
"Bang apa tidak baik menurut Abang, Kenzo kita titip saja di panti asuhan?" tanya Dikta dengan suara pelan dan hampir tidak kedengaran.
"Apa, coba kudengar sekali lagi, mana tahu Abang salah dengar, kamu bicara apa barusan?" Steven menfokuskan pendengaran nya, sedikit samar-samar didengarnya perkataan Dikta barusan.
"Apa tidak bagus kalau Kenzo kita titip kan saja di panti asuhan?" Dikta mengulangi pernyataan nya.
"Kamu sudah gila ya!, ibu mana coba yang ingin jauh dari anaknya, kamu malah sebaliknya, ingin menjauhkan Kenzo dari kehidupan mu" Steven memarahi dan kesal kepada Dikta.
"Jangan salah paham dulu, Maksud Dikta, Mungin kalau di panti asuhan Kenzo bisa setiap hari berbaur dengan teman-teman dan orang lain, diajari mandiri, dan disiplin" Dikta mencoba memberi pandangan.
"Kamu sebagai ibu, fungsinya apa sih!, memangnya kamu tidak bisa mengajarkan dia mandiri, dan disiplin?, kamu saja yang tidak sabaran dan tidak pengertian menghadapi tingkah lakunya,
Kenzo itu butuh kasih sayang, perlu perhatian kamu, Gimana sih kamu, kamu itu ibu kandungnya atau ibu tirinya sih?, tega banget sama anaknya" Steven geram Dikta seperti tidak terima nasihat dan saran Steven.
"Memangnya masalah kamu apa sih, kok kayaknya ngotot sekali ingin membawa Kenzo tinggal di panti asuhan?" Steven penasaran dan ingin tahu.
"Dikta malu bang sama tetangga, yang selalu menyindir Dikta, Bu anaknya kok ketawa-ketawa sendiri?, Bu anaknya kok tidak mau gabung sama anak tetangga?, Bu kok anaknya tidak dibawa ke berobat?,
dan banyak lagi segala pertanyaan-pertanyaan, bahkan ejekan-ejekan yang kutrima dari tetangga, yang terkadang sok pedulilah, sok pintar lah, bahkan sok maha tahu segalanya,
aku tidak tahan mendengar perkataan-perkataan mereka kupingku terasa panas" Dikta kesal, menumpahkan segala perasaannya pada Steven.
"Dikta, sepertinya kamu lupa masa lalu kamu ya, kamu berkaca ke masa lalu, apa yang telah kita perbuat" Steven mengingatkan Dikta atas hubungan terlarang mereka, karena Dikta dan Steven adalah sedarah, tetapi melakukan hubungan suami istri, Kenzo dan Merry adalah buah dari hubungan mereka.
Dikta diam saja, tetapi Dikta lebih peduli perasaannya daripada perasaan Kenzo saat ini.
Steven tahu sifat Dikta, bagaimana pun Steven memberi pengarahan dan nasihat Dikta tetap tidak mau peduli, Dikta lebih memikirkan perasaan nya yang di hina dan dicaci maki tetangga, seolah-olah Dikta disini sebagai korban yang terzolimi.
"Dikta, Kenzo tidak bersalah, justru Kenzo telah menanggung dosa kita, Kenzo hasil dari hubungan sedarah kita, itu yang menyebabkan Kenzo tidak sempurna" Steven memberi tahu, Dikta hanya bisa diam dan tertunduk.
__ADS_1
"Kalau Abang sih tidak setuju kalau Kenzo di titipkan di panti asuhan, coba kamu tanya mama, apa mama setuju Kenzo dititipkan di panti asuhan" Steven memberi arahan, agar Dikta minta saran Heni.
"Ma, sini deh ma, ada yang mau kami tanyakan kepada mama" Dikta memanggil-manggil Heni.
"Apaan sih, mama lagi repot ini, penting banget ya, diskusinya?" tanya Heni penasaran.
"Iya ma, ini penting" ucap Dikta.
"Sepenting apa sih" Heni datang menghampiri Dikta dan Steven sambil mengomel-ngomel.
"Begini ma, menurut Dikta bagaimana kalau Kenzo kita titipkan saja di panti asuhan, nanti biaya perbulan Kenzo akan kita antar, agar Kenzo terpenuhi kebutuhan dan tidak merasa kekurangan,
lagian nanti sekali seminggu, kita datang untuk mengunjungi Kenzo, agar bisa mengurangi dan mengobati rasa rindu kita, atau rasa rindu Kenzo" Dikta sok memberi alasan dan perhatian.
