
"Kita titipkan saja Kenzo ke panti asuhan, bang. lama-kelamaan aku bisa gila nanti dibuat nya, pagi-pagi pun harus marah-marah dan stress menghadapi tingkah laku Kenzo" Dikta marah-marah.
Steven masih diam saja, tidak mau ribut dan membesar-besarkan masalah.
Dikta makin kesal karena merasa dicuekin "Apaan sih, bang. Kenapa Dikta dicuekin?, bicara dong, bukan diam saja" Dikta kesal.
"Apa yang harus Abang bicarakan, toh kamu juga tidak akan terima apa yang Abang bicarakan, kamu juga akan protes tidak terima, lebih baik ya, terserah kamu saja" Steven bosan, pertengkaran asik itu-itu saja.
"Berarti Abang setuju Kenzo dititipkan di panti asuhan?" ucap Dikta senang sambil tersenyum senyum sendiri.
Steven tersentak terjebak dengan pernyataan " Ya, nggak dong, Abang bukan setuju Kenzo dititipkan di panti asuhan, maksudnya terserah kamu saja itu artinya, terserah kamu kamu marah-marah terus, silahkan saja marah-marah terus, tidak apa-apa" ucap Steven lembut.
Mendengar perkataan seperti itu, "itu sama saja Abang tidak peduli perasaan ku", pikir Dikta dalam hatinya.
"Bang, tolong mengertilah perasaan ku, aku stress ini, pusing tidak karuan " Dikta teriak dengan jengkel.
Steven makin hilang kesabaran nya dan menarik nafas panjang "Kamu pikir, aku tidak tahu kejadian pagi ini?" teriak Steven sambil melotot kepada Dikta.
''Maksud Abang aku berbohong dan mengada-ada cerita yang sebenarnya " Dikta tidak mau kalah, ikut-ikutan bertambah marah.
Hilang sudah kesabaran Steven, dan segera mengungkapkan kebenaran nya.
"Sebelum Abang ke kamar ini, terlebih dahulu Abang melihat cctv di bagian ruang makan rumah ini.
Awalnya Kenzo makan sendirian dengan tenang dan dengan pakaian rapi duduk di meja makan,
tiba-tiba kamu datang duduk di depan Kenzo sambil makan roti, melihat muka kamu yang begitu cuek, dan terkesan tidak peduli kepada Kenzo, mungkin dia jadi panik dan makan terburu-buru untuk menghindari kamu,
Kenzo pun segera berlalu dan membangunkan aku ternyata karena buru-buru, susu nya tumpah dibagian baju, kamu pun sambil mengomel dan membersihkan dengan kasar tumpahan susu di seragam Kenzo, entah makian apa yang kamu ucapkan kepada Kenzo,
membuat Kenzo marah dan menumpahkan sisa susu di meja makan, kamu pun semakin murka, sehingga Kenzo kembali membanting kan gelas ke lantai.
__ADS_1
Kamu merasa benar sekarang?, sedikit pun kamu tidak ada perasaan kasihan atau iba kepada anak-anakmu, Kenzo menurut aku sudah banyak berubah,
tetapi kamu tidak pernah mensyukurinya dan mengapresiasi nya, bahkan terus mendukung dan menyemangati nya sedikit pun kamu tidak peduli,
kamu hanya melihat sisi buruknya saja, cobalah kamu buka hatimu, kalau kamu perhatian kepadanya, aku percaya Kenzo pun pasti sayang sama kamu,
kamu tidak tahu, hari ini aku mengantar Kenzo tidak bersemangat, aku bertanya kenapa tidak bersemangat Kenzo mengatakan" kalau Kenzo yang telah jahat sama mama" dia saja menyadari kesalahannya, kamu begitu keras kepala, dan masih saja merasa benar" Steven menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti jalan pikiran Dikta.
Dikta terdiam, "iya juga, aku terlalu cuek kepada Kenzo, sehingga Kenzo melihat ku begitu ketakutan dan langsung panik" pikir Dikta dalam hatinya.
"Apa yang harus kulakukan, bang?" tanya Dikta menyesali perbuatannya.
