Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#86. Ternyata Dikta adalah anak angkat Bu Purnama, adik angkat Steven.


__ADS_3

Akhirnya Willi dan Dikta sah menjadi suami istri. Tidak terlalu banyak tamu yang di undang, hanya beberapa teman kerja Steven sekaligus teman kerja willli, dan tetangga terdekat yang tinggal disekitar rumah kediaman Steven.


Sedangkan Keluarga willli sendiri tidak ada, karena willli selama ini tinggal di panti asuhan. Setelah willi merasa bisa mandiri.


Willi keluar dari panti asuhan dan berusaha mencari pekerjaan dari awalnya menjadi pemulung, jualan loper koran, berjualan di kaki lima.


Sambilan willli belajar otodidak mengenai bagaimana mendesign akhirnya willi bisa bekerja di proyeknya Steven.


Setelah para undangan sudah tidak ada lagi yang datang menghadiri resepsi pernikahan Willi dan Dikta. Tiba-tiba datang seorang perempuan yang sudah hampir tua, lebih tua dari usia Heni. Datang dan masuk ke rumah.


"Permisi...Permisi", Perempuan tua itu menyapa.


Heni pun segera datang menghampiri asal suara yang sedari tadi memanggil dari luar.


Heni terkejut ternyata yang datang mengunjunginya adalah Ibu Purnama, istri dari sepupu dari ayahnya Steven.


"Kak Purnama", sapa Heni terkejut.


"Ternyata ini rumah kamu Heni", Bu Purnama membalas.


Heni dan Purnama pernah bertemu di pasar. Karena Bu Purnama sibuk berbelanja, Bu Purnama lupa meminta alamat rumah Heni. Heni merasa senang karena, takut kedok perkawinan Steven dan Dikta diketahui oleh Bu Purnama, Heni kesannya menutupi dan tidak ingin bertemu dengan Bu Purnama.


"Iya kak", Heni menjawab dengan gelagapan.


"Oh iya kak, kakak tahu alamat rumah ini dari siapa?", tanya Heni penasaran dan ingin tahu.

__ADS_1


"Rumah ku tidak jauh dari sini hanya beda Gang saja. Aku lewat gang Sopoyono ini karena gang sebelah, gang Merdeka gangnya rumahku lagi ada perbaikan agak repot dan berantakan.


Bahan-bahan material nya berserakan di jalan. Jadi aku bermaksud jalan dari gang Sopoyono ini saja.


Ternyata aku melihat gambar dan nama Dikta di pintu masuk para tamu undangan. Aku penasaran dan segera menghampiri ternyata feeling ku benar. Rumah kamu dan Dikta ada di sini", Bu Purnama menjelaskan kenapa bisa berada di rumah Steven saat ini.


"Ada sesuatu yang ingin kuberitahu kepada kalian, mungkin kalian tidak tahu selama ini. Yang tahu kejadian ini adalah ayah kalian, saya dan suami saya serta beberapa kerabat kita", Bu Purnama, memulai pembicaraan yang membuat Heni, Steven dan termasuk Dikta menjadi penasaran.


Apa sesungguhnya yang ingin diceritakan Bu Purnama, sampai Heni pun tidak mengetahuinya.


"Dikta adalah anak angkat saya. Dulu Dikta adik kandung Steven meninggal karena kecelakaan. Saat itu Dikta di tabrak lari oleh pesepeda motor tepat di hadapan ibu kamu Heni, yang saat itu sedang menjemur pakaian di depan rumah.


Melihat kecelakaan yang sangat mengenaskan itu, sampai Dikta terpelanting jauh. Ibu kalian ini begitu sedih dan terus saja menangisi kepergian Dikta. Dan terus menyalahkan dirinya karena tidak menjaga Dikta dengan baik, sehingga kecelakaan itu terjadi.


Lama-kelamaan ibu kalian terganggu jiwanya dan menjadi gila, tidak terima Dikta meninggal. Akhirnya saya memberikan putri angkat saya Sally yang seumuran dengan Dikta untuk dirawat ibu kamu.


Kami pun tidak mengungkit-ungkit kejadian itu. Sampai akhirnya kalian pindah dan aku baru tahu ayah kalian sudah meninggal dan tidak pernah memberitahukan mengenai Dikta yang sebenarnya.


