
Sapaan demi sapaan dari para karyawan terus menghiasi telinga Erick dan Alina saat menginjakkan kakinya di kantor, ini pertama kalinya Alina masuk ke gedung pencakar langit itu. Dan tak menyangka semua pegawai Erick ternyata sangat ramah gemulai menyambut kedatangan bosnya.
"Pagi pak." giliran Sigit yang menyapa saat Erick dan Alina di depan lift.
"Bagaimana? Apa yang aku perintahkan semalam sudah kamu lakukan?" nada datar, meskipun tadi pagi membuat Alina tertawa lepas, faktanya kini Erick memasang wajah kering bagaikan tanah liat.
"Sudah pak, dan hari ini juga pak Bima akan tiba di sini."
Erick melirik ke arah Alina yang berdiri sedikit di belakangnya.
"Sini..." meraih tangan Alina dan membawanya masuk saat pintu lift terbuka.
''Asisten baru, Pak?'' goda Sigit saat ketiganya sudah berada di dalam lift.
Hemmm...jawab Erick dengan tangan masih terpaut.
''Nemu di mana?'' Tanya Sigit lagi tanpa sopan santun.
''Di kolong ranjang.'' Jawab Erick tak mempedulikan Alina yang sudah geregetan, bahkan jari jarinya sudah geli dan langsung mencubit perut Erick yang terus bicara ngawur.
''Awww... sakit,'' keluh Erick mengusap bagian pinggangnya.
Sigit hanya menahan tawa dan menutup wajahnya dengan dokumen yang di bawanya.
''Kamu tertawa?'' menepuk pundak Sigit yang bergetar.
Terpaksa Sigit menurunkan mapnya dan menatap Erick.
''Nggak pak, cuma senam bibir saja.'' Kilahnya. Tak mau membuat Erick malu.
Sesampainya di depan ruangannya, Erick menghampiri Sigit dan berbisik, entah apa yang dibicarakan, yang pastinya Alina merasa aneh dengan tingkah keduanya.
Pasti ada yang mereka rencanakan, tapi apa ya.
Bahkan sebelum keduanya berpisah, Alina melihat kalau Sigit mengangkat kedua jempolnya ke arah Erick.
Awas saja kalau berani macam-macam.
''Kakak bicarain apa sih, kayaknya penting banget?'' Kepo.
''Bukan apa apa, ini masalah seorang laki-laki.''
Jika sudah bilang seperti itu, Alina pun tak bisa untuk bertanya lagi, karena ia tak terlalu mementingkan juga urusan Erick dan Sigit.
Setelah keduanya di dalam, Erick melepas jas yang di pakainya dan mendekati Alina yang duduk di sofa.
__ADS_1
''Kakak mau ngapain?'' Tanya Alina saat Erick mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alina.
Tak menjawab, Erick hanya mendaratkan kecupan di pipi Alina, lalu beralih membuka laptop yang ada di meja.
''Geli tau, kumis kamu sudah tumbuh.'' Alina meraba bagian kumis suaminya.
''Masa sih?''
Tak percaya dengan ucapan Alina, akhirnya Erick beranjak menuju kamarnya lalu melihatnya dari pantulan cermin.
''Kapan aku bohong?'' cetus Alina yang sudah mematung di belakangnya.
''Geli lebih enak,'' bisiknya dengan senyuman licik yang terukir di sudut bibirnya.
Alina yang merasa terjerembab itu berusaha untuk mundur ke arah pintu, namun usahanya sia sia saat Erick menarik tubuhnya hingga jatuh ke dalam dekapannya.
''Temani aku di sini, jangan keluar!"
Erick menendang pintu kamar itu hingga tertutup rapat.
"Kak, tapi ini kantor. Nanti kalau ada yang lihat gimana?" Erick mengambil remot otomatis untuk mengunci pintu kamar itu.
"Sekarang apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi." Dengan santainya Erick terus menuntut haknya. Tak peduli dengan Alina yang terus mendorong tubuhnya, saat ini ia tak bisa memendam hasratnya lagi.
