Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Pernikahan Putra dan Erna


__ADS_3

Jarum jam terus berputar, siang jadi malam dan seterusnya, hari pun berganti demi hari, sampai waktu itu tiba, dimana dua sejoli yang akan saling mengikat secara sakral. Seminggu semenjak keputusan Erick, kini Erna dan Putra sudah siap untuk membangun rumah tangga bersama, meskipun pak Bima mengekang keras, tak peduli bagi Putra, yang pastinya ia ingin hidup lebih mandiri.


''Jika kamu memilih wanita itu, itu artinya kamu siap untuk keluar dari rumah ini.''


Kata kata yang terlantar itupun tak menyurutkan niat Putra sedikitpun, Putra yang sudah siap dengan setelan jasnya terus melangkahkan kaki mendekati pintu utama, tak lupa koper ditangannya.


''Pa, tolonglah Pa, kasihan abang.''


Melani merengek di sela sela tangisnya, gadis itu terisak di saat keluarganya kembali pecah.


''Tidak. Dia sudah melawan papa, itu artinya dia sudah siap untuk menjadi gelandangan.''


''Tidak akan,'' sahut seseorang yang baru saja tiba, dengan tampilannya yang nampak gagah dengan jas berwarna navy, pria itu berdiri tegap di depan pintu.


Erick.


Pak Bima hanya bisa mengucap dalam hati saat melihat Erick yang menggandeng tangan Alina, rasanya sudah muak apa lagi harus mendekatinya.


''Putra tidak akan menjadi gelandangan, karena setelah menikah dia akan bekerja di perusahaanku.'' Lanjutnya.


Dengan tegasnya Erick menjelaskan, karena baginya sepupunya itu kini menjadi tanggung jawabnya.


Pak Bima bertepuk tangan melihat keponakannya yang sok jagoan itu, suasana sedikit mencengkam, Alina terus menggengam tangan Erick yang mengepal, tak ingin ada permusuhan lagi antara Pak Bima dengan suaminya.


''Sekarang kamu sudah berani melawanku, apa semua ini gara gara perempuan itu?''


Dengan tidak sopannya Pak Bima menunjuk wajah Alina.


Erick makin mengeratkan giginya, seandainya Alina tak ada disana, mungkin tangannya sudah melayang di wajah pak Bima.


Alina menatap wajah Erick lalu menggeleng pelan memberi kode untuk tidak terbawa emosi.


''Jangan bawa Alina, semua ini murni dariku, aku sendiri yang menyuruh Putra untuk menikahi Pacarnya.'' Ucap Erick dengan lantang.


Amarahnya sudah membuncah di ubun-ubun, namun Erick tak bisa berbuat lebih saat Alina memeluknya dengan erat.


Alina terus membenamkan wajahnya di dada bidang Erick, berharap penuh akan kesabaran pria itu untuk tidak meladeni Pak Bima yang terus memancing emosinya.


''Mendingan kita pergi sekarang ya kak.'' mencoba mendorong tubuh Erick kebelakang menjauhkannya dari Pak Bima.


Dengan bersusah payah Alina membawa Erick masuk kedalam mobil, meskipun pria itu masih kekeh ingin menyelesaikan urusannya, bagi Alina tak penting, dan saat ini yang terpenting adalah Erna yang sudah menanti kedatangan sang calon pengantin.


''Kak aku ikut,'' teriak Melani yang mematung di ambang pintu.


Erick membuka kaca mobilnya menoleh menatap Melani yang terlihat melas.

__ADS_1


''Ikut saja, Mel, terserah mau ikut mobil bang Putra apa disini.''


Akhirnya Melani memilih masuk ke mobil Putra, takut mengganggu Erick dan Alina.


...----------------...


Bukan di sebuah hotel berbintang, namun di sebuah apartemen mewah yang baru saja dibeli Erick, itung itung hadiah untuk Putra yang akan menjalin rumah tangga bersama Erna, kini suasana di sana cukup ramai, meskipun hanya keluarga kecil dan beberapa sahabat yang hadir, nyatanya Erna merasa sudah spesial.


Cukup lama, karena sedikit ada drama antara Pak Bima dan Erick, kini sosok pria yang di tunggunya itu sudah tiba.


Ada ulasan senyum yang terukir saat Erna menatap calon suaminya itu datang. Begitu juga dengan Putra yang langsung menerobos masuk menghampiri Erna.


''Akhirnya pengantinnya datang juga,'' cetus pak penghulu seraya mengelus dadanya.


