
Setelah Dikta dan Willi menikah, mereka akhirnya pindah dan mengontrak rumah. Steven pun kembali tinggal serumah dengan Heni.
"Steve, sepi sekali rumah kita ini. Tidak ada canda dan tawa dari anak kecil", Heni membuka pembicaraan ketika Heni dan Steven duduk di beranda depan untuk sekedar menghirup udara luar dan melihat hiruk pikuk jalanan di sore hari. Karena sedari tadi berada di rumah. Aktifitas hanya makan dan tidur saja.
Steven tahu arah pembicaraan Heni, pasti Heni menginginkan Steven untuk menikah dan segera mendapatkan cucu bagi Heni.
Steven mencoba mengalihkan pembicaraan, karena sampai sekarang Steven belum mendapatkan perempuan yang cocok untuk dijadikan istri. Entah kenapa Steven sangat sulit membuka diri untuk berpacaran.
Lagi asik mengobrol tiba-tiba handphone Steven berdering.
"Halo", ucap Steven menjawab panggilan handphone yang berdering.
"Steven ini aku, Angelica!. Tolong kamu balik ke Medan, Gemilang sedang di rawat di rumah sakit", ucap Angelica di ujung telepon.
"Apa, Gemilang sedang di rawat di rumah sakit!", Steven terkejut mendengar kabar dari Angelica.
"Sakit apa Gemilang, kok tiba-tiba sekali?", Steven mencoba bertanya dan ingin tahu.
Tut...... Panggilan ditutup.
Belum sempat Steven menerima jawaban dari Angelica tiba-tiba telepon terputus. Entah jaringan sinyal yang tidak ada atau Angelica langsung mengakhirinya Steven tidak tahu.
Steven mencoba menghubungi lagi, tetapi handphone Angelica tidak bisa di hubungi. Steven panik takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Steven bergegas untuk segera langsung balik ke Medan.
"Siapa itu Steve yang telepon?", Heni mencoba bertanya karena raut muka Steven tiba-tiba panik dan mendadak ingin segera meninggalkan Heni.
"Angelica, ma. Katanya Gemilang sakit, sedang di rumah sakit sekarang", ucap Steven menjawab pertanyaan Heni.
"Apa, sakit apa Gemilang?", tanya Heni terkejut.
"Tidak tahu, ma. Tiba-tiba telepon terputus. Steven juga sudah mencoba menghubungi kembali tetapi handphone Angelica tidak bisa dihubungi", Steven memberi tahu apa yang sedang terjadi.
"Terus kamu mau berangkat langsung ke Medan?", tanya Heni ingin tahu rencana Steven.
"Iya lah ma. Steven mau berangkat langsung ke Medan, soalnya Steven takut Gemilang kenapa-kenapa. Steven ingin bisa cepat membantu, nanti malah Steven sudah terlambat tidak bisa membantu atau melakukan apa-apa", Steven sedih dan berharap tidak terlambat untuk bisa menolong Gemilang.
Begitu taksi online yang dipesannya sampai di depan rumah. Steven langsung bergegas berangkat dan pamit kepada Heni "Ma, Steven berangkat dulu ya ma. Jaga diri mama baik-baik.
__ADS_1
Kalau mama merasa kesepian, telepon saja Dikta untuk datang menginap di rumah. Agar mama ada yang menemani. Steven juga tidak tahu berapa lama Steven berada di Medan. Nanti Steven kabari mama kalau ada sesuatu berita yang perlu untuk disampaikan ", Steven berpesan kepada Heni.
"Iya. Kamu juga hati-hati iya. Mama juga mendoakan semoga Gemilang baik-baik saja", Heni mendoakan Gemilang.
*****
Setelah Hampir Empat jam mulai dari keberangkatan steven hingga tiba di rumah sakit yang di informasikan Angelica. Steven tiba di rumah sakit dan langsung menemui Angelica. Tidak sabar menanyakan keadaan dan kondisi gemilang saat ini.
"Angle. Bagaimana keadaan Gemilang?", tanya Steven penasaran dan ingin tahu.
"Gemilang sakit ginjal akut, Gemilang ingin transplantasi ginjal, bila ingin tertolong. Karena Ginjal Gemilang sudah tidak berfungsi lagi", Angelica menangis dan sedih memberitahu kondisi Gemilang.
Steven langsung memeluk dan berusaha menguatkan Angelica.
Angelica menumpahkan tangisnya dipelukan Steven.
"Aku tidak ingin kehilangan Gemilang.uuuu...", Angelica terus menangis.
"Tidak Angel, Gemilang harus selamat. Aku juga tidak ingin kehilangan Gemilang", Steven berusaha menghibur dan menyemangati Angelica.
"Benar kamu mau mendonorkan ginjalmu?, tetapi kamu akan merasa lemah dan tidak bisa bekerja terlalu capek!", Angelica memberitahu efek samping dari mendonorkan ginjalnya.
"Tidak apa-apa, tujuan ku hanya ingin menyelamatkan anakku, apapun itu akibatnya", Steven mantap ingin tetap mendonorkan ginjalnya.
