Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Ngintip


__ADS_3

Kendati sudah kembali ke asalnya, nyatanya pak Bima tak bisa berbuat apa apa. Pria itu bagaikan tawanan yang tak bisa bebas begitu saja, jangankan masuk ke rumah Erick, memegang pintu gerbangnya pun tak diizinkan. Pantang bagi Erick untuk bisa seperti dulu, tak mau lagi menjadi boneka, di peralat pak Bima demi sebuah misi yang tak ia ketahui.


''Kak, itu kan paman Bima,'' ucap Alina dari dalam mobil.


Tak menggubris, Erick hanya melirik sekilas tanpa mengucap sepatah katapun.


Setelah mobil Erick terparkir di halaman rumahnya, pria itu dengan lenggangnya langsung masuk ke dalam rumah dan tak menghiraukan teriakan pak Bima yang ada di balik gerbang.


Sedangkan Alina hanya bisa menoleh ke arah Pria tua itu, ada rasa iba saat terik matahari langsung menampar tubuh Pak Bima, namun ia tak bisa berbuat apa apa selain menurut apa kata suaminya.


Akhirnya Alina memutuskan untuk masuk ke dalam menyusul Erick yang sudah duduk di ruang keluarga.


''Kak, kenapa paman Bima nggak disuruh masuk, mungkin ada sesuatu penting yang mau di bicarakan,'' meletakkan tas diatas meja lalu duduk di samping Erick.


Mode diam masih di sandang Erick, pria itu memilih untuk menyalakan tv dari pada harus menjawab pertanyaan Alina yang menurutnya tak penting.


''Kak, kamu nggak dengar omongan aku?''


Terpaksa Alina meninggikan suaranya tepat di telinga Erick.


''Dengar.'' jawabnya singkat. Matanya masih fokus dengan serial kesukaannya.


''Lalu kenapa nggak jawab?''


Seketika Erick menarik tubuh Alina hingga jatuh kedalam pelukannya.


''Dia yang sudah menghancurkan hubungan kita, dia yang sudah membunuh papa, apa aku harus berbesar hati memaafkan dia begitu saja, aku bukan kamu yang gampang memaafkan. Dan aku belum bisa melupakan semua yang dia perbuat.'' Jelasnya panjang lebar.


Alina hanya bisa diam mencerna apa yang di ucapkan suaminya. Pak Bima memang sudah sangat keterlaluan dan tega memisahkan Erick dan papanya selamanya, apa lagi Pak Bima juga berusaha memisahkan dirinya dengan Erick, itu bahkan di luar dugaan pria itu.


Erick menyandarkan kepalanya di pangkuan Alina.


''Semoga bayi kita cepat bersemayam di dalam sini.'' mengelus dan mencium perut Alina.


''Baiklah, aku juga berharap bayi kita akan segera hadir, supaya cinta kita lebih kuat dan tidak akan terpisahkan oleh waktu.'' Tutur Alina. Karena itulah yang terbesit dalam hatinya dan berharap akan terkabul.


''Jangan pikirkan apapun, aku hanya ingin hidup bahagia bersama kamu.'' Menenggelamkan wajahnya di sana. ''Dan kamu cukup perhatikan tugas kamu sebagai asisten pribadi dan istri, itu saja.''


Apa bedanya, itu namanya pemerasan, kalau tugas seorang istri melayaninya di rumah, kalau asisten harus melayaninya di kantor, terus kapan aku bisa santai. bilang saja kalau aku ini adalah pelayannya sumur hidup.


Alina hanya bisa merengut melihat tingkah absurd suaminya. Apa lagi kini mereka menjadi tontonan seluruh pembantu yang bekerja, yang terpaksa menjeda aktivitasnya dan mengintip di balik lemari dapur hanya ingin melihat kemesraan Erick dan Alina.

__ADS_1


Eheem... tiba tiba suara deheman membuyarkan Bi Minah dan yang lain.


Hehehehe.... Bi Minah menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat menatap siapa yang sudah mematung di belakangnya dengan berkacak pinggang.


''Pak Sigit,'' ucapnya malu-malu.


''Ngintipin apa Bi, nanti matanya bintitan lo.'' suara nya ikut menyapa.


Bi Minah yang baru balik beberapa hari itu hanya melengeh, sedangkan yang lain pada kabur kebelakang, takut kena marah.


