
"Untung lah kalian segera datang, tadi mama panik sekali, ini Merry badannya panas sekali, sampai hampir ngingau, ayo cepat, cepat bawa ke rumah sakit" ucap Heni panik dan ketakutan.
Steven dan Dikta langsung lari ke kamar melihat kondisi Merry yang sedang demam tinggi.
Dikta memegang jidat Merry "Tinggi sekali demamnya bang, sudah diukurkah suhu badannya, berapa demamnya Bu?" tanya Dikta balik.
"Sudah diukur barusan tadi, suhunya 41°C" ucap Heni menatap Dikta dan Steven.
"Ahhh, tinggi sekali itu, ayo buat kompresnya Dikta, sambil kita bawa dimobil kamu bisa sambil kompres Merry, aku akan mengeluarkan mobil" Steven sambil berlari ke grasi dan segera mengeluarkan mobil keluar rumah dan menyalakan mesin,
Heni pun langsung berlari ke dapur mempersiapkan kompres air hangat dan handuk kecil. Dikta mengangkat tubuh kecil Merry masuk ke dalam mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit.
Kenzo pun ikut-ikutan panik dan minta ikut "i--kut" bujuk kenzo,
"Kenzo di rumah ya, sama nenek, mama dan papa mau bawa adek Merry berobat ke rumah sakit" bujuk Dikta, Heni pun segera memegang Kenzo agar tidak ikut pergi masuk ke dalam mobil.
Tetapi Kenzo pengertian langsung menurut apa kata Dikta Kenzo mengganguk-anggukkan kepalanya tanda mengiyakan apa yang Dikta perintah kan. Dikta pun langsung masuk ke dalam mobil "kami pergi dulu ya, ma".
Dikta terus menggendong tubuh kecil Merry, sambil mengompres jidatnya, "Ma, mama" Merry mengingau.
"Iya sayang, mama disini kok, lagi gendong Merry" Dikta berbisik pada Merry, Dikta terus menciumi Merry dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
"Cepat bang, badan Merry semakin panas ini" teriak Dikta panik.
"Iya sebentar lagi, sampai kok, ini kita sudah masuk kawasan rumah sakit" Steven memberitahu.
Setelah mobil berhenti tepat di depan UGD, Steven langsung membuka pintu, agar Dikta bisa keluar,
Dikta langsung keluar dan berlari cepat menuju UGD, "dokter tolong anak saya, demamnya tinggi sekali" teriak Dikta sambil meletakkan Dikta di tempat tidur yang kosong pada ruang UGD tersebut,
dokter dan perawat datang langsung memeriksa kondisi Merry.
__ADS_1
Dikta menjauh dan membiarkan dokter menangani Merry. Segala perawatan infus diberikan sebagai pertolongan pertama, memasukkan obat penurun demam melalui cairan infus, dokter pun langsung mengambil sampel darah pada Merry agar bisa mengetahui penyakit yang diderita Merry.
Agar penanganan nya lebih maximal lagi, Dikta disuruh keluar dari ruang UGD, dan menunggu informasi selanjutnya dari dokter,
"Ibu silahkan keluar dulu ya, tunggu informasi selanjutnya, nanti kami akan beritahukan kepada ibu,
agar kami bisa maximal menangani pasien, nanti kalau ada yang dibutuhkan, atau sianak merengek terus minta harus dekat dengan orang tuanya, akan kami informasikan selanjutnya,
sekarang silahkan keluar ya, Bu" suster mendorong pelan tubuh Dikta agar mau keluar.
Dikta dan Steven tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan dari dokter, harap-harap cemas perasaan keduanya,
maklum Merry tidak pernah sakit sebelumnya, Merry selalu baik-baik saja, bahkan terakhir Dikta memberinya susu tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah Kenzo, Merry baik-baik saja, melahap habis susu yang diberikan Dikta.
Dokter pun keluar menemui Dikta dan Steven "Ibunya Merry?" ucap dokter memanggil keluarga Merry.
"Iya dokter" Dikta dan Steven berlari kecil mendekati dokter, untuk mengetahui informasi mengenai sakit Merry.
"Apa dok, meningitis?" teriak Dikta dan Steven berbarengan terkejut, shok, dan tidak menyangka kalau Merry akan menderita penyakit meningitis, jarang sekali Steven dan Dikta mendengarnya, dan merasa kalau meningitis adalah penyakit parah.
