
Merry sudah 3 hari tidak sadarkan diri, Dikta terus saja menangis, dan jarang sekali makan, makan hanya seadanya dan beberapa suap saja, badan Dikta terlihat lebih kurus.
Steven terus membujuk Dikta untuk tetap perlu menjaga kesehatan diri sendiri.
"Dikta, kamu jangan terus menerus sedih begini dong!, kamu tetap harus menjaga kesehatan mu. Kalau kamu sakit aku juga yang repot, aku urus Merry, Kenzo dan kamu.
Walaupun kamu bersedih karena keadaan Merry masih tidak sadarkan diri, bukan berarti kamu mengorbankan diri kamu sendiri!. Merry juga pasti akan sedih bila melihat kamu sakit dan drop.
Ayolah kamu makan dulu ya, biar Abang yang jagain Merry, agar kamu bisa makan", bujuk Steven kepada Dikta dengan nada agak marah dan tegas, Dikta pun melunak melihat Steven tegas kepadanya.
Dikta keluar dari ruangan ICU, Dikta makan di ruang tunggu keluarga, pasien yang ada di ruangan ICU.
Dikta makan tidak berselera, tetapi tetap harus memaksa. Sesuap demi sesuap nasi dimasukkan ke dalam mulutnya.
Seperti sedang mati rasa alat indra perasa Dikta, makanan itu terasa hambar dirasakannya. Tetapi makanan itu terus dipaksa untuk masuk, akibat terus menerus dipaksa, Dikta merasa mual dan ingin muntah terasa menolak bagi tubuh Dikta.
Dikta pun segera menghentikan makannya, dipaksa pun tidak ada gunanya, Dikta menjaga biarlah sedikit asal tidak keluar lagi dari mulutnya, itu sudah cukup membuatnya menambah sedikit tenaganya.
Daripada harus dipaksa masuk ke dalam mulut, tetapi malah akhirnya di muntah kan juga. Malah keluar semua isi perutnya.
Selesai makan, Dikta langsung masuk lagi ke ruang ICU, tidak ingin rasanya ia meninggalkan Merry barang beberapa menit pun.
"Bang aku sudah selesai makan, sekarang kita gantian, giliran Abang yang makan, aku yang jaga Merry sekarat", pinta Dikta memaksa.
"Dikta, Abang ingin kamu istirahat tidur sebentar di ruang tunggu. Lumayan bisa menghilangkan lelahmu, bila kamu bisa istirahat 30-60 menit.
Supaya kamu tidak drop nantinya, badan mu pun bisa rileks", saran steven.
"Abang saja yang istirahat, Dikta belum lelah kok, Dikta tadi sudah makan, itu sudah cukup bagi Dikta", Dikta ngotot tetap memaksakan diri untuk terus berada dekat Merry.
"Dikta, kali ini Abang serius dan tidak main-main, Abang memaksa kamu untuk istirahat sekarang. Pergilah tidur di ruang tunggu entah beberapa menit saja, atau sekitar 30-60 menit itu cukuplah. atau kamu tidur 2 jam juga lebih baik. Karena nanti malam pun kamu pasti tidak akan bisa tidur", Steven terus memaksa Dikta.
Akhirnya Dikta pasrah dan patuh menuruti apa yang diperintahkan Steven. Karena Steven terus memaksanya dengan penuh ketegasan dan dengan nada tinggi.
__ADS_1
Dikta mencoba menutup matanya, mereleks dan mengosongkan pikiran nya, bermaksud agar Dikta bisa langsung terlelap.
Mungkin karena terlalu lelah, hampir 3 hari tidur-tidur tidak jelas. Sebentar terbangun, sebentar tertidur, begitulah kondisi tidur Dikta selama berada di rumah sakit menunggui Merry yang sedang tidak sadarkan diri.
Setelah menutup kan matanya, akhirnya Dikta bisa tidur dengan tenang. Setelah hampir 3 jam tertidur Dikta tersentak kaget.
Sekilas Dikta lupa "Ini dimana", pikirnya dalam hatinya. Setelah beberapa menit Dikta mengingat-ingat, ternyata Dikta sedang berada di rumah sakit.
"Dikta sekarang lagi di ruang tunggu, Steven yang menunggui Merry saat ini, Ya ampun sudah berapa jam aku tertidur disini, sepertinya sudah lama, karena matahari hampir tenggelam", pikir Dikta dalam benaknya.
