Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#53. Merry drop tidak sadarkan diri.


__ADS_3

Begitu bahagia Merry melihat Kenzo datang ke rumah sakit, padahal sedari tadi Dikta merasa kepayahan membujuk Merry untuk lebih semangat dan ceria.


Bahkan untuk makan Merry tadi susah sekali untuk makan sesuap saja. Setelah Kenzo datang, bakpao ukuran besar habis dilahap Merry.


Karena Steven dan Kenzo sudah cukup lama berkunjung di rumah sakit. Lagian besok Kenzo harus bersekolah, agar tidak terlalu kelamaan sampai di rumah, Steven dan kenzo ingin pamit dan permisi untuk balik ke rumah.


"Pa, ma, bang Kenzo kenapa balik ke rumah, bang Kenzo tinggal di sini saja menemani Merry", Merry merayu Steven dan Dikta, agar Kenzo tidak balik ke rumah.


"Tidak boleh, sayang! bang Kenzo besok bersekolah, seragam dan sepatu bang Kenzo ada di rumah. lebih baik bang Kenzo, berangkat dari rumah saja", Dikta terus mencari alasan.


"Dokter tidak mengizinkan keluarga pasien banyak-banyak di kamar pasien", Dikta menambahi agar Merry tidak memaksa terus.


Merry hanya diam saja, tidak berani lagi memaksa agar Kenzo tinggal di rumah sakit.


Merry diam saja dan tidak menoleh ketika Steven dan Kenzo pamit pulang. Merry langsung menutup matanya pura-pura tidur, ketika Steven dan Kenzo sudah tidak ada di dalam kamar inap lagi.


"Merry, jangan ngambek begitu dong, sayang! besok kan bang Kenzo datang lagi menjenguk Dikta, setelah bang Kenzo pulang sekolah", bujuk Dikta.


"Benar kah, ma?", ucap Merry senang.


"Iya" dikta mengangguk kan kepalanya.


Merry pun akhirnya tertidur lelap. Begitu juga Dikta ikut terlelap disamping tempat tidur Merry sambil menundukkan kepalanya tertumpu di tempat tidur, mungkin karena sudah lelah.


Ketika tengah malam, Dikta mengigau "Ma...mama...ma...mama", teriak Merry sambil menangis dalam tidurnya.


Dikta tersentak dan terkejut, akhirnya membangunkan Merry dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya "Merry..Merry... Merry", teriak Dikta kencang.


Dikta memeriksa kening Merry, suhu badannya tinggi sekali, Merry juga berkeringat "Ada apa ini, kenapa suhu badan Merry tinggi sekali", pikir Dikta dalam hati.


Dikta langsung memencet tombol emergency. Tidak beberapa lama petugas medis yang sedang berjaga malam datang ke kamar Merry.


"Ada apa Bu?, tanya suster jaga ingin tahu, kenapa tiba-tiba memencet tombol emergency.

__ADS_1


"Anak saya suster, demamnya tinggi sekali, berkeringat dan mengigau", Dikta memberi penjelasan mengenai kondisi Merry.


Suster jaga pun memeriksa dan mengukur kembali suhu badan Merry, ternyata setelah diukur suhu badan Merry 41°C.


"Suhunya 41°C Bu", ucap suster memberitahu.


Dikta pun menjadi panik dan ketakutan dengan suhu badan Merry yang begitu tinggi. "Pantesan Merry sampai mengigau begitu", pikir Dikta dalam hati.


"Sekalian suster juga memeriksa tekanan darah Merry, ternyata tekanan darah Merry sangat rendah.


Suster langsung memberikan pertolongan oksigen, karena detak jantung Merry sangat lemah.


Suster pun segera meminta bantuan dokter. Dengan secepat kilat dokter langsung datang berkumpul di ruang rawat inap Merry, melihat kondisi fisik Merry yang semakin lemah, dokter langsung menginformasikan secepatnya Merry dibawa ke ruang ICU.


Dikta panik dan ketakutan sekali, "Sebenarnya apa yang terjadi pada mu Merry?, sakit apa sih kamu?, tadi kamu baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba jadi mengkhawatirkan begini?. Kamu harus kuat ya, sayang!", Dikta terus berkata-kata kepada Merry sambil membawa Merry ke ruang ICU.


