Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Mencari part 2


__ADS_3

Tak seenteng yang di bayangkan, dan tak semudah membalikkan telapak tangan, meskipun berita Alina sudah menyebar ke seluruh penjuru dengan hadiah yang sangat menggiurkan, nyatanya Erick belum mendapatkan kabar sedikitpun tentang keberadaan istrinya, seharian penuh pikiran Erick tetus melayang, dan tak bisa fokus dengan kerjaan, msmbatalkan semua meeting penting dan memilih untuk menyendiri. Kalut, tenggelam dalam keadaan yang sangat mencengkam, pria itu merasa ada yang menjanggal dalam dirinya saat ini.


Mengabaikan Sigit yang terus bergelut menggantikan dirinya, menyelesaikan tugasnya yang menumpuk, seakan separuh jiwanya hilang di telan bumi, meskipun ia terus menepis perasaan yang muncul, raga tak bisa berbohong jika saat ini ia merasa tercabik cabik.


Apa lagi beberapa kali telepon yang masuk dari anak buahnya mengatakan belum menemukan Alina, Erick terus melampiaskan amarahnya dan ingin turun tangan.


Sigit hanya bisa menatap punggung Erick dari luar kamar pribadi yang ada di ruangan Bosnya. Kasihan, baru kali ini Erick seperti orang terpuruk dan melupakan dirinya.


''Permisi, pak,'' suara seseorang dari luar menggerakkan kaki Sigit untuk membuka pintu.


''Bawa masuk!" ternyata makanan yang di pesannya datang.


'Sebenarnya, bagaimana perasanan pak Erick dengan kepergian Alina? tanda tanya dalam hati Sigit.


Sekali kali kepo, karena Sigit pun belum bisa berpaling dari sosok yang sangat ceria itu.


''Pak, dari pagi Bapak belum makan, saya bawa makanan.'' Ujarnya mendekati ranjang Erick.


Makanan, apa Alina sudah makan, apa dia sangat bahagia sampai dia ikut Putra pergi.


''Belum lapar,'' jawabnya singkat, bahkan sedikit pun tak ingin mengubah posisinya yang tengkurep.


''Pak sudah sore, apa bapak nggak pulang?'' tanya Sigit setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.


Jam sudah menujukkan pukul lima senja, namun Erick tak ingin keluar dari tempatnya, dan itulah membuat Sigit tak bisa meninggalkan Erick begitu saja.


''Kamu pulang saja, nanti aku akan pulang sendiri,'' jawabnya.


Sigit hanya bisa menghirup napas dan membaringkan tubuhnya di sofa, ingat dengan pesan pak Indra yang menyarankannya untuk tidak meninggalkan Erick sendiri.


Ting tung, bunyi notif dari ponsel Sigit, segera pria itu membukanya lalu tersenyum tipis, ternyata chat dari Diana.


Jangan lupa makan, tolong jaga kak Erick dengan baik, jaga kesehatan juga, jangan sampai sakit.

__ADS_1


Entahlah, itu sebuah perhatian atau apalah, yang pastinya Sigit merasa adem setelah membaca pesan singkat dari Diana, status teman baru kenal, tapi mereka sudah semakin akrab.


Aku nggak boleh terpancing dulu, aku harus tau seberapa besar perasaannya untuk aku.


Meskipun yang di seberang menantap layar ponselnya dan berharap ada balasan, tidak bagi Sigit yang malah meletakkan benda pipihnya di meja dan menatap langit langit ruangan Erick.


Kira kira Putra membawa Alina ke mana ya, apa dia nggak takut akibat dari semua ini, pasti taruhannya nyawa, dan aku yakin pak Erick tidak akan membiarkan Putra begitu saja, aku harus bantu dia, tapi bagaimana, aku juga tidak tau keberadaannya.


Jika Sigit hanya bisa diam di tempat menunggu kabar dari anak buah bersama Erick atas perintah pak Indra, justru pria itu kini sudah menjelajahi kota tempat tinggal keluarga Erick dulu. Berharap masih ada titik terang yang ia temukan.


