
''Di, jemput aku!" suara Alina dengan serak dari balik telepon, gadis itu nampak kacau saat membuka mata, di mana ia tak mendapati suaminya ada di sisinya.
Tak menyangka Erick akan meninggalkan dirinya di saat terlelap, bahkan sedikitpun Alina tak sadar dengan perginya pria itu.
"Aku yakin kalau kak Erick menemui Luna."
Alina hanya bisa menerka karena sepatah katapun Erick tak memberi kabar padanya.
Sembari menunggu Diana datang, Alina membersihkan diri bersiap untuk pergi, tak ingin menghubungi suaminya yang entah ada di mana.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya seseorang yang di tunggunya datang, Alina kembali menitihkan air matanya dan memeluk Diana yang masih berada di ambang pintu.
"Kakak kenapa?" kaget, tak seperti tadi malam yang tertawa renyah dengan candaannya, kali ini Alina terlihat sedih.
"Aku ingin ke rumah kamu."
Tanpa pikir panjang, Diana membawa Alina masuk kw mobilnya, bukan saatnya untuk terus bertanya, dalam perjalanan Diana membiarkan Alina yang hanya diam.
Kasihan kak Alina, apa kak Erick menyakitinya lagi.
"Kakak bisa cerita ke aku, apa yang membuat kakak nangis?" akhirnya Diana memecahkan suasana yang amat hening.
"Semalam kak Erick nggak pulang, dan dia juga nggak ngasih kabar."
"Apa?" Diana tak kalah terkejutnya seperti Alina. "Perginya jam berapa?"
"Aku juga nggak tau, Di, yang pastinya saat aku tidur diam diam dia keluar rumah."
Sedikit lelah dengan keadaan, Alina menyandarkan kepalanya, ingin berhenti sejenak dari masalahnya saat ini.
"Ya sudah, kakak di rumah saja, biar nanti aku yang tanya sama kak Erick."
"Jangan!" seketika Alina melarang Diana, takut kalau ini akan menjadi panjang dan rumit.
Setelah membelah jalanan yang ramai, kini Diana sudah memarkirkan mobilnya di depan rumahnya, setelah turun gadis itu menggandeng tangan Alina untuk masuk.
"Kak Alina, jadi Diana jemput kakak?" tanya Romi yang membukakan pintu untuk keduanya.
Masih teringat jelas beberapa menit yang lalu saat Diana mengabaikan dirinya dan buru buru pergi.
Alina hanya mengangguk, sedangkan Diana malah mendorong tubuh Romi, memberi ruang Alina untuk lewat.
"Alina..." seru Bu Rasti yang baru saja keluar dari kamar, tak hanya Bu Rasti, pak Indra pun sedikit tekejut dengan mimik wajah Alina yang terlihat gundah.
"Om, tante." Memeluk Bu Rasti, membenamkan wajahnya di pundak wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Kamu kenapa lagi?" mengelus rambut Alina.
"Semalam kak Erick nggak pulang," ucap Diana, "Dan dia juga nggak kasih kabar ke kak Alina."
Terdengar helaan napas panjang Pak Indra, masih sedikit bingung akan situasi yang membelit keponakannya, apa lagi penyelidikannya selama ini sama sekali belum membuahkan hasil.
"Ajak Alina ke kamar!" Titah pak Indra.
Segera pria itu menghubungi Erick untuk meminta penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa kali Pak Indra mencoba menghubungi, namun nihil, ponsel Erick tak dapat di hubungi.
"Rom, coba ke rumah kakak kamu, ponselnya nggak bisa di hubungi."
Tak banyak kata, Romi segera keluar dari rumahnya. Baru saja menancapkan gas dan hampir melewati gerbang, mobil familiar datang dari arah berlawanan, dan itu mengurungkan niat Romi dan memilih untuk kembali keluar.
"Apa Alina ada ada sini?" tanya pria yang baru saja datang dari dalam mobilnya.
"Ada, kak, tadi Diana yang jemput." jawab Romi, pria yang tak lain adalah Erick itu bernapas lega setelah tadi gugup bercampur bingung melanda.
Tanpa pikir panjang, Erick berlari masuk ke dalam rumah.
"Mana Alina, Om?" tanya Erick nada serius.
"Di kamar tamu, kamu dari mana semalam?"
