
Terdengar suara tawa bergemuruh dari balik pintu rumah Erick, dan itu mengurungkan niat Melani yang sudah ada di sana untuk masuk.
''Kok nggak masuk?'' tanya Putra yang baru saja menyusul setelah memarkirkan mobilnya.
Melani diam dan memutar tubuhnya. ''Kita pulang saja, Bang,'' meraih tangan Putra.
''Kenapa, karena ada Diana?'' menyungutkan kepalanya ke arah mobil Diana.
Melani mengangguk, kejadian di masa lalu masih saja terngiang ngiang di otaknya dimana ia pernah menyakiti hati gadis itu lewat seorang laki laki.
''Nggak apa apa, Diana itu baik, jika kamu punya salah, minta maaf saja sama dia.''
Apa Diana mau menerima maafku, aku pernah menghancurkan hubungannya dengan pacarnya.
Meskipun masih ragu, Melani mengikuti langkah Putra.
''Permisi...'' seru Putra seraya mengetuk pintu.
Benar, ternyata Diana dan Alina ada di ruang keluarga, dan sepertinya keduanya asyik menikmati paginya.
''Bang Putra.'' Sapa Alina menghampiri Putra.
''Ada Melani juga,'' bergantian menatap Melani yang berada di balik punggung Putra.
''Silahkan masuk, Bang,'' mempersilahkan keduanya.
Jika tadi Diana sibuk bercanda dengan Alina, kini setelah kedatangan Melani gadis itu menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangannya. Enggan untuk menatap wajah Melani, gadis yang pernah berseteru dengannya di waktu masih remaja.
''Pagi, Di, nggak kerja?'' Putra memecahkan suasana yang hening karena Alina pergi ke dapur.
''Nggak, Bang, aku kan baru belajar, palingan seminggu cuma tiga kali, itu pun kalau lagi nggak malas,'' jawab Diana.
Diana melirik ke arah Melani yang hanya menunduk, jangankan untuk saling bicara, saling sapa pun keduanya tak pernah, mengingat apa yang di lakukan Melani, Diana masih memendam rasa benci.
''Silahkan di minum Bang,'' Mel," menyodorkan dua teh hangat di depan Putra dan Melani.
''Kamu buat sendiri?'' tanya Putra.
''Memangnya kenapa? bukankah tugas seorang istri harus tau urusan dapur, meskipun kak Erick orang kaya, aku tidak ingin hanya berpangku tangan dan mengandalkan orang lain.''
Benar benar istri yang idaman.
Alina kembali duduk di samping Diana.
''Bang Putra ada perlu apa ke sini?'' tanya Alina, namun pandangannya menatap sosok Melani.
''Cuma main saja, ini Melani ingin berbicara sama Diana. "
Bang Putra.... jerit Melani dalam hati.
Seketika Melani membulatkan matanya ke arah Putra, begitu juga dengan Diana yang seperti tak percaya ucapan pria itu.
''Bicara apa?'' tanya Diana menatap Melani yang malah bingung, sedangkan Putra hanya bisa menahan tawa sembari menatap ketiga wanita itu bergantian.
__ADS_1
''Aku ke depan dulu,'' akhirnya Putra memilih untuk hengkang.
Kayaknya mereka butuh waktu berdua saja.
''Aku juga kedepan ya,'' pamit Alina mengikuti Putra yang sudah beberapa langkah menjauh.
Tak hanya dari dalam, di luar pun Alina mengikuti Putra menuju taman samping rumah.
Seperti Diana dan Melani, Alina pun merasa canggung saat keduanya duduk bersejajar di gazebo tengah tengah taman.
''Bang,''
''Al,'' keduanya saling menyebut nama bersamaan.
''Maaf,'' ucap Alina. ''Abang duluan,'' Alina menatap jauh ke depan di mana bunga bermekaran dengan indah, menghindari tatapan mata elang Putra yang seperti memendam sesuatu.
''Aku hanya ingin bertanya?''
Alina menoleh tanpa suara.
''Apa kamu bahagia sekarang, apa kak Erick baik sama kamu?''
Alina mengangguk pelan, ''Kak Erick sudah berubah, dia sangat baik sama aku.'' Jelas Alina dari hati, karena itulah yang di rasakan semenjak tragedi malam itu terjadi.
''Syukurlah, aku ikut senang, dan mulai sekarang jangan panggil aku Bang, aku yang panggil kamu kak,'' lucu, itulah menurut Alina, namun itulah menurut panggilan keluarga.
