Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#39. Angelica mencari Steven di tempat proyek


__ADS_3

Hari ini usia Gemilang tepat Tiga bulan.


Angelica sudah selesai masa cuti melahirkan, artinya Angelica harus kembali mengajar.


Sebenarnya gaji Angelica sebagai tenaga honor, terbilang sedikit, tetapi daripada tidak ada sama sekali, Angelica patut mensyukuri nya, karena ada Linda yang akan mengasuh Gemilang, Angelica tidak keluar uang untuk membayar biaya baby sitter.


Seandainya Gemilang harus diasuh baby sitter, lebih baik Angelica tidak bekerja, karena gaji yang di dapat Angelica tidak sebanding dengan yang dikeluarkan, belum lagi biaya transportasi berupa bensin, karena Angelica memiliki sepeda motor, dan tenaga lelahnya Angelica bolak balik pergi ke sekolah.


"Bu hari ini awal Angel masuk sekolah, maaf ya bu, Angel sudah ngerepotin ibu" Angelica sedih, karena di masa tua Linda yang harusnya istirahat tenang di rumah, karena kami anak-anaknya toh sudah besar, harusnya kami anak-anaknya yang harus menjaganya, malah sebaliknya ibu harus repot menjaga cucunya.


"Tidak apa-apa Angel, ibu ikhlas kok", lagian ibu juga tidak ada kerjaan, semua sudah Veni yang kerjain, ibu juga terkadang pusing tidak ada kerjaan bila kalian pergi kerja, sekarang sudah ada cucu yang menemani" ucap Linda sambil tersenyum memain-mainkan cucunya Gemilang.


"Baiklah kalau begitu ibu, Oh ya mungkin Angel agak lama sedikit pulang nya ya Bu, karena Angel bermaksud mampir ke tempat proyek Steven, menanyakan keberadaan Steven pada teman-temannya" Angelica memberitahu rencananya.


"Baiklah, kamu hati-hati ya berkendaranya, jangan ngebut dan buru-buru di jalan" Linda menasihati Angelica.


"Pasti Bu" Angelica sambil mengacungkan jempolnya, dan segera melajukan sepeda motornya, agar tidak terlambat dan bisa santai di jalan.


*****


Di tempat proyek Steven.


Setelah pulang dari sekolah Angelica mampir di tempat proyek Steven bekerja kemarin.


Sambil mengamat-amati ke sekeliling dan hendak mencoba bertanya kepada salah satu karyawan yang ada di tempat proyek tersebut. Kebetulan ada salah satu pria yang sudah berumur separuh baya, dengan stelan jas yang lumayan rapi lewat depan Angelica.


"Selamat siang pak" tanya Angelica pada pria berjas itu dengan senyum ramah.


"Selamat siang juga Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria berjas itu dengan ramah.


Angelica masih ragu dan bingung, takut mereka tidak kenal Steven, "Ahh sudahlah, sudah kepalang datang, nanti kalau tidak di tanya penasaran terus, kalau mereka tidak kenal ya tidak apa-apa tanya orang yang berbeda lagi", pikir Angelica dalam benaknya.


Akhirnya Angelica pun memberanikan diri bertanya kepada pria berjas itu dengan suara terbata-bata.

__ADS_1


"Pak--, mm--, Ba--pak ke--nal pak ste--ven?" tanya Angelica ragu.


"Pak Steven, oh kenal, yang bagian developer ya" tanya pria berjas itu menyakinkan Angelica.


Karena pria berjas itu mengenali Steven, Angelica pun semakin bersemangat dan tidak takut-takut lagi bertanya.


"Iya, iya, benar pak" balas Angelica antusias.


"Pak Steven sudah tidak disini lagi bu, kalau tidak salah 3 bulan yang lalu terakhir bekerja disini, sepertinya proyeknya sudah selesai dan kembali ke Tanjung Karang" ucap pria berjas itu mengingat-ingat sosok Steven.


"Ke Tanjung Karang pak!" tanya Angelica mengulangi ucapan pria itu.


"Iya Tanjung Karang Bu" pria berjas itu menyakinkan Angelica.


"Bukannya Steven orang Pekanbaru pak?" Angelica menyakinkan pria berjas itu.


"Oh kalau soal itu saya tidak tahu Bu, karena saya pun kenal Steven baru satu tahun ini, sebelumnya saya tidak tahu dia tinggal dimana, 3bulan terakhir kemarin, sebelum Steven berangkat, kami sempat bercerita kalau Steven akan mengambil tiket pesawat ke Tanjung Karang, hanya itu Bu" pria berjas itu memberitahu.