Sejenak Heni diam tidak berkata apa-apa, Heni juga merasa tidak enak mendengar gunjingan tetangga, sebenarnya bukan tetangga dekat rumah sih yang selalu mengejek.
Yang selalu mengejek itu adalah tetangga desa lain yang kebetulan sering lewat dan belanja dekat rumah Steven.
Steven pun langsung menyela Heni, karena Heni lama terdiam dan tidak berkata-kata ketika dimintai pendapat mengenai menitipkan Kenzo ke panti asuhan.
"Ma, jangan bilang mama setuju, mengenai menitipkan Kenzo ke panti asuhan" Steven menebak jawaban Heni.
"Mama tidak setuju Kenzo di titip ke panti asuhan, Kenzo sudah seperti anak mama sendiri, karena yang paling sering merawat dan mengasuh Kenzo adalah mama,
bukan Dikta, makanya Dikta tidak ada sedikit perasaan iba atau sayang kepada Kenzo,
Kenzo butuh kasih sayang dan perhatian, mama lihat Steven begitu dekat dengan Kenzo, Steven bisa kok membuat Kenzo menjadi disiplin dan mandiri,
Kenzo bisa kok jadi anak yang penurut, kita sekolahkan saja Kenzo terus, walaupun lambat menerima pelajaran, tetapi lama kelamaan nanti pasti Kenzo bisa kok, mama yakin itu" Heni beralasan dan memberi penjelasan.
__ADS_1
"Sudah lah Dikta, tidak usah memberi alasan lagi, aku tidak setuju kenzo di titipkan ke panti asuhan, kalau kamu merasa berat mengasuh dan merawat kenzo biar aku dan mama saja yang merawatnya,
lagian kamu selama ini hanya membuat Kenzo menjadi panik dan penuh ketakutan" Steven tegas dan mantap tidak mengizinkan Kenzo dititipkan ke panti asuhan.
Dikta kesal tidak ada yang mendukungnya untuk menyetujui Kenzo dititipkan di panti asuhan.
Dikta pun segera meninggalkan Steven dan Heni, langsung masuk ke kamarnya, karena kesal.
Tiba-tiba Kenzo datang menghampiri Steven dan Heni,
"Pa--pa, ne--nek, Enzo aus --aus, la--par uga" Kenzo meminta minum dan makan, Heni dan steven saling bertatapan muka, "apa Kenzo mendengar dan mengerti percakapan mengenai menitipkan dirinya ke panti asuhan" pikir Steven dalam hati, berharap mudah-mudahan Kenzo tidak mendengar atau mengerti mengenai percakapan mereka.
Kenzo pasti sedih seandainya mendengar dan mengerti percakapan mereka, takutnya Kenzo akan menjadi menyendiri karena merasa telah merepotkan orang tua nya.
Steven berusaha memberi perhatian lebih kepada Kenzo, "Kenzo mau minum apa?" tanya Steven dengan lembut.
"enzo ma--u cu--cu" Kenzo menunjuk ke arah kaleng susunya.
"Baiklah papa buatin ya" Steven terus memberi perhatian.
Kenzo menunduk kan kepalanya sambil tersenyum.
Steven langsung menyeduh susunya Steven ke dalam gelas, segera diberikan kepada Kenzo.
"ini susunya, Kenzo, diminum sampai habis iya" Kenzo memanggut-manggut kan kepalanya, sambil mengucapkan"ma--ka--sih".
Steven pun memeluk Kenzo terharu dan meneteskan air mata mendengar Kenzo mengucapkan terimakasih kepadanya.
Steven sedih, bagaimana nasib Kenzo nanti, seandainya Steven meninggal dunia, bagaimana Kenzo bila sudah besar nanti, apakah ada perempuan yang akan menjadi istrinya kelak, Steven hanya mempasrahkan segalanya hanya kepada yang kuasa.
__ADS_1
Harapan terbesar Steven kepada anak-anak nya adalah, anak-anak nya hidup layak. Hanya itu, tidak berharap suatu hari nanti anak-anak akan memberinya uang atau mobil, setiap keinginan orang tua, tidak mengharapkan harta dari anak-anaknya.