Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#23. Petugas dari kantor lurah datang minta kartu keluarga


__ADS_3

Mendapati ada masalah dalam keluarga nya Steven merasa pusing dan uring-uringan di ruang keluarga, semalaman Steven tidak bisa tidur, karena memikirkan masalah kartu keluarga.


"Apa alasan yang harus diberikan untuk mengulur-ulur waktu?,


tidak mungkin mengulur waktu selamanya, sampai kapan mereka bersabar?,


pasti akan dituntut terus untuk memberikan kartu keluarga, Apa harus pindah lagi dari kota Tanjung Karang ini?", pikir Steven kesal,


"Aahhhh" teriak Steven sambil mengacak-acak rambutnya.


Seluruh tetangga sudah tahu bahwa Steven dan Dikta adalah pasangan suami istri.


Sebenarnya keluarga Steven mempunyai kartu keluarga lama, yang menyatakan posisi Dikta dan Steven adalah anak kandung dari Heni.


"Tidak mungkin memberikan kartu keluarga lama" pikir Steven bingung.


Melihat Heni keluar dari kamarnya, kembali Steven bertanya kepada Heni "Bagaimana ini ma, mengenai kartu keluarga kita?" tanya Steven ingin tahu penyelesaian nya.


"Sudahlah, mama juga pusing tidak tahu penyelesaian nya, sekarang kita fokus ke Dikta dulu, sebentar lagi kan Dikta mau lahiran, nanti-nanti saja penyelesaian nya!" jawab Heni tegas.


"Sampai kapan ma?" tanya Steven antusias.


"Mama juga tidak tahu Steven, mama pusing deh mikirin ini melulu, cari pembahasan yang lain saja ya, mama mau pikiran mama ini sedikit rileks untuk saat ini" harap Heni.


Steven pun diam tidak berani berkata-kata lagi.


tok...tok..tokkk


Suara pintu di ketuk.


"Siapa ya" pikir Steven agak terkejut, takut tamu yang datang adalah orang dari kantor lurah, minta kartu keluarga.


Steven dan Heni saling bertatapan, keduanya mengerutkan keningnya, sembari mengangkat bahunya.


Sama-sama tidak tahu siapa gerangan tamu yang datang menemui mereka pagi ini.


Kembali pintu diketuk tok...tok..tok..


"Sudah buka aja sana pintunya, lihat dulu siapa yang datang" ucap Heni menyuruh Steven membuka pintu.

__ADS_1


Steven pun bergerak ke arah pintu, segera membuka pintu dan menanyakan siapa tamu yang sedang berkunjung ke rumah nya.


"Mencari siapa pak?" tanya Steven tersenyum.


"Pemilik rumah ini siapa ya" tanya petugas dari kamtor lurah.


"Pemilik rumah atas nama Steven, saya sendiri ada apa ya pak?" kembali Steven bertanya ingin tahu.


"Saya mau mendata penduduk lama dan penduduk baru di tempat ini, keluarga bapak kan sepertinya sudah lama tinggal disini, apakah keluarga bapak akan menetap disini selamanya?" tanya petugas dari kantor lurah.


Steven diam, bingung tidak tahu harus berkata apa. Tidak ingin gelagatnya dicurigai oleh petugas dari kantor lurah, Steven pun langsung bicara.


"Sebenarnya kami ingin menetap tinggal disini selamanya pak" jawab Steven pelan.


"Oh baguslah kalau begitu, berarti harus ada kartu keluarga ya pak, agar bisa didata warga-warga yang tinggal menetap selamanya disini" ucap petugas dari kantor lurah.


"Kartu keluarga kami tertinggal di rumah lama, pengen mau mengambilnya, tetapi istri saya mau lahiran, boleh tidak pak, nanti kartu keluarga nya di berikan ketika istri saya sudah melahirkan.


Rumah yang lama jauh di Pekanbaru, butuh waktu 2-3 hari sampai kesana, saya tidak bisa meninggalkan istri dan ibu saya tinggal di rumah tanpa ada anak laki-laki di rumah" Steven memberi alasan.


Petugas dari kantor lurah pun manggut-manggut tanda mengerti.


"Ok lah pak , kalau begitu, nanti setelah kartu keluarga bapak sudah ada, tolong diberikan secepatnya ya pak" ucap petugas dari kantor lurah tegas.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak" pamit petugas dari kantor lurah langsung balik badan keluar dari pagar rumah Steven.


