Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Kembali


__ADS_3

Dua tahun, waktu yang sangat panjang untuk menunggu, hingga harapan itu terus menyelimuti Alina, menanti kedatangan suaminya, namun itu bagaikan sehari bagi Erick, nyatanya sampai waktu yang dijanjikan tiba Erick belum bisa membersihkan nama Alina dari dirinya. Akan tetapi hidup terus berlanjut hingga menuntut Erick menepati janjinya untuk pulang.


Hilang bagaikan ditelan bumi. Seperti seorang pengembara, Kini pria itu sudah menghirup udara segar kembali.


Di bandara internasional nampak wajah kokohnya dan tubuhnya yang masih tak berubah, namun ada satu perubahan yang kini melekat, jika dulu pria itu sangat dingin dan angkuh, kini Erick nampak murah senyum dan menyapa, pria itu bagaikan lahir kembali dengan sosok yang berbeda.


''Kita kemana dulu?'' Tanya seorang wanita cantik yang ada disampingnya.


''Aku mau kerumah sakit, kepalaku sedikit pusing.'' jawab Erick memijat pangkal hidungnya.


Setelah memesan kendaraan, Erick segera meluncur ke rumah sakit, bukan hanya pusing, beberapa hari sebelum pulang tubuhnya memang tak bersahabat.


''Sof, nanti kamu tinggal diapartemen ya, nanti biar aku antar kamu.''


Gadis yang dari tadi bersamanya itu mengangguk.


''Kalau kamu gimana, apa kamu tinggal sendiri di rumah?''


Erick mengangguk, tak mau bercerita banyak dan tak mau mengorek masa lalu, baginya semua sudah terkikis oleh waktu.


Tak ada percakapan, Erick kembali menikmati pemandangan kota, meskipun sudah sekian lama hengkang, pria itu tak pangling dengan bangunan yang berdiri kokoh di sana, bahkan sesekali Erick mengulas senyum saat menatap sesuatu yang ada kenangannya di masa lalu.


Tiga puluh menit kini Erick sudah tiba di salah satu rumah sakit yang terkenal, dengan langkah lebarnya pria itu menghampiri resepsionis yang bertugas.


''Ada yang bisa saya bantu, Pak?'' tanya Wanita cantik yang ada di depan Erick.


''Apa pak Adam masih bertugas di sini?''


Wanita itu menatap penampilan Erick lalu mengangguk.


''Silakan bapak lurus saja, nanti belok kiri, pas disana ruang Dokter Adam.''


Erick hanya mengikuti arah jari wanita itu menunjuk.


Mungkin orang orang memang merasa sedikit aneh saat menatap dirinya. Dengan rambut yang sedikit gondrong, dan kumis tipis, serta jambang, Erick nampak tak terurus, namun pria itu begitu percaya diri dengan wajah barunya saat ini.


"Masuk!" sahutan dari dalam setelah beberapa kali Erick mengetuk pintu.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Dokter Adam mengulurkan tangannya ke arah Erick, lalu menatap gadis yang ada di sampingnya.


Ini istrinya atau apanya, masa iya mau maunya sama laki laki brewokan.


Dokter yang bernama Adam itupun sedikit geli melihat wajah Erick yang menurutnya tak karuan.

__ADS_1


''Siang Dok, kepala saya pusing, kira kira sakit apa ya dok?'' keduanya malah bagaikan orang asing, padahal mereka dulu adalah teman dekat.


''Keluhannya apa saja Pak?'' tanya Dokter Adam mulai membuka buku di meja. Pria itu benar benta tak mengenali Erick yang kini ada di hadapannya.


''Keluhannya kesel, sebel, karena sahabat sendiri tidak mengenaliku.''


Dokter Adam yang tadinya menatap Erick sekilas, kini berubah menjadi lekat, pria itu mengerutkan alisnya menyusuri setiap jengkal wajah Erick.


''Masih nggak ingat juga?'' Celetuk Erick saat Dokter itu mengetuk ngetuk jidatnya.


''Aku tau sekarang, Kamu Erick kan, pria dengan sejuta pesona ketampanannya melebihi artis korea.''


Erick hanya menjetikkan jarinya, setelah tebakan Adam benar.


''Erick, ini benar benar kamu.'' Dokter Adam beranjak dan mendekati sahabatnya.


Keduanya berpelukan melepas rindu yang sudah lama terpendam.


