
Karena dokter sudah mengizinkan Merry untuk pulang ke rumah, Steven ingin minta pendapat Dikta.
"Bagaimana Dikta, apa tidak sebaiknya dikta di rawat dulu di rumah sakit, biarlah beberapa hari lagi diperiksa dokter disini, agar dokter bisa lebih akurat lagi memeriksa, agar tidak terlambat dan cepat langsung di tangani" Steven memberikan pendapatnya.
"Tetapi bagaimana Kenzo besok ke sekolah, bang?, mungkin mama akan kesulitan membujuk Kenzo,
karena Kenzo terbiasa lakukan aktifitas dan rutinitas nya dengan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari, pasti Kenzo akan panik dan marah, bila Kenzo kesekolah tidak ada kamu?" Dikta memberi tahu Steven dan memberikan gambaran perilaku Kenzo
"Iya juga, ya" pikir Steven bingung.
"Tetapi kita kan perlu memikirkan sakitnya Merry" Steven menyakinkan Dikta.
"Iya juga memang, kita lihat perubahan Merry sebentar lagi ya, setidaknya 3 jam lagi, nanti kalau kondisi Merry stabil, kita bawa pulang saja, tetapi bila demamnya naik, Merry tetap tinggal disini" Dikta memberi solusi.
Dan balik bertanya kepada Steven ataukah ada solusi atau pendapat lain.
Steven berpikir sejenak, karena perasaan Steven tidak enak, Steven memikirkan kondisi dan kesehatan Merry, "jadi orangtua harus bisa mempertimbangkan baik-baik, jangan salah ambil keputusan", pikir Steven dalam benaknya.
"Aku ingin Merry di periksa lagi lebih akurat, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari, bagaimana kalau Merry di rawat dulu sementara waktu di rumah sakit, kamu yang jaga nya disini sendirian, kamu berani kan, aku di rumah, karena kan aku besok mengantar Kenzo pergi ke sekolah?" bujuk Steven menyuruh Dikta yang menjaga Merry.
Dikta pun menyanggupi nya
"Ya sudah, aku disini yang jaga Merry, abang. di rumah, tapi Abang boleh tidak, sekarang balik ke rumah untuk mengambil perlengkapan pakaian ganti aku dan pakaian ganti Merry, hanya 3 pasang saja, tidak apa-apa kan bang,
sekalian Abang bawa gula, bubuk teh, susu formula dan beberapa cemilan, agar aku tidak jenuh disini" Dikta memberitahu kebutuhan yang akan dibawa Steven dari rumah.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang ya, nanti kalau ada kebutuhan lain yang masih perlu, kamu chat wa saja" Steven pamit dan segera membalikkan badannya.
"Baik bang" ucap Dikta terus duduk disamping tempat tidur Merry.
tok...tok..tok...
pintu diketuk
__ADS_1
Muncul suster membawa perlengkapan, untuk memeriksa kembali kondisi Merry.
"Selamat sore Bu, ingin memeriksa kondisi demam Merry Bu, apa sudah stabil atau kah naik" suster memberi tahu Dikta sambil mengeluarkan alat pengukur suhu,
Termometer dimasukkan kedalam ketek Merry, "permisi ya dek" ucap suster lembut kepada Merry, Merry pun membiarkan suster memeriksanya.
"Suhunya 37.2°C ya Bu, masih normal tidak ada peningkatan karena sebelumnya pun 37,2° dicatatan medisnya" ucap suster memberi tahu Dikta.
"Tekanan darah juga normal ya Bu, sekarang saya mau memasukkan antibiotik ke dalam botol infusnya, karena kalau disuntikkan langsung ke tubuhnya, Merry tidak akan tahan menahan rasa sakitnya" suster permisi untuk memasukkan antibiotik ke dalam botol infus Merry.
"Baik, silahkan suster" Dikta mempersilakan suster.
"Pasien, pulang kapan Bu?" tanya suster ingin tahu.
"Kami memutuskan, agar Merry diperiksa lagi dan diyakinkan bahwa kondisi nya sudah membaik, agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan Suster" ucap Dikta memberitahu suster.
