Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Dewi penolong


__ADS_3

''Melani...'' panggil Putra yang memarkirkan mobilnya di tepi jalan, pria itu terus melambaikan tangannya ke arah sang adik yang baru saja keluar dari gerbang rumah Erick.


Segera Melani menghampiri abangnya yang masih betah menunggunya.


''Gimana?'' tanya nya antusias.


Melani masuk ke dalam mobil dan ikut duduk di samping Putra yang tak sabar dengan jawabannya.


''Dengar baik baik ya, Bang,'' pinta Melani sebelum mengatakan semuanya.


''Alina itu baik baik saja, ngapain abang khawatir, dan tadi mereka juga makan berdua,'' Melani mulai sebel mengingat leher Alina yang ada cap bibir Erick.


''Terus?'' Tanya Putra lagi.


''Bahkan mereka itu semalam habis melakukan hubungan suami istri, buktinya leher Alina ada stempel merah seperti di film film yang aku tonton.'' jawabnya dengan bodohnya.


Seketika Putra menoyor jidat Melani yang malah menirukan adegan berciuman dengan jari jari lentiknya.


''Kamu itu masih kecil, nggak boleh mikir terlalu jauh ke sana, mungkin saja leher Alina di gigit semut.'' kelakarnya.


Sekarang aku percaya kalau penjagaan itu memang untuk Alina, ternyata Kak Erick sangat mengkhawatirkan Alina.


''Bang...'' panggil Melani sembari menaikkan kedua alisnya dengan cepat.


''Apa?'' tanya Putra mengangkat kedua bahunya.


''Masa sih nggak ingat?'' Nada jengkel.


''Iya iya aku nggak mungkin lupa, tapi ingat, kamu sebagai perempuan jangan nembak duluan, cukup berteman dan biarkan mengalir, karena cinta itu nggak bisa di paksakan, jika Anton memang ada rasa sama kamu, lambat laun pasti dia akan mengungkapkan perasaannya.''


Melani mengangguk mengerti.


''Itu sepertinya mobil Putra.'' Terka Erick saat mobil yang familiar itu melewati depan rumahnya.


Ternyata Putra menjadikan Melani sebagai mata mata.


''Lebih ketat penjagaan, jangan pernah biarkan Putra masuk rumah ini.'' Pesan Erick sebelum meninggalkan rumahnya.


Tanpa di sadari Alina yang masih berada di balik pintu masih bisa mendengarkan ucapan Erick.


Aku nggak tau apa masalah kakak, yang pastinya aku tidak akan diam begitu saja, semoga ada orang lain selain bang Putra yang bisa menolongku.


Tak ada yang bisa di lakukan Alina, kini ia harus terbiasa dengan sepi dan akrab dengan kesendirian yang melanda, entah berapa lama hanya kesabaran yang akan menemani Alina melewati segala yang menimpa dirinya.


''Bapak nggak capek?'' tanya Alina menatap dua orang yang betah mematung di sampingnya.


''Tidak nona,'' jawab keduanya serempak, meskipun sudah bergantian namun kaki yang harus menopang tubuh beberapa jam itu pun pasti merasa lentur.


''Bapak duduk saja, aku nggak akan lari, karena aku tau bapak butuh pekerjaan ini dan aku nggak mau kalian di pecat.''

__ADS_1


Kedua penjaga itu saling pandang, sedikit merasa bersalah karena sudah mengurung orang yang jelas jelas memikirkan nasibnya.


''Tenang saja pak, aku nggak akan kabur sebelum aku tau apa yang membuat kak Erick membenciku,'' lanjutnya lagi.


Setelah pintu kamar Alina tertutup rapat, kedua pria itu saling mendekat.


''Kasihan ya non Alina, padahal dia sangat baik, tapi kenapa pak Erick malah menghukumnya.''


Penjaga yang bernama Jhon hanya mengangguk tanpa suara, ikut menyayangkan dengan kelakuan buruk Erick.


Ceklek, pintu kembali terbuka, penjaga yang baru beberapa menit duduk kembali ke arah pintu kamar Alina.


''Bapak namanya siapa?'' Tanya Alina basa basi seraya mengulurkan tangannya.


''John.'' Jawabnya.


Pandangan Alina beralih yang berada di sebelah. ''Kalau Bapak?''


''Alex.''


''Wah, nama kalian keren ya, cocok dengan badan kalian yang kekar.'' Goda alina. Kedua pria itu hanya tersenyum kecil.