''Apa kabar kamu?'' bukan hanya keluarga yang bingung dengan kepergian Erick, semua sahabat dan rekan kerjanya pun ikut penasaran dengan perginya pria itu.


''Aku baik, dan sekarang aku lebih baik dari yang dulu.''


Dokter Adam tak menyangka kalau Erick akan kembali lagi.


''Nanti juga tampan lagi, apa kamu mau saingan sama aku.'' Tantang Erick.


''Aku sudah tua, anakku sudah dua, ya pastilah kalah sama kamu.'' Keduanya hanya bergelak tawa.


Dokter Adam menutup gorden dan kembali mendekati Erick yang sudah berbaring diatas brankar.


''Siapa perempuan itu?'' Tanya Dokter Adam yang mulai mengambil stetoskop.


''Namanya Sofi, dia bekerja di luar negeri sudah sangat lama, dan kebetulan kami barengan saat di pesawat, karena dia bingung mau tinggal dimana, aku tawarin saja salah satu apartemen punyaku untuk dia.''


''Tapi kamu nggak ada rasa sama dia kan?''


Dokter Adam terus menyelidik.


''Nggak lah, karena hati aku masih ada satu perempuan yang belum bisa aku lupakan sampai saat ini, tapi aku nggak tau, mungkin saja dia sudah menikah lagi.''


Dokter Adam hanya manggut manggut mengerti. Meskipun tak tau pasti penyebab kepergian Erick, yang pasti ada masalah yang memang tak bisa pria itu hadapi.


''Kamu sehat kok, mungkin karena jatlag pesawat saja, setelah pulang dari sini aku sarankan kamu istirahat.''

__ADS_1


Setelah dikira cukup. Erick pun menerima resep dari Dokter Adam lalu pergi, selain lelah, Erick juga ingin menemui keluarganya yang lain yang memang belum tau kedatangannya.


''Pak, kita ke arah jalan ss dulu,'' ucapnya saat sang supir sudah menyalakan mesinnya, hampir saja mobil itu melaju, Erick kembali menepuk pundak sang supir saat matanya menangkap seseorang yang sangat familiar turun dari mobil yang ada di samping mobilnya.


"Tunggu sebentar, Pak!"


Alina, itu benar kan Alina, atau aku hanya salah lihat.


Erick mengucek matanya.


iya, ternyata itu Alina, aku nggak salah lihat


Mata Erick kembali berkaca, darahnya berdesir, ingin sekali pria itu melupakan Alina, namun lubuk hati yang terdalam masih saja tak bisa.


"Ada apa, Mas?" Tanya Sofi saat Erick menunduk.


Erick menggeleng dan kembali menoleh, kali ini bukan hanya Alina yang dilihat, namun seorang pria yang merangkul Alina dengan seorang bayi di gendongannya.


'Ternyata dia sudah menikah, dan pasti yang di gendongnya itu adalah anak mereka. Sekarang aku lega, dan aku akan kembali dengan kehidupan yang baru.' Lirih hatinya.


"Jalan, Pak!"


"Cup cup cup, diam ya nak, kita kan mau imunisasi, biar sehat.'' ucap Alina menenangkan bayinya yang tiba tiba saja menangis histeris.


''Kenapa ya, kok tiba tiba si Erlin, nangis, apa dia haus?''


Alina mendengus, betapa bodohnya laki laki disampingnya itu.


''Bang Adi, kalau dedek haus, pastinya dia mau di kasih minum, tapi lihat saja!" menunjuk dot yang sama sekali di tolaknya.


"Dia nggak mau."


Pria yang bernama Adi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa jangan jangan dia mau ikut Om kali ya,"


Pria yang bernama Adi itu bertepuk tangan serta menutup matanya, sesekali berjoged di depan bayi yang berumur satu tahun tersebut.


Akhirnya jerih payahnya membuahkan hasil, bayi Erlyn tertawa renyah memamerkan gusi yang belum di tumbuhi gigi.


Jika Erlyn tertawa, aku jadi ingat kak Erick, mereka mirip sekali, kak, kamu dimana, seandainya kamu tau anak kamu se lucu ini, apa kamu masih nggak mau juga kembali, apa kamu tetap ingin kita berpisah.


Tak terasa satu bulir cairan bening luruh membasahi pipi Alina.

__ADS_1


__ADS_2