
Kita intip Kehidupan di pihak Steven ya.
Seperti biasa Aktifitas sehari-harinya di keluarga Steven.
Kenzo pergi sekolah diantar oleh Steven. Steven yang terkadang bekerja dari rumah, dan terkadang bekerja harus pergi ke proyek.
Dikta bantu-bantu Heni untuk melakukan aktifitas dan rutinitas kewajiban di dalam rumah.
Heni selain melakukan rutinitas pekerjaan rumah, Heni yang selalu belanja ke pasar untuk kebutuhan bahan makanan, Dikta tidak pernah mau belanja ke pasar.
Hari ini, karena bahan pokok untuk kebutuhan pangan sudah habis stok nya di dalam kulkas. Heni berencana pergi ke pasar.
"Dikta", teriak Heni memanggil Dikta di dalam kamarnya. Karena sedari tadi setelah Steven dan Kenzo ke luar dari rumah untuk bekerja dan sekolah. Dikta belum keluar dari kamarnya.
Dikta tidak mendengar panggilan Heni. Heni mencoba mengetuk dan berteriak kembali.
Tok..tok..tok .
"Dikta... Dikta..", teriak Heni semakin kencang, karena Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, sudah agak ke siangan. Heni harus buru-buru ke pasar.
Selain karena pagi itu sayur dan ikan kelihatan lebih segar, kalau sudah kesiangan bahan pokok yang dibeli juga stoknya tinggal sedikit, keburu habis dibeli orang.
Dikta belum juga mau membuka kamar nya. Akhirnya Heni berusaha masuk ke kamar dan melihat Dikta masih tidur lelap. "Ya ampun, pantesan di panggil-panggil tidak dengar, rupanya masih tidur", pikir Heni dalam hatinya.
Heni pun berusaha membangunkan Dikta dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Dikta, bangun dong Dikta, ibu mau pergi ke pasar. Kamu ini baik sebagai ibu atau tidak menjadi ibu, sama saja bawaannya malas bangun pagi. Ayo dong bangun", teriak Heni.
"Apaaan sih ma, Dikta lagi malas bangun, semalam Dikta tidak bisa tidur, dan baru terlelap subuh tadi", teriak Dikta memberi alasan.
"Ini sudah kesiangan Dikta kalau ke pasar, nanti bahan pokok di pasar keburu habis. Stok bahan pokok di kulkas sudah habis, kamu mau tidak makan", nada suara Heni semakin meninggi.
"Iya ma, Dikta bangun ini", ucap Dikta berusaha bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Rumah kamu pel ya semua mulai dari depan sampai belakang, itu di teras ada genangan air di lantai, karena hujan semalam begitu deras sehingga lantai teras agak basah, nanti bisa licin dan terpeleset kalau terinjak. Bahaya sekali buat Kenzo, Kenzo suka berlarian dan melompat-lompat.
"Baik, ma", Dikta langsung keluar dari kamarnya menuju dapur, agar Heni bisa segera keluar dan langsung pergi ke pasar.
"Semua kamu beresin ya, mana yang perlu di beresin", Heni langsung menuju arah luar.
"I-ya-ma...", ucap Dikta sambil mengeja per suku kata.
Heni pun langsung mengeluarkan sepeda motornya dari bagasi dan segera menyalakannya dan langsung tancap gas.
Heni memarkir sepeda motornya di parkiran tempat biasa Heni memarkirkan sepeda motornya. Kalau sepeda motor dibawa masuk ke dalam pasar repot, karena kondisinya becek dan ramai pembeli.
Memilih dan membeli satu persatu barang yang dibutuhkan, dengan cepat dan sigap tentengan Heni sudah lumayan banyak. Tiba-tiba Heni di kagetkan oleh teriakan orang yang memanggilnya.
"Hei, Heni", ucap Purnama sambil menepuk pundak Heni.
Purnama adalah istri dari sepupu ayah Steven dari kakeknya Steven berkakak-adik.
Heni terkejut dan kaget ada orang yang mengenalinya di Tanjung Karang ini, padahal Heni berharap tidak ada yang mengenalinya di kota ini. Heni langsung menoleh siapa sosok yang telah memanggil nya barusan.
