Perkawinan Sedarah Suamiku

Perkawinan Sedarah Suamiku
#21. Hamil kali ini tidak merepotkan.


__ADS_3

Dikta hamil anak kedua, kehamilan Dikta kali ini, tidak membuat Dikta kewalahan atau kerepotan, Dikta merasa enakan, tidak ada muntah-muntah, tidak ada pantangan makanan, semua dilahap habis Dikta.


Karena merasa baik-baik saja, Dikta tidak ada kontrol, tidak pernah ke puskesmas atau posyandu.


Bahkan Dikta juga semakin ingin dan bernafsu sekali untuk terus berhubungan intim dengan Steven, tanpa mempedulikan cabang bayi yang ada di dalam kandungan Dikta.


Dikta juga begitu manja dengan Steven, apa saja yang di minta Dikta, Steven selalu di penuhi, walaupun itu harus membelinya di tengah malam.


Suatu malam pukul 23.00.


Tiba-tiba Dikta terbangun dari tidurnya.


"Bang, bangun dong.." Dikta mencoba membangunkan Steven dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Tetapi Steven agaknya ngantuk berat, tidak bergeming sedikitpun.


Dikta mencoba berulang-ulang membangunkan Steven.


"Bang...bang..bangun dong" ucap Dikta merengek-rengek.


"Ada apa sih ta!" tanya Steven kesal karena tidur nya telah terganggu.


"Dikta pengen makan sate" rengek Dikta manja.


"Apaan sih, besok aja ya, ini sudah larut malam" ucap Steven malas, karena matanya masih terasa berat, dan masih ingin terus merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Bang, Dikta pengen makan sate, apa Abang tidak kasian sama Dikta, ini demi cabang bayi kita loh, nanti bayi kita ngences-ngences, apa Abang mau" Dikta terus memaksa Steven.


"Besok saja ya, nanti Abang beli 2 atau 3 bungkus, asalkan besok" bujuk Steven, karena Steven malas untuk keluar, karena cuaca sangat dingin sehabis hujan.


" Tidak bisa bang, ini permintaan cabang bayi kita" Dikta terus membujuk dan merengek-rengek memaksa untuk dibelikan sate.


Karena Dikta seperti nya terus memaksa dan merengek-rengek, dengan berat hati, Steven pun menuruti permintaan Dikta untuk membeli sate di tengah malam.


"Beneran ini sate doang, tidak ada yang lain lagi, awas kalau setelah Abang balik, malah minta yang aneh-aneh lagi" ancam Steven kepada Dikta.


"Iya bang, cuma pengen makan sate doang" Dikta memastikan.

__ADS_1


Dengan berat hati Steven pun menuruti apa yang diperintahkan Dikta.


"Abang pergi dulu ya" Steven pamit dengan naik sepeda motor, pergi mencari penjual sate di perempatan jalan ujung rumahnya.


Steven pun melaju sepeda motornya dengan pelan-pelan mencari penjual sate, "untung saja tempat ini masih rame penjualnya", pikir Steven dalam benaknya.


Steven terus memperhatikan penjual sate dengan seksama takut terlewatkan dan tidak jadi beli sate, tidak tahu harus bagaimana kalau tukang sate tidak ada atau malah sudah habis, Steven tidak bisa membayangkan, pasti Dikta akan terus merengek-rengek.


Steven terus melaju sepeda motornya, dan pandangannya terhenti ketika melihat ada gerobak dorong mengepul asap nya. Steven melaju sepeda motornya mendekati gerobak tersebut, dan "ternyata benar tukang sate", syukurlah pikir Steven.


"Masih ada satenya bang?" tanya Steven senang.


"Masih bang 1 bungkus lagi" balas tukang sate menjawab pertanyaan Steven.


"Ahhh syukurlah, bungkus ya bang" ucap Steven lega sambil mengelus-elus dadanya.


"Kenapa bang" tanya tukang sate bingung, Steven mengelus-elus dadanya.


"Permintaan istri bang, syukurlah Abang masih jualan, kalau tidak, aku tidak tahu harus mencari kemana" ucap Steven cerita yang sebenarnya kepada tukang sate.


Tukang satepun hanya bisa tersenyum senyum sendiri, ada-ada saja pikirnya.


"Berapa bang" tanya Steven


"15.000 bang" jawab tukang sate.


