
Steven pulang larut malam dalam kondisi mabuk-mabukan.
Steven tiba di rumah dengan membunyikan klakson mobil dengan sekencang-kencangnya.
Heni dan Dikta langsung keluar rumah, buru-buru membuka kan pintu pagar, karena dari tadi sudah di klakson Steven berkali-kali.
Tadinya Dikta dan Heni tidak menyadari kalau suara bunyi klakson itu berasal dari mobil Steven, karena Steven selalu terbiasa membuka pagar sendiri, bila klakson nya tidak di dengar.
Entah karena apa Steven malas untuk membuka sendiri, akhirnya terus-menerus mengklakson sampai Dikta dan Heni membukakan pintu pagar.
Dikta dan Heni belum menyadari kalau Steven pulang dalam keadaan mabuk.
Setelah mobil sudah di masukkan ke dalam garasi, Steven keluar dari dalam mobil dengan sempoyongan.
"Aduh, hampir jatuh aku, tolongin dong Dikta!. Gimana sih kalian! aku mau jatuh malah tidak ditolongin", omel Steven kepada Dikta dan Heni.
Akhirnya Heni dan Dikta dengan cepat langsung memapah Steven, Dikta disebelah lengan kiri Steven, sedangkan Heni di sebelah lengan kanan Steven.
"Steven, tidak seperti biasanya tingkah laku kamu ini!, mengapa kamu jadi mabuk-mabukan seperti ini Steven!", ucap Heni kesal.
"Tidak apalah, ma!. Sekali-kali buang-buang suntuk", ucap Steven santai.
"Apa!, kamu bilang tidak apa-apa", Heni kesal lalu segera melepaskan lengan kanan Steven dengan kasar, sehingga membuat Steven dan Dikta hampir jatuh. Karena posisi Steven tadinya bertumpu pada Heni.
Dengan bersusah payah Dikta membantu Steven berdiri kembali dan segera membawa Steven ke kamarnya.
Dikta pun segera merebahkan Steven di atas tempat tidurnya.
Heni segera tidur masuk ke dalam kamarnya, "Percuma berbicara dan menasihati Steven saat ini, pasti tidak nyambung, adanya mungkin Steven akan marah-marah, bila terus-menerus di tanyain", pikir Heni dalam hatinya.
Dikta mengganti semua pakaian Steven, karena pakaian tersebut sudah kotor. Terdapat tumpahan alkohol dimana-mana. Dikta juga ingin mengelap badan Steven dengan air hangat dan segera mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih.
Sekarang Steven dalam posisi tanpa busana, ketika posisi kain lap pada ******** Steven, Steven merasa terangsang dan segera menggeluti Dikta, mencium Dikta dan segera membuka seluruh pakaian Dikta.
Dikta pun ikut tergoda dan terangsang nafsunya. Karena akhir-akhir ini, Steven selalu menolak berhubungan suami-istri.
Dengan alasan capek lah, ngantuk lah. Karena Steven menolak berhubungan badan dengan Dikta, akhirnya Dikta jadi tempramental.
__ADS_1
Kembali cuek kepada Kenzo, untuk menunjukkan kekesalan nya kepada Steven.
Alasan Steven mabuk-mabukan karena merasa kacau akan hidupnya yang tidak normal dan ingin hidup normal, tetapi tidak tahu harus bagaimana.
Begitu bernafsu keduanya, sama-sama tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Baik Steven dan Dikta begitu menggebu-gebu karena mereka sudah hampir 1 bulan tidak berhubungan suami-istri.
Selesai sudah mereka melakukannya dengan nafas yang masih ngos-ngosan, seperti sedang ikut lomba lari jarak pendek.
Steven langsung terbaring lemas dan segera terlelap setelah selesai berhubungan suami-istri, sedangkan Dikta masih harus menyelesaikan pekerjaannya mengelap dan memakai kan pakaian bersih Steven.
****
Seperti biasa setiap pagi Steven harus ke tempat proyek dan sekalian mengantar Kenzo pergi sekolah.
Steven tidak ingat apa-apa yang dilakukan nya semalam. Ketika Steven sedang berdiri depan cermin mengenakan pakaiannya, datang Dikta menghampiri, "Bang kenapa Abang jadi seperti ini?, sebelumnya Abang tidak pernah pulang larut malam dan dalam kondisi mabuk-mabukan!", ucap Dikta lembut dan menunjukkan sikap sedihnya, agar Steven juga tidak tempramental.
"Abang cuma di ajak teman 1 proyek. Tidak enak untuk menolak nya, karena dia naik jabatan. Jadi dia mentraktir kami untuk makan dan minum di cafe", ucap Steven mencari alasan.