Setelah tiba di ruang ICU, Dikta langsung di suruh menunggu di luar, "Silahkan keluar Bu, biarkan dokter yang bekerja untuk menangani pasien, nanti segala informasi akan di informasikan kepada ibu", ucap suster sambil terus menerus mendorong tubuh Dikta untuk keluar dari ruangan ICU.


Dokter memberitahu kondisi Merry kepada Dikta,


Merry langsung berlari mendapatkan dokter di depan pintu ruang ICU.


"Iya dok, saya sendiri", jawab Merry.


"Kondisi tubuh Merry drop, Merry menjadi tidak sadarkan diri", ucap dokter pelan dan penuh kelembutan, bermaksud agar Dikta tidak shock.


"Apa dok!, Merry tidak sadarkan diri!, kenapa bisa begitu dok?, tadi Merry baik-baik saja dok!", Dikta terus menangis, tidak menyangka Merry akan seperti ini.


"Apa yang menyebabkan Dikta menjadi drop seperti ini?", Dikta berusaha mengetahui apa penyebab Dikta menjadi drop, seolah-olah tidak yakin itu bisa terjadi.


"Ternyata Dikta meningitis disebabkan Bakteri, kemarin kami belum memeriksa secara teliti, setelah di scan pada seluruh bagian tulang punggung dan otak.


Ada jaringan tubuh yang rusak dan tidak berfungsi lagi, virus yang menyebabkan meningitis nya sudah menyebar ke bagian tubuh pasien.

__ADS_1


Ditambah lagi pasien imunitas tubuhnya lemah, sehingga itu yang menyebabkan nya menjadi cepat drop", ucap dokter memberitahu dengan panjang lebar dan mendetail.


Tangis Dikta tumpah mencoba berlari menemui Merry di ruang ICU.


Merry yang kondisinya sekarang terbaring lemah, hanya dibantu selang oksigen untuk mendapatkan udara dan alat-alat mesin entah apa itu namanya.


Semua terpasang di tubuh Merry, Merry nya hanya bergantung kepada alat mesin tersebut. Dikta merasa kasihan dan sedih melihat Merry nya menderita menahan sakitnya sendirian.


Tidak tega rasanya, Merry kecilnya yang masih 3 tahun harus menanggung sakit ini, ingin rasanya Dikta saja yang menanggung dan menggantikan posisi Merry.


Dikta berbisik kepada Merry sambil menangis, "Merry bangunlah nak, kamu harus kuat ya melawan sakit mu".


Kamu ingin pulang kan menemui bang Kenzo?. Jangan tinggalkan kami nak. Jangan pergi sekarang. Kami masih perlu kamu Merry!", Dikta terus menangis di samping Merry, tetapi Merry tetap saja diam tidak berbicara dan menyahuti Merry.


Dikta menghubungi Steven.


Tut....Tut...Tut .


Telepon tidak diangkat.


Mungkin Steven tertidur lelap tidak mendengar suara telponnya, maklum sekarang menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Steven satu harian ini bolak-balik rumah sakit- rumah, sehingga Steven terlalu lelah dan sangat mengantuk tidak mendengar telponnya berdering.


Kembali Dikta mencoba menghubungi Steven.


Tut...Tut...Tut...


Tidak diangkat juga.


Akhirnya Dikta berusaha menghubungi Steven dengan membuat chat WA, ketika Steven bangun bisa membaca dan melihat isi WA tersebut.


"Bang, Merry drop. Sekarang Merry sedang di ruang ICU tidak sadarkan diri", tulis Dikta dalam chat WAnya pada Steven.


Dikta pun hanya bisa duduk dan memandangi dan termenung di samping tempat tidur Merry.

__ADS_1


Dikta tidak bisa lagi terlelap untuk tidur, pikirannya terus terbayang-bayang mencoba mentolerir kondisi saat ini, ternyata tetap saja Dikta tidak terima, kenapa Merrynya harus drop sampai tidak sadarkan diri.


Dikta menyesali, "Seandainya saja, Kenzo tidak pulang, mungkin Merry akan tetap semangat, sehingga imunitas tubuh nya bisa kuat menahan sakit penyakit nya", pikir Dikta terus berkecamuk di dalam hatinya, Ohh Dikta menyesali perbuatannya, Dikta merasa bodoh.


__ADS_2