"Oh iya, terimakasih banyak bang" Steven menyerahkan uangnya, dan segera berlalu meninggalkan tukang sate.


Sekalian Steven juga membeli martabak yang sedang mangkal di samping tukang sate tersebut, barangkali aja Dikta suka dan aku juga bisa makan martabak sambil menemani Dikta menghabiskan satenya, pikir Steven dalam hatinya.


Steven pun berbalik pulang menuju rumah.


Sesampai nya di rumah, Steven segera menyerahkan bungkusan yang dibawanya kepada Dikta.


Dikta pun merasa bahagia dan langsung melahap habis sate yang dibeli Steven, "Wah ada martabak juga, mau dong" Dikta melahap 2 potong martabak sekaligus.


Steven pun geleng-geleng kepala melihat Dikta, begitu rakus, sudah memakan sebungkus sate, ditambah dua potong besar martabak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa lah, mungkin janin dalam tubuh Dikta, doyan makan", pikir Steven dalam hatinya.


"Terimakasih banyak ya bang, sekarang Dikta sudah merasa kenyang banget, sampe susah bergerak, takut nanti keluar melalui muntah" Dikta hanya duduk diam sesaat.


Tidak beberapa lama kemudian, kembali mereka tidur dan merebahkan tubuhnya untuk lanjut beristirahat, karena waktu masih menunjukkan pukul 1 dini hari.


Untunglah Kenzo setelah minta susu tadi pada pukul 00 sebelum Steven balik dari membeli Sate, Kenzo nyenyak hingga pagi. sehingga Dikta maupun Steven tidak terganggu tidurnya karena tidur kembali pada jam 1 dini hari.


Krinnggggg suara bunyi alarm berdering, waktunya bangun pagi.


Dikta buru-buru beranjak turun dari tempat tidur nya, karena harus melakukan rutinitas pagi, karena bila terus menerus mengandalkan Heni, bisa-bisa Heni akan marah terus ngambek tidak mau ngurusin Kenzo.


Sebisa mungkin Dikta akan melakukan aktifitas nya, misal mencuci piring, memasak nasi, dan menu lauk pauk hingga sayur, karena kalau Dikta di dapur Heni pun tetap membantu Dikta menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah bangun kamu Dikta?" tanya Heni ketika melihat Dikta sedang mencuci piring di wastafel.


"Iya ma, kebetulan Kenzo tidak cengeng semalam, jadi Dikta tidurnya nyenyak, tidak merasa terganggu" Dikta memberitahu kondisinya.


"Baguslah, kondisi Kenzo lagi baik, tidak masuk angin atau tidak enak badan, sehingga kenzontudak rewel" balas Heni.


"Iya ma, oh ya ma, hari ini kita masak apa?" tanya Dikta, karena Dikta melihat stok ikan di freezer tidak ada.


"Kita masak ikan teri campur bakso saja, untuk pagi ini, nanti setelah sarapan pagi, mama akan pergi belanja ke pasar" Heni memberi perintah.


"Baiklah ma, berarti masaknya tidak terlalu banyak kan, hanya cukup untuk menu pagi ini saja" ucap Dikta memastikan.


"Iya secukupnya saja, mubajir terbuang, kalau tidak langsung dihabiskan pagi ini,


tidak bagus untuk membuang-buang makanan,


segala sesuatu harus kita hargai, karena mengingat kita dulu, untuk makan saja sangat susah, masak iya setelah kita berkecukupan malah membuang-buang makanan" ucap Heni menasihati.


"Iya ma" Dikta menuruti perkataan Heni.


"Oh ya, sebelum kamu memasak nasinya, airnya agak dibanyakin ya, agar nasinya tidak terlalu keras, Kenzo tidak mau makan kalau nasinya terlalu keras, agak dilembeki tidak apa-apa, lagian mama juga sudah tua, tidak bisa makan nasi yang terlalu keras" printah Heni terhadap Dikta.


Karena selama ini yang memasak nasi selalu Heni, karena Dikta selama ini tidak pernah bangun lebih awal, Dikta bangun setelah Heni selesai memasak nasi dan mencuci piring.

__ADS_1


"Ternyata melakukan rutinitas pagi itu, menyenangkan" pikir Dikta dalam hati.


__ADS_2