
Dengan langkah lebarnya, Erick mulai memasuki gedung kantornya, seperti dulu sebelum ia pergi, kini Erick kembali menjalani aktivitasnya sebagai pemimpin perusahaan yang sudah berdiri sejak puluhan tahun, tak hanya itu, Erick kembali menegakkan peraturan yang ketat bagi seluruh pegawai, baik itu karyawan bagian bawah sampai atas.
Tak ubahnya pada Sigit yang kini kembali menjadi sekretarisnya, meskipun pria itu berstatus sebagai sepupu iparnya, namun peraturan kantor tak bisa di ubah dan tetap sama.
Dengan semangat baru Erick mulai membuka laptop dan beberapa dokumen yang ada di mejanya, rupanya selama dua tahun tak membuat Erick lupa dengan semuanya.
Hingga map yang nomer tiga Erick hanya menatapnya lalu kembali meletakkannya, bukan di tempatnya melainkan di sisihkan di bagian kiri.
"Kenapa, Kak?" Tanya Sigit, menatap aneh Erick yang nampak masam.
"Apa perusahaan kita masih kerja sama dengan punya paman?"
Sigit mengangguk tanpa suara, meskipun hubungan kerabat yang tak terlalu baik. Sigit tak bisa memutuskan begitu saja, apa lagi saat ini Putra lah yang menjadi pemimpin perusahaan tersebut.
"Apa begitu pentingnya posisi perusahaan itu sampai kamu tetap bekerja sama dengan dia?"
Sigit yang sempat berdiri itupun kembali duduk di depan Erick.
"Kak, Pak Bima sakit, dan sekarang yang yang mengurus semua saham dan usaha yang lain adalah Putra dan Anton."
Hati Erick merasa tercabik, entah kenapa, meskipun ia masih sangat membenci pria itu, nyatanya hatinya sedikit teriris mendengar berita dari Sigit.
Akhirnya Erick kembali mengambil proposal itu dan menanda tanganinya tanpa membaca isi laporannya.
Di saat Erick dan Sigit sibuk, tiba tiba saja telepon yang ada di depannya berdering.
"Iya ada apa?" ucap Sigit setelah mengangkat teleponnya.
Pak, ada Pak Bima, beliau ingin bertemu dengan apa Erick
"Baiklah."
Sigit menutup sambungannya dan menatap Erick yang sibuk dengan pulpen di tangannya, bahkan sedikitpun pria itu tak ingin bertanya.
"Kak, ada Pak Bima di bawah."
"Bilang saja kalau aku lagi sibuk," namun pandangan Erick masih tak teralihkan.
"Tapi, Kak, ___
Seketika Erick menggebrak meja kerjanya.
"Apa kamu nggak dengar, aku sibuk." Jelasnya.
Sigit sebagai bawahan hanya bisa mengangguk lalu keluar.
Setelah punggung Sigit menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat, Erick mengepalkan tangannya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Meskipun Erick sudah berusaha membuang masa lalu tentang pak Bima, nyatanya Erick tak bisa melupakan pada sosok orang yang sudah membunuh papanya.
Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kamu.
Baru saja Erick membuka ponsel di tangannya, pintu ruangan kembali di ketuk dari luar.
"Masuk!" sahut Erick.
__ADS_1
Mata Erick membulat sempurna saat melihat seseorang yang sangat ia benci itu di kursi roda.
"Siapa yang suruh bawa dia masuk?" ucap Erick sedikit membentak.
Putra yang mendorong kursi roda itu menghampiri Erick yang terlihat memendam amarah.
"Kak aku mohon, papa hanya ingin bertemu dengan kakak, semenjak dia tau kakak pulang, papa nggak bisa tidur." Ucap Putra menangkup kedua tangannya.
Erick membalikkan tubuhnya, matanya berkaca mendengar ucapan Putra, namun egonya yang tinggi pun masih menguasainya.
"Tapi aku tidak mau bertemu dengan orang yang yang membunuh papa, bawa dia pergi!" menunjuk ke arah pintu ruangan.
Dengan tubuhnya yang lemah, pak Bima mencoba berdiri dengan bantuan tongkat.
"Rick, Paman tau paman salah, tapi izinkan paman untuk memeluk kamu."
"Tidak." Tukas Erick menepis tangan Pak Bima yang hampir menyentuh lengannya.