Apalah Daya, dengan tenaga Alina yang amat kecil, sedikitpun ia tak punya kekuatan untuk menolak permintaan Erick. Dan terjadilah pergulatan yang sebenarnya tak di inginkan Alina, namun sangat di harapkan Erick.
"Terima kasih." Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Alina yang masih di penuhi dengan keringat, wanita itu nampak kelelahan dan masih mengatur napasnya yang sempat ngos ngosan.
"Itu bajuku gimana?" Ucap Alina merengek melihat bajunya yang sedikit robek karena ulah Erick yang tak sabaran saat melepasnya.
"Toko kan masih banyak, nanti aku suruh Sigit untuk membelinya."
Beda dengan Alina yang resah karena baju, Erick sudah beranjak menuju kamar mandi setelah mengambil baju miliknya yang ada di lemari.
"Kamu tidur saja, nanti kalau bajunya datang aku bangunin."
Kenapa harus nyuruh pak Sigit, apa nggak ada pegawai perempuan disini, apa dia mau malu maluin aku Aahhh
Alina hanya menjerit dalam hati seraya menggigit selimut yang menutupi sekujur tubuhnya, gedeg dengan Erick yang kini sudah di dalam kamar mandi.
Egois egois egois.
Alina terus menatap pintu kamar mandi dan mendengarkan gemericik air dari dalam.
Karena berisik dengan nada ponsel yang kembali berdering, Alina menarik selimut dan mengambil ponsel Erick yang ada di nakas.
__ADS_1
Dengan perlahan Alina melihat nama yang berkelip di sana.
Pak Bima, ada apa dia menelepon kak Erick. apakah dia mau bilang kalau hari ini dia sudah bebas dari hukumannya.
Tanpa izin dari Erick, Alina menggeser lencana hijau tanda menerima.
Halo, Rick, ini aku pamanmu, akhirnya kamu membebaskanku juga, aku yakin pasti kamu nggak tega denganku, pasti kamu berbesar hati pada orang yang sudah membesarkanmu, setelah pulang nanti aku janji akan melindungi kamu.
Alina yang diam hanya menyunggingkan bibirnya, ternyata Pak Bima tak berubah, jangankan minta maaf, bahkan terdengar dari omongannya pun pria itu menyombongkan diri, padahal tanpa Alina ia pasti akan tetap dalam kungkungan Erick.
Tak menjawab sedikitpun, Alina menutup teleponnya dan kembali ke tempat tidurnya, alih alih tak ada apa apa saat Erick berada di kamar mandi,
Jika pak Bima masih berani berulah, aku pastikan aku tidak akan membiarkan dia ada disini lagi.
"Sayang..." Suara Erick mengejutkan Alina yang masih terbaring, kini wanita itu menoleh menatap Erick yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Kayaknya tadi ada telepon lagi?" tanya nya duduk dan meraih ponselnya.
"Nggak tau," jawab Alina bohong.
Erick membuka ponselnya lalu berdecak saat melihat beberapa pesan dan panggilan tak menjawab.
"Siapa, Kak?" Tanya Alina.
"Sigit, ini katanya baju kamu sudah datang."
"Memangnya kapan kakak pesannya?"
"Tadi waktu kita baru mau masuk sini."
Alina membulatkan matanya menatap punggung Erick.
Buuug
Sebuah pukulan mendarat di tubuh kekar Erick.
Seketika Erick menoleh karena terkejut ada benda empuk mendarat di tubuhnya dari belakang. "Kenapa?"
"Tadi waktu kakak bisik bisik itu nyuruh pak Sigit beli baju untuk aku?"
Erick mengangguk, karena memang itulah yang mereka bicarakan.
"Wah... kakak parah, ini muka aku mau ditaruh dimana saat melihat pak Sigit kak, aku malu." cecarnya. Tak terima dengan apa yang sudah di lakukan Erick di belakangnya.
"Wajah kamu cantik, ngapain harus malu, lagi pula anggap saja kalau Sigit itu patung berjalan, biar rasa malu kamu itu hilang."
__ADS_1
Alina benar benar naik darah, tak sanggup lagi melawan suaminya yang terus memasang wajah mesum.