
''Selamat, semoga kalian menjadi keluarga yang samawa.''
Itulah ucapan yang di luncurkan seluruh tamu di acara resepsi Erick dan Alina. Sepasang pengantin yang ada di atas pelaminan hanya bisa menampilkan senyum untuk semua yang datang atas undangan dari Erick.
Alina terlihat lebih cantik dengan balutan gaun mahal nan mewah, seperti kata Erick, hari ini ia benar benar terlihat cantik dan mendekati sempurna.
Tak seperti tadi siang hanya tamu yang beberapa, kali ini Alina dan Erick tak punya waktu sedikitpun untuk bersantai, saking banyaknya tamu yang datang membuat kaki Alina merasa lentur, apa lagi High heels yang terlalu tinggi itu sedikit tak nyaman di kakinya.
''Selamat ya, Kak,'' ucap Melani dan langsung berhamburan memeluk Erick.
Erick hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis. Karena saat ini sudah menatap gadis yang berparas cantik yang mematung di samping sepupunya.
Setelah memberi ucapan selamat, Melani langsung saja meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan tangan Alina yang sudah siap berjabat. Dan itu di saksikan Erick dan Luna yang saat ini saling berhadapan.
Jika di bilang tersinggung, iya, Namun Alina tak mau membesar besarkan masalah sepele.
''Maafkan Melani, ya, dia memang seperti itu.'' ucap Luna lembut.
''Tidak apa apa,'' jawab Alina ketus.
''Selamat ya, Rick, akhirnya kamu menikah dengan perempuan yang kamu cintai, semoga kalian bahagia.''
Tanpa melepaskan jabat tangannya Erick dan Luna saling pandang. Keduanya saling tatap tanpa bicara sepatah katapun.
Alina hanya bisa mengedarkan pandangannya ke arah tangan yang saling genggam erat, baru saja menikah dan menjadi pasangan halal, namun Erick sudah membuatnya kesal.
''Terima kasih.'' Hanya ucapan itu yang di lontarkan Erick untuk Luna.
Kini Luna beralih mendekati Alina.
''Selamat ya, kamu beruntung menjadi istri Erick, dia itu baik tampan dan juga pebisnis hebat, aku yakin kamu tidak akan menyesal sudah menerimanya.''
Kamu pun mengharap menjadi istrinya.
''Aku sangat bahagia, karena kami saling cinta.'' Alina menyelipkan tangannya di lengan Erick.
Sialan, ternyata dia tak seperti yang aku bayangkan.
Karena merasa tersindir dengan ucapan Alina, Luna segera meninggalkan tempat itu.
Mungkin menjauh akan sedikit mendinginkan otaknya yang panas karena ucapan Alina tadi.
Erick menarik tangannya dan menatap lekat wajah Alina.
__ADS_1
''Kamu kenapa sih, kenapa bilang seperti itu sama Luna, dia itu sahabatku dan aku nggak mau hanya gara gara kamu kami menjauh.''
Alina membalas tatapan yang tak kalah sinis.
''Memangnya kenapa, Bukankah yang aku katakan semua itu benar?''
Alina tak kalah sewot, untung pelaminan sudah mulai sepi, jadi Alina sudah tak bisa memendam amarahnya yang dari tadi sudah mencapai ubun ubun karena ulah sepupunya dan Luna yang sengaja menyalakan api.
''Terserah, yang penting jangan buat keributan.'' bisik Erick dengan mata tajamnya saat Om Indra mendekatinya.
Kenapa dengan kak Erick, kenapa dia sangat membela Luna, apa sebenarnya mereka memang bukan sekadar sahabat.
''Selamat ya, Rick, Maaf Om telat datang.'' suara Om Indra membuyarkan lamunan Alina.
Keduanya saling berpelukan.
''Nggak apa apa Om, terima kasih sudah datang ke pernikahanku, Diana sama Romi nggak ikut.''
Om Indra tersenyum. ''Mereka nggak bisa pulang, katanya nanti ingin ngucapin lewat ponsel.''
Menyayangkan kedua sepupunya tak ikut datang karena sama sama di luar negeri.
''Selamat ya, Kenalkan, nama Om, Indra.''
''Alina, Om.''
''Semoga kamu betah menjadi keluarga Dewantoro, jika Erick melakukan kesalahan, tegur dia, seorang istri adalah wadah bagi suaminya, jadi kamu harus selalu mengingatkan apa saja yang di lakukan suami kamu.''