"Ibu, pak, dokter akan memeriksa lebih lanjut mengenai penyakit Merry ini, ini hanya observasi awal saja" dokter menenangkan Steven dan Dikta.
"Dokter, apakah penyakit meningitis, tergolong penyakit parah?" Dikta dan Steven ingin tahu.
"Ada 3 penyebab meningitis, pertama disebabkan karena virus, bakteri dan jamur, penyebab virus, masih tergolong rendah bisa sembuh sendiri tergantung ketahanan tubuh seseorang, dan pengobatannya pun hanya dengan pemberian antibiotik,
sedangkan meningitis yang disebabkan oleh bakteri adalah tergolong paling parah, bisa merusak jaringan dan fungsi organ yang lain apabila penanganan nya tidak tepat,
kalau meningitis yang disebabkan jamur tergolong tingkat 2, lumayan berbahaya" dokter memberi penjelasan mengenai penyakit meningitis.
Mendengar penjelasan dokter, Dikta dan Steven pun berharap kalau Merry menderita meningitis yang disebabkan virus, "Mudah-mudahan Merry segera sembuh dan cepat pulang", harap Steven dan Dikta.
__ADS_1
"Sebentar lagi Merry akan dibawa keruang rawat inap, silahkan bapak, ibu melengkapi berkas-berkas nya" dokter berlalu meninggalkan Steven dan Dikta.
Steven segera mengurus berkas ke meja resepsionis, sedangkan Dikta masuk kedalam ruang UGD, mencari sosok Merry dan menemaninya di tempat tidur nya "Ma, Merry sakit apa" tanya Merry lemas.
"Merry sayang, Merry baik-baik saja kok, sebentar lagi kita pulang kok, tetapi tunggu pemeriksaan dokter selanjutnya, Merry tidak apa-apa kan kalau dokter periksa lagi, supaya Merry bertambah sehat dan tidak akan sakit lagi" bujuk Dikta menghibur Merry.
Merry hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengiyakan apa yang diperintahkan Dikta.
Demam Merry berangsur-angsur turun, setelah Steven mengurus berkas-berkas, akhirnya Merry di perbolehkan masuk ke ruang rawat inap.
Merry pun kelihatan cerah dan bersemangat.
"Mudah-mudahan Merry terkena meningitis yang disebabkan virus ya, bang" harap Dikta.
"Iya mudah-mudahan lah, melihat kondisi Merry yang sudah semangat dan ceria, mudah-mudahan sakitnya tidak parah, dan boleh segera pulang ke rumah, kasihan ibu mengurus Kenzo sendirian di rumah" Steven juga berharap hal yang sama.
"Kok bisa ya, Merry terkena virus" tanya Steven bingung, padahal Merry tidak ada bergaul dengan anak-anak tetangga.
"Merry sering dibawa mama keluar bang, belanja beli sayur, bila tukang sayur dorong itu mangkal di dekat rumah, mungkin penularan nya melalui bersin dan udara, atau bekas sentuhan tangan-tangan orang lain ketika memegang sayur dan belanjaan yang lain, mungkin imun Merry tergolong imun rendah" Dikta memberitahu beberapa kemungkinan.
"Mudah-mudahan lah Merry tidak kenapa-kenapa, dan untuk lain kali, beritahukan kepada mama, agar tidak usah mengajak anak-anak lagi belanja di luar" Steven mengarahkan Dikta.
Dikta hanya diam dan mengangguk-anggukan kepalanya.
tok..tok..tok..
Pintu diketuk.
Dokter datang menghampiri Steven dan Dikta.
"Saat ini kami memprediksikan bahwa Merry terkena meningitis yang disebabkan virus, saya lihat kondisi Merry sudah baikan dan bersemangat, Merry sudah boleh pulang, tapi bapak dan ibu harus jeli, melapor dan membawa ke rumah sakit dengan cepat,
__ADS_1
bila ada kondisi mual dan muntah, serta demam tinggi, agar diadakan pemeriksaan lebih lanjut dan tidak terlambat untuk ditangani" ucap dokter mengarahkan dan memberitahu kepada Steven dan Dikta.