
''Kok buru buru, Di, mau kemana?'' Tanya Bu Rasti saat melihat putrinya berlari kecil menuju pintu utama.
''Maaf Ma, ada janji,'' jawabnya, tak menghentikan langkahnya dan terus berlari hingga tak nampak.
''Janji sama siapa sih, kok kayaknya penting banget,'' cicit Bu Rasti heran, tak biasanya Diana mementingkan urusan luar dari pada makannya, apa lagi Diana baru beberapa hari pulang.
''Cowok kali,'' celetuk Romi yang baru saja datang.
Sedangkan Pak Indra memilih bungkam dan tak menerka apapun.
''Aduh, sudah telat lima menit nih, kira kira pak Sigit masih nunggu nggak ya?''
Tak mau terlambat lebih lama, Diana segera menerobos jalanan menuju tempat tujuan.
Perkenalan singkat yang membuat Sigit jengkel, namun penuh makna di mana mereka berkenalan dengan tujuan yang sama, yaitu membantu Alina lepas dari jerat Erick, dan Sigit langsung menyetujui ide dari Diana untuk ketemuan.
Sigit yang sudah berada dicafe sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah lewat lima belas menit, dan baru kali ini ia merasa di permainkan oleh seorang perempuan. Apa lagi belum di kenalnya dengan jelas.
''Niat nggak sih, lama banget, memangnya dia pikir urusanku cuma dia doang, untung hari libur, kalau tidak, aku suruh ganti gajiku satu bulan.'' gerutunya sembari mengetuk ngetukkan jarinya di atas meja.
Sigit kembali meneguk latte hingga kandas dan masih belum ada tanda tanda wanita yang memakai baju berwarna pink seperti yang di katakan waktu di telepon.
''Mendingan aku pulang, dari pada nungguin, bikin sebel."
Akhirnya Sigit memilih beranjak dari duduknya dan keluar, baru saja membuka pintu, pria itu terkejut saat benda keras menghantam dada bidangnya yang tertutup kemeja.
''Ma... maaf, Tuan,'' jawab seseorang dengan kepala menunduk dan kedua tangan menangkup.
Sigit diam menatap baju dan rambut seorang gadis di depannya tersebut.
Kok nggak ada suara, apa orang ini bisu, terka gadis itu dalam hati.
Karena saking penasaran gadis itu mendongakkan kepalanya dengan perlahan, menatap wajah Sigit yang terlihat garang dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
''Ini orang apa patung ya?'' dengan tidak sopannya gadis itu mencubit rahang kokoh Sigit.
Sigit yang merasa di hina menajamkan pandangannya dan mengangguk lalu menjewer kerah baju gadis itu.
Ternyata manusia, aku kira robot jadi jadian.
''Maaf,'' ucap Diana polos.
''Untuk?'' Tanya Sigit, masih nada garangnya.
''Untuk dada Tuan yang aku tabrak, apa Tuan minta ganti rugi?'' tanya gadis itu dengan polos.
__ADS_1
''Maaf tuan, aku masuk dulu, sudah terlambat.'' Ucap gadis itu mengingat tujuannya datang.
Sigit tersenyum tipis dan melepaskan baju gadis itu lalu meninggalkannya menuju mobil.
Dasar ABG, kalau sudah ingat pacar jadi lupa daratan.
Hampir saja membuka pintu mobilnya, ponselnya berdering.
''Halo,'' sapa Sigit.
''Halo, pak, aku sudah ada di dalam cafe, Bapak di sebelah mana ya?'' Tanya orang dari balik telepon.
''Aku ada di halaman cafe,'' jawab Sigit kemudian, ''Tapi aku akan masuk.'' lanjutnya lagi.
Whaattt... apakah orang yang aku tabrak itu namanya pak Sigit, kalau iya, dia masih mau kerja sama nggak ya?
Diana hanya bisa membatin saat menatap seorang laki laki yang celingukan di ambang pintu.
Setelah menyusuri seluruh isi cafe, mata Sigit menangkap gadis yang satu satunya memakai baju berwarna pink yang saat ini menutupi wajahnya dengan tas.
Eheemmm.... Suara deheman membuat gadis itu menurunkan tasnya dengan pelan lalu tersenyum.
''Pak Sigit,'' cicitnya, mengulurkan tangannya.