Ucapan pria itu mengingatkan Alina pada sosok seorang ayah yang selalu memberi wejangan untuk anak anaknya. Apa lagi di hari yang spesial ini, seakan om Indra adalah jelmaan papanya.
''Bahagia ya, anggap saja Om ini papa kalian, dan kalian boleh ke rumah Om, kapanpun.''
''Om,'' Kini Alina malah berhamburan memeluk pria di depannya. Merasa terenyuh, ternyata masih ada orang yang peduli dengannya.
''Sudah, jangan nangis, ini hari bahagia kamu dan Erick. Ini hadiah untuk pernikahan kalian.''
Om Indra menyodorkan sebuah kunci apartemen di tangan Alina lalu pergi.
Om Indra sangat baik, berbeda dengan paman Bima, meskipun mereka sama sama keluarga Kak Erick, sepertinya mereka beda guru.
Kurang lebih hampir tiga jam, Alina berada di pelaminan bersama Erick, acara demi acara yang sangat meriah ia lewati, tak menyangka kalau saat ini lelah itu meliputi dirinya.
''Kak, aku mau ke kamar.'' Pamitnya saat Erick masih fokus menemani kolega bisnisnya.
__ADS_1
Pria itu hanya mengangguk tanpa suara.
''Sekarang kamu bukan lajang lagi, cepetan sana belah duren,'' celetuk Aries, salah satu sahabat lamanya.
Pria itu menyungutkan kepalanya kearah Alina yang sudah beberapa langkah menjauh.
''Iya Rick, ternyata bini kamu masih sangat muda, kayaknya butuh tenaga ekstra untuk menjebol gawang malam ini, nemu di mana?'' timpal Daren yang tak kalah konyol.
Mereka bergelak tawa melihat Erick yang saat ini mati kutu di hadapan yang lain.
Erick hanya menggaruk alisnya yang tidak gatal, baginya omongan sahabatnya itu tidaklah penting, dan yang terpenting baginya saat ini adalah misi yang sudah di rancang.
Ruangan balkon kini mulai sepi, semua sahabat dan rekan kerja sudah pulang, tinggal beberapa keluarga yang masih ada di sana, namun Erick enggan untuk ke kamarnya dan memilih untuk menghampiri Sigit yang masih ada di sana.
''Sigit, besok aku langsung ke kantor, dan malam ini kamu pulang saja.''
Sigit mengangguk.
Apa pak Erick nggak ingin bulan madu, sudah pengantin baru masih saja mikirin kerjaan, kalau aku mah nggak mau keluar kamar tujuh hari tujuh malam.
Nyatanya sekretaris itu hanya menggerutu dalam hati.
Erick menatap punggung sekretarisnya, mengendurkan dasi yang melilit lehernya beberapa jam.
Mulai hari ini aku akan memberikan kehidupan baru untuk kamu Alina.
''Erick...'', teriak seorang pria dari belakang.
''Om Indra, mana tante Rasti?'' tanya nya.
''Sudah di mobil,'' jawab Pria itu.
''Duduk dulu!" mempersilahkan Erick untuk duduk sejenak.
"Om mau bicara sama kamu."
"Apa, Om?"
"Rick, sekarang kamu sudah dewasa, dan kamu harus punya pikiran matang sebelum bertindak. Kamu adalah kepala keluarga yang patut menjadi contoh yang baik, jadi Om sarankan sayangi istri kamu, bagaimanapun juga kamu sudah menikahinya, itu artinya dia adalah tanggung jawab kamu sepenuhnya. Jangan pernah membuatnya nangis, karena setiap tetesan air mata seorang perempuan adalah boomerang bagi seorang pria, dan sebuah penyesalan itu sangat menyakitkan, selama ini Om bukanlah orang yang membesarkan kamu, dan Om hanya bisa berpesan itu saja, kapan kapan ajak Alina mampir ke rumah."
"Baik, Om," ucap Erick diiringi dengan anggukan.
Setelah Om Indra menghilang, Erick kembali menyunggingkan sudut bibirnya.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa membiarkan seseorang bahagia jika papanya saja sudah merenggut kebahagiaanku di masa kecil, bukankah ini tidak adil, dan aku pastikan Alina akan merasakan apa yang aku rasakan.