Akhirnya keduanya tertawa lepas.
''Bentar ya, Bang,'' menepuk bahu Putra yang masih setia duduk, Alina melangkahkan kaki, mendekati bunga yang pagi itu mekar dengan serempak.
Tangan yang semakin terasa geli itu dengan sengaja memetik bunga yang ada di depannya.
Aaaw..... tiba tiba saja Alina memekik seraya menggenggam jari telunjuknya.
''Kamu kenapa?'' tanya Putra yang saat ini sudah berada di sampingnya, terkejut dengan jeritan Alina.
''Kena duri,'' masih sedikit merengek.
"Sini!" meraih tangan Alina yang berdarah, tanpa minta izin Putra menghisapnya.
"Lain kali hati hati, mawar memang indah, tapi dia itu sering melukai siapapun yang ceroboh." Tukasnya.
Bang Putra baik banget, pantas saja Erna menyukainya.
"Bang," keduanya kembali ke tempat duduk yang tersedia.
Heemm.....hanya itu jawabn Putra.
"Apa abang sudah punya pacar?" tanya Alina basa basi.
Putra menggeleng.
"Yakin?" tanya lagi Alina, seakan mengingatkan sebuah janji yang pernah terucap, namun di ingkari begitu saja.
__ADS_1
Putra mengangguk pelan, seperti ada keraguan, karena dalam otaknya terselip sesuatu yang mengganjal, entah itu apa, Alina pun tak tau.
"Kalau begitu abang ingat ingat lagi, jangan sampai abang terlambat, ada seseorang yang masih menunggu abang datang," ucap Alina lalu beranjak meninggalkan Putra.
''Apa yang di maksud Alina, siapa yang menungguku datang?'' gumamnya.
Karena penasaran, sontak Putra menoleh menatap punggung Alina berlalu.
''Al, tunggu!'' teriak Putra lagi.
Alina menghentikan langkahnya seraya tersenyum renyah.
''Apa abang sudah ingat?'' tanya Alina.
''Apa Erna yang kamu maksud, apa dia yang masih menungguku?''
Alina mengangguk, dalam hatinya terukir senyum, akhirnya Putra peka juga dengan apa yang pernah di ucapkan dulu.
Seketika Putra pergi meninggalkan Alina yang masih di tempat.
''Bang tunggu!'' panggil Alina, berlari kecil mengejar langkah lebar Putra, karena kurang hati hati gadis itu akhirnya tersandung dan terjatuh.
Aawww....jerit Alina, memegang lututnya yang terkena kerikil hias taman.
Putra yang hampir saja masuk ke dalam mobil sontak menoleh menatap Alina yang sudah tersungkur di lantai.
''Alina...'' Putra berlari menghampiri gadis itu.
''Kenapa nggak hati hati,'' Dengan perlahan Putra mengelap luka dari lutut gadis itu.
''Sakit, Bang,'' rengek Alina, mencoba untuk berdiri, namun kenyataannya Alina nggak bisa menahan rasa perih yang menjalar di kakinya.
''Ya sudah, aku gendong ya,'' Tak ada pilihan lain selain mengangguk, karena Alina tak mungkin bisa berjalan sendiri.
Dengan tergopoh gopoh Putra membawa Alina masuk ke dalam rumahnya.
''Kan Alina kenapa, Bang?'' tanya Diana khawatir.
''Tadi dia jatuh di taman.'' membantu Alina untuk duduk di sofa.
''Ya ampun kakak, kok sampai parah kayak gini sih,'' Melani ikut panik dan mengambil kotak obat.
Tak bisa menjawab apa apa, Alina hanya menahan rasa perih itu.
''Maaf, aku merepotkan kalian,'' masih mengelus betis yang terasa nyeri.
''Kak, kita bersaudara, nggak ada yang di repotkan, jika kakak butuh sesuatu atau butuh teman, bisa telepon aku dan Melani.''
Alina hanya tersenyum kecil.
Akhirnya mereka baikan, semoga mereka mendapatkan pasangan yang sama sama baik. ucap Alina dalam hati.
''Di tahan ya, ini akan sedikit perih,'' dengan perlahan Putra mengoles obat pada lutut Alina yang terluka, meskipun gadis itu meringis, tak menyurutkan Putra untuk berhenti hingga tuntas.
__ADS_1
Ingat ada yang menyaksikan dari cctv ya Alina yang kini sudah cemburu buta.