Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#65. Dikta marah dituduh biang dari semua masalah.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30. Matahari sudah tidak kelihatan, langit menjadi gelap. Heni tersentak melihat kamarnya gelap. Heni sadar, sedari tadi Heni tidur, baru bangun setelah hari sudah gelap.


Heni keluar dari kamarnya, Heni melihat ruang tamu, dapur begitu gelap.


"Wah, benar-benar Dikta ini, apa tidak keluar kamar sedari tadi?. Lampu rumah sudah gelap begini belum juga dinyalain", pikir Heni kesal melihat tingkah Dikta yang begitu cuek terhadap urusan rumah.


"Bila aku mati nanti, bagaimana jadinya hidup Dikta ini", pikirnya menambahi sambil berjalan ke ruang dapur dan ke ruang tamu untuk menyalakan lampu diseisi rumah.


Tok..tok..tok .


"Dikta...Dikta.. Dikta", teriak Heni kencang.


Heni mencoba mendobrak pintu dengan kencang. Brang....pintu berhasil di buka.


"Ya ampun Dikta, kamu enak-enakan nonton sambil rebahan.


Padahal di ruang tamu, di dapur bahkan di teras semua lampu belum menyala. Rumah sampai kelihatan gelap seperti tidak ada penghuninya.


Mungkin juga kamu pun tidak memeriksa kamar Kenzo, apa Kenzo di kamar atau tidak", Heni menggeleng-gelengkan kepalanya pusing melihat tingkah laku putrinya yang kekanak-kanakan.


Heni pun langsung berlari ke kamar Kenzo, khawatir apa yang dikerjakan Kenzo saat ini. Ternyata Kenzo dilihat nya sedang asik menggambar, duduk di meja belajarnya.


"Kenzo", sapa Heni lembut.


Kenzo langsung berlari ke arah Heni sambil memeluk erat Heni "Ne--nek", sapa nya.


Raut muka Kenzo tidak biasa, cemberut dan kesal, Heni bingung, "Kenzo, mengapa Kenzo cemberut?", sapa Heni lembut.


"Pa--pa per--gi, ti--dak ma--u ma--in bo--la sa--ma ken--zo", ucap Kenzo sedih.


"Ma--ma ju--ga ti--dak pe--du--li ken--zo", Kenzo menambahi unek-unek nya.


Ternyata Kenzo dari tadi keluar dari kamarnya, menuju kamar Dikta. Ternyata kamar Dikta dikunci dari dalam, Dikta tidak mau keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Begitu juga ke kamar Heni, Kenzo bolak-balik, bermaksud membangunkan Heni tetapi tidak berani, takut mengganggu Heni yang sedang tertidur lelap.


Heni mengetahui semua tingkah laku Kenzo itu, karena penasaran melihat Kenzo yang selalu cemberut. Heni melihat rekaman cctv pada layar handphonenya.


Barulah Heni paham mengenai perasaan Kenzo yang dicuekin. Begitu juga Steven yang biasanya setiap sore menemani Kenzo bermain bola, dan kejar-kejaran di halaman.


Tetapi sekarang Steven pergi entah kemana. Tidak biasanya Steven pergi hingga semalam ini, biasanya selalu pulang siang sekalian membawa Kenzo pulang ke rumah.


Heni mencoba menghibur Kenzo.


"Kenzo lapar?", bujuk Heni.


Kenzo hanya cuek saja, sibuk terus menggambar di buku gambar nya.


"Kenzo mau tidak nenek buatin sosis gurita kesukaan Kenzo pakai saos mayonaise dan sambal tomat?", Heni mencoba menawarkan membuatkan makanan kesukaan Kenzo.


Kenzo merasa berselera karena Heni akan membuat kan makanan kesukaan Kenzo, akhir Kenzo pun luluh dan tersenyum.


"Ayo bantu nenek untuk membuatnya ya", ajak Heni, karena melihat Kenzo sudah tersenyum dan kegirangan di buatkan sosis gurita.


Heni pun segera mengambil beberapa buah sosis, kemudian memotong sosis menjadi empat bagian yang tidak terputus, kemudian di goreng.


