
Sebulan berlalu kandungan Dikta belum juga gugur, padahal Dikta rajin meminum obat. Sekarang usia kandungan Dikta jalan 3 bulan, karena badan Dikta kecil perut Dikta kelihatan membuncit. Nafsu makan Dikta juga meningkat. Dan ada-ada saja keinginan Dikta untuk segera di belikan makanan.
Siang ini cuaca sangat panas, dan gerah. tiba-tiba Dikta minta dibelikan rujak.
"Ma, beli rujak dong, Dikta pengen makan rujak nih" rengek dikta kepada Heni.
"Aneh-aneh aja deh, kamu aja yang nyarik sendiri, disimpang perempatan dekat apotek yang di dekat pangkalan ojek ada tukang rujak sering mangkal disitu, kata orang sih lumayan rasanya" Heni menjelaskan.
"Mama kan tahu, kalau Dikta jarang keluar, mana Dikta tahu itu tempatnya dimana" elak Dikta beralasan, karena Dikta malas untuk keluar.
"Mama juga lagi malas keluar, nggak ahh, kamu aja yang beli" Heni pun berlalu cuek pura-pura tidak mengubris Dikta yang sedang merengek, Heni sibuk mencuci piring di wastafel.
"Iiih mama gitu deh, ayo dong ma, beliin Dikta rujak" rengek Dikta sambil memijat-mijat punggung Heni, bermaksud merayu Heni agar mau menuruti keinginannya.
"Iya deh, tetapi tunggu mama selesai dulu mencuci piring nya ya" Heni luluh dan menuruti keinginan Dikta.
"Gitu dong ma, kalau mama baik, cantik nya mama jadi bertambah" puji Dikta sambil mencium pipi Heni.
Dikta pun kembali duduk ke bangku meja makan yang berada tidak jauh dari wastafel.
Sekilas Heni memperhatikan perubahan bentuk tubuh Dikta.
"Dikta, mama bingung deh lihat perubahan bentuk tubuh kamu, sepertinya kamu kelihatan tambah gemuk, tetapi gemuknya berbeda" ucap Heni curiga. Dikta tidak menyadari kalau baju yang dipakai Dikta sedikit seksi. Saat itu Dikta memakai setelan baju tidur tanpa lengan sedikit menerawang, sehingga kelihatan perut Dikta yang membuncit.
Dikta panik ketika Heni menanyakan perubahan bentuk tubuhnya. "Apaan sih ma, bukannya biasa aja, Dikta rasa biasa aja deh bentuk tubuh Dikta" ucap Dikta sedikit panik, dan berusaha mengelak atas segala perkataan Heni.
Heni pun merasa yakin atas perubahan bentuk tubuh Dikta adalah seperti hamil.
"Jawab mama dengan jujur Dikta, kamu hamil kan, mama curiga ketika kamu memaksa untuk dibelikan rujak, sekilas mama perhatikan bentuk tubuh kamu, dan melihat dari balik baju kamu yang menerawang melihat perut kamu membuncit" ucap mama kencang dan memaksa Dikta untuk jujur.
__ADS_1
Heni juga memaksa dengan penuh emosi menyuruh Dikta untuk menaikkan baju dikta ke atas dan memperhatikan perut dikta yang membuncit.
"Siapa yang telah menghamili kamu Dikta, ayo cepat katakan siapa laki-laki yang telah membuat kamu hamil" teriak Heni kencang sambil melotot.
Steven pun langsung mendatangi Heni dan Dikta karena mendengar teriakan kencang Heni yang sampai kedengaran ke kamar Steven.
Dikta menangis sesenggukan, karena kelalaiannya menutupi perutnya yang membuncit, Dikta tidak menyadari dirinya sedang hamil, sehingga Dikta memakai setelan baju tidur tanpa lengan dengan bahan pakaian menerawang.
"Maaf kan Dikta ma" Dikta memohon sambil sujud di kaki Heni minta maaf.
Steven pun ketakutan melihat Heni begitu marah dan memaksa Dikta untuk jujur dan mengatakan siapa laki-laki yang menghamilinya.
Heni pun mendorong keras tubuh Dikta hingga terjatuh ke lantai. Dikta menangis keras dan langsung bersujud kembali di kaki Heni "Ma..maafin Dikta ma."
