Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#56. Dikta memberi tahu Steven kalau Merry telah tiada.


__ADS_3

Sebagian suster menolong Dikta yang sedang pingsan tidak berdaya, minyak angin dioles pada hidung Dikta, bermaksud agar Dikta respon dan mau bangun dan segera tersadar.


Dikta sadar, sejenak Dikta lupa, apa yang sedang terjadi barusan, Dikta lupa, "Ini di mana?", pikirnya sejenak dalam hatinya.


Setelah berusaha mengingat-ingat apa yang sedang terjadi padanya. Akhirnya Dikta ingat, "ini di rumah sakit", pikirnya memastikan.


Segera Dikta tersentak dan terbangun, "Aku tadi pingsan, aku pingsan karena Merry ku telah tiada, aku menyaksikan bahwa Merry ku hampir kehilangan nyawa, di bantu melalui kejut jantung.


Awalnya nadinya muncul lagi. Tetapi untuk yang kedua, Merry ku kehilangan denyut jantungnya.


Di coba lagi kejut jantung untuk memacu lagi denyut jantung nya, ternyata tidak berhasil, Merry ku sekarang sudah tiada", pikir Merry di dalam hatinya.


Dikta memaksa untuk bangun dari tempat tidurnya setelah direbahkan di tempat tidur karena pingsan. Dikta mencari sosok Merry.


"Di mana Merry ku, suster, di mana Merry, suster?", tanya Dikta memaksa dan tidak sabar.


"Tenang Bu, Merry ada di ruang jenazah, ibu masih lemah, ibu istirahat saja dulu", suster berusaha menenangkan Dikta, tetapi Dikta terus memaksakan dirinya dan langsung berlari, sebelumnya Dikta menanyakan "Ruang jenazah di mana, suster?", tanya Dikta tidak sabaran.


"Ruang jenazah ada di lantai 4, Bu", suster memberi tahu.


Dikta pun segera berlari sesuai petunjuk yang diarahkan suster, karena si lantai 4, Dikta juga bertanya kepada suster, tempat yang Dikta maksud.


Sampailah Dikta di ruang jenazah, Dikta segera bertanya kepada suster yang menjaga di ruangan tersebut. "Suster, jenasah atas nama Merry ada disini?", tanya Dikta.


"Benar, Bu" jawab suster.


"Saya izin ingin melihatnya, suster", pinta Dikta.


Suster pun segera mempersilakan Dikta untuk melihat jasad Merry, Dikta terus menangis, tidak yakin kalau Merry telah tiada.


"Merry, sayang, bangun dong, ayo kita pulang, bangunlah Merry, jangan tinggalkan mama, kok kamu tidak bergerak-gerak, bangunlah Merry", Dikta terus saja menangis tidak henti-hentinya.


Lelah menangis sambil terduduk lemas di samping jasad Merry, Dikta mencoba menghubungi Steven.


"Tut.....Tut....Tut.....


Telepon Dikta tidak diangkat oleh Steven.


Dikta mencoba menghubungi lagi

__ADS_1


Tut....Tut...Tut ..


"Angkat dong bang", ucap Dikta kesal, terus mondar-mandir sambil berusaha terus menghubungi Steven.


"Mungkin Steven terlelap tidur tidak mendengar suara handphone nya berdering", pikir Dikta dalam hatinya.


Dikta terus mencoba menelepon.


Kembali Handphone Steven berdering.


Steven tersentak mendengar suara handphone nya berdering. Steven langsung menggapainya, ternyata panggilan langsung berakhir, tidak sempat diangkat Steven.


Steven melihat handphone nya terdapat notifikasi 12 panggilan tidak terjawab pada layar handphone nya.


Steven berpikir mungkin Dikta ada sesuatu yang ingin di sampaikan, Steven langsung menanggapi panggilan tidak terjawab Dikta selama 12 kali.


Steven menelepon Dikta kembali.


Tut....Tut....Tut ...


Telepon diangkat.


"Halo, bang uuuu...uu....", jawab Dikta menjawab panggilan telepon Steven.


"Dikta, mengapa kamu menangis?", tanya Steven heran.


"Merry bang... Merry bang", jawab Dikta terbata-bata.


"Ada apa dengan Merry, kamu ngomongnya bagus dong, biar Abang bisa mengerti, kita lagi telepon suara, jadi Abang tidak tahu ekspresi wajah kamu!", ucap Steven kesal dan bingung, bertanya-tanya dalam hatinya apa sesungguhnya yang terjadi.