"Berikan hatimu kepada Kenzo, berikan perhatian dan kasih sayang yang lembut kepadanya,
kamu harus lebih bersabar, bahkan lebih bersabar lagi, karena Kenzo tidak sama dengan anak-anak lain,
Kenzo butuh perhatian khusus, terimalah dia apa adanya, jangan selalu memandang buruk kelemahannya,
Dikta hanya diam saja "Terkadang sekarang kamu paham, mengerti dan menyesali perbuatan mu, tetapi kalau sudah berhadapan langsung dengan Kenzo, kesabaranmu langsung hilang,
bahkan kamu tidak bisa mengendalikan emosi dan perasaan mu, kamu langsung marah-marah,
kemarahan mu membuat Kenzo panik dan langsung tidak terkendali, kamu harusnya juga berobat ke psikiater, agar kamu bisa lebih damai dan tenang" Steven menyarankan.
Dikta tidak terima dibilang Steven harus berobat ke psikiater.
"Apaan sih, bang, kok Dikta malah dibilang gila, abang jahat, masak istrinya di bilang gila" dikta tidak terima, kesal disuruh berobat ke psikiater.
"Abang tidak bilang kamu gila lho, bukan begitu maksud Abang, maksudnya kamu terkadang tidak bisa mengendalikan emosi kamu didepan Kenzo,
jadi kamu harus berobat ke psikiater agar emosi mu bisa terkendali, sehingga kamu bisa lebih tenang" Steven mengklarifikasi anggapan salah Dikta.
__ADS_1
Dikta juga masih saja tidak terima, merenggut dengan muka dan raut wajah seperti jeruk purut.
Steven mencoba merayu Dikta agar tidak salah paham,
"Sayang, maksud Abang kamu pasti ibu yang perhatian dan lebih lembut lagi, kita nanti konsultasi ya psikiater!" Steven menyarankan sambil memeluk erat Dikta dari belakang, agar Dikta bisa terima pendapat Steven dan Dikta bisa lebih tenang, sehingga tidak salah paham.
Dikta diam tidak berkata apa-apa, Dikta hanya bisa mengangguk-angguk kan kepalanya, tanda menyetujui apa yang dikatakan Steven.
"Sekarang Abang mau menjemput Kenzo di sekolah, apa kamu mau ikut, ikut lah saja bersama ku, Kenzo pasti akan senang, usahakan lah berikan perhatian, walau sekecil apapun itu" ajak Steven dan membujuk Dikta agar mau ikut menjemput Kenzo bersamanya.
"Baiklah, aku ikut, ya!, sebentar aku mau mengganti bajuku terlebih dahulu, tunggu ya bang, jangan pergi dulu" Dikta langsung berlari ke kamar mandi untuk segera mengganti bajunya sekalian.
"Jangan lama-lama ya, nanti Kenzo ketakutan kalau lihat aku tidak menjemputnya" Steven memberi tahu, "iya" balas Dikta dari balik kamar mandi.
Steven dan Dikta segera berangkat terlebih dahulu pamit kepada Heni yang masih di dalam kamar, "Ma, kami pamit dulu ya, ingin jemput Kenzo di sekolah, mama tidak apa-apa kan, kok sedari tadi belum keluar kamar?" tanya Steven dan Dikta sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Heni.
"Iya, mama tidak apa-apa, mama hanya sedikit pusing dan ingin rebahan saja, kunci saja pintunya dari luar, mama malas keluar untuk menutup pintu" perintah Heni dari dalam kamar.
"Baiklah, kami berangkat ya" ucap Dikta sambil terus melangkah keluar meninggalkan Heni di rumah sendirian.
Dikta pun mengunci pintu rumah dari luar dan segera masuk ke dalam mobil, mereka pun berangkat dengan suka-cita.
"Aku yakin Kenzo sangat senang kamu ikut menjemputnya" ucap Steven bahagia dan tersenyum lebar.
Dikta tersenyum lebar.
Setelah mereka sampai di sekolah, ternyata Bell sekolah belum berbunyi, Dikta dan Steven langsung pergi berdiri didepan kelas Kenzo.
Tidak beberapa lama Bell sekolah pun berbunyi, kenzo keluar memperhatikan dan mencari-cari sosok Steven,
Kenzo langsung menghampiri Steven dan Dikta setelah melihatnya dari jauh, betul dugaan Steven, Kenzo begitu senang melihat Dikta ikut menjemput nya, "ma--ma, en-zo min-ta ma-af ya" ucap Kenzo memeluk Dikta.
__ADS_1
"Iya mama juga minta maaf ya, sudah cuek dan kurang perhatian sama Kenzo" Dikta memeluk Kenzo dengan erat dan mencium keningnya.