Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Minum obat tidur


__ADS_3

Meskipun permintaan Melani adalah sesuatu yang sedikit memberatkan Alina, tetap wanita itu datang ke rumah Erick, tak mau semua orang tersakiti, dan cukup ia yang merasakan pahit dalam situasi itu.


''Kak Erick ada, Bi?'' ternyata pembantu yang membuka pintu saat Alina mengetuknya.


''Ada, Non, di kamarnya.''


Alina mengangguk dan berlalu menuju kamar yang ada di lantai dua.


Dengan langkah nya yang sedikit pelan, Alina berhenti di depan kamar Erick dan mengetuk pintu lagi.


Tak ada jawaban ataupun sahutan, disana nampak sepi, dan lampu kamar terlihat mati.


Apa Kak Erick masih tidur, ucap Alina dalam hati.


Wanita itu menatap jam yang melingkar di tangannya, sudah jam sepuluh pagi, dan itu biasa Erick melakukan aktivitas hariannya, tapi kenapa tak menjawab.


Akhirnya Alina kembali mengetuk pintu untuk yang kedua kali, dan lagi lagi sama, tak ada tanda tanda orang di dalamnya.


''Kak,'' terpaksa Alina mengeluarkan suaranya, hatinya sedikit was was saat tak mendapati apa apa disana.


''Kak kamu di dalam kan?'' ulangnya lagi.


Ternyata sama tak ada sahutan lagi.


Akhirnya ia memutar tubuhnya ingin turun kembali, namun saat ingin melangkahkan kakinya menuju tangga, Alina kembali menoleh ke arah kamarnya yang nampak terbuka.


Dengan jalan mengendap endap Alina mendekati kamar itu.


Apa kak Erick ada disini.


Karena penasaran, Alina menyembulkan kepalanya ke dalam dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


Kali ini Alina membelalakkan matanya saat mendapati kamar itu bagaikan kapal pecah. tanpa permisi wanita itu langsung masuk ke dalam.


''Kak Erick.'' sapanya, karena Alina tak melihat batang hidung pria itu.


Baru saja ingin ke kamar mandi, Alina di kejutkan dengan suaminya yang tergeletak dibelakang Sofa.


''Kak Erick,'' serunya menghampiri tubuh Erick yang sudah tak sadarkan diri.


''Ya ampun kakak, kakak kenapa?'' menepuk nepuk pipi pria itu. Wajah Alina berubah cemas saat meraih tangan Erick yang lemas dan dipenuhi darah kering.


Alina mendekap kepala Erick, hatinya ikut teriris saat melihat tangan Erick yang penuh dengan luka, tak tau apa yang terjadi Alina hanya bisa menerka nerka penyebab pria itu pingsan.


"Kakak bangun!" Alina meneteskan air mata, se besar apapun rasa bencinya dengan laki laki itu, tetap cintanya yang lebih besar mengalahkan segalanya.

__ADS_1


"Aku harus menghubungi pak Sigit."


Alina merogoh ponsel yang ada di tasnya lalu menghubungi sekretaris Erick.


Tak menunggu lama, ponsel langsung terhubung dan Alina mengatakan apa yang dia lihat di kamar suaminya. Dan tak lupa menyuruh Sigit untuk memanggilkan dokter.


"Kalau kakak seperti ini, aku semakin benci sama kakak, ayo bangunlah!" Alina pun ikut berbaring di samping Erick, mengelus pipinya dan menciumnya. Menunggu kedatangan Sigit. Tubuhnya ikut lemas tak berdaya dan ingin rasanya runtuh seketika.


Masih tak ada pergerakan, pria itu nampak terlelap dengan mimpinya.


Hampir tiga puluh menit berlalu, kini Alina segera beranjak saat suara Sigit memanggil namanya.


''Pak, aku di sini.''


Dengan wajah yang cemas Sigit menghampiri Alina yang masih mematung di tempat.


''Pak Erick,'' dengan mengumpulkan seluruh tenaga, Sigit mengangkat tubuh Erick dan membawanya ke ranjang.