Melihat kemarahan Heni sampai Dikta menangis kencang, Heni seperti tidak peduli dengan tangisan Dikta yang terus meminta maaf. Steven pun ikut sujud menyembah bersimpuh di kaki Heni.
"Mengapa kamu ikut-ikutan minta maaf" tanya Heni heran.
"Se--benarnya yang meng--ha--mili Dikta adalah Steven ma" ucap Steven terbata bata.
"Apa!" ucap Heni terkejut sambil mengusap dadanya dan hendak tersungkur ke lantai, langsung Heni dan Steven menangkap Heni. Heni tidak menyangka atas apa yang telah terjadi terhadap anak-anak, "sungguh aib yang memalukan" pikir Heni dalam hati.
"Mengapa kamu menghamili adik kandung mu sendiri?" tanya Heni tidak habis pikir.
Steven hanya diam saja, tidak tahu harus berkata apa, sesungguhnya bukan Steven yang menggoda Dikta, tetapi Dikta lah yang menggoda Steven, bahkan Steven berusaha keras untuk menghindari hubungan itu, tetapi Dikta memaksa, memancing dan menggoda Steven dengan menciumi seluruh tubuh Steven, sehingga nafsu birahi Steven begitu memuncak sehingga tidak bisa menolak segala godaan yang dilakukan Dikta.
Lama Steven tidak menjawab. Heni pun berteriak kencang "Steven, mengapa kamu menghamili adik kandung mu sendiri?".
Mendengar Heni berteriak dengan kencang Dikta yang menjawab pertanyaan Heni.
__ADS_1
"Bang Steven tidak bersalah ma, Dikta yang menggoda bang Steven, Entah mengapa Dikta begitu cinta dan sayang kepada bang Steven, sejak dulu kan teman bermain Dikta adalah bang Steven, mungkin itu yang menyebabkan rasa cinta itu bertumbuh, Dikta juga merasa cemburu bila bang Steven mendekati perempuan lain, Dikta cinta dan sayang sama bang Steven ma, Dikta tidak bisa hidup tanpa bang Steven" Dikta menangis dan kembali bersujud di kaki Heni.
Semakin sesak perasaan dada Heni mendengar pengakuan Dikta.
"Bagaimana mungkin anak-anak ku bisa saling mencintai", pikir Heni dalam hati, masih belum percaya atas apa yang didengarkan nya atas pengakuan Dikta.
Kembali Heni bertanya kepada Steven "Kamu Steven, apa kamu juga mencintai Dikta"
"Steven mencintai Dikta, karena perasaan sebagai kakak adik ma, tidak lebih dari itu, bahkan sekarang Steven ada pacar bernama Angelica" aku Steven kepada Heni.
Raut muka Dikta penuh cemburu dan amarah dengan pengakuan Steven mengenal Angelica. Dikta pun memohon-mohon kepada Heni "Ma, Dikta cinta dan sayang bang Steven, Dikta tidak bisa hidup tanpa bang Steven, tolong satukan kami ma"
"Tidak ada satu lembaga di dunia ini yang bisa mensahkan perkawinan Sedarah" ucap Heni tegas.
"Bagaimana nasib Dikta ma, masa depan Dikta" tangis Dikta.
Heni pun sedih melihat putri kesayangannya merengek-rengek
Heni tidak bisa lagi berkata-kata, nasi sudah menjadi bubur, mau marah pun sejadi-jadiny, masalah tidak lantas langsung selesai.
"Yang dilakukan saat ini adalah memikirkan penyelesaian nya", pikir Heni di benaknya.
"Kandunganmu sudah berapa bulan usianya?" tanya Heni kepada Dikta.
"Usia kandungan Dikta jalan 3 bulan ma" jawab Dikta menunduk tidak berani menatap mata Heni.
"Ini adalah suatu aib, sebelum perut kamu semakin membesar, dan dilihat tetangga, mama tidak mau kita digunjingkan atau di usir dari kota ini, ujung-ujungnya nanti rumah kita ini malah jatuh ke tangan orang lain, karena kita tidak diperbolehkan datang lagi kesini, karena aib ini, Kita harus mengaku ke tetangga, bahwa kita pindah ke luar kota" ucap Heni menyelesaikan masalah ini.
Steven dan Dikta hanya tertunduk diam, dan tidak berani membantah, mereka hanya bisa pasrah atas keputusannya yang telah ditetapkan Heni.
__ADS_1