Dikta pun langsung menuju ruang ICU, melihat keadaan dan kondisi perkembangan Merry. Ternyata Merry masih begitu-begitu saja, masih terbaring lemah di tempat tidur, tidak bergerak dan tidak berbicara hanya dibantu mesin peralatan medis.
Steven tertidur menelungkup kan kepala nya di samping tempat tidur Merry. "Bang, bangun", Dikta membangunkan Steven sambil mengoyang-goyangkan tubuh Steven.
Steven tersentak kaget dan langsung terbangun. "Aduh Abang ketiduran tadi", ucap Steven sambil menguap.
"Abang pulang saja ke rumah, nanti Kenzo kecarian, karena Abang sudah terlalu lama di rumah sakit ini. Oh iya, Kenzo besok sekolah saja, karena Kenzo sudah 3 hari tidak sekolah. Abang datang ke rumah sakit ini, setelah Kenzo pulang sekolah saja", ucap Dikta menyarankan.
Dikta pun mengangguk-angguk kepalanya, tanda mengiyakan apa yang dikatakan Steven.
Steven membalikkan badannya dan segera keluar dari ruang ICU.
Dikta membelai-belai rambut Merry, mencium tangan dan mengusap pipi Merry dengan lembut, berharap Merry bisa terjaga dari tidurnya, ternyata usaha itu tidak berjalan sesuai dengan harapan Dikta. Merry tetap saja tertidur dengan pulas.
Pukul 01:00,
tit................
Tiba-tiba patient monitor berbunyi.
Dikta terkejut dan langsung tersentak
Dikta teriak sekeras-kerasnya
__ADS_1
"Dokter....dokter....dokter..., kenapa dengan anak saya dokter", Dikta teriak panik dan sambil menangis.
Para dokter pun segera berlari menghampiri Dikta dan segera memeriksa kondisi Merry.
Detak jantung Merry terhenti, dokter segera memasang sistem kejut, bermaksud untuk memicu kembali detak jantung Merry.
Berkali-kali di coba. Dikta terus berteriak memanggil-manggil Merry "Merry, bangun Merry. Merry bangun lah sayang, jangan tinggalkan mama. Tolong bangun lah Merry, ayo kita pulang", Dikta terus saja menangis, berharap Merry mendengar teriakan Dikta.
Akhirnya nya jantung Merry kembali berdetak, tetapi Merry masih belum sadarkan diri.
Dikta merasa lega, jantung Merry kembali berdetak. Dikta lemas, separuh nafas nya hampir habis, karena di depan matanya Merry hampir kehilangan nyawanya, baru saja Dikta merasakan kehilangan Merry untuk selama-lamanya.
Sudah pukul 3 dini hari, Dikta tidak berani lagi untuk menutup kan matanya, Dikta terus melihat, angka-angka dalam patient monitor, akan kah menjauhi batas normal yang telah ditentukan, mengukur saturasi oksigen dalam darah dan detak jantung semua tertera dalam patient monitor.
Tit.............
Tiba-tiba patient monitor berbunyi lagi.
Angka-angka yang di tunjukkan dalam patient monitor, menunjukkan angka 0. Tidak ada saturasi oksigen dalam darah, tidak ada denyut jantung Merry.
Dikta berteriak dengan kencang.
"Dokter...dokter....dokter..", teriak Dikta berlari menghampiri dokter jaga di ruangannya.
Para dokter segera berlari dan mencoba mengambil tindakan untuk kembali memunculkan denyut nadi pada patient monitor.
Dikta pun berteriak sambil terus menangis "Merry, bangun sayang, Merry jangan tinggalkan mama,. Merry bangun lah", Isak Dikta terduduk lemas di lantai.
Segala usaha dan tindakan telah di lakukan para dokter, ternyata denyut nadi Merry tidak juga muncul, terus menerus di coba, tidak juga memunculkan adanya denyut nadi pada patient monitor.
Dengan berat hati para dokter memberi tahu kabar duka cita ini kepada Dikta "Ibu maaf, ibu harus kuat. Segala usaha dan upaya telah kami lakukan, ternyata Tuhan berkehendak lain. Anak ibu Merry telah meninggal dunia, nyawanya tidak bisa tertolong lagi", ucap dokter dengan penuh iba.
Dikta langsung berkunang-kunang, pandangannya gelap, Dikta langsung terbaring lemas di lantai,
__ADS_1