Sigit yang mendengar keramaian itu ikut masuk, takut jika Erick di luar kendali.
"Usir mereka! Apa pengamanan di kantor ini kurang memadai, sampai orang seperti dia bisa masuk."
"Kamu nggak perlu mengusirku Rick, aku pasti akan pergi."
Pak Bima kembali duduk di kursi rodanya saat kakinya merasa lentur dan lemas.
"Aku kesini hanya ingin mengetahui keadaan kamu, tapi karena kamu baik-baik saja, paman pulang."
Putra yang tau keinginan papanya itu kembali membawanya keluar ruangan.
Pak Bima hanya menggeleng, tak seperti dulu yang begitu garang dan angkuh, kini Pak Bima hanyalah manusia lemah, bahkan beberapa kali pria tua itu keluar masuk rumah sakit karena penyakit jantung yang di deritanya.
Baru saja lift terbuka, Putra di kejutkan kehadiran wanita yang sangat familiar di matanya.
"Kak Alina,"
Mata Alina tertuju pada sosok Pak Bima yang menunduk.
"Putra, paman," sapa Alina.
Masih dengan sikapnya yang dingin, sedikitpun Pak Bima tak ingin melirik Alina, apa lagi menatap.
Kira kira paman Bima ngapain ya kesini.
"Kok sudah pulang Put, apa sudah ketemu kak Erick?" Tanya Alina basa basi.
"Sudah, Kak," jawab Putra, senyumnya seketika menghilang saat Alina menyinggung nama suaminya.
"Apa ada masalah?" tanya Alina lagi menyelidik, karena Alina tau, dari mimik wajah Putra memendam sesuatu.
"Kak Erick tidak mau bertemu papa."
"Kita pulang." tukas Pak Bima, seakan melarang Putra untuk bicara.
"Aku pergi dulu, Kak. "
__ADS_1
Alina hanya mengangguk menatap Putra berlalu.
Apa sebenarnya yang terjadi, apa kak Erick masih dendam dengan paman Bima.
Alina yang tak jadi memencet pintu lift yang tertutup rapat itu malah tersenyum merogoh ponselnya yang ada di dalam tas.
"Kita kerjai papa yuk!" bisiknya, mendaratkan jarinya di bibir berharap Erlin tak bersuara.
Halo sayang, ada apa?
Di saat Hatinya tak bersahabat, tiba tiba saja telepon dari Alina bagaikan bongkahan air es yang mengguyur tubuh Erick.
Hihihihi..... Alina pura pura terisak.
Erick yang baru saja tenang itu kembali panik.
"Kamu kenapa, bilang dong?"
Erick beranjak dari duduknya dan mondar mandir, masih menunggu jawaban Alina.
"Kak, jemput aku!" masih nada merengek seraya manahan tawa.
"Iya, tapi sekarang kamu di mana?" Tanya Erick antusias, wajahnya nampak tegang mendengar suara tangis istrinya.
Kali ini Alina menghentikan sandiwara tagisnya dan tersenyum.
"Aku di bawah, di depan lift."
Erick menghempaskan tubuhnya di sofa ruangannya lalu melempar ponsel yang ada di tangannya itu ke meja.
Untung saja nyawaku belum melayang, kamu memang suka memancingku, dan seekor ikan hiu sangat suka dengan itu.
Dengan otak liciknya Erick segera keluar dari ruangannya.
"Sigit."
Sigit yang merasa namanya di panggil itu menghampiri Erick yang ada di depan ruangannya.
"Iya Kak, ada apa?"
"Alina dan Erlin kesini, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan?"
Siigit mengangguk mengikuti langkah Erick menuju lift.
"Itu papa," Alina menunjuk Erick yang baru saja keluar dari pintu lift.
Tak sungkan sungkan, Erick mencium kening dan pipi Alina di depan Sigit dan karyawan yang melintas.
Erick mengedipkan matanya ke arah Sigit, memberi kode untuk melakukan sesuatu.
"Erlin, kita main sama Neon yuk!" Sigit merentangkan tangannya.
Entah paham atau tidak, yang pastinya Erlin segera meranggeh tangan Sigit.
Erick langsung merangkul pundak Alina membiarkan Erick membawa bayinya entah kemana.
__ADS_1