Terdengar suara tangisan yang menusuk gendang telinganya, Erick menghentikan langkahnya di samping pintu, diam sejenak.
"Tante Yakin Erick tidak akan berbuat macam macam, mungkin saja dia memang ada keperluan mendesak dan lupa memberi tau kamu."
Meskipun ragu mengatakan itu, Bu Rasti menenangkan Alina untuk tidak emosi.
"Tapi sebelumnya ada pesan dari Luna tante, dia ngajakin ketemuan di cafe," ungkap Alina disela sela tangisnya.
Erick yang mendengar hanya tersenyum simpul.
Rupanya dia cemburu.
Tak betah untuk lama lama sembunyi di balik kegusaran Alina, Erick masuk ke kamarnya dengan melipat kedua tangannya.
"Sayangnya aku nggak lihat pesan itu," ucap Erick mengejutkan seluruh isi kamar termasuk Alina yang masih terisak.
Gadis itu menoleh dengan spontan ke arah Erick yang nampak gagah dengan baju kantornya.
"Kakak," cicitnya.
__ADS_1
Bu Rasti beranjak menghampiri Erick menepuk lengannya lalu keluar, begitu juga dengan Diana.
"Tadi malam aku pulang, ada berkas yang ketinggalan, tadinya aku mau bangunin kamu, tapi nggak tega, karena sepertinya kamu mimpi indah, pas nyampai jalan ponsel aku tiba tiba saja mati, sedangkan yang lain ketinggalan di koper." duduk di samping Alina dan merangkulnya meletakkan kepala Alina di pundaknya.
"Bukannya bertemu dengan Luna?"
Erick menggeleng, karena kenyataannya memang tidak seperti yang di duga istrinya.
"Maaf," hanya kata itu yang meluncur dari sudut bibir Alina, merasa bersalah karena sudah berburuk sangka pada suaminya.
"Lain kali jangan langsung ngambek, kayak anak kecil saja," menjepit hidung Alina hingga memerah, gadis itu hanya tersenyum kecil, malu dengan kelakuannya yang ke kanak kanakan.
Erick menatap pintu yang ternyata sudah tertutup rapat, ada rencana yang terselubung pagi ini melihat rona bibir istrinya.
Tanpa aba aba pria itu menarik ceruk leher Alina dan mendaratkan ciuman di bibir gadis itu dengan amat lembut dan lama.
Tak bisa menolak ataupun menghindar, itulah Alina, bagaikan terhipnotis dengan kelembutan Erick, bahkan Alina memejamkan matanya, tubuhnya lunglai dan tak bisa berbuat apa apa selain menerima ciuman itu.
"Terima kasih untuk hadiahnya." Ucap Erick setelah melepas pangutannya.
Alina hanya menunduk, hatinya bersorak kegirangan, kali ini Alina benar benar yakin akan sikap Erick, dan tak ada alasan untuk meragukan pria itu.
"Sekarang kita keluar, nggak enak sama tante Rasti dan Om Indra." Erick menyelipkan anak rambut yang menutupi pipi Alina.
''Kak,'' panggil Alina lagi saat tangan Erick memegang knop pintu kamar itu.
''Ada apa lagi, apa kamu butuh sesuatu?'' tanya Erick.
''Aku mau pulang ke rumah.''
Erick kembali memutar tubuhnya dan merengkuh tubuh Alina lalu mencium pucuk kepalanya berulang kali.
''Tapi aku tetap mau kerja di restoran pak Anton, lanjut Alina lagi.
Tu, kan, Anton lagi, apa hebatnya restoran itu.
''Tidak apa apa, yang terpenting kamu mau tinggal di rumah lagi.''
Semoga pilihanku ini tepat, karena aku tidak akan membuka pintu hatiku untuk yang kedua kali jika sampai kakak menyakitiku lagi.
Dengan wajah berseri seri keduanya bergabung dengan yang lain di meja makan.
''Sudah kelar masalahnya?'' Cetus Om Indra sebelum melayangkan sendok ke dalam mulutnya.
''Sudah, Om, untuk hari ini titip Alina tante, nanti kalau pulang kerja aku ke sini lagi.''
__ADS_1
Bu Rasti hanya mengangguk.
Semoga pernikahan mereka awet sampai tua seperti yang di harapkan kak Hani.