Sreng....setelah sosis di masuk kan dalam minyak goreng panas, bagian yang dipotong menjadi 4 bagian yang tidak terputus, terbentuk menjadi seperti tentakel dari gurita, akhirnya sosis gurita siap di hidangkan di baluri saus mayonaise dan sambal tomat.


" Tar...Ra.sosis gurita sudah selesai", ucap Heni meletakkan piring berisi sosis gurita di atas meja. Kenzo kelihatan tidak sabar untuk segera menyantap habis semua sosis gurita tersebut.


"Ne--nek su--dah ha--bis", ucap Kenzo menyerahkan piring kosongnya kepada Heni yang sedang sibuk membersihkan piring di wastafel.


"Ok habis ya, anak pintar. Sekarang Kenzo mau ngapain?", tanya Heni ingin tahu keinginan Kenzo.


"Non--ton", ucap Kenzo menunjuk layar televisi.


"Baiklah, Kenzo duduk yang manis ya", ucap Heni memerintah Kenzo sambil menyalakan televisi.

__ADS_1


Kembali Heni melanjutkan aktivitas mencuci piringnya, Heni merasa piring kotor yang dicucinya, hanya piring yang dipakai nya untuk makan, "Lho, apa Dikta tidak makan sedari tadi siang?", pikir Heni dalam hatinya.


Heni mencoba bertanya kepada Dikta yang masih saja di kamar mengurung diri, hanya rebahan sambil menonton.


"Dikta, kamu tidak makan sedari siang tadi?", tanya Heni ingin tahu.


"Tidak", ucap Dikta ketus.


"Kenapa kamu tidak makan, nanti kamu sakit mama juga yang repot", ucap Heni.


"Biar saja Dikta mati ma, toh mama juga tidak peduli perasaan Dikta, untuk apa lagi Dikta hidup ma. Kalau dikta mati, mungkin mama tidak akan malu lagi, mama bisa hidup normal tidak usah pusing-pusing lagi menghindari orang-orang", Dikta kesal mencoba membalikkan kesalahan kepada Heni.


Heni pun diam saja. Di lubuk hatinya yang paling dalam mana ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita. Heni tidak ingin agar Dikta sakit. Heni pun mencoba membujuk Dikta.


"Dikta, tidak ada seorang ibu yang menginginkan anak-anak nya menderita, justru sebaliknya.


Seorang ibu pasti menginginkan anak-anaknya bahagia. Semua cara ditempuh seorang ibu agar anaknya bahagia.


Kamu sekarang telah menjadi seorang ibu, tanya kan kata hati mu. Apakah pernyataan mama itu salah?", Heni mencoba memberi pengertian, agar Dikta bisa terbuka pikirannya dan tidak menganggap Heni selalu salah.


"Kamu tidak perlulah ngambek mengenai perselisihan kita tadi pagi, kamu berpikir saja lah dengan jernih dan lapang dada, bagaimana lah agar semuanya menjadi baik dan indah.


Kamu pikirkan Kenzo, berilah dia sedikit perhatian kamu. Kenzo sangat sedih dan bolak-balik ke kamar kamu untuk minta di temani sama kamu.


Steven kamu pikirkan sekarang, kenapa pulang larut malam seperti tidak biasanya.


Kamu harusnya mencari tahu kenapa Steven pulang larut malam.


Sekarang kamu malah mau mogok makan menyiksa diri. Terus terang mama merasa sedih dan tidak setuju. Kamu sakit siapa yang rugi?.


Semua pasti terlantar, mama jadi bertambah repot, Kenzo tidak bisa pergi sekolah karena Steven pasti menemanimu di rumah sakit. Jangan mempersulit dan menambahi masalah dong ", ucap Heni memberitahu situasi rumah saat ini.


Dikta pun menyadari apa yang dikatakan Heni benar adanya. "Steven kenapa jadi pulang larut malam?. Tidak biasa nya Steven seperti ini, aku harus mencari tahu", pikir nya dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya Dikta mau keluar kamar, dan segera menuju meja makan, Dikta membuka tudung saji dan langsung menyantap makanan yang sudah di sendoknya ke dalam piringnya. Dikta makan dengan terburu-buru karena Dikta sudah merasa perutnya keroncongan.


Dikta tadinya pura-pura ngambek dihadapan Heni, kalau Heni lagi tidur, Dikta bermaksud untuk makan.


__ADS_2