Pak Indra menghentikan mobilnya di depan rumah mewah, kenangan demi kenangan kini semua melintas, kebahagaiaan bersama keluarga besar Dewantoro yang penuh dengan kehangatan hingga badai menerpa dan memecah belah semuanya. Menghancurkan rencana manis untuk kedepannya.


Kak, aku minta maaf, karena tidak bisa membesarkan Erick, tapi sekarang aku tidak bisa tinggal diam, karena aku yakin pembunuh kamu bukan orang luar.


Dengan tekad yang sudah bulat, semangat yang tinggi, Pak Indra turun dari mobilnya menghampiri rumah yang sama sekali tak di jual.


''Tuan Indra....'' sapa sang penjaga dengan ramah.


''Seperti yang bapak lihat, saya masih bisa menjaga dan membersihkan rumah ini.''


mempersilakan Pak Indra untuk masuk ke dalam.


Tak berubah sedikitpun, bangunan dan tata letak lukisan maupun ruangan, kursi dan yang lain masih utuh seperti saat Indra keluar dari rumah itu.


''Pak, Aku mau bicara sebentar sama bapak.'' Menggiring pak Ujang menuju ruang tamu.


''Silahkan!" keduanya duduk dan saling berhadapan.


"Apa bapak tau kejadian lima belas tahun yang lalu, yang menewaskan kakak ipar saya?" Tanya Pak Indra ke inti.


"Pak Tirta." tebak pak Ujang dengan lantangnya.


Pak Ujang menghela napas panjang. "Saat itu saya belum kerja disini, jadi saya tidak tau pasti, tapi kata orang orang sekitar, waktu kejadian keluarga pak Johan yang datang." Ungkapnya.

__ADS_1


"Bapak yakin?" tanya Pak Indra memastikan.


"Tapi saat di selidiki, tidak ada bukti yang mengaraah pada beliau, dan setelah tujuh hari pemakaman, pak Bima menutup kasusnya.'' Jelasnya lagi dengan teliti, takut salah ucapan dan akan menimbulkan kesalah pahaman.


Aku menyesal karena sudah meninggalkan keluarga kak Tirta demi pekerjaan di luar negeri, andai waktu itu aku ada di sini, aku akan usut sampai tuntas.


"Apa bapak kenal keluarga pak Johan selain anaknya yang bernama Alina?"


Pak Ujang menggeleng. "Tapi setelah kejadian itu, ada supir pak Johan yang katanya tiba tiba saja menghilang setelah terbukti tidak bersalah."


"Supir," Ucap Pak Indra mengulang.


Pak Ujang kembali mengangguk.


"Di mana rumahnya?" Tanya Pak Indra.


"Saya tidak tau, pak, hanya keluarga pak Johan yang tau."


Kenapa bisa serumit ini, Andai Alina ada, mungkin ia bisa mengatakan semuanya, tapi dimana dia sekarang, apa Putra membawanya ke luar kota, atau jangan jangan luar negeri.


"Baiklah, pak, terima kasih, jaga rumah ini dengan baik, soal gaji, bapak nggak usah khawatir, dan ini ada uang untuk bapak dan keluarga.'' menyodorkan sebuah amplop coklat di depan pria tua itu.


"Tidak usah pak, Den Erick sudah mentransfer uang setiap bulan untuk Saya, dan jumlah nya sangat besar." Mengembalikan amplop yang sudah ada di pangkuannya.


"Pak Indra tersenyum. "Anggap saja ini hadiah dari saya, dan saya akan kembali untuk mencari informasi lagi, doakan saya untuk bisa menemukan orang yang sudah tega membunuh Kak Tirta."


Karena memaksa, akhirnya pak Ujang mau menerima uang itu dengan kedua tangannya.


Aku harus cari Alina dulu, mungkin dia tau supirnya yang menghilang, dan semoga saja orang itu masih hidup dan tau dengan jelas kejadian yang sebenarnya.


Meskipun belum ada jawaban dari pencariannya, Pak Indra sedikit tenang dan makin yakin akan terus melanjutkan misinya dan akan melibatkan Sigit dalam kasus ini.


Kasihan Pak indra, dia orang baik, semoga dia cepat menemukan orang yang membunuh pak Tirta.

__ADS_1


__ADS_2