''Ngintipin itu,'' menunjuk ke ruang keluarga tanpa menghadap.


Sigit hanya ber O ria setelah ikut menatap ke arah Erick dan Alina berada.


''Lucu ya, Bi?'' tanya Sigit lagi.


Bi Minah kembali mengangguk dan menautkan kedua tangannya.


''Saya permisi pak,'' Dari pada harus di intimidasi terus, Bi Minah ikut berlalu ke dapur.


Sigit hanya bisa geleng geleng melihat seluruh pembantu Erick yang tak kalah kocaknya.


Akhirnya pak Erick dan Alina bersatu, kini giliran aku yang akan melamar Diana, semoga dia sudah siap untuk menerimaku.


Ternyata pak Bima sudah pergi.


Setelah menatap gerbang yang kosong, Sigit segera melajukan mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seharian penuh Diana hanya menatap layar ponselnya berharap nama yang tertera itu menghubunginya, namun nyatanya sama sekali tak ada tanda tanda semua itu hingga membuatnya jengah.


''Kenapa dia hanya mementingkan pekerjaan, bagaimana kalau aku sudah menjadi istrinya? Apa dia akan tetap cuek padaku, ia kalau kayak gini aku mah ogah menerima lamarannya.'' gerutunya memaki ponsel yang ada di depannya.


''Kenapa kamu tidak jawab?'' lanjutnya lagi saat menatap gambar Sigit yang sempat diambilnya waktu itu.


Romi yang melintas di depan kamar Diana itu merasa risih, hingga membuat wanita itu penasaran.


Pria itu hanya bisa cekikikan saat mendapati adiknya bicara dengan benda mati.


Itu anak sudah stres kali ya, perasaan baru dua hari nggak ketemu sama Sigit tapi otaknya sudah miring saja.

__ADS_1


Romi hanya bisa berdecak, bingung dengan tingkah adiknya, karena selama ini Ia tak pernah melihat Diana separah itu.


''Kamu ngintipin apa, Rom?'' suara Tante Rasti seraya menepuk punggungnya.


Sssttt......Romi mendaratkan jarinya di bibir, memberi kode supaya sang mama diam.


''Lihat saja anak mama lagi marah-marah nggak jelas.'' Ujarnya berbisik. Menyungutkan kepalanya ke arah Diana yang ada di dalam.


Karena penasaran, tante Rasti pun ikut menyembulkan kepalanya ke dalam kamar.


Bruuukkk... tiba tiba saja Romi yang ada di belakang ambruk hingga menumpu tubuh Tante Rasti yang tersungkur di lantai.


Diana yang mendengar suara dari pintu itu pun seketika menoleh.


''Mama, kak Romi, papa.'' Serunya.


Diana segera berlari membantu sang mama yang meringis kesakitan, sedangkan Pak Indra yang juga ada di sana menarik tangan Romi membantunya untuk bangun.


''Ya ampun Ma, kalian ini pada ngapain? Kenapa bisa jatuh?''


Pak Indra ikut berjongkok mendekati Tante Rasti yang memegang punggungnya.


''Ini karena kakak kamu yang dorong mama.''


Romi menggeleng, karena ia pun tak mungkin melakukan itu kalau tidak ada sesuatu yang mengejutkannya dari belakang.


''Bukan,'' bantahnya. ''Tadi gara gara papa yang pegang pundak aku, jadinya kau terkejut, dan nggak sengaja dorong mama.''


Makin kesini Diana makin paham dengan yang di lakukan keluarganya di depan pintu kamarnya.


''Kalian ngintipin aku?''


Tante Rasti menatap Romi, sedangkan Pak Indra memilih bersiul menatap langit langit kamar Diana.


''Tepatnya Romi yang ngintipin kamu,'' akhirnya Tante Rasti buka suara serta mencoba untuk berdiri.


''Makanya Ma, lain kali jangan ngintip-ngintip, tu kan kena karmanya.'' cetus Pak Indra menggiring Tante Rasti meninggalkan kamar Diana.


Sedangkan Romi hanya bisa menyengir, mengelus jidatnya yang sedikit nyeri saat membentur punggung mamanya.


''Makanya lain kali jangan suka kepo urusan orang.'' Celetuk Diana lalu menutup pintunya dengan keras.

__ADS_1


Awas saja aku kerjain kamu nanti. Ancam Romi dalam hati seraya menatap pintu kamar sang adik.


__ADS_2