Alina duduk di depan kamarnya, wajahnya suram mengingat keadaannya saat ini yang tidak bisa bertemu siapapun selain para pelayan Erick.


''Apa kalian sudah punya anak?'' tanya Alina kembali tanpa menatap.


Pertanyaan yang sedikit melenceng.


''Pak, aku juga ingin melihat indahnya luar, nggak enak banget di kurung di sini, apa bapak bisa bantu aku?'' ucap Alina dengan wajah melasnya.


Kedua pria itu menunduk dengan menautkan tangannya.


''Maaf, Non, kami tidak bisa menolong non, di sini kami hanya menjalankan tugas.''


Alina mengerucutkan bibirnya dan menopang dagunya dengan satu tangannya.


''Aku tau, tapi aku juga kangen sama teman aku,'' tiba tiba saja Alina terisak yang membuat kedua pria itu panik.


''John, ambil tisu cepat!" suruh Alex yang juga ikut kebingungan mendengar suara Alina yang semakin keras.


"Ini non.'' Menyodorkan sekotak tisu ke arah Alina.


''Non jangan nangis, anggap saja kami adalah teman non.'' ucap Alex, mencoba menenangkan Alina yang masih sesenggukan mengelap air mata dan ingusnya.


Seketika Pria itu mendapat cubitan kecil dari sang sahabat.


''Jangan ngawur, mana mau non Alina yang cantik berteman sama kamu yang brewokan.'' bisik Jhon di telinga Alex.


Alem yang merasa tersinggung meraba rambut panjang yang tumbuh di dagunya.

__ADS_1


Benar juga apa kata Alex, mana mau dia berteman sama aku yang jelek begini.


''Kalian benar mau berteman sama aku?'' tukas Alina dengan girangnya.


Keduanya mengangguk tanpa suara.


Akhirnya mereka bisa aku taklukan juga, semoga ini awal yang baik supaya secepatnya aku bisa pergi dari sini.


Beberapa menit berbincang, suara gemuruh dari bawah membuyarkan ketiganya yang sibuk bercerita tentang keluarga Alex.


''Ada apa pak, kok ramai, kayaknya ada tamu deh,'' Terka Alina.


''Mungkin, tapi non nggak boleh turun, di bawah sudah ada yang lain.''


Ayo Alina kamu harus cerdik.


''Pak, ini kan masih di rumah, aku nggak akan ke mana mana, lagian, untuk apa keluar, di sini hidup aku sudah terjamin,'' meyakinkan John dan Alex agar mengizinkannya turun.


''Baiklah kami izinkan, tapi kami juga ikut turun.''


Terserah kalian saja lah, yang penting aku nggak terus di kamar.


Tanpa menjawab Alina beranjak menuju tangga untuk turun.


''Ada apa sih Bi, kok ramai?'' tanya Alina saat kakinya menapaki ujung tangga.


''Kakak istrinya Kak Erick?'' suara wanita cantik.yang hanya terlihat wajahnya dari pintu.


Alina mengangguk dan melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti, menghampiri gadis yang menurutnya masih asing.


''Kak, aku boleh masuk kan?'' rengek wanita yang kini masih terhalang sebuah tangan kekar.


Dia siapa ya, apa saudara jauh kak Erick, atau wanita yang suka sama ka Erick seperti Luna.


"Pak biarkan dia masuk!" pinta Alina membantu untuk membuka pintu.


Tanpa pikir panjang, penjaga itu menurunkan tangannya memberi jalan gadis itu.


"Terima kasih ya kak," memeluk tubuh Alina dengan erat.


Meskipun masih bingung Alina tetap mengulas senyum.


"Kak, kenalkan namaku Diana," mengulurkan tangan ke arah Alina.


"Alina," jawabnya ramah dan keduanya duduk di ruang tamu.


"Aku tau, bahkan aku juga punya poto kakak saat pernikahan, maaf waktu itu nggak bisa datang. Tapi tenang, mama dan papa sudah cerita tentang istri kak Erick yang cantik." pujinya mencubit pipi Alina.


"Nggak apa apa, yang penting sekarang kamu sudah di sini, kamu siapanya kak Erick?"

__ADS_1


"Aku sepupunya kak Erick, anaknya papa Indra dan mamaku namanya Rasti."


O.... ini anaknya Om Indra yang waktu itu datang di pernikahan aku, dia baik, dan sepertinya dia adalah dewi penolong yang bisa membantu keluar dari jeratan kak Erick.


__ADS_2