Angelica mencoba mengingat-ingat lagi percakapannya ketika pertama kali Steven menghubunginya, setelah sekian tahun tidak ada kabar-kabarinya, tiba-tiba Steven muncul dan melamarnya, "Oh iya" pikir Angelica menepuk jidatnya, aku yang lupa, "Steven memang sudah pindah dari Pekanbaru, dan sekarang tinggal di Tanjung Karang"


"Maaf pak, bapak tidak tahu alamat pak Steven di Tanjung Karang?" tanya Angelica ragu.


"Saya tidak tahu Bu" ucap pria berjas itu tersenyum.


"Oh, terima kasih pak atas infonya, saya permisi dulu ya pak?" Angelica lemas, sedih, karyawan di proyek itu tidak tahu alamat Steven, Angelica putus asa tidak tahu harus mencari Steven kemana?, dan segera berbalik arah, bermaksud ingin pulang.


"Oh iya Bu" panggil pria berjas itu kepada angelica


"Oh iya Bu, ada pak Beni namanya di proyek ini, yang sudah kenal sekali dengan Steven, bahkan mereka selalu bersama, kemana pun Steven ada proyek" jawab pria berjas itu memberi tahu Angelica.


Angelica pun merasa senang, hampir saja Angelica putus asa, dan kehilangan harapan untuk bertemu kembali dengan Stevan, "Ternyata kalau kita niatnya baik, pasti selalu ada orang-orang baik disekitar kita yang akan memberi jalan keluarnya", pikir Angelica dibenaknya.


"Syukurlah, bolehkah saya ketemu dengan pak Beni tersebut pak?" tanya Angelica antusias.

__ADS_1


"Pak Beni, sekarang lagi tidak kerja Bu, soalnya tadi pagi pak Beni permisi tidak masuk kerja, karena istrinya lagi sakit, pak Beni ingin mengantar istrinya ke rumah sakit" ucap pria berjas memberi tahu Angelica.


Angelica jadi lemas lagi, pikirnya masalah Steven selesai hari ini, ternyata pak Beni yang tahu dan kenal Steven sedang tidak masuk kerja hari ini.


Angelica tetap bersemangat dan optimis, kehidupan memang selalu seperti itu, terkadang semua yang terjadi tidak sesuai harapan dan keinginan kita, itu artinya kita harus bekerja keras dan terus berjuang, pantang menyerah.


"Oh begitu ya pak, kira-kira Pak Beninya, akan masuk kerja berapa hari lagi pak, kalau boleh saya tahu?" tanya Angelica penuh harap.


"Saya kurang tahu pasti tepatnya Bu, bagaimana kalau ibu datang lagi ke tempat ini dua hari lagi Bu, mudah-mudahan istri pak Beni tidak sakit parah, yang mengharuskan pak Beni harus lebih lama lagi di rumah sakit untuk menjaga istrinya" pria berjas itu memberi harapan kepada Angelica.


"Maaf Bu, kalau boleh tahu, ibu ini siapanya pak Steven?" pria berjas itu ingin tahu.


"Saya istrinya Steven pak" jawab Angelica sambil tersenyum ramah.


"Istrinya pak Steven?" tanya pria berjas itu bingung dan mencoba bertanya berulangkali dan memastikan, takut dia salah dengar.


"Iya pak, saya istrinya pak Steven" Angelica memastikan.


"Maaf ya Bu, setahu saya, Steven katanya tinggal di rumah kontrakan sendiri tidak ada istri" pria berjas itu tegas.


"Memangnya pak Steven pernah bercerita seperti itu pak?" tanya Angelica bingung dan penasaran.


"Iya Bu, pak Steven pernah bercerita kalau dia sendiri di rumah kontrakannya" pria berjas itu menyakinkan Angelica.


Betapa terkejutnya Angelica, kalau Angelica disembunyikan Steven statusnya, bahkan Steven mengaku hidup sendiri, semakin penasaran Angelica terhadap sosok suaminya Steven, "Ada fakta-fakta apa lagi yang akan ditemukan nya, ketika bertemu dengan pak Beni" pikir Angelica penuh gejolak di hati nya.


Angelica pun tidak sabar ingin segera bertemu dengan pak Beni.


"Baiklah kalau begitu pak, saya permisi dulu pamit pulang, nanti dua hari lagi saya datang kembali kesini untuk mencari pak Beninya" ucap Angelica pamit.


" Baiklah kalau begitu Bu" balas pria berjas itu.


"Terimakasih banyak ya pak atas kesediaan waktu bapak dan atas informasi yang bapak berikan, saya permisi pak" Angelica pamit dan langsung balik badan meninggalkan pria berjas itu.

__ADS_1


__ADS_2