Ingin mencari kehidupan yang lebih layak keluarga Steven akhirnya pindah dari kampung menuju Pekanbaru, karena di kampung hanya sebagai buruh tani saja tidak warisan tanah dari mertuanya yang bisa dikelola.
Heni gelapan menjawab Bu Purnomo.
" Ha-i kak, a--pa ka--bar?", ucap Heni terbata-bata.
"Kabarku baik-baik saja. Tidak nyangka ya kita bakalan ketemu di sini", ucap Purnama dengan senang dan tersenyum lebar.
"Bagaimana keadaan Dikta dan Steven, sudah berkeluarga kah kedua anak-anak mu?. Rindu rasanya ingin bertemu dengan mereka.
Dulu waktu kalian memutuskan untuk merantau ke luar kota. Dikta dan Steven masih kecil sekali sekitar umur 4 tahun dan 2 tahun.
Oh ya kalian tinggal di mana?, boleh dong aku ke rumah mu, pengen lihat anak-anak", ucap Purnama dengan bersemangat.
__ADS_1
"Boleh", jawab Heni pelan, mencoba mencari-cari alasan yang pas menolak ajakan Purnama yang ingin berkunjung ke rumah Heni.
"Tapi sekarang aku lagi sibuk, ada acara arisan di rumah, ini juga sangat buru-buru, masih banyak yang perlu di masak dan di persiapkan untuk acara arisan nanti, padahal acaranya di mulai jam 14.00", ucap Purnama sibuk memperhatikan belanjaan nya apakah masih ada bahan-bahan pokok yang masih perlu di beli untuk keperluan arisan.
Heni pun segera mempergunakan kesempatan baik ini.
"Oh ya udah Kak, silahkan kakak perhatikan lagi barang-barang yang masih mau kakak beli. Aku pun begitu saat ini buru-buru untuk pulang ada acara juga di rumah. Setiap 3 hari sekali aku selalu belanja di disini kok. Kita pastilah ketemu lagi disini", ucap Heni memberi alasan.
"Oh iya -iya, baiklah aku permisi dulu ya, aku sangat buru-buru", Ucap Purnama meninggalkan Heni.
Lega rasanya bagi Heni, Purnama sudah berlalu meninggalkan nya.
Heni pun segera membeli kebutuhan yang masih harus di belinya. Setelah semua rasanya cukup dan sudah lengkap. Heni pun bermaksud untuk pulang ke rumah.
Heni segera menuju parkiran sepeda motor untuk mengambil sepeda motor miliknya, lalu tancap gas balik ke rumah. Dengan perasaan yang was-was, karena Heni merasa bahwa posisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Heni sampai di rumah dengan badan masih terasa lemas tidak bersemangat.
Seluruh barang belanjaan dibawa ke dapur, bermaksud untuk segera diberesin. Ikan-ikan dibersihkan kotoran nya lalu di masukkan ke kotak dan diletakkan di dalam freezer, begitu juga dengan sayuran.
Dikta melihat wajah Heni sedikit kesal. Dikta pun bingung dan penasaran apa yang terjadi kepada Heni.
" Ma, mama kenapa?, dari tadi Dikta perhatikan asik cemberut dan kesal. Dikta sudah mengerjakan apa yang mama suruh, mengapa mama kelihatan cemberut dan kesal?, tanya Dikta ingin tahu.
"Tadi mama ketemu dengan Kak Purnama istri sepupu ayah mu dari kakeknya yang berkakak adik", ucap Heni kesal.
"Terus Bu Purnama memarahi mama?, ucap Dikta polos, tidak mengerti apa yang di pikir kan Heni.
"Iiih, kamu ini ya benar-benar tidak tahu apa-apa. Kak Purnama menanyakan alamat rumah ini, ingin berkunjung melihat-melihat kalian!", ucap Heni menjelaskan.
"Ya sudah ma, kasih saja alamatnya, kenapa mama kesal begitu!", ucap Dikta masih saja tidak mengerti apa jalan pikiran Heni.
Heni pun jadi kesal dan marah melihat Dikta, tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Kamu itu ya, bodohnya minta ampun!, maksud kamu mama membuat Kak Purnama datang ke rumah ini, terus beramah tamah ketawa-ketawa, dan melihat kamu suami istri dengan Steven?", ucap Heni kesal, Dikta tidak mengerti juga apa yang Heni maksud.