
Ceklek, lampu yang tadinya remang remang kini gemebyar kembali, ruangan itu nampak keseluruhan dan tak ada yang samar dari pandangan mata Alina, wanita yang baru saja masuk itu mengedarkan pandangannya mencari saklar lampu yang memang belum ia hafal letaknya.
"Kak," panggil Alina saat tak mendapati seorang di sana.
Plok....plok... plok.... Sebuah tepuk tangan menggema menembus gendang telinganya, Alina yang masih mematung di belakang pintu mengarahkan matanya ke arah sumber suara yang ada di balik tangga.
"Kakak," menghampiri Erick yang berjalan pelan mendekatinya.
Plaaak.... Sebuah tamparan mendarat di pipi Alina dengan kerasnya.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Erick basa basi.
"Jam delapan," jawab Alina sedikit gemetar, memendam rasa takut. Meskipun ia tau kesalahannya, Alina tak menyangka kalau Erick akan marah.
"Dari mana kamu?" Tanya Erick melipat kedua tangannya.
Aku harus bilang apa, nggak mungkin aku bilang yang sebenarnya, bisa bisa kak Erick malah makin membenciku.
"Maaf, kak, seharian ini aku memang nggak kerja, aku pergi ke rumah kerabat jauh," jawab Alina menghilangkan keraguan.
"Apa kamu yakin dari rumah kerabat?"
Alina mengangguk dengan satu tangan masih mengelus pipinya yang terasa perih.
"Kenapa telepon dariku nggak di angkat?" tanya lagi Erick menyelidik.
"Kerabatku sakit, dan aku menunggunya di rumah sakit, karena takut mengganggu, aku matikan deringnya, dan seharian ini aku memang nggak dengar suara ponsel." Berkilah.
"Kamu jangan bohong," tiba tiba saja Erick mencengkeram dagu Alina dengan kuatnya hingga membuat Alina meringis kesakitan.
"Aku nggak bohong, Kak." Alina menahan air matanya yang hampir saja gugur, meskipun Erick kasar, Alina tak mau lemah di depan pria itu.
cih... mendorong tubuh Alina hingga terhuyung dan jatuh. Mata Erick yang menyala tak bisa di padamkan dengan Alina yang nampak ketakutan.
Alina merangkak dan bersimpuh di kaki Erick.
"Kak, aku nggak bohong, kakak percaya sama aku," Alina menangkup kedua tangannya, mencoba dan mengharap belas kasihan suaminya demi rencananya yang hampir saja terwujud.
__ADS_1
Namun kali ini Erick sudah terbawa emosi dan tak mendengarkan perkataan Alina, Dengan kasarnya pria itu menarik lengan Alina dan membawanya ke kamar.
Masih teringat dengan jelas bagaimana kecewanya saat ia datang ke restoran tak mendapati Alina.
"Kak, maafkan aku," entah berapa kali, Alina terus mengatakan rasa penyesalannya karena sudah mengabaikan telepon dari suaminya.
Lagi lagi Erick tak menggubris dan memasukkan Alina ke dalam kamarnya yang akhir akhir ini tak di huninya.
"Aku pikir kamu benar benar mencintaiku, ternyata kamu sudah berani berani keluar tanpa izin, itu artinya kamu memang tak menganggapku." menunjuk wajah Alina. Karena Erick sebagai seorang suami merasa di rendahkan Alina yang pergi tanpa pamit.
"Kak," Erick yang tak mau mendengar kini menutup dan mengunci pintunya, membiarkan Alina yang ada di dalam itu menjerit memanggilnya.
Alina hanya bisa merosot di balik pintu, kembali meratapi nasib yang menimpanya.
"Tapi sekarang aku nggak akan tinggal diam, aku harus lakukan sesuatu sebelum aku pergi."
Alina merogoh tas yang masih di cangklongnya dan mengambil ponselnya.
Tanpa pikir panjang, wanita itu menghubungi Pak Indra.
"Halo, om, ini aku Alina, om tolong aku untuk keluar dari rumah kak Erick," ucap Alina tersendat.
"Om, tadi aku ketemu sama pak Komar, dan dia ada sedikit bukti tentang seseorang yang membunuh papa Tirta, jadi Om tolong aku untuk bisa keluar dari rumah kak Erick."
Baiklah kamu tunggu, Om akan segera ke sana.
