Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#57. Setelah kepergian Merry Kenzo sakit


__ADS_3

Steven tiba di rumah sakit, Steven langsung menuju ruang jenazah dan menemui Dikta di ruang jenazah untuk mengurus segala keperluan untuk kepulangan Merry ke rumah.


Dikta melihat Steven sudah sampai dan segera memeluk Steven, menumpahkan segala kesedihannya kepada Steven.


"Bang, Merry sudah pergi selamanya, kita tidak akan melihat dan mendengar canda tawa Merry u...uuuuu.....uuu", ucap Dikta sambil menangis.


"Sudahlah, ikhlaskan semua. Ini sudah takdir Tuhan. Kita masih punya Kenzo. Selama ini kamu terlalu perhatian sama Merry sehingga sampai melupakan Kenzo.


Merry kan sayang sekali sama Kenzo. Mungkin Merry ingin agar kamu bisa lebih peduli dan perhatian kepada Kenzo. Maka dengan itu ikhlaskan lah, ada hikmah di balik semua kejadian yang kita terima", ucap Steven menjadi Dikta.


Dikta segera menyadari kesalahannya selama ini terhadap Kenzo, "Ya ampun, selama ini aku jahat sekali kepada Kenzo, Merry yang masih kecil bisa lebih tahu menghargai Kenzo, dan bisa membuat Kenzo bahagia.


Sedangkan aku, aku ibunya sendiri yang telah melahirkan Kenzo, tidak ingin Kenzo dekat denganku, malahan aku menginginkan Kenzo dititip di panti asuhan, ya ampun ibu macam apa aku ini", Dikta menangis dan menyesali segala kesombongan dan kebodohannya.


"Sudahlah Dikta, kamu pun tidak usah menyalahkan diri kamu terus-terusan, sekarang yang penting kamu sudah menyadari kesalahan kamu.


Kamu bisa berubah, kedepannya kamu tidak mengulangi kesalahan kamu lagi dan sikap kamu dan tingkah laku kamu kiranya bisa berubah menjadi baik, kamu menjadi ibu yang baik buat Kenzo", ucap Steven menambahi segala nasihat nya.


"Ayo bila berkasnya telah selesai di urus, sekarang kita bawa jenazah Merry pulang ke rumah, mama dan Kenzo sudah menunggu di rumah", ucap Steven sambil melepaskan pelukannya terhadap Dikta.


Dikta menemani jenazah Merry di mobil ambulance, Steven membawa pulang mobil.


Wi..wi...wi...wiii


Ambulance mendarat depan rumah keluarga Steven, tetangga berdatangan, bingung siapa yang telah meninggal, karena selama ini tetangga tahu, bahwa anggota keluarga Steven tidak ada yang sakit.


Karena tetangga merasa penasaran, tetangga mendekati kediaman keluarga Steven.

__ADS_1


Jenazah di keluarkan dari mobil ambulance, dan disusul Dikta turun dari mobil ambulance sambil berteriak dan terus menerus menangis. Heni dan Kenzo sudah di rumah menyambut kedatangan jenazah Merry.


Kenzo tidak tahu kalau Merry sudah meninggal, begitu tahu Merry yang datang sudah di masukkan dalam peti jenazah, Kenzo teriak sejadi-jadinya, Kenzo memukul-mukul dirinya, Kenzo sangat bersedih atas meninggalnya Merry. Karena selama ini Kenzo begitu peduli dan sayang sekali kepada Merry.


Steven dan Dikta berusaha membujuk Kenzo agar sabar, tabah dan ikhlas. Lama sekali Steven dan Dikta untuk membujuk Kenzo agar bisa terima atas meninggalnya Merry.


Steven dan Dikta memberi nasehat, "Kenzo, adek Merry titip salam sama Kenzo, Kenzo harus rajin belajar, jangan gampang marah, harus jaga dan sayang sama mama dan papa", bujuk Dikta dan Steven kepada Kenzo, barulah kenzo sedikit tenang, dan hanya menangis sesenggukan saja.


Satu persatu para tetangga datang mengucapkan rasa duka citanya kepada kepada keluarga Steven, "Turut berdukacita sedalam-dalamnya ya, Steven, Dikta dan Heni, kami para tetangga turut merasakan kesedihan yang kalian rasakan atas berpulangnya Merry menghadap yang kuasa.