Tak menerima Sigit duduk di depan gadis itu.
''Sigit,'' jawab Sigit singkat.
Suara saja mahal, muka tampan gitu, tapi pakai profilnya hello kitty, dasar banci.
''Langsung saja, apa yang mau kamu katakan?'' Tanya Sigit mengawali pembicaraan.
''Aku nggak bisa kalau harus serius, santai sedikit dong.'' rengek Diana.
Apa dia mau mempermainkan aku, apa dia hanya berbohong tentang Alina. batin Sigit.
''Tapi aku maunya serius, cepat katakan atau aku pergi,'' ancam Sigit.
Terpaksa Diana harus serius.
''Jadi kak Alina sama kak Erick semalam datang kerumah, dia memberiku surat, dan katanya bapak mau menolongnya, aku mau bantu bapak, kasihan Kak Alina.' Ucap Diana ke inti.
Kak Alina, datang ke rumah, itu artinya Diana anaknya pak Indra yang baru pulang dari luar negeri itu, aku kira temannya Alina.
Sigit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan, tapi entahlah karena saat ini harus fokus dengan Alina.
__ADS_1
''Baiklah, mulai sekarang kamu harus sering datang ke rumah Pak Erick, dan cari tau apa yang membuat pak Erick membenci Alina, tapi jangan sampai dia curiga sama kamu, kalau sebenarnya kamu hanya pura pura.''
''Itu artinya aku harus berakting dong?'' selak Diana sedikit tak terima.
Sigit mengangguk tanpa suara.
''Kamu tau kan, pak Erick itu sangat cerdik, dan jangan sampai ketahuan, karena jika itu sampai terjadi, pasti Alina kena getahnya.''
Pak Sigit kan sekretaris Kak Erick, kenapa dia sangat peduli dengan kak Alina, bahkan ia harus mengkhianati kak Erick demi menyelamatkan kak Alina, apa ada sesuatu di antara mereka.
Cetik.... suara jari di depan wajah Alina yang membuat sang empu tersentak kaget.
''Kenapa bengong?'' tanya Sigit.
Diana hanya menggeleng tanpa suara masih memikirkan cara untuk membuka hati Erick.
''Kayaknya bapak sudah lama kenal kak Alina?'' tanya Diana menyelidik.
''Bukan urusan kamu,'' jawabnya cuek.
''Kenapa bapak pakai profil hello kitty, bukankah lebih keren pakai poto sendiri,'' oceh Diana yang ingin membuat candaan.
''Kalau pakai poto sendiri banyak cewek yang mengejarku terutama kamu,'' ucapnya, menoyor jidat Diana lalu beranjak.
Diana tetap diam mengelus jidatnya lalu menoleh menatap punggung lebar Sigit yang sudah berada di luar cafe.
Sadar akan kepergian Sigit, Diana pun berlari mengejarnya. ''Bapak tunggu!" Teriak Diana menghadang mobil Sigit yang hampir saja melaju. Tanpa rasanya takut Diana menggedor gedor kaca mobil Sigit.
"Ada apa lagi, kan urusan kita sudah selesai?" tanya Sigit menyembulkan kepalanya.
"Bapak mau kemana?" tanya Diana.
"Pulang lah, memangnya kenapa?"
Diana langsung berlari ke arah samping, membuka pintu lalu duduk di samping sang supir.
"Hai, ngapain kamu duduk di sini?" Sigit menatap Diana yang saat ini malah asyik ngaca.
"Yang selesai kan situ doang, aku belum, main tinggal tinggal saja, itu namanya nggak sopan." Diana berkilah dan memanyunkan bibirnya, alih alih ngambek.
"Kalau gitu kita selesaikan di rumahku berdua saja." Godanya dengan menaikkan kedua alisnya dengan cepat.
Diana yang terkena hembusan napas Sigit seketika berkeringat dingin, baru kali ini ia dekat dengan laki laki asing, dan jantungnya, oh... tidak, jantung Diana terus menari nari bersamaan rasa gugup yang melanda.
"Nggak jadi aku pulang saja." Diana kembali membuka pintu dan keluar.
__ADS_1
Baru di gituin saja sudah takut, apa lagi di ajak sekamar berdua, ah benar benar nggak asyik.