"Baiklah kalau begitu, sejauh ini kondisi pasien normal dan semakin menunjukkan kebaikan, nanti saya beritahu alasan ibu kepada dokter untuk pemeriksaan lanjut dari pasien" suster menyakinkan Dikta dengan lembut, ramah dan senyum lebar.
"Merry sudah sembuhkan, ma" tanya Merry yakin.
"Sudah sayang, tetapi supaya lebih yakin lagi kalau Merry sudah sembuh, tidak apa-apa ya, sayang kita nginap lagi disini, supaya dokter dan suster bisa memeriksa Merry dengan telaten" Dikta menyakinkan Merry.
"Kenapa tidak diperiksa dirumah saja, ma" Merry coba memberi alasan.
"Kalau periksa di rumah sakit, kan alat-alat nya lengkap, kalau di rumah tidak ada alat-alat nya, membawa alat-alat ke rumah kita sangat merepotkan kan, kan alat-alat nya besar-besar dan berat" Dikta coba membujuk dan memberi alasan kepada Merry dengan senyum ramah dan kelembutan.
"Oh begitu ya ma, terus kapan kita pulang ke rumah, ma" tanya Merry ingin tahu.
" Kalau demam Merry tidak naik lagi, artinya kondisi kamu sudah stabil, kita lihat sampai malam nanti, biasanya demam nya akan naik ketika malam hari, kalau masih stabil dan normal, kemungkinan kita bisa pulang beberapa hari lagi, sayang" bujuk Dikta kepada Merry.
"Ok deh ma" ucap Merry dengan gemes.
****
__ADS_1
Suasana di rumah Steven.
Steven sampai di rumah, Heni langsung keluar rumah mendapati Steven dengan penuh penasaran "Bagaimana kondisi Merry, Steven?" tanya Heni tidak sabaran.
Steven belum langsung menjawab pertanyaan Heni, Heni menjadi tidak sabaran, "Bagaimana kondisi Merry, Steve, jangan bercanda dong, dari tadi ditanya kok susah banget menjawabnya" ucap Heni kesal.
"Bukan susah menjawab, ma!, mama tidak sabaran sih, belum juga masuk dan tunggu suasana tenang dulu" Steven membela diri dan memberi alasan.
"Merry baik-baik saja, sementara ini diagnosa dokter mengatakan Merry kena penyakit meningitis, itu artinya peradangan selaput otak, ada 3 tipe,
pertama, menengitis karena disebabkan oleh virus, itu bisa sembuh sendiri,
kedua, menengitis karena disebabkan oleh jamur, lumayan berbahaya, dan
ketiga, meningitis disebabkan karena bakteri, ini lebih berbahaya karena akan menggrogoti
fungsi dan kerja organ yang lain.
Melihat kondisi Merry yang stabil, artinya demamnya tidak naik lagi, Merry juga sudah semangat dan ceria, dokter mendiagnosa Merry kena menengitis yang disebabkan oleh virus, pengobatan nya hanya pemberian antibiotik, mungkin beberapa hari lagi Merry sudah bisa keluar dari rumah sakit"Steven memberitahu Heni dengan panjang lebar.
"Siapa yang akan menemani Merry di rumah sakit?" tanya Heni penasaran.
"Dikta yang akan menemani Merry, ma, steven tidak bisa ikut menemani karena Kenzo besok sekolah, Kenzo akan panik dan marah bila melihat aku tidak ada untuk mengantar nya sekolah, karena Kenzo patuh, melakukan sesuatu karena faktor kebiasaan dan rutinitas" ucap Steven.
"Iya juga sih, terus kamu sekarang tidak balik lagi ke rumah sakit?" tanya Heni bingung.
"Steven mau ambil beberapa pakaian ganti Dikta dan pakaian ganti Merry, ma? Steven memberitahu.
"Baiklah kalau begitu, sebentar mama siapin, ya" Heni segera meninggalkan Steven untuk mempersiapkan pakaian ganti Dikta dan pakaian ganti Merry.
Setelah semua pakaian ganti sudah dipersiapkan, Steven pun langsung balik ke rumah sakit, membawa pakaian ganti Dikta dan pakaian ganti Merry.
Steven keluar melajukan mobilnya.
__ADS_1