Steven tidak enak telah melukai perasaan Dikta, karena Steven selalu menjaga dan melindungi Dikta sejak kecil. Pantang bagi Steven untuk menyakiti Dikta. Steven pun merasa bersalah telah mabuk-mabukan, membuat Dikta jadi bersedih.
Seperti biasa Kenzo sudah duduk di meja makan. Steven pun duduk di samping Kenzo. Kenzo senang momen makan bersama dengan Steven. "Pa--pa la--ma pu--lang", ucap Kenzo menanyakan Steven.
"Iya, papa ada kerjaan sampai harus dikerjakan larut malam. Nanti kita main bola bersama ya, di halaman", Steven berjanji kepada Kenzo. Kenzo bukan main senangnya.
"Te--ri--ma--ka--sih, pa", ucap Kenzo girang, segera menyandangkan ranselnya di punggungnya dan segera beranjak dari meja makan.
Steven dan Kenzo berangkat ke sekolah, sekalian Steven setelah mengantar Kenzo ke sekolah langsung pergi ke tempat proyek.
Heni keluar dari kamar dan segera menghampiri kamar Dikta.
"Dikta", ucap Heni langsung masuk ke kamar Dikta tanpa mengetuk pintu.
"Apa kamu menanyakan Steven, mengapa Steven mabuk-mabukan?", tanya Heni kepada Dikta ingin tahu.
"Iya, ma. Bang Steven minta maaf telah mengecewakan mama, karena steven telah mabuk-mabukan. Bang Steven menyuruh Dikta menyampaikan permintaan maafnya kepada mama. Bang Steven mabuk-mabukan karena ada teman 1 proyeknya naik jabatan jadi mentraktir mereka makan dan minum di cafe", ucap Dikta memberi Heni.
"Baguslah kalau Steven menyadari kesalahannya, oh ya apa kalian ada masalah?, sepertinya Steven seperti banyak pikiran", ucap Heni mencoba menebak.
__ADS_1
"Memang Bang Steven akhir-akhir ini, bawaannya dingin, bahkan selalu menolak untuk berhubungan
suami-istri", ucap Dikta memberitahu.
"Kamu tidak tahu kenapa Steven dingin?", ucap Heni penasaran.
"Dikta tidak tahu, ma. Kalau Dikta mengajak untuk berhubungan suami-istri, Bang Steven selalu bilang capek lah, ngantuk lah, lagi tidak ingin lah dan macam-macam saja alasan nya", ucap dikta kesal.
"Mungkin Steven merasakan hal yang sama, seperti yang kurasakan saat ini", pikir Heni dalam benaknya.
"Di dalam hati kecil Steven, mungkin bosan dan jenuh menjalani kebohongan ini, ketidak wajaran hidup. Steven mungkin ada kerinduan untuk bisa hidup normal seperti orang-orang pada umumnya, tetapi tidak tahu apa yang harus di perbuat", pikir Heni menambahi.
"Capek bicara pada Dikta, Dikta susah untuk di mintai pandangan dan pendapat, bawaannya selalu tempramental dan salah paham, dikit-dikit menyiksa diri, tidak makan lah, bahkan mungkin percobaan bunuh diri barang kali", pikir Heni kesal dalam benaknya mengenai tingkah laku dikta. Karena Dikta selalu marah bila di mintai pandangan.
***
Steven dan Kenzo pulang ke rumah seperti biasanya, karena Steven ingin menepati janjinya untuk menemani Kenzo bermain bola di halaman depan.
Steven bersikap biasa pada Dikta, menjawab dan bertanya seadanya saja, tidak panjang lebar.
Seperti biasa keluarga Steven selalu makan bersama. Steven banyak diam bahkan tidak berbicara saat makan bersama di meja makan.
Dikta mencoba bertanya, "Bang, kenapa sih Abang sikapnya dingin, seperti tidak mau berbicara, Abang marah kepada Dikta?".
"Tidak apa-apa kok, Abang hanya banyak pikiran pekerjaan di proyek", ucap Steven memberi alasan.
Heni hanya diam saja tidak banyak komentar hanya memperhatikan saja tingkah laku Steven.
"Oh ya, ma. Steven minta maaf ya, sudah mengecewakan mama, Steven pulang dalam keadaan mabuk", ucap Steven kepada Heni.
"Tidak apa-apa Steve, asal kamu tidak mengulanginya lagi di kemudian hari, dengan alasan yang tidak masuk akal. Kali ini mama memaafkan kamu", ucap Heni tegas.
"Iya ma, oh ya Steven duluan pamit masuk ke kamar ya, Steven ngantuk dan capek ingin segera istirahat dan tidur", ucap Steven langsung beranjak dari meja makan dan masuk ke kamarnya.
Begitu juga kenzo pamit beranjak meninggalkan meja makan dan langsung masuk ke kamar nya.
Dikta dan Heni bertatapan mata, dengan pikiran dan prasangka nya masing-masing
__ADS_1