Semoga keluarga diberi kesabaran, ketabahan dan keikhlasan. Semoga juga seluruh keluarga tidak larut-larut dalam kesedihan melainkan bisa mengambil hikmah dibalik semua ini", ucap para tetangga menguatkan seluruh keluarga Steven atas berpulangnya Merry sambil menjabat tangan Heni, Steven, Dikta dan Kenzo.


Para tetangga pun ikut mengantar kan jenazah Merry ke peristirahatan nya yang terakhir.


Steven, Heni, Dikta dan Kenzo menangis sejadi-jadinya, karena ini adalah momen terakhirnya melihat jasad Merry di dunia.


Kenzo begitu terpukul dan sangat sedih kehilangan Merry, terlebih selama Merry di rumah sakit ketika kondisi tidak sadarkan diri, Kenzo tidak pernah lagi ketemu dengan Merry.


Terakhir ketemu dengan Merry, ketika Kenzo membawa bakpao isi coklat untuk Merry, Merry sampai memakan habis bakpao itu, padahal ukurannya lumayan besar.


Kenzo sangat senang ketika Merry sangat membutuhkannya, Merry menangis ketika Kenzo harus pulang dan meninggalkan Merry di rumah sakit.


Selama ini Merry selalu menguatkan Kenzo apabila Dikta memarahi dan memukul Kenzo. Terlebih ketika Dikta ingin Kenzo ingin dititip ke panti asuhan.


Kenzo bercerita dan curhat kepada Merry, bahwa Kenzo mendengar pembicaraan Steven dan Dikta. Dikta ingin menitipkan Kenzo di panti asuhan, karena malu atas omongan tetangga yang mengatakan Kenzo, seperti orang bodoh, bicara dan tertawa sendiri.


Merry lah yang menguatkan dan menghibur Kenzo saat itu, Kenzo melampiaskan kemarahannya saat itu kepada Dikta dengan melempar gelas ke lantai, Merry menasihati Kenzo, bahwa sesungguhnya Dikta sayang kepada Kenzo, sehingga Kenzo melunak dan minta maaf kepada Dikta.

__ADS_1


Sekarang Kenzo telah kehilangan Merry selama nya, tidak ada lagi tempat Kenzo untuk curhat, Kenzo seperti kehilangan separuh nafas nya, Kenzo tidak mau makan.


Sehari setelah kepergian Merry, Kenzo selalu mengurung diri di kamar, Kenzo tidak berselera untuk makan, Dikta tidak tahu menahu, kalau Kenzo tidak makan, karena Dikta pun mengurung diri di kamarnya.


Melihat Kenzo tidak keluar untuk sarapan pagi, karena Kenzo selalu terbiasa melakukan sarapan pagi jam 06:00. Heni pergi ke kamar Kenzo, betapa terkejutnya Heni melihat Kenzo. Masih tertidur di atas tempat tidur nya.


Heni mendekati Kenzo, tidak biasanya Kenzo masih tertidur jam segini, Heni pun mencoba memeriksa suhu badan Kenzo. Ternyata suhu badan Kenzo tinggi sekali, Kenzo sampai mengigau "Mer--ry, Mer--ry", ucap Kenzo dalam igau nya.


Heni pun langsung berlari ke kamar Steven dan Dikta, bermaksud untuk memberi tahu Steven dan Dikta.


tok ..tok .tok.


"Steven..., Dikta...", ucap Heni sambil terus mengetuk kamar Steven dan Dikta.


Steven langsung keluar untuk segera membuka pintu kamar.


"Ada apa ma", tanya Steven tidak tahu maksud Heni mengetuk pintu.


"Kenzo, demam tinggi, Steve", ucap Heni kencang.


Steven langsung berlari menuju kamar Kenzo untuk melihat kondisi Kenzo.


"Ya ampun, cobaan apa lagi ini", ucap Kenzo dalam hatinya sambil terus berlari menuju kamar Kenzo.


Steven langsung memeriksa dengan meletakkan tangan Steven di dahi Kenzo "Panas sekali ini, mama tolong ambilkan air hangat untuk mengompres, mudah-mudahan, suhu tubuhnya bisa berangsur-angsur turun", perintah Steven kepada Heni.


Dikta masih saja larut dalam kesedihan nya, semalamam Dikta tidak bisa tidur, subuh tadi Dikta baru bisa terpejam, jadi Steven tidak ingin membangun kan Dikta, "Biarlah Dikta sebentar istirahat, menghilangkan lelahnya, karena selama di rumah sakit, Dikta pun tidak teratur istirahat nya", pikir Steven dalam benaknya.

__ADS_1


__ADS_2