Saya senang saat ini Sally atau Dikta sedang menikah, saya mendoakan semoga menjadi keluarga yang berbahagia dan segera mendapatkan momongan.


Saya tidak mengharapkan banyak. Saya dan Heni adalah ibu kamu. Saya hanya ingin kau tahu kebenarannya itu saja", Purnama bercerita dengan penuh kesedihan.


Semua terkejut mendengar cerita dan pengakuan dari ibu Purnama. Bahkan Dikta sendiri shock mendengar pengakuan ibu Purnama. Dikta tidak menyangka setelah usia dewasa, baru dia mengetahui kebenaran atas dirinya.


Tiba-tiba Heni merasa pusing dan ingin terjatuh. Tetapi Steven langsung sigap mengetahui kondisi Heni yang ingin terjatuh. Langsung Steven menangkap tubuh Heni yang ingin terjatuh ke lantai. Cepat-cepat steven membaringkan Heni di tempat tidur nya.

__ADS_1


Setelah kondisi Heni baikan Heni merasakan kepalanya sangat sakit. Dan tiba-tiba merintih kesakitan pada bagian kepalanya "Aduh sakit sekali!", Heni berteriak dengan kencang.


Steven dan Dikta langsung masuk ke kamar mendapatkan Heni sedang posisi terduduk di tempat tidur nya.


"Steven, sepertinya ibu sudah mengingat kejadian ketika Dikta adik kandung kamu di tabrak lari oleh pesepeda motor yang melaju sangat kencang.


Tubuh Dikta kecil ku sampai terpelanting keras dan jatuh sejauh 2 meter, saat itu ibu tidak bisa menolong nya hanya melihat nya terbaring kaku di jalan. uuu...uu...", Heni bercerita sambil menangis terisak-isak mengingat kejadian itu.


"Sudah lah, ma. Tidak usah memaksa kejadian itu untuk di ingat. Itu sudah masa lalu, ihklas kan lah. Yang penting mama sekarang sehat, itu yang terpenting saat ini", Steven terus membujuk dan menghibur Heni untuk tidak bersedih dan mengingat-ingat lagi kejadian itu.


"Mama, harus tetap sehat ya. Maafkan Dikta selama ini sudah menyusahkan dan membuat malu keluarga ini", Dikta sujud menyembah di kaki Heni meminta maaf atas kelakuannya selama ini.


"Sudah lah Dikta. Tidak usah mengingat kejadian yang lampau, yang terpenting kamu mau berubah menjadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama itu sudah lebih dari cukup.


Sekarang kamu sudah menikah, ingat lah semua pesan mama kepada kamu. Dan hormatilah suami kamu, kamu harus menjadi istri dan sekaligus ibu yang baik nantinya buat anak-anak kamu kelak. Mama akan tetap menganggap kamu Dikta anak kandungnya mama", Heni menambahi nasehatnya kepada Dikta.


"Kak, maaf kami tidak pernah memberitahukan kabar kami selama ini kepada kakak. Karena situasi dan kondisi kami memang sanga susah saat itu, sampai tidak terpikir kan untuk mengabari kakak", Heni sujud di kaki Bu Purnama.


"Iya, kakak juga minta maaf. Karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk kalian. Mungkin ini sudah jodoh, akhirnya Tuhan mempertemukan kita kembali dalam keadaan sehat dan saat yang berbahagia ini.


Kakak senang akhirnya Dikta bisa menemukan jodohnya dan sebentar lagi akan membangun rumah tangga nya sendiri.


Kiranya kalian berdua bisa menjadi pasangan suami istri yang berbahagia dan cepat mendapatkan momongan", Purnama turut senang atas menikah nya Dikta.


"Dikta, mama harap kamu mau menemui mama sesekali dan saudara kandung mu, rumah mama berada di gang sebelah. Kalau ayah kandungmu sudah meninggal dunia 1 tahun yang lalu", Purnama memberi tahu Dikta.

__ADS_1


"Iya, ma", Dikta mencium tangan Purnama.


Suasana yang tadinya nangis-nangisan sekarang berubah menjadi canda tawa.


__ADS_2