
Tengah malam tiba-tiba Dikta merasa kesakitan dan mengerang keras "Aduh, sakit, sakit sekali bang...Aduh....uuuu" rengeng Dikta, hingga membangunkan Steven.
"Kamu kenapa Dikta?" tanya Steven bingung.
"Tidak tahu bang, rasanya sakit sekali, Dikta tidak tahan lagi, sakitnya sangat luar biasa" Dikta terus menjerit-jerit kesakitan.
Akibat panik dan bingung, Steven pun langsung berlari ke kamar Heni, mengetuk-ngetuk terus pintu kamar Heni.
tok...tok ..tok...
"Ma...mama, buka pintunya ma." teriak Steven terus mengetuk pintu kamar Heni.
Belum juga ada sahutan dari kamar Heni. Steven pun terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Heni.
Tok..tokk.tok..
"ma...mama...buka pintunya ma...ma..mama" makin kencang Steven mengetuk dan berteriak.
Akhirnya Heni keluar dari kamarnya.
"Ada apa Steve, kenapa mengetuk pintunya kencang sekali, sambil berteriak-teriak lagi" ucap Heni kesal
"Dik-ta ma, dik-ta kesakitan " ucap Steven terbata-bata.
"Apa, Dikta" Heni berteriak kencang sambil berlari kearah kamar Dikta.
Membuka kamar Dikta dengan tergesa-gesa dan melihat Dikta sedang mengerang kesakitan.
"Dikta kamu kenapa?" tanya Heni sambil mencoba memangku Heni sambil memeluknya,
"Mama sakit sekali perut Dikta ma" teriak Dikta sambil menangis karena tidak tahan sakitnya.
Darah pun keluar dari paha kanan Dikta.
Heni panik,
"Steven cepat, ayo angkat Dikta dan segera kita bawa ke rumah sakit sebelum terlambat" teriak Heni kencang.
__ADS_1
Steven segera mengangkat dan menggendong Dikta masuk ke dalam mobil. Heni pun bergegas mengambil segala barang dan pakaian Dikta serta pakaian bayi yang jauh-jauh hari sudah di persiapkan dan dikemas dalam tas besar. Langsung di masukkan kedalam mobil.
"Kalian berangkat dulu ya, nanti mama menyusul bersama Kenzo, karena Kenzo pun harus dilengkapi, bahkan pakaiannya juga, daripada harus menunggu mama, bagusnya kalian berangkat duluan, nanti mama menyusul, agar Dikta cepat ditangani" himbau Heni kepada Steven.
"Baik ma, nanti Steven kasih tahu mama, bagaimana perkembangan kondisi Dikta dan sekalian kasih tahu di rumah sakit mana Dikta dirawat" balas Steven.
Steven segera melaju kencang mobilnya, membawa Dikta ke rumah sakit. Antara panik dan khawatir atas kondisi Dikta saat ini.
Dikta selalu pendarahan ketika saat melahirkan, Steven juga takut, kali ini pun Dikta pendarahan lagi, dan kali ini sepertinya beda dari sebelumnya, kali ini pendarahan malah sebelum lahiran, kemarin pendarahan nya setelah lahiran.
Steven takut Dikta akan kehabisan tenaga, sungguh sangat beresiko untuk keselamatan baby-nya dan dikta sendiri, Steven sampai berpikir yang tidak-tidak, tetapi Steven segera menyingkirkan prasangka buruknya, Steven berdoa, berharap Dikta dan baby nya baik-baik saja.
Dokter segera menangani Dikta, ketika dikta sudah sampai di depan UGD, Dikta masih sadarkan diri, tetapi sudah lemas.
Steven pun berbisik kepada Dikta "Kamu harus kuat ta, jangan tinggalkan Abang, Kenzo dan ibu, harus semangat ta, kamu tidak mau kan, baby kita yang baru lahir ini akan kehilangan ibunya" bisik Steven menyemangati Dikta.
Dikta pun tersenyum dan mengedipkan matanya "Iya bang" ucap Dikta pelan.
Dokter pun melarang Steven masuk kedalam ruangannya.
"Dengan keluarga Bu Dikta?" tanya dokter yang menangani Dikta, ternyata adalah dokter Stefanus.
