Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
PDKT


__ADS_3

''Bang Putra...'' teriak Erna saat mobil yang familiar itu hampir saja melaju dari halaman restoran, untung saja Putra melihat Erna dari spion, jika tidak, mungkin suaranya akan sia sia begitu saja.


Putra kembali mundur menghampiri Erna yang ada di tepi jalan.


''Ada apa, nebeng?'' cetusnya.


Erna menggeleng, meski saat ini tak bawa motor, bukan maksudnya untuk numpang gratisan.


''Nggak, aku cuma mau tanya.''


''Apa?''


Erna menggigit bibir bawahnya, masih sedikit ragu dengan apa yang akan di luncurkan.


''Boleh nggak aku masuk mobil abang sebentar?''


Putra mengangguk.


Setelah Erna duduk di samping Putra, gadis itu menatap wajah Putra.


''Bang, sudah sebulan lebih Alina menikah, sekali pun aku tidak pernah tau kabarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya, apa abang bisa mengantarkan aku ke sana?''


Putra diam mengetuk ngetukkan jarinya di stir.


''Gimana ya, Er, bukan nggak mau, aku saja di larang masuk ke rumah kak Erick, apa lagi kamu?''


Putra sedikit bingung dengan permintaan Erna.


''Ya, siapa tau aku boleh, nanti abang di luar saja, biar aku sendiri.'' Pinta lagi Erna memaksa, karena kali ini rasa rindunya tak bisa di bendung dan Erna ingin bercanda canda sekejap.


''Baiklah, aku akan antar kamu.''


''Terima kasih ya, bang,'' saking senangnya, tanpa sadar Erna memeluk Putra.


Selang beberapa detik, Erna menarik tubuh dan tangannya, malu saat Putra menatapnya tanpa suara.


''Ma... maaf, aku hanya refleks.''


Kenapa harus bilang refleks, kenapa nggak bilang sengaja saja.


''Nggak apa apa, lebih lama juga boleh.'' Godanya dengan membual.


Erna makin bersemu mendengar ucapan Putra.


Tiga puluh menit duduk manis di mobil mewah, kini mata Erna kembali di sejukkan dengan bangunan kokoh di depannya, masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. ''Ini beneran rumah suami Alina?'' Tanya Erna sebelum turun.


''Heeem.... Kenapa?''


''Alina beruntung ya, suami nya kaya raya, pasti ingin apapun tercapai, tinggal minta, beda dengan dulu, harus cari uang baru bisa beli apa yang kita mau.''


Ucapan yang tak berfaedah tiba tiba saja di lontarkan Erna.


''Apa kamu juga ingin punya suami kaya?'' tanya Putra memelankan suaranya.


''Aku nggak mau muluk muluk, takut nggak kesampaian, yang penting dia cinta sama aku pasti semua akan terasa indah.''


Ah.... kali ini Putra merasa jantungnya tak bisa di kondisikan, lama tak pernah dekat dengan wanita Erna kembali membuka pintu hatinya setelah Alina menikah dengan Erick.


''Apa kamu mau menjalani hubungan denganku?''

__ADS_1


''Hubungan apa, bukankah kita sudah menjadi teman,'' meskipun tak sedekat Alina, setidaknya Erna sudah mulai akrab dengan Putra.


''Hubungan yang lebih serius,'' lanjutnya lagi.


Erna menatap Putra dari samping, karena tak nampak matanya gadis itu menangkup rahang kokoh Putra dan menghadapkan ke arahnya.


''Kamu lihatin apa?'' Tanya Putra saat Erna menyusuri wajahnya


''Kata orang orang, manik mata itu menyimpan kejujuran dan kebohongan, keseriusan dan bercanda, aku akan mencari tau omongan abang di sana.''


Aduh...ternyata dia masih sangat lugu seperti Alina, lucu juga.


Putra hanya bisa terkekeh dengan tingkah Erna.


''Gimana, apa kamu percaya, kalau aku benar benar serius dan jujur?''


Aku harus jawab apa, ini terlalu cepat bagiku, dan Bang Putra anak orang kaya, apa lagi adiknya itu ketus banget.


''Aku....'' Erna masih menggantungkan ucapannya.


''Aku kasih kamu waktu seminggu, pikirkan baik baik, aku serius sama kamu.


Erna hanya bisa mengangguk.


''Baiklah, aku turun.''


''Aku tunggu di sini, salam buat Alina.''


Putra hanya bisa menatap punggung Erna yang kini ada di depan gerbang.


Akhirnya aku bisa move on dari Alina, semoga Erna mau menerimaku.


''Pak, Saya mau bertemu Alina,'' ucapnya.


''Anda siapa ya?'' tanya pak satpam menyelidik, seperti yang di katakan Erick, yang tak boleh sembarangan menerima tamu.