"Dokter tolong periksa pak Erick!"melepas kancing baju Erick bagian atas dan melepas sepatu yang masih di pakainya.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Sigit, khawatir saat melihat wajah Erick yang sedikit pucat.


Alina menggeleng, karena dirinya pun tak tau apa penyebab Erick jatuh pingsan.


"Kenapa Dok, apa yang terjadi dengan pak Erick?"


Dokter merapikan alat-alatnya dan beralih mengobati luka di tangannya.


"Pak Erick mengkonsumsi obat tidur, dan mungkin akan sampai seharian ini dia nggak bangun." Tuturnya.


"Apa?! Seru Alina dan Sigit bersamaan.


Bagi Sigit ini adalah hal yang konyol, selama bekerja dengan Erick, Sigit tak pernah mendapati pria itu se-lebay ini.


Kenapa kak Erick minum obat tidur, apa dia ingin mati.


Rasa jengkel dan khawatir bercampur jadi satu menyelimuti diri Alina saat ini.


"Terus bagaimana ini? apa pak Erick perlu di rawat dirumah sakit?"


Dokter yang masih sibuk mengobati tangan Erick itu mengulas senyum.


"Tidak usah, Pak Sigit cukup jaga dia, dan setelah nanti Pak Erick bangun, bapak hubungi saya lagi."


Sigit mengangguk mengerti.

__ADS_1


Setelah selesai dengan tugasnya, dokter paruh baya itu pergi dari kamar Erick, Sedangkan Alina mengambil air mengelap tubuh Erick yang di penuhi dengan keringat.


Ada penyesalan gang mengendap di raut wajahnya, mengingat penolakannya saat itu, bahkan Alina tak bisa apa apa selain menunggu Erick terbangun dari tidurnya.


"Maaf Al, sebaiknya kamu saja yang jaga pak Erick, karena hari ini ada meeting di kantor, jadi aku nggak bisa lama lama di sini. Nanti kalau pak Erick bangun kamu hubungi aku."


Alina hanya mengangguk, setelah selesai membersihkan tubuh Erick, Alina ikut naik ke ranjang di samping suaminya.


Aku tau kalau Alina masih cinta sama pak Erick, mungkin pak Erick begini juga karena dia. Semoga mereka cepat baikan.


Akhirnya Sigit ikut hengkang dari kamar Erick.


Setelah Sigit menutup pintu, Alina memandangi wajah tampan Erick yang nampak sendu, bahkan napas yang teratur menandakan kalau saat ini Erick memang sedang terlelap.


"Kenapa kamu minum tidur sih kak, apa yang sebenarnya terjadi, apa ini gara gara kemarin, apa gara gara aku minta cerai dari kamu?"


Alina menyelimuti tubuh Erick lalu memeluknya dari samping, berharap pria itu cepat terbangun.


Jarum jam terus berputar, Alina ayang berniat menjaga malah ikut terjun ke alam baka, hingga mentari itu berada di ufuk barat. Tak ada yang mengganggu keduanya, karena semua pembantu tak berani untuk membangunkan Alina, yang ada di pelukan Erick.


Engghh


Suara lenguhan Erick saat merasakan berat di kakinya.


Dengan kepala yang sedikit pusing, Erick membuka matanya perlahan. Ditatapnya langit langit kamarnya.


Ternyata masih di kamar.


Setelah nyawanya kembali terkumpul, Erick kembali terkejut saat merasakan hembusan napas dari arah samping.


Seketika pria itu menoleh menatap seseorang yang masih setia memeluknya.


Alina, kenapa dia bisa tidur di sini?


Erick kembali mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya terlelap, dan matanya seketika berkaca saat menatap wajah Alina.


"Itu artinya Alina sudah ada di sini dari tadi." Gumamnya kecil.


Erick kembali menatap setiap sudut kamarnya yang masih berantakan. Lalu pria itu beralih menatap tangannya yang kini sudah di perban.


Alina ada disini, apa ini artinya dia masih memberikan kesempatan untukku.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di kening Alina, karena tak mau mengusik, Erick hanya diam di tempat menunggu Alina terbangun dengan sendirinya, mungkin akan lebih baik dari pada harus membangunkannya.

__ADS_1


__ADS_2