"Dokter, kami adalah pasien dokter dari tempat praktek dokter, sebulan yang lalu kami periksa, ke tempat praktek dokter, kondisinya baik-baik saja dilihat secara USG, tetapi entah gara-gara apa Dikta mengalami pendarahan begini" ucap Steven mengingatkan kan dan memberi tahu dokter Stefanus.
"Oh iya, Kami harus segera mengoperasi Dikta, mungkin kondisi Bu Dikta lagi tertekan atau stress, ada masalah yang disimpan dan terpendam dalam pikirannya yang tidak bisa diungkapkan atau diselesaikan nya" jawab dokter Stefanus.
Steven terdiam, "Mungkin masalah kartu keluarga, sangat membebani pikiran Dikta" pikir Steven dalam hati.
"Baik dok, lakukan yang terbaik dok, selamat kan anak dan istri ku" mohon Steven kepada dokter Stefanus.
"Kami akan melakukan yang terbaik ya pak" jawab dokter Stefanus.
Steven pun menunggu di luar kamar operasi, menunggu kabar dan kelanjutan operasi Dikta.
Mondar-mandir Steven di depan pintu kamar operasi. Menunggu kabar dari dokter yang menangani.
Tidak lama berselang tiba-tiba dokter keluar memberitahu "Keluarga Bu Dikta?" teriak nya setengah kencang.
__ADS_1
Steven langsung berlari menghampiri dokter yang menangani Dikta. "Ada apa dok" jawab Steven sedikit tergesa.
"Ibu Dikta, banyak kehabisan darah, di rumah sakit ini memang ada stok golongan darah B, tetapi tidak banyak, bapak bersiap-siap lah, mana tau nanti dibutuhkan lagi darah untuk golongan darah B, apa ada keluarga yang bergolongan darah B?" tanya dokter yang menangani kepada Steven.
"Saya bisa mendonorkan darah dok, saya golongan darah B" ucap Steven menyakinkan dokter, tidak usah khawatir mengenai persediaan darah golongan B untuk Dikta.
"Baiklah kalau begitu" ucap Dokter yang menangani Dikta kembali masuk ke dalam.
Steven pun dengan sabar menunggu kabar dari dokter yang menangani Dikta, dengan rasa was-was dan khawatir.
Steven segera menelpon Heni memberi kabar Dikta, agar tidak terlalu khawatir atas kondisi Dikta, biarlah Heni fokus menjaga Kenzo dengan baik, pikir Steven di benaknya.
"Halo ma, Heni masih dalam ruang operasi, Dikta banyak kehabisan darah, tetapi stok darah di rumah sakit masih cukup,
dokter mengatakan agar keluarga siap-siap jadi pendonor darah untuk Dikta, dan saya mengatakan bersedia jadi pendonor,
mama di rumah saja tidak usah datang ke rumah sakit tengah malam begini, apalagi dengan membawa Kenzo.
Besok pagi saja mama datang, mama jaga dan urus Kenzo aja di rumah baik-baik ya ma!" ucap Steven memberi tahu kabar dan kondisi di rumah sakit kepada Heni.
"Baiklah kalau begitu, tetap beri tahu mama ya kondisi Dikta" ucap Heni tenang.
"Pasti ma" jawab Kenzo dan langsung mematikan handphone nya.
Tidak beberapa lama dokter Stefanus keluar, melihat dokter Stefanus keluar dari kamar operasi Steven langsung menghampiri dokter Stefanus.
"Bagaimana kondisi Dikta dok" tanya Steven penasaran.
"Dikta sudah melahirkan anaknya, dengan jenis kelamin perempuan, Dikta dan baby nya baik-baik saja, selamat ya pak, bapak boleh datang sebentar melihatnya, tetapi Bu Dikta belum sadar, karena pengaruh obat biusnya" ucap dokter Stefanus tersenyum.
"Baiklah dokter, terima kasih banyak ya dokter" Steven menjabat tangan dokter Stefanus.
Steven senang dan bahagia Dikta sudah lahiran dan melahirkan anak perempuan mereka.
Dengan tidak sabar, Steven langsung menelepon Heni untuk memberi tahu kabar gembira ini.
"Ma, Dikta sudah selesai melahirkan, Dikta melahirkan anak perempuan, mama tidak usah khawatir lagi ya.
__ADS_1
Steven jemput mama sekarang, mama siap-siapin barang yang mau dibawa. Tidak apa-apa Steven tinggalin Dikta. Dikta belum sadar dari pengaruh obat biusnya" ucap Steven memberitahu Heni.