
''Sudah selesai, Di?'' seru Bu Rasti sembari merapikan kembali hiasan ruang tamu, wanita itu terlihat begitu antusias dan berseri seri menanti tamu yang akan datang ke rumahnya dengan undangan khusus.
''Sudah, Ma,'' Diana menilik jam yang melingkar di tangannya, sesekali menengok ke arah pintu utama.
''Aku jadi penasaran sama istrinya kak Erick, kok mama kayaknya sayang banget sama dia, bukankah mama belum mengenalnya sama sekali?'' Tanya Romi yang kini sudah mencicipi makanannya duluan, dengan tidak sopannya Romi sudah mengambil nasi.
''Aiiisss.... kakak, nanti dong nungguin kak Erick dan Kak Alina.'' Seketika Diana menepis tangan Romi dan menarik piringnya.
''Dia itu cantik sekali dan terlihat polos, mama yakin kalau Erick akan bahagia, dan kayaknya Alina yang bisa mengubah sikap dinginnya kakak kalian.'' Ujarnya.
Diana menghela napas panjang dan menatap pintu kamar papanya yang masih tertutup rapat.
Aku harus cari waktu yang tepat untuk cerita ke papa, nggak mungkin aku bilang begitu saja tentang kak Alina yang katanya nggak betah tinggal di sana.
Acara yang akan di gelar sudah hampir tiba waktunya, karena ini bukan sekedar makan malam, tapi juga hari penyambutan pulangnya Diana yang sudah menyelesaikan studinya di luar negeri, dan Romi yang mau bekerja di negeri sendiri, dan itu sangat mengagumkan bagi kedua orang tuanya.
''Mau kemana, Di?'' Tanya Bu Rasti saat Diana beberapa langkah menjauh dari ruang makan.
Diana menoleh dan tersenyum simpul, tak mungkin Ia bilang mau bertemu sang papa yang masih betah di kamar untuk bercerita masalah Alina.
"Duduk sini!" pinta Romi menepuk nepuk kursi yang ada di sampingnya.
"Di..." Panggil Bu Rasti mendekati putrinya.
"Iya ma, ada apa, kayanya penting banget," Diana menatap wajah Bu Rasti yang mulai serius.
"Apa kamu siap di jodohkan dengan laki laki pilihan papa kamu?"
Diana diam, dan membulatkan matanya, tak percaya, baru berapa hari pulang sudah harus terlibat dengan perjodohan.
"Ma, aku mau kerja dulu, lagi pula, aku nggak suka di jodohkan." rengeknya dengan manja.
"Kenapa?" sahut Pak Indra yang baru saja keluar dari kamarnya.
Pria itu pun nampak serius saat mendengar penolakan Diana.
__ADS_1
Aku harus bilang apa, aku belum ingin menikah, apa lagi kata orang orang kalau di jodohkan itu nggak enak banget, kadang harus berantem karena nggak saling cinta, o... tidak, aku harus menolak.
"Pa, aku ingin kerja dulu, nanti kalau aku sudah siap aku bilang ke papa." Diana masih kekeh dengan pendiriannya.
Ciiih.... siap apaan, waktu itu di goda cowok saja nangis nangis, ejek Romi dalam hati.
Romi hanya bisa menahan tawa melihat Diana yang yang kesusahan mencari alasan untuk kedua orang tuanya.
"Ya sudah kalau gitu, kami juga nggak memaksa, tapi papa harap, pria pilihanmu harus lebih baik dari pilihan papa." sedikit ancaman bagi Diana.
"Makasih ya, Pa," Diana berhamburan memeluk Pak Indra.
Memangnya pria mana sih pilihan papa, aku jadi penasaran, tapi sudah ah, lebih baik aku fokus kerja dulu, urusan suami belakangan.
''Permisi,'' suara familiar membuyarkan semua nya yang masih berkumpul, tamu istimewa sudah datang, meskipun hanya Erick dan Alina yang di undang, Bu Rasti menyiapkan begitu banyak hidangan di rumah.
''Erick, Alina, kalian sudah datang,'' Bu Rasti memeluk Alina yang masih mematung di samping suaminya.
''Iya tante, bukan malam minggu, jadi nggak macet.''