"Ok, hati hati pak" jawab Steven langsung menutup kembali pagar rumahnya dan masuk ke dalam rumah.


"Siapa Steve" tanya Heni ingin tahu.


"Petugas dari kantor lurah, ingin minta kartu keluarga ma" jawab Steven memberi tahu Heni.


Heni pun hanya diam membisu.


"Jadi gimana penyelesaian nya ma, apa kita harus pindah dari Tanjung Karang ini?" tanya Steven memberi solusi.


"Apa, kemana kita akan pindah, nanti juga Ditempat yang baru, kita juga dimintai kartu keluarga, apa kita juga harus pindah lagi?" tanya Heni tidak yakin itu suatu solusi.


"Adanya seluruh kota di dunia ini kita tempati nantinya" Heni meledek.

__ADS_1


"Mama, jadi gimana dong, bisa-bisanya mama masih bisa bercanda" ucap Steven jengkel dengan ledekan Heni.


"Tunggu Dikta lahiran dulu, baru kita pikirkan lagi, saat ini mama belum ada solusinya" pinta Heni pada Steven.


"Ya udah deh, terserah mama saja" ucap Steven pasrah.


"Sekarang kita makan dulu, sana kamu panggil Dikta , supaya kita makan bersama-sama" Heni menyuruh Dikta.


"Baiklah ma" Steven langsung beranjak menuju kamar Dikta untuk memanggil Dikta makan bersama.


"Ayo makan ta, mama sudah menunggu di meja makan" ajak Steven kepada Dikta.


"Dikta lagi tidak berselera makan bang" jawab Dikta.


"Kamu jangan egois, selain kesehatan kamu, kesehatan janin mu pun perlu kamu pikirkan, ayo makan sekedar mengisi perut saja, supaya kamu juga tidak mual, malah tambah sakit lagi" ucap Steven tegas sambil menarik-narik tangan Dikta agar Dikta mau makan bersama-sama.


"Iya iya bang, Dikta mau makan, biar deh Dikta jalan sendiri" ucap Dikta melepaskan tangan Steven.


"Gitu dong, kalau nurut gitu, kamu tambah cantik lho" ucap Steven mencandai Dikta, karena Dikta mukanya cemberut karena dipaksa untuk makan.


"Ini ma, Dikta tadinya tidak mau makan, Steven sampe kewalahan membujuknya untuk mau makan" adu Steven pada Heni.


"Kenapa kamu tidak mau makan Dikta" ucap Heni penasaran.


"Tidak tahu ma, tiba-tiba Dikta tidak selera saja bawaannya" Dikta merenggut.


"Paksa lah sedikit saja, agar tidak menggangu janin mu nanti, ini sudah mendekati harinya kamu lahiran, kalau kamu sakit, kan jadi repot jadinya, jangan menambah beban pikiran mama dong" ucap Heni kesal.


Melihat Heni sudah marah, Dikta pun tidak bisa menolak, Dikta bertatapan dengan Steven, Steven memberi isyarat agar Dikta menuruti nasihat Heni, supaya Heni tidak marah karena bertambah beban pikirannya saat ini.


"Iya ma, Dikta mau makan, jangan marah dan cemberut gitu dong ma, mama jelek banget kalau marah lho" Dikta menggoda Heni.


Akhirnya Heni tersenyum melihat Dikta yang balik membujuk Heni.


"Wah, menunya rupanya makanan kesukaan Dikta, kenapa bang Steven tidak bilang kalau menu makan siang kita makanan kesukaan Dikta" ucap Dikta pura-pura bersemangat makan agar Heni tidak marah lagi.


"Iya, Abang lupa memberitahu nya kalau ikan nila goreng adalah makanan kesukaan kamu" balas Steven tersenyum.


"Masakan mama memang tiada tandingannya, harusnya kita sekalian buka restoran saja, pasti laris manis, iya kan Dikta?" ucap Steven menggoda Heni.

__ADS_1


"Benar bang harusnya kita buka restoran, pasti laris manis" Dikta mendukung ucapan Steven.


Terimakasih banyak ya kakak-kakak yang selalu setia membaca "Perkawinan Sedarah Suamiku", terimakasih buat like dan komennya, jangan lupa terus ikuti episodenya ya kakak.😚😍


__ADS_2