''Saya Erna, temannya Alina.''


Satpam itu diam seperti memikirkan sesuatu.


Dasar aturan orang kaya, tinggal buka gerbang saja pakai putar otak, apa lagi hitung uang mungkin pakai putar kaki juga.


Jengkel, Erna harus menunggu di tengah terik matahari, terpaksa ia menutup kepalanya dengan tasnya.


''Maaf Mbak, kami tidak menerima tamu selain keluarga pak Erick.'' Erna berkacak pinggang, namun tak bisa berkata apapun karena satpam itupun hanya menjalankan perintah. Akhirnya Erna memilih pergi dari pada nganggur.


''Kenapa balik?'' Tanya putra dari dalam mobil.


''Di larang masuk,'' jawabnya.


Putra semakin bingung saja, dan kembali mengingat ucapan Melani waktu itu, jika hanya untuk menjaga Alina, kenapa Erna sahabatnya pun tak boleh masuk.


Aku harus cari tau sendiri, sebenarnya apa yang terjadi dengan Alina, aku rasa ada yang terselubung dengan sikap kak Erick, tapi apa.


Tak menunggu waktu lagi, Putra kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Erna pulang.


Sesampainya di depan rumah, Erna segera turun, namun kali ini pandangannya kembali ke belakang saat mobil Putra masih saja di sana.


Terpaksa Ia menghampiri Putra kembali.

__ADS_1


''Mobilnya kenapa, Bang, mogok?'' Tanya Erna dengan bodohnya.


Masa iya mobil sebagus ini mogok, dasar, apa dia nggak tau apa maksudku.


''Nggak, aku haus, lupa bawa air.''


O....Erna manggut manggut mengerti.


''Kalau gitu, mampir yuk!" ajaknya


Yes.....gitu dong, dari tadi kenapa, apa nggak mau ngenalin sama calon mertua.


Baru sampai halaman, Putra melihat wanita tua yang mengambil jemuran.


''Bu,'' sapa Erna mencium punggung tangan wanita itu.


''Sudah pulang?'' Tanya nya, namun pandangannya beralih menatap Putra yang mematung di belakang Erna.


''Iya, tadi mampir ke rumah teman sebentar.'' Jawabnya lagi.


''Kamu belum bayar ojek?''


Erna menelan ludahnya dengan susah payah, sedangkan Putra mengangkat kedua bahunya, keduanya saling tatap mendengar ucapan Ibu Haya.


''Bu...'' Erna menarik tangan ibunya dan membawanya masuk, membiarkan Putra yang mematung di samping cagak jemuran.


''Itu bukan tukang ojek, tapi teman aku, namanya bang Putra, dia itu anak orang kaya, Bu,'' jelasnya dengan berbisik, seraya menatap Putra yang sedang kipas kipas pakai tangannya.


''Apa, jadi dia bukan kang ojek yang nungguin upah?''


Erna menggeleng, merasa bersalah dengan sikap ibunya yang kurang sopan.


Bu Haya kembali menghampiri Putra dan menggiringnya masuk.


''Aduh, kenapa nggak bilang kalau kamu ini teman Erna, Ibu kira tukang ojek,'' celposnya lagi, memaksa Putra untuk duduk di kursi yang minim empuk.


Biarlah jadi tukang ojek, yang penting penumpangnya cantik dan mau di nikahin.


''Putra, Bu,'' berjabat tangan dengan Bu Haya.


''Bentar ya bang, aku ambilin air minum dulu.'' Erna meninggalkan Putra yang sedang bercakap dengan Bu Haya di ruang tamu.


''Ibu ada ada saja, wajah tampan, penampilan kece kayak gitu, masa iya di bilang tukang ojek, parah benar tu emak emak, untung bang Putra baik dan nggak marah,'' gerutu Erna di belakang.


''Bang ini minumnya,'' menyodorkan segelas es jeruk di depan Putra.


''Di minum dulu, maaf cuma bisa ngasih itu,'' ucap Bu Haya, malu malu meong.


''Nggak apa apa, Bu, yang penting ngilangin haus.''


Setelah menilik jam yang melingkar di tangannya, Putra menatap keluar yang tiba tiba saja sedikit mendung.


''Er, kayaknya mau hujan, aku pulang dulu ya.''


Erna mengangguk dan mengantar Putra ke depan, sedangkan Bu Haya hanya bisa senyum senyum sendiri.


''Maafin Ibu ya bang, orangnya memang kayak gitu, maklum sudah tua.''


''Nggak apa apa, kapan kapan aku boleh mampir lagi kan?''

__ADS_1


Erna mengangguk dan melambaikan tangannya saat Putra masuk ke mobilnya.


__ADS_2