Setelah sambungannya terputus, Alina mendekati laci dan mengambil kertas dan pulpen di sana.
*Kak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan pembunuhan Papa Tirta, karena sebenarnya orang yang paling kakak hormati lah yang sudah membunuh papa Tirta, maaf jika aku lancang mengatakan tanpa bukti, karena aku ingin kakak sendirilah yang mencari tau, bahkan di saat kejadian itu, aku melihat punggung tangan yang bertahi lalat yang sudah menusuk papa dengan kejam, kakak harus lebih hati hati lagi, meskipun kita tidak bisa bersama lagi setelah ini, aku berharap kakak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, selamat tinggal.*
Setelah menulis uneg unegnya dalam hati, Alina melipat kertas itu dan meletakkannya di bawah botol lotion miliknya.
Wanita itu beralih membuka tirai gorden jendela kecil menanti kedatangan Pak Indra.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, sebuah mobil nampak dengan sinar lampu yang menyorot, dan Alina yang terkurung itu mengulas senyum, hatinya kembali bangkit, berharap keluar dari rumah Erick akan mendapatkan kehidupan yang layak.
"Alina," suara berat memanggilnya dari luar.
__ADS_1
"Buka pintunya!" Alina kembali berteriak saat di depan kamarnya terdengar keributan.
Ceklek, akhirnya Pintu terbuka lebar, Alina menatap Pak Indra dan Erick bergantian, lalu berhamburan memeluk pria paruh baya tersebut.
"Kamu yang tenang ya, mulai sekarang Om akan melindungi kamu."
Alin hanya mengangguk, Om Indra memang seperti malaikat penolongnya.
"Kak, mulai sekarang aku akan ikut Om Indra, aku tidak mau tinggal disini lagi, maaf jika kehadiranku membuat hidup kakak kacau, aku hanya ingin bahagia, sudah cukup kakak memberi luka selama ini," ucap Alina saat mematung di hadapan suaminya.
Tak ada jawaban, Erick hanya diam dan mengepalkan kedua tangannya, tak mungkin dia harus adu mulut di depan Pak Indra.
"Ayo, Al!" ajak Pak Indra meraih tangan Alina.
Alina berbalik memunggungi Erick.
''Sekali kamu keluar dari rumah ini, itu artinya kamu tidak akan bisa masuk untuk selama lamanya.'' Ancam Erick.
Alina dan pak Indra menghentikan langkahnya dan tersenyum.
''Tidak apa apa, aku tunggu surat cerai dari kakak.'' ucap Alina tanpa menoleh.
Setelah Pak Indra dan Alina hengkang dari ruamahnya, Ercik masuk ke dalam kamarnya dan memukul cermin, entah kenapa saat ini hatinya sakit bagaikan tertusuk jarum saat mengingat ucapan Alina, bahkan itu tak pernah terlintas dalam otak Erick.
''Kamu akan menyesal Alina, kamu akan menyesal.''
Arrrgh....Erick menjambak rambutnya, perginya Alina bagaikan mimpi di sore hari, di saat dirinya ingin menghempaskan hatinya pada wanita itu, justru kehilangan yang ia terima saat ini.
''Kamu yakin dengan ucapan kamu?'' Tanya Om Indra saat keduanya di dalam mobil.
Alina menggangguk, ''Aku yakin, Om, sebuah hubungan itu harus percaya dan saling cinta, tapi hubunganku dan kak Erick hanya ada dendam, kayaknya kami memang tidak cocok untuk bersama lagi.
''Baiklah, om tidak mau bela siapa siapa, dan om akan dukung keputusan yang menurut kamu baik, tapi kamu harus pikirkan lagi.''
Alina mengangguk.
Pak Indra yang sudah puas dengan jawaban Alina segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
__ADS_1
Di tengah tengah perjalanan, Alina hanya diam masih memikirkan apa yang baru saja terjadi, meskipun tekadnya sudah bulat, Alina tetap saja berpikir dua kali untuk mengembalikan keputusan akhir yang tidak akan merugikan siapapun termasuk Erick, suaminya.
Dulu aku pernah berharap hidup sama kamu sampai tua, tapi nyatanya kita hanya saling menyakiti, jika kita berjodoh, pasti kita akan kembali, namun jika tidak, aku relakan kakak dengan wanita lain, asalkan bahagia.