Pernikahan Berselimut Dendam

Pernikahan Berselimut Dendam
Sedikit jawaban


__ADS_3

''Ngapain kamu kesini?'' Tanya Erick dengan ketusnya melihat Diana sudah berada di ambang pintu, gadis itu hanya tersenyum renyah menanggapi sikap Erick yang memang jutek padanya.


''Mau ketemu kak Alina, dimana dia?'' pandangannya mengarah ke atas lantai dua.


''Di kamar.'' Jawab Erick mendekati Diana.


''Kak, apa aku boleh bertemu kak Alina?'' tanya Diana sedikit ragu.


Erick hanya mengangguk tanpa suara.


Biarlah, Alina kan lagi sakit, mungkin kedatangan Diana akan sedikit menghiburnya, lagi pula dia tidak akan bisa lari ke mana mana.


Baru saja menapaki anak tangga, Melani datang bersama dengan Luna.


Diana menoleh menatap kedua wanita itu.


Apa kebencian kak Erick ada hubungannya dengan kak Luna.


''Erick, apa kabar, semenjak datang ke ulang tahunku, kamu kok nggak pernah nelpon sih.''


''Aku hanya sibuk saja.''


Melani menatap Diana yang masih belum melanjutkan langkahnya.


Mau ngapain dia kesini, bukankah dulu dia jarang ke rumah ini.


''Mel, kamu lihatin apa?'' Tanya Luna menarik tangan Melani dan membawanya ke ruang tamu.


''Nggak.''


Ternyata Diana sudah pulang dari luar negeri, batin Melani.


Sebuah masa lalu kembali melintas di benaknya hingga membuat Diana memilih hengkang dari negeri sendiri.


''Kak Alina...''Seru Diana menyembulkan kepalanya.


''Diana, kamu kok kesini, sama siapa?'' sapa Alina masih merasa lemas.


Bi Irah yang menyuapinya kini membersihkan sisa makanan dan keluar.


''Sendiri, kakak sakit?'' terka Diana menatap wajah Alina yang masih terlihat pucat.


''Nggak, cuma capek saja,'' masih berkilah, takut salah bicara. Meskipun keduanya saling berbisik mereka pun jaga jaga, takut kejadian waktu itu terulang lagi.


''Apa kak Erick menyakiti kakak?''


Alina menggeleng. ''Aku cuma butuh istirahat saja kok, tidak apa apa.''


''Sekarang kamu yang kenapa?'' Alina menggenggam tangan Diana, wajahnya terlihat muram dan merengut.


''Ada Melani di bawah.'' begitu tegas saat mengucapkan nama yang pernah ia benci.


''Memangnya kenapa sih, apa kamu pernah punya masalah sama dia?'' Tanya Alina menyelidik.

__ADS_1


Diana tersneyum. ''Iya, tapi dulu waktu kita masih sama sama kuliah, tapi karena aku nggak betah akhirnya aku memilih pindah ke luar negeri, dari pada harus berdebat dengan masalah yang nggak ada tepinya.''


Alina hanya manggut janggut meresapi kata Diana.


''Cowok?''


Diana kembali mengangguk.


Kembali ke pokok tujuan Diana datang.


''Kak, kemarin aku sudah bertemu sama pak Sigit.''


Antara terkejut dan gembira, Alina memeluk Diana. ''Beneran, di mana?''


''Di cafe, dan mulai sekarang aku juga sudah menjalankan misi untuk sering datang ke sini. Aku akan mencari tau alasan kak Erick membenci kakak.''


Alina meringsuk duduknya hingga kini keduanya bersejajar di tepi ranjang untuk lebih memelankan perbincangannya.


''Katanya dia mau balas dendam karena orang tuakulah penyebabnya.''


Diana menoleh, mendengar cerita yang sedikit aneh, namun itulah yang di dengar dari bibir Alina.


''Balas dendam?'' Sekali lagi Diana memastikan.


''Hemmm....tapi aku nggak tau apa yang pernah di lakukan papa dan mama kepada keluarga Kak Erick.'' Alina malah terlihat sedih, Meskipun Erick sudah berulang kali menyakitinya, namun rasa sayang yang begitu besar membuatnya ingin tetap di dekat pria itu.


Kalau ini masalah papa dan mama mereka, itu artinya sedikit banyak papa juga tau dong.


''Baiklah, kak, kalau begitu nanti aku akan bilang ke pak Sigit, kakak jaga diri baik baik.''