Pria itu itu bahkan sudah buang air kecil sampai tiga kali saat menunggu kedatangan mempelai.


''Kak, ayo dong kita masuk, kasihan bang Putra sendirian.''


Keluh Alina saat Erick melarangnya untuk membuka pintu mobil, bahkan Erick terus merangkul pundak Alina, mengisyaratkan untuk tetap mendampinginya.


Lagi lagi Alina mendengus kesal saat Erick tak menggubrisnya, wanita itu hanya bisa menatap punggung Sigit yang nampak bergetar.


''Untuk apa aku dandan se cantik ini kalau kita hanya diam disini,'' protes lagi, menjewer bajunya yang dibelikan Erick dua hari yang lalu.


''Kamu lupa kalau kamu sudah punya suami?''


''Ya sudah, kalau gitu anggap saja kalau kamu dandan buat aku, bukan begitu Git?''


''Iya, Pak." jawab Sigit seketika.


Apa apaan mereka ini, apa mereka sudah bersengkongkol untuk ngerjain aku, Ya Tuhan bos dan sekretaris yang tak beradab, bisa bisanya punya pikiran yang mesum.


Kesal, itulah yang meliputi diri Alina, namun apalah daya, ia hanya bisa menatap pintu apartemen yang terbuka lenbar.


Ingin sekali ia memberontak, namun Alina tak berani, takut salah langkah.


Selang beberapa menit jenuh, kini Alina tersenyum saat mendapati seseorang yang familiar itu turun dari mobilnya.


Pak Sigit, itu Diana datang." menunjuk mobil yang terparakir sedikit menjauh.


Wajah Sigit berbinar, namun ia tak boleh kegirangan menjaga atasan yang selalu mengintainya dari belakang.


"Sekarang kamu temui Diana!" Titah Erick.


Dengan senang hati Sigit keluar dari mobil menghampiri sang pujaan hati.

__ADS_1


"Kita juga ya kak," Alina mengedipkan matanya dengan cepat, membuat Erick terpesona saat menatap manik matanya.


"Kasih ini dulu." Dengan sengaja Erick menunjuk pipinya, menggoda Alina yang sudah tak sabar.


Apa nggak ada cara lain untuk membukanya jengkel, kenapa terus meminta cium dan cium.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi Erick dengan lembutnya.


Erick tersenyum dan membukakan pintu untuk istrinya. Namun tiba tiba saja langkahnya berhenti saat melihat Sigit yang masih berada di samping mobil.


Nampak Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Diana yang bersandar mobil di depannya.


Wah, ini mah nggak bisa dibiarain, belum nikah juga ciuman di depan umum, merusak generasi.


"Kamu masuk dulu ya, aku ada perlu sebentar." Mencium kening Alina sebelum keduanya terpisah.


Alina mengangguk.


Dengan langkah lebarnya Erick menghampiri Sigit, tak mau lama lama pria itu menepuk punggung Sigit dari belakang.


Ckckck


Hanya decakan yang didengar Erick, bahkan sedikitpun pria itu tak menoleh, Akhirnya Erick kembali menepuk punggungnya untuk yang kedua kali.


Lagi lagi Sigit tak menggubris, kali ini hanya lambaian tangan yang memberi kode untuk tidak mengganggunya.


Eheemmm... Akhirnya Erick berdehem dan melipat kedua tangannya.


Sigit membulatkan matanya, dan memundurkan wajahnya, perlahan pria itu menoleh menatap gerangan yang mematung di belakangnya


"Bapak ngapain disini?" tanya Sigit antusias.


"Ngawasi kamu."


Diana menggeser tubuhnya dan tersenyum simpul.


"Kamu ngapain, Di? apa tujuan kamu datang ke sini? aku nggak mau kamu terjerumus terkena rayuan Sigit, dari pada harus pacaran mendingan menikah seperti Putra dan Erna."


Kapan pak Erick bisa mengucap nama Erna dengan sempurna.


"Maaf kak, aku salah, harusnya lebih berhati hati lagi."


Sigit pun sama, bisa bisanya bibirnya itu ingin nyosor saat melihat kecantikan Diana.

__ADS_1


Diana meninggalkan Erick dan Sigit.


''Sekarang dengarkan aku! Diana itu adik aku, dan aku nggak mau dia terlalu bebas dengan laki laki yang belum sah menjadi suaminya, dalam keluarga kami, pantang untuk itu, jadi jika kamu serius jangan seperti ini."


__ADS_2