri", Steven berkata dengan suara pelan.


Willi tersedak dan batuk-batuk, tadinya Willi sedang meneguk segelas kopi miliknya yang tersaji di meja.


"Dulu kami adalah keluarga miskin, kami di gunjingkan tetangga karena terlalu miskin. Bahkan untuk makan saja masih bersyukur bisa makan sehari sekali.


Disekolah Dikta sering di bully dan dijauhi oleh teman-temannya, sehingga Dikta tidak mau sekolah, dan banyak mengurung diri di rumah, tidak mau bergaul dengan dunia luar.


Ketika Dikta di bully Dikta selalu mengadu kepada ku, Dikta menganggap aku seperti pelindung nya, sehingga lama kelamaan rasa sayang Dikta bertumbuh menjadi cinta kepadaku, Dikta tidak tertarik kepada orang lain selain kepada diriku sendiri.


Suatu hari Dikta. Ketika mamaku sedang tidak di rumah, Dikta masuk ke kamarku dengan mengenakan pakaian seksi dan pendek.


Dikta menggoda ku dengan pukulan-pukulan manjanya yang mengenai kemaluanku, sehingga hasrat birahiku tidak bisa ku kontrol lagi, aku hilaf dan kehilangan akal sehatku, akhirnya kami melakukan hubungan suami-istri.


Ternyata keinginan untuk berhubungan suami-istri terus menggebu-gebu. Kami pun berulang-kali melakukan hubungan suami-istri itu.


Tanpa kusadari dan tidak terpikirkan olehku, Dikta hamil. Kami sudah berusaha menggugurkan nya tetapi tidak bisa.


Hingga suatu ketika Dikta muntah di depan mama, mama pun bertanya mengenai Dikta, kami pun mengakuinya. Karena takut kandungan Dikta semakin membesar, takut ketahuan sama tetangga.

__ADS_1


Kami pun pindah ke Tanjung Karang ini, kondisi Dikta makin lemah karena berusaha menggugurkan janinnya Sebelum nya.


Akhirnya mama memutuskan untuk kami jadi suami-istri.


Mama juga tidak rela kesuksesan ku sekarang dinikmati perempuan lain.


Padahal selama ini orang-orang begitu cuek dan tidak peduli terhadap keluarga kami", ucap Steven menceritakan panjang lebar mengenai kronologi terjadinya hubungan suami-istri antara Steven dan Dikta, adik kandungnya sendiri.


Willi pun hanya terdiam, tidak berani berkomentar. Tidak menyangka yang diceritakan Steven adalah hubungan suami-istri antara adik kandungnya sendiri.


"Sekarang kamu menyesali hubungan sedarah ini maksud kamu?", tanya Willi penasaran dan ingin tahu.


"Iya, aku ingin hidup normal seperti orang-orang pada umumnya, tetapi aku tidak bisa, mengingat Dikta, sifatnya mudah putus asa, dan mau menyiksa diri. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menyadarkan Dikta?", ucap Steven tertunduk.


"Aku sudah pernah mengingatkan nya, tetapi Dikta mengatakan tidak bisa hidup tanpa aku dan tidak ingin hidup tanpa aku di samping nya", ucap Steven menambahi.


Willi terdiam bingung harus memberikan nasihat apa. "Sepertinya tidak ada solusinya", pikir Willi dalam hati.


"Terkadang terlintas dipikiran ku untuk lari meninggalkan Dikta dan membawa Kenzo jauh dari Dikta, agar tidak terus-menerus melakukan dosa, tetapi aku takut Dikta akan menyiksa diri dan mencoba bunuh diri", ucap Steven pelan mengeluarkan semua beban di hatinya.


"Bagaimana dengan kartu keluarga kalian, bagaimana bisa anakmu bersekolah, bukankah Kenzo bersekolah!", Willi makin penasaran dan ingin tahu.


"Aku disuruh mama menikah dengan wanita lain secara sah, lalu meninggalkan nya dan kembali ke Dikta", Steven mengakui perbuatan bejat selanjutnya kepada Willi.


"Apa, seperti cerita-cerita sinetron saja kisah mu ini, terus apa hubungannya dengan melakukan nikah sah dengan perempuan lain?, terus kamu melakukannya?, benar-benar kamu ini, dosa mu sudah berlipat-lipat kali ganda", ucap Willi geleng-geleng kepala tidak menyangka kalau hidup Steven serumit itu.


"Surat pernikahan kami dengan gadis yang kunikahi secara sah itu. Surat tersebut yang kudaftarkan ke catatan sipil, sebenarnya nama Dikta diganti menjadi Angelica, nama gadis yang kunikahi secara sah. Secara garis besarnya kami memalsukan data Dikta", Steven mengaku di depan Willi.


Willi hanya geleng-geleng kepala. "Terus Angelica gimana kabarnya, apa kamu pernah menghubungi atau menafkahinya?", tanya Willi ingin tahu.


"Angelica kutinggal kan setelah melahirkan anak laki-laki kami, aku tidak pernah menghubungi nya, bahkan menafkahinya, aku meninggalkan Angelica karena tidak mau ribut nantinya dengan Dikta dan mama.


Lagian pusing harus mikirin 2 istri. Urus 1 saja pusing apalagi 2 istri. Aku juga tidak tahu apakah Angelica masih di rumah lama", ucap Steven terlihat sedih telah meninggalkan Angelica dan anaknya.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?", ucap Willi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, aku hanya pasrah dalam menghadapi hidup ini, seperti air mengalir saja lah. Mungkin suatu saat ada waktunya akan terselesaikan dengan sendirinya. Entahlah, aku hanya bisa berharap saja", ucap Steven ragu dan putus asa.


__ADS_2