''Terima kasih ya, Di, semoga kamu mendapatkan laki laki yang baik, dan menyayangi kamu.''


''Masih jauh, kak, aku belum kepikiran ke sana,'' ujarnya.


''Jadi gadis secantik kamu belum punya pacar?'' tanya Alina.


Diana menggeleng, ''Aku ingin langsung serius, nggak usah pacaran juga nggak apa apa, karena kalau kelamaan pacaran, ujung ujungnya putus dan aku orangnya susah Move on.''


''Sama,'' jawab Alina.


Keduanya mengangkat tangan dan adu tos.


''Aku juga, bahkan aku tak pernah peduli dengan laki laki yang menyukaiku, karena bagiku kak Erick adalah satu satunya laki laki yang hadir dalam hidupku. Dia adalah malaikat pelindungku, meskipun sekarang dia benci padaku, aku akan mencoba menyadarkannya.'' Panjang lebar Alina mengeluarkan isi hatinya, dan rasanya Diana adalah orang tepat untuk di ajak curhat.


''Kak Alina yang sabar, kalau memang kalian berjodoh, seberat dan serumit apapun masalah, pasti akan ada jalan keluarnya, dan kalian pasti akan tetap bersatu.''


Aamiin....


Baru ingin beranjak, ponsel Diana berdering. Segera gadis itu merogoh dari tasnya.


''Pak Sigit.'' bisiknya setelah menatap layar yang berkelip.


''Sini biar aku yang angkat.''

__ADS_1


Diana menyerahkan ponselnya ke arah Alina.


''Halo, pak, ini aku Alina,'' sapa Alina dengan pelan.


Pria yang ada di seberang sana yang mau berbicara absurd malah jadi gerogi, beda saat bicara dengan Diana yang menurutnya masih ABG dan belum mengenal cinta.


Iya Al, aku tau, mana mungkin aku lupa dengan suara kamu.


Alina terkekeh mendengar godaan Sigit.


Kamu baik baik saja kan, apa ada masalah di sana.


''Tidak, aku baik baik saja, terima kasih karena bapak mau menolongku, aku kembalikan ke Diana ya.''


Setelah puas bicara, Kini giliran Diana yang menempelkan benda pipihnya di telinga.


''Halo sekretaris Hello kitty, ada apa nelpon aku, kangen ya?'' jawab Diana menggoda.


Alina yang mendengar panggilan Diana untuk Sigit hanya menahan tawa.


*Kalau iya, apa kamu marah, t*adinya aku mau nanya kamu di mana, tapi setelah aku dengar suara Alina, nggak jadi deh, karena aku tau kalau kamu ada di kamar Alina.


''Cih.... mau nanya aku atau kak Alina?'' ucap lagi Diana melirik ke arah Alina ayang menggeleng.


Ini ponsel milik siapa sih?'' tanya Sigit.


''Milik aku lah, kamu nggak lihat profil aku cantiknya nggak ketulungan kayak gitu.''


Ya, makanya aku itu benar benar cari kamu.


''Ya sudah, aku mau pulang nih, oh iya, aku dapat kabar penting dari kak Alina, kita bisa ketemu lagi kan?''


Baiklah calon makmumku, aku tunggu.


Baru saja ingin protes dengan sebutan Sigit untuknya, Diana kembali mendengus dan membanting ponselnya di atas kasur.


''Apaan, main bilang calon makmum segala, memangnya dia siapa, kenal saja baru kemarin,'' gerutu Diana.


Alina yang sudah nggak betah hanya bisa tertawa dan menepuk nepuk bantal melihat kelucuan Sigit dan Diana.


Akhirnya aku nggak lupa tertawa, semoga semuanya cepat terungkap, dan kayaknya bakal ada kisah yang lebih seru antara pak Sigit dan Diana.


''Kak, aku pulang ya,'' pamit Diana.


''Hati hati, maaf aku nggak bisa antarin kamu ke bawah.''


Setelah sampai di lantai bawah, Diana menghampiri Erick yang sibuk bercakap dengan Luna dan Melani.


''Kak, aku pulang ya, ada urusan sebentar,'' Diana mencium punggung tangan Erick.


''Hati hati ya.''


Apa kabar dengan Melani, apa sekarang dia juga masih pacaran sama Dodi, atau sudah cari yang lain lagi.

__ADS_1


Tak mau lama lama dekat dengan musuh lamanya Diana segera berlalu.


__ADS_2