Steven pun segera menemui dokter yang menangani Gemilang di ruangannya dan mengutarakan maksud Steven untuk mendonorkan ginjalnya untuk Gemilang. Agar tidak terlambat dan Gemilang bisa segera ditolong.
Setelah melalui tahap pemeriksaan ternyata ginjal Steven cocok untuk di donorkan untuk Gemilang. Dan proses transplantasi Ginjal pun ditetapkan hari nya.
Steven berpesan kepada Angelica, Mana tahu ini adalah saat terakhir Steven untuk bertemu dengan Angelica, karena menurut dokter. Bisa saja kondisi pendonor jadi fatal atau bahkan bisa mengakibatkan meninggal dunia. Steven memberitahu pesan terakhirnya "Angelica maafkan aku ya atas segala perbuatan ku kepada mu selama ini. Aku berharap perbuatan baik ku ini bisa menebus segala kesalahanku yang telah kuperbuat. Jaga dan rawat lah Gemilang dengan baik. Aku percaya kamu adalah ibu terbaik untuk Gemilang. Aku ikhlas memberinya ginjal ku, bahkan nyawaku sekalipun untuk Gemilang", Steven menitikkan air mata.
"Aku sudah lama memaafkan kamu steve. Tidak, kamu akan baik-baik saja. Kamu akan terus melihat perkembangan Gemilang sampai besar nanti. Kamu harus semangat ya, jangan menyerah, kamu tidak boleh putus asa.
Aku juga akan merawat kamu bila kamu jadi lemah karena telah mendonorkan ginjalmu untuk Gemilang", Angelica menyemangati Steven. Karena Steven tidak ada semangat hidup lagi, Steven terus menyalahkan dirinya, Steven ingin menebus kesalahannya kepada Gemilang. Steven juga tidak bersemangat hidup karena merasa sendirian menjalani hidup, tanpa istri dan anaknya.
Steven tersenyum mendengar perkataan Angelica. Stevenpun tertidur lelap karena pengaruh obat bius yang disuntikkan ke dalam tubuh nya agar proses transplantasi ginjal segera dilakukan.
Berjam-jam waktu yang dibutuhkan, proses transplantasi ginjal berjalan dengan baik dan lancar. Tiba-tiba kondisi Steven drop dan menurun. Steven tidak sadarkan diri. Dokter memberi tahu kondisi dan keadaan Steven pasca operasi kepada Angelica.
__ADS_1
Angelica terus menangis dan sedih, Walapun Steven selama ini jahat kepada dirinya. Angelica tetap merasa sedih dan takut kehilangan Steven. Angelica berdoa dalam hatinya, "Tuhan tolong selamatkan Steven.
Aku memaafkan segala kesalahan Steven. Aku ingin merawat dan menjaga Steven. Aku juga ingin rujuk dan bisa memberikan keluarga yang utuh kepada Gemilang", Angelica menangis dalam memanjatkan doanya.
Kondisi Gemilang semakin membaik dan Gemilang sudah sadarkan diri. "Ma, Kenapa mama menangis?", tanya Gemilang bingung.
"Papa Steven sedang sekarat, Papa Steven yang telah mendonorkan ginjalnya untuk Gemilang, sehingga Gemilang bisa sembuh", Angelica memberitahu Gemilang sambil menangis.
"Ma, Gemilang ingin papa Steven tinggal bersama kita ma, papa Steven tidak usah kerja di luar negeri", ucap Gemilang polos.
"Iya sayang, Doakan agar papa Steven sehat dan selamat dari komanya iya", Angelica memeluk Gemilang.
Tidak beberapa lama dapat kabar dari Dokter yang menangani Steven. Bahwa Steven telah melewati masa kritisnya, Steven telah sadarkan diri.
Angelica langsung pamit kepada Gemilang untuk menemui Steven di ruang perawatan.
***
"Hai Steve, syukurlah kamu baik-baik saja. Tadinya aku sangat khawatir kamu kenapa-kenapa", Angelica langsung memeluk Steven.
"Oh iya, bagaimana keadaan Gemilang, sudah membaik kah?", tanya Steven masih lemah.
"Iya Gemilang sudah membaik kondisinya, Oh ya. Kamu semangat dan cepat sembuh ya, aku mau rujuk kepada kamu.
Aku ingin kita memulai rumah tangga kita yang baru. Gemilang sangat senang dan ingin kita bisa bersama-sama", Angelica tersenyum memberi tahu Steven.
"Benarkah Angel. Benar kamu ingin rujuk kembali kepada ku?", Steven masih tidak percaya atas perkataan Angelica.
"Benar", Angelica menjabat tangan Steven.
Bukan main gembiranya Steven mendengar perkataan Angelica.
"Ibu pasti akan senang mendengar kabar ini Angel!", Steven tersenyum lebar.
Angelica pun ikut tersenyum.
"Cepat sembuh ya, biar kita bisa bepergian bersama-sama Gemilang", Angelica berbisik kepada Steven agar Steven bersemangat.
__ADS_1