''Kamu nyetir sendiri, Rick?'' sahut Pak Indra yang berada di kejauhan.
''Kak Erick,'' sapa Romi.
''Hei.... apa kabar dengan kamu?'' Keduanya saling adu tos, ''Sudah punya cewek kah?'' Tanya nya lagi menggoda.
''Belakangan, mendingan kerja dulu kayak kakak, nanti kalau sudah sukses, nyari istrinya kayak kak Alina, sudah cantik, baik, nurut lagi.'' menyungutkan kepalanya ke arah Alina yang kini berada di tengah tengah Diana dan Bu Rasti.
Meskipun sedikit lepas dari Erick, Alina masih belum bisa berbuat apa apa mengingat ancaman Erick sebelum pergi.
Ingat, kamu nggak boleh macam macam di sana, sekali lagi kamu berani ngomong sama Diana dan Om Indra, aku pastikan kamu tidak akan bisa lagi bertemu orang orang yang kamu sayangi, termasuk Erna, aku bisa melakukan apa saja pada gadis itu, dan jika terjadi sesuatu dengannya, kamulah orang yang harus bertanggung jawab.
''Kak Alina...'' suara Diana membuat Alina sedikit terkejut.
Alina menoleh dan tersenyum. ''Kenapa?''
__ADS_1
''Kakak nggak apa apa?'' tanya Diana menyelidik.
Erick yang duduk di ruang keluarga pun tak memalingkan pandangannya dari wanita yang berstatus istrinya tersebut.
''Aku nggak apa apa kok, selamat ya, kata Kak Erick kamu dapat nilai terbaik,'' kembali memeluk Diana.
Aku benar benar seperti bonekanya kak Erick, bicara saja aku harus dengan keinginannya, dan aku seperti wanita yang nggak punya harga diri, tapi aku harus sabar, semoga pak Sigit cepat membantuku.
''Rick,'' kali ini giliran Bu Rasti menghampiri Erick yang masih sibuk berbincang dengan Pak Indra.
''Ada apa tante, kayaknya serius banget.''
Erick menatap Bu Rasti yang duduk di sampingnya.
''Alina sudah isi belum, kok kalian nggak bulan madu sih?'' ucapnya sedikit berbisik, takut Alina malu.
Erick melirik ke arah Alina yang saat ini tersenyum, entah apa yang di bahas dengan Diana, kelihatannya gadis itu bahagia.
Aku harus bilang apa, aku kan belum pernah nyentuh dia. Batinnya.
''Belum ada tanda tanda tante, soal bulan madu, nggak sempat, banyak kerjaan.''
''Rick,'' Pak Indra menepuk lengan kekar keponakannya.
''Kurangi kerja kamu, Alina juga butuh perhatian, apa sih yang kurang, semua sudah kamu miliki, dan sekarang kamu harus membangun rumah tangga kamu dengan baik, karena tujuan menikah adalah saling mengisi kekosongan, kamu sudah tidak punya orang tua, sama seperti Alina, jadi sekarang kalian harus saling melengkapi, saling berbagi, dan saling ada di saat membutuhkan.''
Ucap pak Indra panjang lebar, sedikit menyesal karena tak bisa melihat tumbuh kembang seorang Erick, karena ada di bawah asuhan pak Bima.
Alina yang masih bisa mendengar ucapan pak Indra merasa terenyuh, di saat suaminya membencinya, masih ada orang yang memperhatikan kebahagiaanya.
Sedangkan Erick memilih cuwek dan tersenyum paksa.
''Di, boleh nggak aku numpang ke kamar mandi?''
Diana mengangguk dan menunjuk pintu kamarnya yang masih nampak dari ruang keluarga.
__ADS_1
Setelah masuk ke kamar Diana, Alina mengunci pintunya, membuka tasnya dan menghampiri nakas, meletakkan selembar kertas di sana.
''Semoga nanti Diana baca surat ini, dan dia bisa menolongku, dan semoga rencana ini berjalan dengan baik, meskipun kak Erick membenciku, aku ingin keluar dari rumah itu dengan baik baik dan tidak dengan bermusuhan.'' gumamnya kecil.