"Merry sudah tiada, bang, Merry sudah meninggalkan kita selamanya", ucap Dikta memberitahu sambil menangis.


"Kamu yang benar bicaranya, jangan bercanda, Abang sedang tidak ingin bercanda sekarang", ucap Steven kesal dan tegas.


"Dikta serius bang, tidak sedang bercanda, Merry sudah tiada, dan sudah pergi meninggalkan kita selama-lamanya", jawab Dikta pelan dengan suara serak dan sambil terus menangis.


Badan Steven lemas, lutut nya hampir tidak bisa menahan berat badannya, hampir terjatuh Steven di lantai mendengar kabar, bahwa Merry sudah tiada, Merry meninggalkan mereka selamanya, "Tidak ada canda tawa Merry lagi di rumah ini", pikir Steven dalam hati.


Steven lama terdiam tidak bisa menanggapi panggilan Dikta di telepon.

__ADS_1


"Bang...., Abang masih di situ?", teriak Dikta di ujung telepon.


Steven tersadar dari lamunannya "Iya, baik Dikta, Abang akan memberitahu kabar ini kepada mama dan Kenzo, Kamu urus segala proses pemulangan jenazah Merry ke rumah kita, Abang akan datang ke rumah sakit segera", ucap Steven masih lemas dan segera pamit untuk menutup telponnya.


Steven mencoba untuk berusaha berdiri, ingin memberi tahu kabar dukacita ini kepada Heni, Steven berjalan sempoyongan ke arah kamar Heni.


Steven mengetuk pintu kamar Heni.


tok...tok ...tok...


"Ma....mama...ma....mama", teriak Steven pelan, terus Steven mencoba mengetuk dan memanggil-manggil Heni.


Akhirnya Heni terbangun mendengar pintu kamarnya diketuk-ketuk.


"Iya", jawab Heni di balik pintu.


Heni pun segera membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Steven?, kenapa kamu pagi-pagi begini mengetuk-ngetuk pintu kamar mama?", ucap Heni bingung dan ingin tahu.


"Merry ma, Merry!", jawab Steven ternyata.


"Iya, ada apa dengan Merry", teriak Heni kesal, karena Heni pun punya prasangka dan praduka, jangan-- Merry--, pikir heni dalam benaknya.


"Merry sudah tiada ma, Merry pergi meninggalkan kita, tidak ada lagi cawa tanda Merry di rumah ini", ucap Steven menangis sambil memeluk ibunya.


"Benar dugaan ku, tidak mungkin Dikta menelepon pagi buta begini, kalau tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan", pikir Heni dalam hatinya.


Heni pun hanya bisa pasrah, dan mengikhlaskan Merry meninggalkan mereka, karena 3 hari belakangan ini pun kondisi Merry sudah drop, hingga tidak sadarkan diri, seluruh alat medis sudah terpasang pada tubuhnya, dengan kondisi seperti itu, Merry sudah merasa kesakitan, Heni pun tidak tega melihatnya.


Sekarang Merry sudah meninggal, tidak lagi merasa kesakitan.


Heni hanya bisa menguatkan Steven yang masih saja menangis dan menyesali dirinya, karena tidak bisa melihat Merry secara langsung ketika yang terakhir kalinya.


"Kamu harus tabah Steve, ikhlaskan Merry, agar dia tenang di sana. Mungkin ada hikmah di balik semua ini, mungkin saja Merry terlalu sayang ke Kenzo, Merry merasa Kenzo selalu di cuekin Dikta selama ini.


Sekarang Merry sudah meninggal, Merry mungkin ingin, agar Dikta bisa lebih dekat lagi dengan Kenzo, agar kasih sayang Dikta tidak terbagi lagi, seluruh kasih sayang Dikta hanya untuk Kenzo", ucap Heni menghibur Steven.


"Sekarang kamu pergi lah ke rumah sakit sekarang, Dikta pun mungkin lagi drop, kamu harus bisa menguatkannya, kalau semua drop, maka kalian semua pun bisa sakit, uruslah dengan baik segala proses kepulangan jenazah Merry ke rumah kita", Heni menyarankan Steven.

__ADS_1


"Betul kata mama", pikir Steven dalam hati. Aku harus kuat, saat ini Dikta pun sangat membutuhkan aku untuk menguatkannya.


Steven pamit kepada Heni untuk ke rumah sakit.


__ADS_2